Monday, July 21, 2014

"Indonesian Day" di Dickens Library, British International School, Tangerang: display dengan 3 hari persiapan.

Satu minggu sebelum hari Indonesian Day di sekolah kami, Kepala Sekolah meminta saya untuk menjadikan perpustakaan a vibrate library dalam rangka perayaan Indonesian Day.  Langkah pertama yang saya lakukan adalah mengundang rekan dari Taman Mini Indonesia Indah yang memang sudah mempunyai jadwal tetap datang ke British School untuk melatih para penari yang adalah karyawan BIS untuk Indonesian Day yang jatuh tanggal 28 Maret 2014.  Tarian daerah tahun ini berasal dari Sumatra Utara. So, saya pikir mas Andy bisa membantu display heboh dengan tema yang sama dari Sumatra Utara. Rapat untuk berkonsolidasi dilakukan namun sayangnya rencana ini harus batal, karena mentok di anggaran. Padahal itu hari Selasa, dan Indonesian Day jatuh pada hari Jumat. Maaf Mas Andy, masalah anggaran di luar wewenang saya. Semoga kerjasama kita bisa terlaksana lain waktu ya.

Otak saya berputar cepat. Dengan waktu mepet, bagaimana caranya supaya perpustakaan bisa membuat display yang berbeda seperti yang diinginkan Kepala Sekolah?  Informasi tentang Sumatra Utara relatif mudah diperoleh dari berbagai sumber yang kami miliki. Bagaimana dengan 'penampilan' perpustakaan? Dekorasi macam apa yang cocok? Dengan waktu yang tersisa hanya hingga hari Kamis, dan sekarang hari Selasa. Tiga hari, atau dua setengah hari. Rasanya yang berputar bukan saja otak, tapi kedua mata juga ikut muter-muter.

Ok. 

Pertimbangannya seperti ini: sentuhan apa yang harus dibuat agar meski sederhana, preparation nya tidak memakan waktu lama namun dapat memberi efek vibrate. Think...think....thinkkk...

Voila...ini pemikiran yang muncul:

- Pintu masuk, merupakan pintu utama pemandangan awal para pengunjung yang perlu ditangkap untuk mendapatkan kesan vibrate saat masuk ke perpustakaan. So perlu didekor heboh. 
- Dekorasi di dalam perpustakaan dapat memanfaatkan sarana yang dimiliki perpustakaan atau sekolah, tanpa ekstra kerja keras yang makan waktu, namun bisa memberi kesan 'wah' setelah pengunjung masuk perpustakaan. Apa itu ya?
- Waktu tinggal dua hari lagi, perpustakaan tetap harus buka sehingga pendekorasian dilakukan dalam jam layan perpustakaan.

Baiklah. 

Ini ide yang tercetus:
- Pintu masuk diberi janur seperti pesta pernikahan. Hal terpenting, menangkan perhatian 'beda' dari pengunjung.
- Mencari informasi tentang Sumatra Utara untuk didisplay di tangga pintu masuk lewat buku-buku yang dimiliki perpustakaan dan internet
- Menggantung kain-kain batik dari berbagai daerah di Indonesia di area perpustakaan
- Menghubungi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk bahan-bahan display tentang pariwisata di Indonesia. (Sayangnya, kami tidak mempunyai waktu lagi untuk berkungjung ke kantor ini untuk mengambil benda-benda display. Namun, dari website mereka,kami menemukan video menarik tentang kuliner Indonesia, yang kami putar selama hari itu. Barang-barang ini kemudian kami ambil setelah beberapa minggu kemudian. Semua kami dapatkan secara CUMA CUMA)

Mari dieksekusi!

Hari Rabu.

