Monday, July 28, 2014

Menjadi Santri yang Cerdas Informasi: Roadshow Keterampilan Literasi Media dan Informasi di Empat Pesantren Jawa Barat

Dalam rangka penuntasan penelitian yang berjudul 'Studi Pemanfaatan Media Massa oleh Santri Pondok Pesantren Modern (Islamic Boarding School)  di Propinsi Jawa Barat, saya diminta untuk menjadi salah satu nara sumber yang berbicara tentang literasi informasi bagi para santri.

Penelitian ini merupakan kelanjutan dari penelitian terdahulu yang diketuai oleh Dr Dede Mulkan, M.Si dengan anggota tim: Dr Nuryah Asri Sjafirah, M.Si; Gumgum Gumilar, S.Sos., M.Si; Ala Nurdin, S.T.P, Irfan Marfiandi dan saya sendiri, Hanna C George, SS, M.I.Kom.

Sesuai dengan kisi-kisi penelitian yang diberikan, tugas saya adalah membawakan materi tentang literasi informasi dengan harapan para santri menjadi 'melek informasi' yaitu mereka memahami bagaimana cara memilih informasi yang baik dan benar. Dalam pendahuluannya pada penelitian terdahulu, Dr Dede Mulkan mengatakan bahwa para santri diharapkan agar menjadi pemimpin masa depan yang nantinya akan berinteraksi dengan beragam informasi.Itulah sebabnya, selama mereka sekolah, hendaknya mereka justru diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk memperoleh informasi dan memanfaatkannya dalam proses pembelajaran mereka. Ditegaskan pula, bahwa selain akses informasi yang diberikan seluas-luasnya, para santri juga perlu diperlengkapi dengan keterampilan literasi informasi kemudian bagaimana menulis artikel di surat kabar (dibawakan oleh Dr. Dede Mulkan, M.Si) serta membuat blog pribadi (dibawakan oleh Gumgum Gumilar,S.Sos.,M.Si).

Ketiga hal ini diharapkan menjadi sebuah kontribusi nyata dalam menyiapkan para santri untuk turut aktif dalam berperan mewujudkan masyarakat dan demokrasi yang baik seperti yang diinisiatifkan oleh UNESCO melalui gerakan literasi media dan informasi. Perjalanan roadshow untuk kampanye literasi media dan informasi ke para santri di empat tempat dibawah ini pun dimulai. Pesantren pertama yang kami kunjungi adalah Pondok Pesantren Husnul Khotimah Kuningan pada tanggal 9 Mei 2014. Minggu selanjutnya, tiga pesantren kami kunjungi dalam tiga hari berturut-turut yaitu: Pondok Pesantren Al-Bayan, Sukabumi 15 Mei 2014,Pondok Pesantren Darussalam, Ciamis 16 Mei 2014 dan Pondok Pesantren Al-Ihsan Bandung 17 Mei 2014.

MENJADI SANTRI YANG CERDAS INFORMASI
Adalah judul yang saya gunakan untuk bahan presentasi ini. Tujuan sesi ini saya buat menjadi dua yaitu:
1. memperkenalkan konsep literasi informasi dan media
2. memperkenalkan penggunaan informasi dengan jujur dan beretika.

Sebelum saya mulai dengan pemaparan, saya membuka sesi dengan bercerita yang diangkat dari sebuah buku cerita anak-anak berjudul The Best Nest karya P.D Eastman.

Buku ini berkisah tentang sepasang burung yang ingin mencari sarang baru karena Nyonya Burung sudah bosan dengan sarang mereka yang lama.  Saat itu juga, mereka berkeliling mencari tempat baru, namun mereka selalu gagal karena tempat-tempat itu sudah menjadi milik mahluk lain.  Misalnya, mereka menemukan sepatu, kotak surat, lubang dahan pohon dan akhirnya katrol bel gereja.

Saya menekankan bahwa tidak satupun isitlah yang digunakan diatas, sepatu, kotak surat, lubang dahan pohon dan katrol bel gereja dikenal oleh sepasang burung ini. Hingga hal buruk terjadi, setelah mereka bekerja keras mengumpulkan jerami, benang, wol, sedotan, rambut ekor kuda, jenggot bapak tua, dan sebagainya untuk membuat sarang baru mereka, tepat saat itu juga Mr Parker menarik tali pembunyi lonceng gereja tersebut. Tak heran jika sarang baru itu rusak dan pada saat menyelamatkan diri, Tuan Burung dan Nyonya Burung terpisah. Tuan Burung mengira kalau Nyonya Burung sudah mati dimakan kucing karena ia melihat ada sisa sisa bulu burung disekitar kucing itu. dengan sedih.

Tuan Burung pulang ke sarangnya yang lama dan kaget karena menemukan Nyonya Burung sudah berada di sana.  Pada akhirnya, Nyonya Burung tidak mau pindah ke sarang yang baru, karena ia telah mempunyai telur untuk ditetaskan dan kemudian keluarlah Bayi Burung baru dan mereka merasa nyaman dalam sarang mereka yang lama. Selesai.
Cerita ini sangat sederhana, namun banyak hal yang  bisa digali di dalamnya. Nanti akan didiskusikan saat membicarakan langkah-langkah literasi informasi.

Apakah Literasi Media dan Informasi itu? Saya mengutip dari portal UNESCO (Media and Information Literacy. Media and Information Literacy. N.p., n.d. Web. 06 May 2014.[http://portal.unesco.org/ci/en/ev.php-URL_ID=15886&URL_DO=DO_TOPIC&URL_SECTION=201.html] diakses 6 Mei 2014) yang kalau diterjemahkan dari bahasa Inggrisnya kurang lebih mengungkapkan bahwa: Literasi informasi dan media merupakan keterampilan yang memungkinkan orang untuk menginterpretasi dan membuat keputusan berdasarkan informasi baik sebagai pengguna informasi  dan media maupun juga untuk menjadikan mereka menjadi pencipta dan penghasil informasi dan media sendiri secara trampil.

Dari cerita The Best Nest di atas, adalah pembaca yang memberikan interpretasi calon sarang baru yang 'ditaksir' oleh Tuan dan Nyonya Burung ini saat dalam gambar terlihat 'sepatu dan kaki, 'lubang pohon', 'kotak surat berbendera' dan 'katrol bel lonceng gereja'.  Tidak satupun dari benda-benda ini yang dikenal oleh sepasang burung ini. Mereka tidak mengenal benda-benda ini, namun sebagai pembaca, kitalah yang memberi interpretasi terhadap benda-benda itu.  

