Monday, July 28, 2014

Menjadi Santri yang Cerdas Informasi: Roadshow Keterampilan Literasi Media dan Informasi di Empat Pesantren Jawa Barat

Dalam rangka penuntasan penelitian yang berjudul 'Studi Pemanfaatan Media Massa oleh Santri Pondok Pesantren Modern (Islamic Boarding School)  di Propinsi Jawa Barat, saya diminta untuk menjadi salah satu nara sumber yang berbicara tentang literasi informasi bagi para santri.

Penelitian ini merupakan kelanjutan dari penelitian terdahulu yang diketuai oleh Dr Dede Mulkan, M.Si dengan anggota tim: Dr Nuryah Asri Sjafirah, M.Si; Gumgum Gumilar, S.Sos., M.Si; Ala Nurdin, S.T.P, Irfan Marfiandi dan saya sendiri, Hanna C George, SS, M.I.Kom.

Sesuai dengan kisi-kisi penelitian yang diberikan, tugas saya adalah membawakan materi tentang literasi informasi dengan harapan para santri menjadi 'melek informasi' yaitu mereka memahami bagaimana cara memilih informasi yang baik dan benar.




Dalam pendahuluannya pada penelitian terdahulu, Dr Dede Mulkan mengatakan bahwa para santri diharapkan agar menjadi pemimpin masa depan yang nantinya akan berinteraksi dengan beragam informasi.Itulah sebabnya, selama mereka sekolah, hendaknya mereka justru diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk memperoleh informasi dan memanfaatkannya dalam proses pembelajaran mereka. Ditegaskan pula, bahwa selain akses informasi yang diberikan seluas-luasnya, para santri juga perlu diperlengkapi dengan keterampilan literasi informasi kemudian bagaimana menulis artikel di surat kabar (dibawakan oleh Dr. Dede Mulkan, M.Si) serta membuat blog pribadi (dibawakan oleh Gumgum Gumilar,S.Sos.,M.Si).

Ketiga hal ini diharapkan menjadi sebuah kontribusi nyata dalam menyiapkan para santri untuk turut aktif dalam berperan mewujudkan masyarakat dan demokrasi yang baik seperti yang diinisiatifkan oleh UNESCO melalui gerakan literasi media dan informasi. Perjalanan roadshow untuk kampanye literasi media dan informasi ke para santri di empat tempat dibawah ini pun dimulai. Pesantren pertama yang kami kunjungi adalah Pondok Pesantren Husnul Khotimah Kuningan pada tanggal 9 Mei 2014. Minggu selanjutnya, tiga pesantren kami kunjungi dalam tiga hari berturut-turut yaitu: Pondok Pesantren Al-Bayan, Sukabumi 15 Mei 2014,Pondok Pesantren Darussalam, Ciamis 16 Mei 2014 dan Pondok Pesantren Al-Ihsan Bandung 17 Mei 2014.



MENJADI SANTRI YANG CERDAS INFORMASI
Adalah judul yang saya gunakan untuk bahan presentasi ini. Tujuan sesi ini saya buat menjadi dua yaitu:
1. memperkenalkan konsep literasi informasi dan media
2. memperkenalkan penggunaan informasi dengan jujur dan beretika.

Sebelum saya mulai dengan pemaparan, saya membuka sesi dengan bercerita yang diangkat dari sebuah buku cerita anak-anak berjudul The Best Nest karya P.D Eastman.

Buku ini berkisah tentang sepasang burung yang ingin mencari sarang baru karena Nyonya Burung sudah bosan dengan sarang mereka yang lama.  Saat itu juga, mereka berkeliling mencari tempat baru, namun mereka selalu gagal karena tempat-tempat itu sudah menjadi milik mahluk lain.  Misalnya, mereka menemukan sepatu, kotak surat, lubang dahan pohon dan akhirnya katrol bel gereja.

