Tuesday, October 13, 2015

Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Anak Sekolah Minggu di Tomok Pulau Samosir, Danau Toba, Sumatra Utara

Awal pertemanan saya dengan Ibu Pdt. Lasma Sidabutar di Facebook,  membawa saya pada sebuah kesempatan indah mengunjungi Danau Toba. Pada suatu hari tiba-tiba foto-foto baheula saya muncul kembali di Timeline karena di Like atau di Share olehnya. Mulailah percakapan demi percakapan bergulir. Hingga pada suatu saat Ibu Lasma bertanya apakah saya bersedia untuk bercerita kepada sekitar 300 anak-anak di Tomok, Pulau Samosir dalam acara KKR. Saya bersedia.

Acara KKR yang di prakarsai oleh Dewan Pimpinan Anak Cabang - Persatuan Wanita Kristen Indonesia (DPAC-PWKI) Kecamatan Simanindo yang diketuai oleh Ibu Pdt Lasma Sidabutar serta Ketua Panitia Ibu Saurna Ambarita. Acara ini dirangkai dengan penanaman pohon di beberapa sekolah dan gereja serta beberapa rumah penduduk. Bersama dengan
Ibu Lasma, Ibu Sintong Sidabutar dan dua anak saya Fia dan Yosua, kami pun berkeliling menyerahkan tanaman-tanaman itu kepada calon penerima yang sudah ditetapkan.

Friday, March 13, 2015

APISI di RAKORBID Perpustakaan dan Arsip Propinsi Banten

Pada hari Senin dan Selasa tanggal 9 dan 10 Maret 2015, BPAD Propinsi Banten mengundang saya untuk mengikuti acara Rapat Koordinasi Bidang Perpustakaan dan Kearsipan (Forum Renja) BPAD 2016 di Hotel Jayakarta, Anyer.

Hari pertama, acara dibuka dengan paparan narasumber oleh Kepala BPAD Propinsi Banten, Dra E. Suhaeti, M.Si. Paparan beliau dibuka dengan visi dan misi Gubernur Banten. Program prioritas pembangunan mencakup pembinaan kearsipan daerha; pengembangan minat dan budaya baca dengan indikator meningkatnya kunjungan perpustakaan/hari serta pengembangan dan pembinaan perpustakaan dengan indikator eningkatan jumlah perpustakaan dengan indikator peningkatan jumlah perpustajaan sesuai standard (%).

Friday, February 20, 2015

20 Years of Service at BIS

14 Februari 2015 - sekiranya saya masih bekerja di Perpustakaan SMP/SMA British School, saya akan genap 21 tahun melayani di perpustakaan sekolah ini.  Nyatanya, pada tanggal 14 Mei 2014, merupakan hari terakhir saya bekerja di The British International School. Hal yang pasti, banyak sekali pengalaman yang saya timba dalam kurun waktu 20 tahun lebih 3 bulan ini. Suasana bekerja dengan para siswa, para guru, para bos dan rekan kerja juga memberi warna dalam proses belajar saya hingga sekarang.

14 Februari 1994, pas hari Valentine, saya memulai hari pertama saya bekerja sebagai library assistant di Perpustakaan Senior School-BIS. Saat itu, saya masih kuliah. Saya hanya perlu mempersiapkan diri untuk ujian komprehensif sebelum saya memulai skripsi saya. Waktu itu perpustakan masih memiliki koleksi yang tidak banyak, dan saya masih belum PD dengan bahasa Inggris saya. Angkat telepon pun saya ketakutan. Lucu kalau ingat-ingat masa itu. Tapi, pelan-pelan saya belajar memberbaiki diri, terutama dari keragaman kepemimpinan bos-bos saya, Mrs Maggie Trewavas; Helen Robarts, Valerie Bale, Stuart Crouch, Monica Mayer dan Stephanie Brown.

Sampai akhirnya saya bisa kuliah S2 dan menyelesaikannya. Rasanya banyaaakkk sekali yang bisa dibagikan. Saya pikir lebih seru kalau ceritanya lewat foto-foto ya ;)

Mari....


Monday, July 28, 2014

Menjadi Santri yang Cerdas Informasi: Roadshow Keterampilan Literasi Media dan Informasi di Empat Pesantren Jawa Barat

Dalam rangka penuntasan penelitian yang berjudul 'Studi Pemanfaatan Media Massa oleh Santri Pondok Pesantren Modern (Islamic Boarding School)  di Propinsi Jawa Barat, saya diminta untuk menjadi salah satu nara sumber yang berbicara tentang literasi informasi bagi para santri.

Penelitian ini merupakan kelanjutan dari penelitian terdahulu yang diketuai oleh Dr Dede Mulkan, M.Si dengan anggota tim: Dr Nuryah Asri Sjafirah, M.Si; Gumgum Gumilar, S.Sos., M.Si; Ala Nurdin, S.T.P, Irfan Marfiandi dan saya sendiri, Hanna C George, SS, M.I.Kom.

Sesuai dengan kisi-kisi penelitian yang diberikan, tugas saya adalah membawakan materi tentang literasi informasi dengan harapan para santri menjadi 'melek informasi' yaitu mereka memahami bagaimana cara memilih informasi yang baik dan benar.