Demikian pula dengan interpretasi informasi. Informasi mempunyai beragam makna. Ada yang bersifat pengetahuan, berita, iklan, infotainment (perpaduan informasi dan entertainment) dan bentuk penyajian lainnya. Kesalahan interpretasi terhadap informasi, akan mempengaruhi pada kesalahan keputusan yang dibuat seseorang. Seseorang perlu mempunyai keterampilan untuk mengetahui perbedaannya. Lalu bagaimana? UNESCO membantu kita dengan inisiatif Media and Information Literacy. Untuk itu, ada baiknya jika seseorang perlu mengetahui dalam sebuah pemahaman yang lebih luas bahwa kecermatan dalam memilih informasi, menggunakan informasi dan menghasilkan informasi baru merupakan rangkaian yang tidak terlepas dari keberadaan kita sebagai warga negara yang menginginkan pemerintahan demokrasi yang baik.  Hal ini terlihat dalam bagan sebagai berikut:

Skema Bagan Konsep dan Aplikasi Media and Information Literacy oleh Hanna Latuputty dan Dede Mulkan (2012)



Dengan demikian, santri yang cerdas informasi adalah mereka yang memiliki keterampilkan media and information literacy yang kemudian membuat mereka menjadi pembelajar seumur hidup dengan berpartisipasi dalam mewujudkan pemerintah dan demorasi yang baik.

IMPLEMENTASI LITERASI INFORMASI dan MEDIA

Secara spesifik, keterampilan literasi informasi dan media merupakan langkah-langkah terampil para santri atau siswa dalam menggunakan informasi untuk pembuatan karya tulis atau tugas sekolah lainnya, untuk membuat keputusan atau memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Secara khusus, masalah yang akan dikupas dalam tingkat sekolah adalah pembuatan karya tulis ilmiah, yang biasanya perlu dikerjakan oleh para santri sebelum mereka lulus sekolah.  Kupasan lebih lanjut akan dijabarkan dengan menggunakan Siklus Literasi Informasi oleh Dr Dede Mulkan dan Hanna Latuputty (2012) di bawah ini:


Tulisan tentang penjabaran siklus di atas, sebetulnya sudah dipaparkan pada tulisan saya sebelumnya yang dapat diakses di sini.  Penjelasan di bawah ini lebih pada implementasi yang lebih spesifik yaitu di pesantren,

Mari kita telaah ke-enam langkah ini.

1. NEEDS. Langkah Pertama yaitu NEEDS di sini saya terjemahkan menjadi Masalah/research question

Masalah dalam konteks ini adalah pembuatan karya tulis akhir. Para santri perlu membuat keputusan untuk menulis apa atau topik apa, yang kemudian mengarah pada pertanyaan penelitian. Seseorang perlu memahami permasalahan apa yang dihadapinya, keputusan apa yang akan dibuat sebelum proses pemecahannya berlangsung. Dari contoh cerita anak di atas, The Best Nest, dapat diintepretasikan bahwa permasalahan Nyonya Burung adalah rasa bosan. Rasa bosan ini tertangani dengan munculnya anggota keluarga baru dan bukan sarang atau rumah baru. Meskipun usaha yang mereka sudah lakukan hampir mencelakai diri mereka sendiri. Dalam slide dibawah ini, ada beberapa contoh dalam kehidupan sehari-hari yang juga dapat dipecahkan seperti, mau makan dimana? kaleng-kaleng bekas akan dibuang atau didaur ulang? 


2. ACCESS. Akses informasi

Setelah mengetahui apa yang menjadi masalah yang ingin dipecahkan atau keputusan yang ingin dibuat, maka langkah selanjutnya adalah mengakses informasi.  Ada beragam sumber-sumber informasi yang tersedia baik itu di perpustakaan sekolah maupun perpustakaan pribadi. Sumber informasi ada dalam beragam format, cetak seperti buku dan majalah; non cetak seperti film, audio, televisi, online database, bahkan orang-orang yang berkompeten di bidangnya juga merupakan sumber informasi yang dapat dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan informasi yang diperlukan.


3. LOCATE. Menemukan Informasi.

Dari beragam sumber-sumber informasi di atas, maka akan ditemukan informasi yang dicari untuk memecahkan masalah.  Misalnya informasi yang kita perlukan ditemukan di sumber cetak, seperti buku-buku atau majalah. Dari sumber non cetak, kita dapat menggunakan film dokumenter, film atau bisa juga musik.  Sedangkan dari bentuk digital, kita dapat menemukan informasi yang kita cari di online database maupun search engines di internet.


4. SYNTHESIZE. Sintesakan informasi

Semua informasi yang terkumpul dari beragam sumber tadi, perlu di sintesiskan. Sebuah artikel majalah, beberapa paragraf buku, full teks dari artikel di online database, maupun hasil wawancara perlu disintesiskan agar pokok-pokok pikirannya dapat menunjang argumentasi ataupun penguat data dari tulisan yang kita buat.  Di sinilah perlu diperhatikan nilai-nilai kejujuran dan etika menulis patut dijunjung.

Hal yang dapat kita lakukan dalam melakukan sintesa ini adalah dengan menggunakan kata-kata sendiri.  Pokok pikiran dari artikel yang kita baca dapat dikutip dengan menggunakan kata-kata sendiri. Kita tetap harus menuliskan sumbernya. Hal lain adalah membuat kutipan langsung. Kutipan langsung akan sangat berguna jika pernyataan tersebut memperkuat argumen tulisan kita. Tetap diingat, bahwa semua ini ada aturannya, tergantung dari gaya sitasi apa yang ingin kita terapka.

Ada beberapa gaya sitasi (citation style) yang dapat digunakan dalam pembuatan tulisan ilmiah.  Beberapa diantaranya adalah:

1. MLA Style
2. APA Style
3. Harvard Style
4.Chicago Style
5. Turabian Style

Hal yang patut diingat adalah, jika kita sudah memutuskan untuk menggunakan sebuah gaya penulisan, maka kita harus konsisten dalam menerapkannya pada beragam sumber informasi yang kita gunakan.

Berikut ini contoh penulisan sumber informasi menurut MLA style:



5. CREATE. Menciptakan hasil akhir, menemukan jawaban dari masalah.

Hasil akhir dari proses menulis karya tulis akhir adalah sebuah paper atau naskah. Paper atau naskah ini merupakan proses penjabaran pemecahan masalah dengan menggunakan ide pemikiran penulis dengan penggunaan informasi yang membuat pemecahan masalah ini lebih akurat dan tepat.


6. EVALUATE. Evaluasi isi dan prosesnya.

Langkah terakhir ini, bisa terjadi saat kita presentasi, atau ketika naskah atau tulisan kita dibaca orang lain dan ada feedback dari mereka. Secara mandiri, tulisan kita juga bisa kita evaluasi sendiri. Tinggalkan tulisan kita beberapa lama, sehari atau dua hari, kemudian kita baca ulang. Kemungkinan kita juga bisa melakukan otokritik setelahnya.