Berhubung waktu mepet, yang terpikir untuk display kain-kain batik adalah dengan MEMINJAM  koleksi teman-teman BIS. Pagi hari, berkunjunglah saya ke gedung admin dan menemui teman-teman di sana dengan mengungkapkan maksud tujuan peminjaman kain-kain batik tadi. Dicatat nama-nama DAN nomor telepon mereka, agar mudah diingatkan nantinya. Inilah contoh sederhana kekuatan berjejaring dan berteman baik (semoga mereka juga melihat hal yang sama ya :)). Teman-teman dengan sukarela menyatakan kesediaannya untuk membawa beberapa koleksi mereka.

Setelah urusan pinjam meminjam selesai, mari ke Pasar Lembang, Cileduk bersama Dape dan pak Yanyan-supir sekolah-, mencari jasa membuat janur kuning. Diskusi berlangsung singkat, dan sepakat menentukan pilihan serta memberi uang muka tanda jadi. Catatan kepada mereka adalah: tidak boleh ada paku saat pemasangan janur dan pisang-pisang yang akan dipajang nanti, harus sudah matang pada hari Jumat nya. Maklum, hari Senin adalah libur nasional, dan kami tidak ingin, pisang-pisang itu 'terbuang' percuma. Pemesanan, done. 

Selanjutnya..bagaimana cara menggantung kain-kain batik tadi? Benda yang terpikirkan adalah: ring kayu besar atau gantungan yang terbuat dari gantungan untuk gordyn dengan ukuran yang bisa pas untuk digantungkan di perpustakaan. Setelah urusan janur selesai, tujuan selanjutnya adalah pasar Cipadu (atas usulan Pak Yanyan) untuk mencari rel gantungan gordyn agar bahan-bahan batik pinjaman tadi bisa dipajang. Kami mendapatkan rel gordyn abu-abu model lama, dan kami minta agar dipotong-potong sepanjang 50cm sebanyak 12 buah, dengan pertimbangan kain-kain ini akan digantung di lampu-lampu dengan sekian banyaknya, kira-kira.

Hari Kamis

Pagi hari, pengumpulan bahan-bahan display dari kawan-kawan di Cental Admin. Beberapa ada yang dengan sukarela mengantarnya ke perpustakaan. Setelah terkumpul dan dimintai sedikit keterangan tentang bahan-bahan batik pinjaman mereka, kain-kain cantik ini siap dipajang dan dilabel terlebih dahulu.

Mari kita cari cara dengan mencoba-coba menggantungkan kain ini di rel gordyn yang sudah dipesan kemarin. Dengan paper clips ukuran besar, rel gordyn yang sudah diberikan pengait di kedua ujungnya kami gantung di frame lampu-lampu perpustakaan.

Kain-kain batik ini kami beri label keterangan singkat dan nama orang yang meminjamkannya kemudian ditempelkan diujung kain. Dengan demikian, ketika pengunjung melihat-lihat 'pameran' batik ini, mereka dapat membaca sekilas tentang jenis kain batik yang dipamerkan, dan nama yang meminjamkannya, Semacam bentuk apresiasi, begitu.

Oia, untuk menunjukkan tema Sumatra Utara, baju tradisional khas dari daerah ini pun kami pajang dengan menempelkannya di papan display. Plus, keterangan singkatnya. 

Kami benar-benar memanfaatkan setiap sumbangan kain batik dari teman-teman, untuk taplak meja, penghias sofa, hiasan di atas kaca akrilik...all must go up for the display!

Kamis sore, janur pun terpasang sesuai dengan pesanan. Pelan-pelan, dekorasi di area perpustakaan pun kami dandani. Karena tidak cukup waktu, finishing kami lakukan pada Jumat pagi.

Hari Jumat: the "D" day

Saya mampir ke pasar untuk membeli penganan kue kue kecil khas Indonesia, untuk kami display sekaligus juga dicicipi pengunjung. Karena ada sebagian kue tradisional Indonesia mengandung ketan yang berpotensi alergi bagi beberapa orang bule, terpaksa kami simpan untuk pengunjung orang Indonesia saja. Namun, ada kue kering imut yang bisa dinikmati semua orang. Terbukti, kue-kue ini nyaris habis saat kelas - kelas 7 assembly di perpustakaan.