Saya menekankan bahwa tidak satupun isitlah yang digunakan diatas, sepatu, kotak surat, lubang dahan pohon dan katrol bel gereja dikenal oleh sepasang burung ini. Hingga hal buruk terjadi, setelah mereka bekerja keras mengumpulkan jerami, benang, wol, sedotan, rambut ekor kuda, jenggot bapak tua, dan sebagainya untuk membuat sarang baru mereka, tepat saat itu juga Mr Parker menarik tali pembunyi lonceng gereja tersebut. Tak heran jika sarang baru itu rusak dan pada saat menyelamatkan diri, Tuan Burung dan Nyonya Burung terpisah. Tuan Burung mengira kalau Nyonya Burung sudah mati dimakan kucing karena ia melihat ada sisa sisa bulu burung disekitar kucing itu. dengan sedih.

Tuan Burung pulang ke sarangnya yang lama dan kaget karena menemukan Nyonya Burung sudah berada di sana.  Pada akhirnya, Nyonya Burung tidak mau pindah ke sarang yang baru, karena ia telah mempunyai telur untuk ditetaskan dan kemudian keluarlah Bayi Burung baru dan mereka merasa nyaman dalam sarang mereka yang lama. Selesai.
Cerita ini sangat sederhana, namun banyak hal yang  bisa digali di dalamnya. Nanti akan didiskusikan saat membicarakan langkah-langkah literasi informasi.

Apakah Literasi Media dan Informasi itu? Saya mengutip dari portal UNESCO (Media and Information Literacy. Media and Information Literacy. N.p., n.d. Web. 06 May 2014.[http://portal.unesco.org/ci/en/ev.php-URL_ID=15886&URL_DO=DO_TOPIC&URL_SECTION=201.html] diakses 6 Mei 2014) yang kalau diterjemahkan dari bahasa Inggrisnya kurang lebih mengungkapkan bahwa: Literasi informasi dan media merupakan keterampilan yang memungkinkan orang untuk menginterpretasi dan membuat keputusan berdasarkan informasi baik sebagai pengguna informasi  dan media maupun juga untuk menjadikan mereka menjadi pencipta dan penghasil informasi dan media sendiri secara trampil.

Dari cerita The Best Nest di atas, adalah pembaca yang memberikan interpretasi calon sarang baru yang 'ditaksir' oleh Tuan dan Nyonya Burung ini saat dalam gambar terlihat 'sepatu dan kaki, 'lubang pohon', 'kotak surat berbendera' dan 'katrol bel lonceng gereja'.  Tidak satupun dari benda-benda ini yang dikenal oleh sepasang burung ini. Mereka tidak mengenal benda-benda ini, namun sebagai pembaca, kitalah yang memberi interpretasi terhadap benda-benda itu.  

Demikian pula dengan interpretasi informasi. Informasi mempunyai beragam makna. Ada yang bersifat pengetahuan, berita, iklan, infotainment (perpaduan informasi dan entertainment) dan bentuk penyajian lainnya. Kesalahan interpretasi terhadap informasi, akan mempengaruhi pada kesalahan keputusan yang dibuat seseorang. Seseorang perlu mempunyai keterampilan untuk mengetahui perbedaannya. Lalu bagaimana? UNESCO membantu kita dengan inisiatif Media and Information Literacy. Untuk itu, ada baiknya jika seseorang perlu mengetahui dalam sebuah pemahaman yang lebih luas bahwa kecermatan dalam memilih informasi, menggunakan informasi dan menghasilkan informasi baru merupakan rangkaian yang tidak terlepas dari keberadaan kita sebagai warga negara yang menginginkan pemerintahan demokrasi yang baik.  Hal ini terlihat dalam bagan sebagai berikut:

Skema Bagan Konsep dan Aplikasi Media and Information Literacy oleh Hanna Latuputty dan Dede Mulkan (2012)



Dengan demikian, santri yang cerdas informasi adalah mereka yang memiliki keterampilkan media and information literacy yang kemudian membuat mereka menjadi pembelajar seumur hidup dengan berpartisipasi dalam mewujudkan pemerintah dan demorasi yang baik.