Evaluasi mencakup evaluasi isi tulisan maupun proses pembuatan tulisan. Apa yang kita dapatkan dari isi dan proses ini, kemudian menjadi pengetahuan baru kita. Ke dua proses ini membentuk pengetahuan baru dan memperkaya pengetahuan kita yang sudah ada. Itu sebabnya, proses literasi informasi dan media ini merupakan siklus, karena hal yang sudah pernah kita dapatkan, kemudian menjadi sumber informasi untuk proses pemecahan masalah yang mungkin saja akan dapat kita re-call/panggil dalam siklus yang baru itu.



PENUTUP

Proses di atas, memang akan memakan nergi dan waktu pada awalnya, sebelum menjadi terbiasa. Hal yang sering terjadi adalah kecenderungan para siswa untuk copy paste dalam mencari dan menggunakan informasi. Hal ini dapat disiasati dengan manajemen waktu yang baik serta motivasi untuk menjaga nilai-nilai kejujuran secara akademisi.

Seringkali, alasan orang untuk copy paste atau menyontek adalah karena mereka tidak percaya diri, memiliki perencanaan waktu yang buruk, atau bahkan ingin melebihi orang lain dengan waktu yang cepat/instan.  Jika hal-hal ini disadari maka akan lebih mudah jika dikoreksi dengan melakukan perbaikan sebagaimana mestinya.

Kebiasaan bersikap jujur dan etis dalam berinformasi dengan mengembangkan kebiasaan meneliti sederhana secara efektif sedini mungkin melalui keterampilan literasi informasi dan media akan menjadikan seseorang, peneliti yang efektif, baik di dunia akademisi maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Selamat mencoba!

Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan


Pesantren Al-Bayan, Sukabumi
Pesantren Darussalam, Ciamis 
Pesantren Al-Ihsan, Bandung

Monday, July 21, 2014

"Indonesian Day" di Dickens Library, British International School, Tangerang: display dengan 3 hari persiapan.

Satu minggu sebelum hari Indonesian Day di sekolah kami, Kepala Sekolah meminta saya untuk menjadikan perpustakaan a vibrate library dalam rangka perayaan Indonesian Day.  Langkah pertama yang saya lakukan adalah mengundang rekan dari Taman Mini Indonesia Indah yang memang sudah mempunyai jadwal tetap datang ke British School untuk melatih para penari yang adalah karyawan BIS untuk Indonesian Day yang jatuh tanggal 28 Maret 2014.  Tarian daerah tahun ini berasal dari Sumatra Utara. So, saya pikir mas Andy bisa membantu display heboh dengan tema yang sama dari Sumatra Utara. Rapat untuk berkonsolidasi dilakukan namun sayangnya rencana ini harus batal, karena mentok di anggaran. Padahal itu hari Selasa, dan Indonesian Day jatuh pada hari Jumat. Maaf Mas Andy, masalah anggaran di luar wewenang saya. Semoga kerjasama kita bisa terlaksana lain waktu ya.

Otak saya berputar cepat. Dengan waktu mepet, bagaimana caranya supaya perpustakaan bisa membuat display yang berbeda seperti yang diinginkan Kepala Sekolah?  Informasi tentang Sumatra Utara relatif mudah diperoleh dari berbagai sumber yang kami miliki. Bagaimana dengan 'penampilan' perpustakaan? Dekorasi macam apa yang cocok? Dengan waktu yang tersisa hanya hingga hari Kamis, dan sekarang hari Selasa. Tiga hari, atau dua setengah hari. Rasanya yang berputar bukan saja otak, tapi kedua mata juga ikut muter-muter.

Ok. 

Pertimbangannya seperti ini: sentuhan apa yang harus dibuat agar meski sederhana, preparation nya tidak memakan waktu lama namun dapat memberi efek vibrate. Think...think....thinkkk...

Voila...ini pemikiran yang muncul:

- Pintu masuk, merupakan pintu utama pemandangan awal para pengunjung yang perlu ditangkap untuk mendapatkan kesan vibrate saat masuk ke perpustakaan. So perlu didekor heboh. 
- Dekorasi di dalam perpustakaan dapat memanfaatkan sarana yang dimiliki perpustakaan atau sekolah, tanpa ekstra kerja keras yang makan waktu, namun bisa memberi kesan 'wah' setelah pengunjung masuk perpustakaan. Apa itu ya?
- Waktu tinggal dua hari lagi, perpustakaan tetap harus buka sehingga pendekorasian dilakukan dalam jam layan perpustakaan.

Baiklah. 

Ini ide yang tercetus:
- Pintu masuk diberi janur seperti pesta pernikahan. Hal terpenting, menangkan perhatian 'beda' dari pengunjung.
- Mencari informasi tentang Sumatra Utara untuk didisplay di tangga pintu masuk lewat buku-buku yang dimiliki perpustakaan dan internet
- Menggantung kain-kain batik dari berbagai daerah di Indonesia di area perpustakaan
- Menghubungi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk bahan-bahan display tentang pariwisata di Indonesia. (Sayangnya, kami tidak mempunyai waktu lagi untuk berkungjung ke kantor ini untuk mengambil benda-benda display. Namun, dari website mereka,kami menemukan video menarik tentang kuliner Indonesia, yang kami putar selama hari itu. Barang-barang ini kemudian kami ambil setelah beberapa minggu kemudian. Semua kami dapatkan secara CUMA CUMA)

Mari dieksekusi!

Hari Rabu.

Berhubung waktu mepet, yang terpikir untuk display kain-kain batik adalah dengan MEMINJAM  koleksi teman-teman BIS. Pagi hari, berkunjunglah saya ke gedung admin dan menemui teman-teman di sana dengan mengungkapkan maksud tujuan peminjaman kain-kain batik tadi. Dicatat nama-nama DAN nomor telepon mereka, agar mudah diingatkan nantinya. Inilah contoh sederhana kekuatan berjejaring dan berteman baik (semoga mereka juga melihat hal yang sama ya :)). Teman-teman dengan sukarela menyatakan kesediaannya untuk membawa beberapa koleksi mereka.

Setelah urusan pinjam meminjam selesai, mari ke Pasar Lembang, Cileduk bersama Dape dan pak Yanyan-supir sekolah-, mencari jasa membuat janur kuning. Diskusi berlangsung singkat, dan sepakat menentukan pilihan serta memberi uang muka tanda jadi. Catatan kepada mereka adalah: tidak boleh ada paku saat pemasangan janur dan pisang-pisang yang akan dipajang nanti, harus sudah matang pada hari Jumat nya. Maklum, hari Senin adalah libur nasional, dan kami tidak ingin, pisang-pisang itu 'terbuang' percuma. Pemesanan, done. 