Monday, July 21, 2014

"Indonesian Day" di Dickens Library, British International School, Tangerang: display dengan 3 hari persiapan.

Satu minggu sebelum hari Indonesian Day di sekolah kami, Kepala Sekolah meminta saya untuk menjadikan perpustakaan a vibrate library dalam rangka perayaan Indonesian Day.  Langkah pertama yang saya lakukan adalah mengundang rekan dari Taman Mini Indonesia Indah yang memang sudah mempunyai jadwal tetap datang ke British School untuk melatih para penari yang adalah karyawan BIS untuk Indonesian Day yang jatuh tanggal 28 Maret 2014.  Tarian daerah tahun ini berasal dari Sumatra Utara. So, saya pikir mas Andy bisa membantu display heboh dengan tema yang sama dari Sumatra Utara. Rapat untuk berkonsolidasi dilakukan namun sayangnya rencana ini harus batal, karena mentok di anggaran. Padahal itu hari Selasa, dan Indonesian Day jatuh pada hari Jumat. Maaf Mas Andy, masalah anggaran di luar wewenang saya. Semoga kerjasama kita bisa terlaksana lain waktu ya.

Otak saya berputar cepat. Dengan waktu mepet, bagaimana caranya supaya perpustakaan bisa membuat display yang berbeda seperti yang diinginkan Kepala Sekolah?  Informasi tentang Sumatra Utara relatif mudah diperoleh dari berbagai sumber yang kami miliki. Bagaimana dengan 'penampilan' perpustakaan? Dekorasi macam apa yang cocok? Dengan waktu yang tersisa hanya hingga hari Kamis, dan sekarang hari Selasa. Tiga hari, atau dua setengah hari. Rasanya yang berputar bukan saja otak, tapi kedua mata juga ikut muter-muter.

Ok. 

Pertimbangannya seperti ini: sentuhan apa yang harus dibuat agar meski sederhana, preparation nya tidak memakan waktu lama namun dapat memberi efek vibrate. Think...think....thinkkk...

Voila...ini pemikiran yang muncul:


Monday, July 14, 2014

Pustakawan Sekolah Tinggi Teologi: Menjadikan Pengguna Perpustakaan Semakin Berakar dan Bertumbuh ke Arah Kristus yang adalah Kepala (Efesus 4: 14-15)

           Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita,
supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci
(Roma 15:4)

Saya memberanikan diri menulis artikel ini, semata mata karena ingin berbagi dalam keterbatasan pengetahuan teologi saya maupun pengalaman hidup saya. Saya bukan teolog dan tulisan ini merupakan sharing singkat tentang iman Kristen, pustakawan dan teladan Yesus Kristus berdasarkan pemamahan saya.
            Saya bersyukur diberi kesempatan untuk menjadi salah satu nara sumber di acara Musyawarah Nasional ke-2 Forum Pustakawan dan Perpustakaan Teologi di Indonesia (ForPPTI) di STT Jakarta tanggal 25 Juni 2014. Pertama, karena kesempatan ini (tentunya) akan memperkaya pengalaman saya untuk berbicara di kalangan yang beragam peserta (terakhir saya berbicara di empat Pesantren di Propinsi Jawa Barat). Kedua, karena saya dapat menempatkan posisi ‘seolah-olah’ saya adalah pengguna jasa layanan perpustakaan teologi (atau perpustakaan gereja)  dan menempatkan kebutuhan rohani saya sebagai seorang kristen.  Alasan kedua, -ini yang sebetulnya yang ingin saya gali- yaitu peran perpustakaan STT  serta pustakawannya. Saya melihat pentingnya peranan pustakawan dan perpustakaan teologi yang lebih luas akan saya kaitkan dengan perpustakaan gereja. Tulisan ini bukan menangkat topik yang saya bicarakan saat Munas ForPPTI, namun efek perenungan saat menyiapkan bahan yang diminta oleh panitia yaitu tentang organisasi profesi APISI kepada peserta.


Wednesday, March 19, 2014

Kepustakawanan Sekolah: Perannya dalam Menunjang Kegiatan Pembelajaran Abad 21

Disampaikan Pada Seminar dan Talkshow APISI dan Sekolah Terpadu Pahoa yang bertema: Perpustakaan Sekolah: Perkembangan dan Tantangannya di Era Pembelajar Abad 21. Sekolah Terpadu Pahoa, Serpong, Tangerang, Banten. 15 Maret 2014. 

Kata Kunci: pembelajar abad 21, pustakawan sekolah, perpustakaan sekolah, program perpustakaan sekolah



Pendahuluan

Apa indikasi dari sebuah pembelajaran yang berciri abad dua puluh satu? Pertanyaan ini berangkat dari begitu ramainya hiruk pikuk aliran informasi dari berbagai arah dalam kehidupan manusia, termasuk para siswa. Beragam bentuk informasi yang tersedia menjelma bukan saja dalam bentuk tradisional yang tercetak seperti buku, koran dan majalah atau media pandang dengar seperti televisi dan radio, melainkan juga dalam bentuk digital yang dapat diakses secara terpasang (online) melalui komputer ataupun alat komunikasi yang semakin canggih.