IMPLEMENTASI LITERASI INFORMASI dan MEDIA

Secara spesifik, keterampilan literasi informasi dan media merupakan langkah-langkah terampil para santri atau siswa dalam menggunakan informasi untuk pembuatan karya tulis atau tugas sekolah lainnya, untuk membuat keputusan atau memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Secara khusus, masalah yang akan dikupas dalam tingkat sekolah adalah pembuatan karya tulis ilmiah, yang biasanya perlu dikerjakan oleh para santri sebelum mereka lulus sekolah.  Kupasan lebih lanjut akan dijabarkan dengan menggunakan Siklus Literasi Informasi oleh Dr Dede Mulkan dan Hanna Latuputty (2012) di bawah ini:


Tulisan tentang penjabaran siklus di atas, sebetulnya sudah dipaparkan pada tulisan saya sebelumnya yang dapat diakses di sini.  Penjelasan di bawah ini lebih pada implementasi yang lebih spesifik yaitu di pesantren,

Mari kita telaah ke-enam langkah ini.

1. NEEDS. Langkah Pertama yaitu NEEDS di sini saya terjemahkan menjadi Masalah/research question

Masalah dalam konteks ini adalah pembuatan karya tulis akhir. Para santri perlu membuat keputusan untuk menulis apa atau topik apa, yang kemudian mengarah pada pertanyaan penelitian. Seseorang perlu memahami permasalahan apa yang dihadapinya, keputusan apa yang akan dibuat sebelum proses pemecahannya berlangsung. Dari contoh cerita anak di atas, The Best Nest, dapat diintepretasikan bahwa permasalahan Nyonya Burung adalah rasa bosan. Rasa bosan ini tertangani dengan munculnya anggota keluarga baru dan bukan sarang atau rumah baru. Meskipun usaha yang mereka sudah lakukan hampir mencelakai diri mereka sendiri. Dalam slide dibawah ini, ada beberapa contoh dalam kehidupan sehari-hari yang juga dapat dipecahkan seperti, mau makan dimana? kaleng-kaleng bekas akan dibuang atau didaur ulang? 


2. ACCESS. Akses informasi

Setelah mengetahui apa yang menjadi masalah yang ingin dipecahkan atau keputusan yang ingin dibuat, maka langkah selanjutnya adalah mengakses informasi.  Ada beragam sumber-sumber informasi yang tersedia baik itu di perpustakaan sekolah maupun perpustakaan pribadi. Sumber informasi ada dalam beragam format, cetak seperti buku dan majalah; non cetak seperti film, audio, televisi, online database, bahkan orang-orang yang berkompeten di bidangnya juga merupakan sumber informasi yang dapat dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan informasi yang diperlukan.


3. LOCATE. Menemukan Informasi.

Dari beragam sumber-sumber informasi di atas, maka akan ditemukan informasi yang dicari untuk memecahkan masalah.  Misalnya informasi yang kita perlukan ditemukan di sumber cetak, seperti buku-buku atau majalah. Dari sumber non cetak, kita dapat menggunakan film dokumenter, film atau bisa juga musik.  Sedangkan dari bentuk digital, kita dapat menemukan informasi yang kita cari di online database maupun search engines di internet.


4. SYNTHESIZE. Sintesakan informasi

Semua informasi yang terkumpul dari beragam sumber tadi, perlu di sintesiskan. Sebuah artikel majalah, beberapa paragraf buku, full teks dari artikel di online database, maupun hasil wawancara perlu disintesiskan agar pokok-pokok pikirannya dapat menunjang argumentasi ataupun penguat data dari tulisan yang kita buat.  Di sinilah perlu diperhatikan nilai-nilai kejujuran dan etika menulis patut dijunjung.