Selanjutnya..bagaimana cara menggantung kain-kain batik tadi? Benda yang terpikirkan adalah: ring kayu besar atau gantungan yang terbuat dari gantungan untuk gordyn dengan ukuran yang bisa pas untuk digantungkan di perpustakaan. Setelah urusan janur selesai, tujuan selanjutnya adalah pasar Cipadu (atas usulan Pak Yanyan) untuk mencari rel gantungan gordyn agar bahan-bahan batik pinjaman tadi bisa dipajang. Kami mendapatkan rel gordyn abu-abu model lama, dan kami minta agar dipotong-potong sepanjang 50cm sebanyak 12 buah, dengan pertimbangan kain-kain ini akan digantung di lampu-lampu dengan sekian banyaknya, kira-kira.

Hari Kamis

Pagi hari, pengumpulan bahan-bahan display dari kawan-kawan di Cental Admin. Beberapa ada yang dengan sukarela mengantarnya ke perpustakaan. Setelah terkumpul dan dimintai sedikit keterangan tentang bahan-bahan batik pinjaman mereka, kain-kain cantik ini siap dipajang dan dilabel terlebih dahulu.

Mari kita cari cara dengan mencoba-coba menggantungkan kain ini di rel gordyn yang sudah dipesan kemarin. Dengan paper clips ukuran besar, rel gordyn yang sudah diberikan pengait di kedua ujungnya kami gantung di frame lampu-lampu perpustakaan.

Kain-kain batik ini kami beri label keterangan singkat dan nama orang yang meminjamkannya kemudian ditempelkan diujung kain. Dengan demikian, ketika pengunjung melihat-lihat 'pameran' batik ini, mereka dapat membaca sekilas tentang jenis kain batik yang dipamerkan, dan nama yang meminjamkannya, Semacam bentuk apresiasi, begitu.

Oia, untuk menunjukkan tema Sumatra Utara, baju tradisional khas dari daerah ini pun kami pajang dengan menempelkannya di papan display. Plus, keterangan singkatnya. 

Kami benar-benar memanfaatkan setiap sumbangan kain batik dari teman-teman, untuk taplak meja, penghias sofa, hiasan di atas kaca akrilik...all must go up for the display!

Kamis sore, janur pun terpasang sesuai dengan pesanan. Pelan-pelan, dekorasi di area perpustakaan pun kami dandani. Karena tidak cukup waktu, finishing kami lakukan pada Jumat pagi.

Hari Jumat: the "D" day

Saya mampir ke pasar untuk membeli penganan kue kue kecil khas Indonesia, untuk kami display sekaligus juga dicicipi pengunjung. Karena ada sebagian kue tradisional Indonesia mengandung ketan yang berpotensi alergi bagi beberapa orang bule, terpaksa kami simpan untuk pengunjung orang Indonesia saja. Namun, ada kue kering imut yang bisa dinikmati semua orang. Terbukti, kue-kue ini nyaris habis saat kelas - kelas 7 assembly di perpustakaan.

Saat hari menjelang siang, Kepala Sekolah mendatangi ruangan saya dan memberikan apresiasinya. Beliau nampak senang, karena dengan waktu yang mepet, perpustakaan dapat disulap dan memberi kesan vibrate seperti yang diingininya dengan biaya Rp 1.500.000,- saja. Menurut saya ini bisa disebut sebagai salah satu achievement. [Kata achievement (n) berarti:  prestasi (Compact Indonesian Dictionary oleh Katherine Davidsen).  Prestasi atau prestasi kerja adalah hasil kerja yg dicapai oleh seorang karyawan dl melaksanakan tugas yg dibebankan kepadanya; kinerja (Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/prestasi/mirip#ixzz2xgoZin9D).]

Yuk, lihat foto-fotonya:














Monday, July 14, 2014

Pustakawan Sekolah Tinggi Teologi: Menjadikan Pengguna Perpustakaan Semakin Berakar dan Bertumbuh ke Arah Kristus yang adalah Kepala (Efesus 4: 14-15)

           Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita,
supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci
(Roma 15:4)

Saya memberanikan diri menulis artikel ini, semata mata karena ingin berbagi dalam keterbatasan pengetahuan teologi saya maupun pengalaman hidup saya. Saya bukan teolog dan tulisan ini merupakan sharing singkat tentang iman Kristen, pustakawan dan teladan Yesus Kristus berdasarkan pemamahan saya.
 
            Saya bersyukur diberi kesempatan untuk menjadi salah satu nara sumber di acara Musyawarah Nasional ke-2 Forum Pustakawan dan Perpustakaan Teologi di Indonesia (ForPPTI) di STT Jakarta tanggal 25 Juni 2014. Pertama, karena kesempatan ini (tentunya) akan memperkaya pengalaman saya untuk berbicara di kalangan yang beragam peserta (terakhir saya berbicara di empat Pesantren di Propinsi Jawa Barat). Kedua, karena saya dapat menempatkan posisi ‘seolah-olah’ saya adalah pengguna jasa layanan perpustakaan teologi (atau perpustakaan gereja)  dan menempatkan kebutuhan rohani saya sebagai seorang kristen.  Alasan kedua, -ini yang sebetulnya yang ingin saya gali- yaitu peran perpustakaan STT  serta pustakawannya. Saya melihat pentingnya peranan pustakawan dan perpustakaan teologi yang lebih luas akan saya kaitkan dengan perpustakaan gereja. Tulisan ini bukan menangkat topik yang saya bicarakan saat Munas ForPPTI, namun efek perenungan saat menyiapkan bahan yang diminta oleh panitia yaitu tentang organisasi profesi APISI kepada peserta.
 
            Menurut saya, ketika seseorang percaya pada Tuhan Yesus maka kehidupan rohaninya harus bertumbuh dan berkembang. Pertumbuhan rohani ini dapat terjadi dengan mempunyai hubungan yang intim dengan Tuhan Yesus setiap hari, beribadah secara regular pada ibadah kategorial seperti Ibadah Rumah Tangga, Ibadah Anak-anak, Remaja, Pemuda, Kaum Bapak, Kaum Ibu dan Lanjut Usia) serta tentunya Ibadah Umum Hari Minggu. Pendalaman Alkitab secara rutin, Kelompok Tumbuh Bersama atau komitmen pribadi untuk mendalami Alkitab secara mandiri.  Mengapa pertumbuhan rohani ini penting? Efesus 4: 14-15 mengingatkan kita, bahwa sepanjang hidup kita di dunia ini, ada begitu banyak angin pengajaran, permainan palsu dan kelicikan penyesat. Dalam menghadapi situasi ini, Paulus, dalam suratnya kepada Jemaat Efesus menyatakan bahwa keteguhan berpegang pada kebenaran di dalam kasih untuk bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus yang adalah Kepala.  Surat “kembar” yang ditulis oleh Paulus kepada Jemaat Kolose juga menekankan hal yang lebih tegas lagi: Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.
            “Berakar dan bertambah teguh” tentunya memerlukan proses belajar terus menerus. Proses belajar tentu saja mengacu pada Alkitab sebagai satu-satunya pedoman utama kehidupan kristen.  Saya percaya bahwa seperti juga Alkitab ditulis dan dihasilkan oleh orang-orang pilihanTuhan untuk dijadikan pegangan hidup mereka yang percaya kepada Kristus, demikian pula, Tuhan memakai anak-anak yang dipercaya-Nya untuk menulis literatur  kristen guna memberi pencerahan bagi pengikut-Nya. Literatur pendukung Alkitab seperti ensiklopedi Alkitab, tafsiran Alkitab, konkordansi, kamus Alkitab, atlas Alkitab serta  Alkitab dalam berbagai terjemahan yang mempunyai ragam kata kaya makna dapat digunakan sebagai bahan acuan ketika seseorang memahami isi Alkitab. Alkitab dalam bahasa Indonesia sendiri terdiri dari beberapa versi. Seringkali, makna sebuah kata bahasa Indonesia jika dibandingkan dengan bahasa Inggris, misalnya, mempunyai pemahaman yang lebih dalam. Di samping itu,  buku-buku  rohani yang berkaitan dengan kehidupan kristiani  dapat pula menguatkan iman pengikut Kristus.
 
            Hal yang perlu disadari adalah selain literatur penunjang, ada pula beragam literatur yang tidak sejalan dengan iman kristen yang harus diwaspadai pengadaannya di perpustakaan.  Situasi ini lebih mempunyai efek langsung di perpustakaan gereja, mengingat perpustakaan ini melayani beragam tingkat usia jemaat, dan lebih penting lagi, tingkat kedewasaan iman mereka.
 
            Menjadi kristen adalah proses belajar yang tiada putus. Alkitab, iman percaya dan kenyataan hidup yang dihadapi sehari hari dan pergumulan di rumah tangga, pekerjaan maupun masyarakat, dapat dijadikan proses pembelajaran  untuk mendewasakan iman percaya kita. Kadang, Alkitab tidak memberikan jawaban pasti dan telak dalam membantu kita memecahkan permasalahan kehidupan kita yang begitu banyak dan kompleks. Namun kita percaya bahwa Kristus tidak meninggalkan kita. Tidak jarang beragam sumber dijadikan sebagai ‘referensi’ kita untuk memecahkan masalah tersebut seperti buku-buku rohani serta sharing sesama jemaat atau pendeta, bahkan lewat pengalaman rohani kita sendiri. Apapun masalahnya, kristen percaya bahwa Ia menyertai senantiasa. Seperti tertulis pada Matius 28:20, saat kenaikan Kristus dan pesannya untuk menjadikan semua bangsa muridNya, bahwa Ia menyertai senantiasa sampai akhir zaman.
 
            Pengalaman mengandalkan Kristus dalam setiap aspek kehidupan kita juga bukanlah sikap hidup yang hanya mengandalkan perasaan semata. Sikap hidup beriman serta percaya bahwa Tuhan kita tidak akan meninggalkan kita, adalah sikap iman, karena kita mengenal Tuhan kita secara utuh, menyembahNya dan hidup seturut kehendakNya seperti yang tertulis dalam Alkitab. Menurut saya, iman tidak dilandasi pada perasaan, namun keyakinan pada suatu kebenaran yang hanya ada dalam Yesus Kristus, yang diawali saat kita percaya padanya (Yohanes 3:16: Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal).

            Hidup sebagai orang percaya tidak berarti kita selalu bahagia dan bebas masalah. Selama hayat dikandung badan, dan selama nafas masih ada, masalah dan pergumulan manusia akan terus ada. Demikian juga Kristen.  Bagian kita adalah percaya pada Roh Kudus yang senantiasa memimpin. Kita mencari kehendakNya dengan memiliki hubungan pribadi yang erat dengan Sang Khalik lewat membaca Alkitab dan berdoa setiap hari. Kita menjaga persekutuan yang erat dengan jemaat di mana kita ditempatkan serta bersaksi dan melayani. Hal ini dapat menjadi sebuah pola kehidupan kristen di dunia ini hingga Kristus datang kembali ke dunia untuk ke dua kalinya. Hidup beriman kita hendaknya dilakoni dengan kesungguhan dan bukan karena tradisi semata.

          Alkitab menjadi pegangan Kristen terus menerus, karena kristen adalah jemaat yang terus bertumbuh semakin dekat denganNya, semakin sungguh menyembahNya dan semakin taat dan kuat berakar dan bertumbuh ke arah Dia, Kristus yang adalah Kepala, sehingga kita akan menjadi serupa denganNya dalam kesaksian kita dimanapun kita berada. Kadang, ayat-ayat Alkitab yang sama akan berbicara kepada kita dan memberikan makna yang berbeda dari waktu ke waktu. Bukan karena kita dapat seenaknya memberi interpretasi pada ayat tersebut, namun, kedewasaan iman serta pengalaman hiduplah yang menjadikan demikian. Alkitab tidak pernah ketinggalan jaman. Alkitab selalu konsisten namun tetap up to date dengan perubahan jaman.

 
Pustakawan yang Melayani
 
Peran pustakawan sekolah teologi atau pustakawan gereja dalam melayani pemakainya jelas penting. Ia mempunyai tugas melayani kebutuhan informasi pengguna dengan menyediakan sumber-sumber informasi yang memuat pengetahuan ketuhanan, dasar kepercayaan kepada Allah dan agama. Ketika kita berbicara 'melayani' maka tokoh utama yang dapat kita teladani adalah Kristus.  Kristus datang ke dunia ini untuk melayani manusia dan mati untuknya sebagai tebusan atas dosa-dosa kita. Ia datang dengan mengambil rupa seorang hamba, padahal Ia adalah anak Allah (Filipi 2:6-8). Melayani mengandung makna ‘pelayan’, seseorang yang bertugas untuk memenuhi kebutuhan orang yang dilayaninya. Pelayan disini tentu bukan seseorang yang dengan mudah disuruh dan diperintah, melainkan pelayan yang mempunyai misi memperlengkapi orang yang dilayaninya. Pustakawan adalah melayani. Kristus datang untuk melayani. Dalam profesi kita, jelaslah siapa teladan kita dalam melayani ini.