Hal yang dapat kita lakukan dalam melakukan sintesa ini adalah dengan menggunakan kata-kata sendiri.  Pokok pikiran dari artikel yang kita baca dapat dikutip dengan menggunakan kata-kata sendiri. Kita tetap harus menuliskan sumbernya. Hal lain adalah membuat kutipan langsung. Kutipan langsung akan sangat berguna jika pernyataan tersebut memperkuat argumen tulisan kita. Tetap diingat, bahwa semua ini ada aturannya, tergantung dari gaya sitasi apa yang ingin kita terapka.

Ada beberapa gaya sitasi (citation style) yang dapat digunakan dalam pembuatan tulisan ilmiah.  Beberapa diantaranya adalah:

1. MLA Style
2. APA Style
3. Harvard Style
4.Chicago Style
5. Turabian Style

Hal yang patut diingat adalah, jika kita sudah memutuskan untuk menggunakan sebuah gaya penulisan, maka kita harus konsisten dalam menerapkannya pada beragam sumber informasi yang kita gunakan.

Berikut ini contoh penulisan sumber informasi menurut MLA style:



5. CREATE. Menciptakan hasil akhir, menemukan jawaban dari masalah.

Hasil akhir dari proses menulis karya tulis akhir adalah sebuah paper atau naskah. Paper atau naskah ini merupakan proses penjabaran pemecahan masalah dengan menggunakan ide pemikiran penulis dengan penggunaan informasi yang membuat pemecahan masalah ini lebih akurat dan tepat.


6. EVALUATE. Evaluasi isi dan prosesnya.

Langkah terakhir ini, bisa terjadi saat kita presentasi, atau ketika naskah atau tulisan kita dibaca orang lain dan ada feedback dari mereka. Secara mandiri, tulisan kita juga bisa kita evaluasi sendiri. Tinggalkan tulisan kita beberapa lama, sehari atau dua hari, kemudian kita baca ulang. Kemungkinan kita juga bisa melakukan otokritik setelahnya.

Evaluasi mencakup evaluasi isi tulisan maupun proses pembuatan tulisan. Apa yang kita dapatkan dari isi dan proses ini, kemudian menjadi pengetahuan baru kita. Ke dua proses ini membentuk pengetahuan baru dan memperkaya pengetahuan kita yang sudah ada. Itu sebabnya, proses literasi informasi dan media ini merupakan siklus, karena hal yang sudah pernah kita dapatkan, kemudian menjadi sumber informasi untuk proses pemecahan masalah yang mungkin saja akan dapat kita re-call/panggil dalam siklus yang baru itu.



PENUTUP

Proses di atas, memang akan memakan nergi dan waktu pada awalnya, sebelum menjadi terbiasa. Hal yang sering terjadi adalah kecenderungan para siswa untuk copy paste dalam mencari dan menggunakan informasi. Hal ini dapat disiasati dengan manajemen waktu yang baik serta motivasi untuk menjaga nilai-nilai kejujuran secara akademisi.

Seringkali, alasan orang untuk copy paste atau menyontek adalah karena mereka tidak percaya diri, memiliki perencanaan waktu yang buruk, atau bahkan ingin melebihi orang lain dengan waktu yang cepat/instan.  Jika hal-hal ini disadari maka akan lebih mudah jika dikoreksi dengan melakukan perbaikan sebagaimana mestinya.

Kebiasaan bersikap jujur dan etis dalam berinformasi dengan mengembangkan kebiasaan meneliti sederhana secara efektif sedini mungkin melalui keterampilan literasi informasi dan media akan menjadikan seseorang, peneliti yang efektif, baik di dunia akademisi maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Selamat mencoba!

Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan


Pesantren Al-Bayan, Sukabumi
Pesantren Darussalam, Ciamis 
Pesantren Al-Ihsan, Bandung

1 comment:

agen biolo said...

sukses selalu saya juga alumni darussalam ciamis