Memahami bahwa profesi pustakawan yang ditempatkan Tuhan di tempat yang khusus ini sejatinya membuat pustakawan ForPPTI berlomba-lomba untuk menunjukkan performa kerja yang terbaik. Sama seperti kristen di profesi lain, bahwa ketika kita bekerja, kita bekerja untuk kemuliaan Allah bukan untuk manusia. Seperti yang tertulis dalam I Korintus 10:31: Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.
Yesus Kristus: Membaca, Pencerita, Berpikir Kritis dan Ilmiah

Sebagai pustakawan Kristen, selain jiwa melayani, banyak teladan yang dapat kita pelajari dari Yesus Kristus. Ketika berusia 12 tahun, bersama Maria dan Yusuf, mereka menuju Yerusalem pada hari raya Paskah (Lukas 2:41). Setelah hari perayaan selesai, Yesus tinggal di Yerusalem tanpa diketahui orang tuanya.  Ketika orangtuanya kembali mencari Dia di Yerusalem, Yesus berada di Bait Allah.  Apa yang dilakukan Yesus diusia semuda itu? Ia duduk ditengah-tengah alim ulama sambil mendengarkan dan mengajukan pertanyaan (ayat 46).  Lebih dari itu, di ayat 47 tertulis bahwa semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya.

            Pada pengajarannya selama kurun waktu 3 tahun, Yesus senantiasa mengacu ajarannya kepada Kitab-kitab ‘Perjanjian Lama’ untuk menguatkan ajarannya. Kata-kata seperti: ‘Ada tertulis…’menunjukkan bahwa Ia paham benar apa yang diyakini-Nya. Perkataan ini juga menunjukkan bahwa Ia tidak asal bicara, tapi Ia mengutip. Jika dianalogikan dengan masa kini, hal ini mirip dengan kutipan pada penulisan karya ilmiah dan referensinya.  Hingga Ia dicobai di gurun pasir setelah Ia berpuasa 40 hari lamanya, ia tidak meng’encounter’ serangan Iblis dengan kata-kataNya sendiri, melainkan, Ia mengutip Kitab Suci dan hal itu membuat Iblis meninggalkanNya, lalu Ia dilayani oleh malaikat-malaikat Tuhan. Tuhan Yesus adalah pembelajar, Ia banyak membaca. Ia pahami benar apa yang dibacaNya.
 
           Banyak perumpamaan yang Tuhan Yesus ungkapkan saat Ia mengajar. Ia menggunakan perumpamaan agar pendengarnya dapat dengan mudah mencerna maksud ajarannya. Saat ini, kita bercerita pada anak-anak agar mereka mendapatkan kisah-kisah menarik yang memperlengkapi daya imajinasi dan kreasi mereka.  Berapa banyak orang menanti-nantikan kesempatan untuk bisa bersama Yesus saat itu agar dapat mendengar cerita-ceritaNya? Tentu saja bukan sekadar mendongeng, melainkan melalui cerita-cerita perumpamaan yang Ia sampaikan, kebenaran pengajaranNya dapat dipahami pengikutNya. Dengan metode ini, Tuhan Yesus  menarik banyak orang untuk mendengarNya,  sekaligus memberi pengajaran kepada mereka.

Apakah Tuhan Yesus berpikir kritis? Ia tidak saja berpikir kritis, namun Ia juga berhikmat dan bijaksana dalam menyampaikan jawaban-jawaban atas segala hal yang ditanyakan orang orang pada Nya. Yesus memberi contoh bahwa ke’pandai’an harus diimbangi dengan kebijaksanaan.  Tentu saja, dengan kuasaNya, ia sering kali memecahkan permasalahan orang-orang yang mencari-Nya. Tuhan Yesus tidak saja berilmu, pandai berkomunikasi (Ia tahu kapan Ia harus diam (saat Ia dihakimi Pilatus dan memikul salib-Nya), kapan Ia harus marah (saat Ia melihat Bait Allah dijadikan pasar) dan bagaimana Ia harus menghadapi berbagai karakter orang dan menjadikan mereka percaya kepadaNya (kisah Zakeus si pemungut cukai, perempuan Samaria, Orang kaya yang ingin menjadi pengikut=Nya dan sebagainya).

Penutup
 
Tulisan ini masih jauh dari sebuah tulisan tentang teladan Yesus Kristus dalam profesi pustakawan. Tulisan ini hanya mengupas sedikit tentang Kristus, kristen dan pustakawan kristen. Masih banyak hal-hal lain yang dapat kita pelajari dari Tuhan Yesus sebagai teladan profesi pustakawan yang saya yakin tiap kita mempunyai pengalaman maupun pendapat yang berbeda. Saya yakin pembaca juga mempunyai perspektif dan pengalaman sendiri yang mungkin bisa dbagikan.

     Menurut saya,  teman-teman pustakawan STT dan pustakawan gereja, profesi pustakawan mempunyai kontribusi penting bukan saja melayani pelanggan perpustakaan atas kebutuhan informasi untuk pengetahuan teologi  mereka namun juga dalam kehidupan pertumbuhan rohaninya bahkan bagi pustakawan itu sendiri. Bagaimana?






Wednesday, March 19, 2014

Kepustakawanan Sekolah: Perannya dalam Menunjang Kegiatan Pembelajaran Abad 21

oleh:
Hanna Chaterina George, SS, M.I.Kom
(hanna@apisi.org)

Disampaikan Pada Seminar dan Talkshow APISI dan Sekolah Terpadu Pahoa yang bertema: Perpustakaan Sekolah: Perkembangan dan Tantangannya di Era Pembelajar Abad 21. Sekolah Terpadu Pahoa, Serpong, Tangerang, Banten. 15 Maret 2014. 

Kata Kunci: pembelajar abad 21, pustakawan sekolah, perpustakaan sekolah, program perpustakaan sekolah

Pendahuluan
Apa indikasi dari sebuah pembelajaran yang berciri abad dua puluh satu? Pertanyaan ini berangkat dari begitu ramainya hiruk pikuk aliran informasi dari berbagai arah dalam kehidupan manusia, termasuk para siswa. Beragam bentuk informasi yang tersedia menjelma bukan saja dalam bentuk tradisional yang tercetak seperti buku, koran dan majalah atau media pandang dengar seperti televisi dan radio, melainkan juga dalam bentuk digital yang dapat diakses secara terpasang (online) melalui komputer ataupun alat komunikasi yang semakin canggih. 
            Situasi yang menggambarkan informasi yang meluas dan kemudahan aksesnya serta beragam sarana akses serta peningkatan digitasi teks, memberi perubahan dalam cara siswa belajar di sekolah (AASL,2009:5).  Para siswa tidak lagi dapat dibiarkan tanpa keterampilan mengelola informasi, mereka juga perlu memiliki pemikiran kritis dan kreatif dalam memilih dan menggunakan informasi untuk memecahkan permasalahan mereka baik secara individu maupun kolaboratif serta mengkomunikasikan hasil temuan mereka secara etis.  Demikian, para siswa nantinya diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan keterampilan, perilaku dan tanggung jawab dalam proses pembelajaran mereka.
            Komponen penting dalam proses pembelajaran yang digambarkan ini adalah perpustakaan sekolah.   Sebagai unit penopang kegiatan pembelajaran di abad dua satu ini, perpustakaan berperan untuk memberi akses informasi yang berkualitas tinggi dari beragam perspektif, menolong siswa menggunakan informasi tersebut untuk membuat kesimpulan sendiri ataupun pengetahuan baru yang diperoleh serta mendorong mereka untuk membagikan pengetahuan tersebut ke orang lain. 
Sinikka Sipilä, Presiden IFLA yang menjadi salah satu dari pembicara kunci  di Konferensi Tenaga Perpustakaan Sekolah IASL (International Association of School Librarianship) di Bali tahun 2013 menegaskan bahwa perpustakaan sekolah yang kuat adalah perpustakaan yang memiliki tiga komponen ini:
1) perpustakaan sekolah adalah tempat bagi para siswa menemukan beragam jenis informasi secara percuma,
2) perpustakaan sekolah adalah tempat bagi para siswa untuk mendapatkan tuntunan dan dukungan dari guru pustakawan serta
3) perpustakaan sekolah adalah tempat bagi para siswa untuk mendapatkan dukungan pengembangan diri mereka untuk menjadi warga negara yang ber-literasi informasi. (Sipilä, 2013:11)
Menyikapi perubahan lingkungan yang secara khusus berkaitan dengan teknologi dan informasi, perpustakaan sekolah mempunyai peranan yang tidak kalah penting dengan para guru, kurikulum yang diterapkan serta peranan tingkat manajemen maupun pemangku jabatan di sekolah. Untuk itu, American Association of School Librarians (AASL) pada tahun 2007 membuat sebuah pedoman tentang standard untuk pembelajar abad dua puluh satu yang mencakup empat standard utama yaitu
1) mencari tahu, berpikir kritis dan memperoleh pengetahuan;
2) membuat kesimpulan, membuat keputusan berdasarkan informasi menerapkan pengetahuan pada situasi yang baru dan membuat pengetahuan baru;
3) berbagi pengetahuan dan berpartisipasi secara etis dan produktif sebagai anggota masyarakat demokratis serta
4) secara terus menerus melanjutkan perkembangan pribadi dan estitikanya.
Dari keempat standar ini, muncullah sembilan  pokok common beliefs  yang berangkat dari keberadaan perpustakaan sekolah. Ke sembilan pokok common beliefs ini mencakup:
1) Membaca adalah jendela dunia (Reading is a window to the world);
2) Sifat ingin tahu merupakan bingkai kerja pembelajaran (Inquiry provides a framework for learning);
3) Perilaku etis dalam pemanfaatan informasi harus diajarkan (Ethical behavior in the use of information must be taught);
 4) Keterampilan teknologi adalah penting untu kebutuhan tenaga kerja di masa depan (technology skills are crucial for future employment needs);
5) Hak akses yang sama adalah komponen penting dalam pendidikan (Equitable access is a key component for education);
6) Definisi literasi informasi telah menjadi lebih kompleks karena beragam sumber dan teknologi semakin berkembang (The definition of information literacy has become more complex as resources and technologies have changed);
7) Kebutuhan informasi yang terus berkembang mengakibatkan semua individu memerlukan keterampilan berpikir yang dapat memampukan mereka untuk belajar sendiri (the continuing expansion of information demands that all individuals acquire the thinking skills that will enable them to learn on their own);
8) Pembelajaran mempunyai konteks sosial (Learning has a social context) dan
9) Perpustakaan sekolah penting dalam pengembangan keterampilan belajar (ASLA, 2007:11).  Sipilä dalam paparannya menegaskan bahwa perpustakaan sekolah mampu mendukung warga masyarakat dan para siswa untuk memperluas keterampilan hidup mereka seperti keterampilan membaca dan literasi informasi (Sipilä, 2013:23).
Lebih jauh, ASLA menegaskan bahwa dari sembilan poin ini menunjukkan dua pendekatan utama pada perpustakaan sekolah yaitu MEMBACA (Reading) dan KEINGINTAHUAN (Inquiry).

Contoh –contoh Kegiatan Perpustakaan Sekolah dalam Pembelajaran Abad 21
Contoh – contoh yang diangkat merupakan beberapa tulisan pemakalah acara Konferensi IASL 2013 yang dipresentasikan selama konferensi berlangsung di Bali. Tema konferensi adalah Enhancing Students’ Life Skills through the School Library. Tulisan yang diambil sebagai acuan adalah yang berkaitan dengan pembahasan topik tulisan ini.

         Di Australia, McIIvenny mengembangkan sebuah terobosan program literasi informasi yang disebutnya re-visioning the library for 21st century yang mendukung kurikulum sekolah di Australia. Beliau mengembangkan program yang unik yaitu memadukan literasi informasi, keterampilan belajar serta pemikiran yang kritis dan cerdas dalam satu program utuh.  Usaha ini dilakkukan bukan saja untuk menyiapkan para pembelajar di abad ke dua puluh satu melainkan juga mengembangkan aspek kognitif dan afektif siswa. (McIIlvenny, 2013:305)

        Contoh program lain di Australia yang dikembangkan oleh Greef (2013) di perpustakaan sekolahnya adalah dua program yang digarap bersama fakultas English yaitu Independent Reseach Project dan Wide Reading Program.Program pertama adalah perpaduan kegiatan membaca dan guided inquiry sedangkan program kedua dikembangkan untuk mendukung kegiatan refleksi dan perkembangan keterampilan literasi informasi (p. 274)

        Di Amerika Serikat, Houston memaparkan kegiatan yang dilakukan oleh perpustakaan sekolah sebagai salah satu wujud nyata hasil elaborasi Standards for The 21st Century Learner yang dijabarkan di atas yang menyebutkan hubungan sumber – sumber perpustakaan dengan pembelajaran inquiry yang menekankan pentingnya mengembangkan keterampilan inquiry dalam sebuah lingkungan kolaboratif yang kaya dalam sarana informasi dan sumber-sumbernya.  Kegiatan ini disebut dengan Makerspace, yaitu kegiatan berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Art and Mathematics) yang pada akhirnya menuntun para siswa untuk memahami mata pelajaran ini lebih konkrit dan mudah untuk dipahami (Britton 2012; Gershenfeld 2007 dalam Houston, 2013:360). Dalam menjelaskan apa itu Makerspace, Houston menyebutkan kegiatan ini melibatkan orang-orang  yang ingin mengembangkan aplikasi teknologi inovatif dengan menggunakan ide-ide dan peralatan low-tech dan hi-tech.   Tempat, peralatan dan kegiatan pembuatannya atau “Maker” dilakukan di perpustakaan-perpustakaan, gedung-gedung industri dan pusat kegiatan masyarakat yang disebut dengan Makerspaces, Hackerspaces, or Hubs (p. 360)
            Selain dalam bentuk kegiatan perpustakaan, adapula negara yang berangkat dari penguatan program dan kebijakan perpustakaan sekolah yang dikembangkan oleh pemerintah, misalnya di Portugal. Martins (2013) mengungkapkan program dan strategi jejaring perpustakaan sekolah yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Portugal yang menekankan pada tiga usaha dari School Libraries Network Program (Ministry of Education) yang menitikberatkan pada penciptaan dan perkembangan dari jaringan nasional yang merupakan elaborasi dari yang mereka sebut dengan Evaluation Model dan acuan corpus dari Learning Standard (Martins,2013:365).  Lebih lanjut, Martins menyebutkan standard tersebut disusun menjadi tiga bagian besar dari pekerjaan perpustakaan sekolah yaitu: reading literacy, media literacy dan information literacy.
            Dari Indonesia, Sekolah Dyatmika Bali, mengembangkan sebuah proyek inovatif yang disebut dengan Literasi Anak Indonesia (Denise,2013: 450). Program  ini dimulai sejak tahun 2011 untuk memberi dukungan pada literasi Indonesia.  Model pengajaran literasi yang diciptakan menggunakan literautr anak-anak yang interaktif dan sumber-sumber penuntunnya dalam Bahasa Indonesia untuk mempromosikan perkembangan literacy di tingkat taman kanak-kanak dan sekolah dasar Indonesia.

Penerapan di Indonesia – Sebuah Contoh Aplikasi Program Literasi Informasi

Guy Claxton (2014), penggagas program Building Learning Power  mengungkapkan bahwa inti pembelajaran di abad dua puluh satu ini adalah kemampuan untuk belajar (ability to learn). Claxton lebih lanjut menambahkan bahwa kemampuan ini akan menolong siswa untuk tidak berputus asa atau merasa sedih saat mereka tidak menemukan jawaban langsung dari pertanyaan mereka. Pendapat ini sejalan dengan apa yang selama ini disebut-sebut dengan literasi informasi.
            Konsep literasi informasi menurut George dalam Literasi Informasi Perpustakaan Sekolah: Studi Kasus Penerapan  Program Literasi Informasi di Perpustakaan Sekolah Santa Angela (2013) adalah literasi informasi mencakup seperangkat keterampilan untuk memecahkan masalah ataupun untuk membuat keputusan, baik untuk kepentingan akademisi ataupun pribadi, melalui proses pencarian, penemuan dan pemanfaatan informasi dari beragam sumber serta mengkomunikasikan pengetahuan baru ini dengan efisien, efektif dan beretika (p.11). 

            Dalam konteks yang lebih luas, literasi informasi merupakan sebuah elemen penting dalam mewujudkan pemerintahan demokratik yang baik karena warga negaranya mempunya keterampilan menggunakan informasi dengan keterampilan pemikiran kitirs dan kreatif dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi. Lebih lanjut tentang pembahasan literasi informasi, bisa lihat di link ini.

Referensi:

Claxton, Guy. "21st Century Learner." Continuous Professional Development. The British
International School, Tangerang. 21 Feb. 2014. Lecture.


Denise, Aprile, Ni Ketut Ayu Sugati dan Sri Utami. (2013). Approaches  to the Teaching of
Indonesian Literacy in the Primary Classroom. In A.Elkins,J.H.Kang,&M.A.Mardis (Eds.), Enhancing Students' LifeSkills Through School Libraries. Proceedings   2nd Annual International Conference Incorporating The 17th International Forum On Research In School Librarianship August  26 –  30,2013-  Bali,     Indonesia  ( pp.450-451)

Elizabeth Greef. (2013). Eagles not Pelicans:  Equipping Students with Skills through School   
          Library Programs to Fly into Their Future  Lives. In A.Elkins,J.H.Kang,&M.A.Mardis   
          (Eds.),  Enhancing Students' LifeSkills Through School Libraries. Proceedings 2nd  
          Annual International Conference Incorporating The 17th International Forum On       
          Research In School Librarianship August  26 –  30,2013-  Bali, Indonesia  (pp. 274- 
         286)

George, Hanna Chaterina. (2013). Literasi Informasi Perpustakaan Sekolah: Studi Kasus  
Penerapan Program Literasi Informasi di Perpustakaan Sekolah Santa Angela,  Bandung. Bandung: Universitas Padjadjaran, (pp.10, 135 – 160)

 Houston, Cynthia R. (2013). Makerspaces@your School Library: Consider the Possibilities!       
In A.    Elkins, J.H.      Kang,  &         M.A.    Mardis (Eds.), Enhancing      Students' Life Skills      Through            School Libraries.         Proceedings    2nd      Annual International   Conference      Incorporating  The            17th     International    Forum On 
Research  In School Librarianship August  26 –  30,2013      -  Bali, Indonesia  ( pp.360-364)
                       
Leonie McIlvenny.(2013). Inspired Learning in the Library. In 
A.Elkins,J.H.Kang,&M.A.Mardis (Eds.),  Enhancing Students' LifeSkills Through School Libraries. Proceedings 2nd Annual International Conference Incorporating The 17th International Forum On Research In School Librarianship August  26 –  30,2013-  Bali, Indonesia (pp. 305-316) 

Martins, Ana Bela Pereira [et.all]. (2013). Effective Learning in the School Library: the   
Portuguese School Libraries’ Learning Standards Framework:  Conception and Framing. In A.Elkins,J.H.Kang,&M.A.Mardis (Eds.),  Enhancing Students' LifeSkills Through School Libraries. Proceedings 2nd Annual International Conference Incorporating The 17th International  Forum On Research In School Librarianship August  26 –  30,2013-  Bali,         Indonesia  ( pp.365-376)

Sipilä, Sinikka. (2013). Strong School Libraries for Strong Societies. Annual International 
Conference Incorporating The 17th International Forum On Research In School Librarianship August  26 –  30,2013-  Bali,  Indonesia. Unpublished.

Standards for the 21st Century Learner. (2007). Chicago: American Association of School  
            Librarians. Print.

Standards for the 21st Century Learner In Action. (2009). Chicago: American Association of School  
            Librarians. Print.