Saat hari menjelang siang, Kepala Sekolah mendatangi ruangan saya dan memberikan apresiasinya. Beliau nampak senang, karena dengan waktu yang mepet, perpustakaan dapat disulap dan memberi kesan vibrate seperti yang diingininya dengan biaya Rp 1.500.000,- saja. Menurut saya ini bisa disebut sebagai salah satu achievement. [Kata achievement (n) berarti:  prestasi (Compact Indonesian Dictionary oleh Katherine Davidsen).  Prestasi atau prestasi kerja adalah hasil kerja yg dicapai oleh seorang karyawan dl melaksanakan tugas yg dibebankan kepadanya; kinerja (Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/prestasi/mirip#ixzz2xgoZin9D).]

Yuk, lihat foto-fotonya:














Monday, July 14, 2014

Pustakawan Sekolah Tinggi Teologi: Menjadikan Pengguna Perpustakaan Semakin Berakar dan Bertumbuh ke Arah Kristus yang adalah Kepala (Efesus 4: 14-15)

           Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita,
supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci
(Roma 15:4)

Saya memberanikan diri menulis artikel ini, semata mata karena ingin berbagi dalam keterbatasan pengetahuan teologi saya maupun pengalaman hidup saya. Saya bukan teolog dan tulisan ini merupakan sharing singkat tentang iman Kristen, pustakawan dan teladan Yesus Kristus berdasarkan pemamahan saya.
 
            Saya bersyukur diberi kesempatan untuk menjadi salah satu nara sumber di acara Musyawarah Nasional ke-2 Forum Pustakawan dan Perpustakaan Teologi di Indonesia (ForPPTI) di STT Jakarta tanggal 25 Juni 2014. Pertama, karena kesempatan ini (tentunya) akan memperkaya pengalaman saya untuk berbicara di kalangan yang beragam peserta (terakhir saya berbicara di empat Pesantren di Propinsi Jawa Barat). Kedua, karena saya dapat menempatkan posisi ‘seolah-olah’ saya adalah pengguna jasa layanan perpustakaan teologi (atau perpustakaan gereja)  dan menempatkan kebutuhan rohani saya sebagai seorang kristen.  Alasan kedua, -ini yang sebetulnya yang ingin saya gali- yaitu peran perpustakaan STT  serta pustakawannya. Saya melihat pentingnya peranan pustakawan dan perpustakaan teologi yang lebih luas akan saya kaitkan dengan perpustakaan gereja. Tulisan ini bukan menangkat topik yang saya bicarakan saat Munas ForPPTI, namun efek perenungan saat menyiapkan bahan yang diminta oleh panitia yaitu tentang organisasi profesi APISI kepada peserta.
 
            Menurut saya, ketika seseorang percaya pada Tuhan Yesus maka kehidupan rohaninya harus bertumbuh dan berkembang. Pertumbuhan rohani ini dapat terjadi dengan mempunyai hubungan yang intim dengan Tuhan Yesus setiap hari, beribadah secara regular pada ibadah kategorial seperti Ibadah Rumah Tangga, Ibadah Anak-anak, Remaja, Pemuda, Kaum Bapak, Kaum Ibu dan Lanjut Usia) serta tentunya Ibadah Umum Hari Minggu. Pendalaman Alkitab secara rutin, Kelompok Tumbuh Bersama atau komitmen pribadi untuk mendalami Alkitab secara mandiri.  Mengapa pertumbuhan rohani ini penting? Efesus 4: 14-15 mengingatkan kita, bahwa sepanjang hidup kita di dunia ini, ada begitu banyak angin pengajaran, permainan palsu dan kelicikan penyesat. Dalam menghadapi situasi ini, Paulus, dalam suratnya kepada Jemaat Efesus menyatakan bahwa keteguhan berpegang pada kebenaran di dalam kasih untuk bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus yang adalah Kepala.  Surat “kembar” yang ditulis oleh Paulus kepada Jemaat Kolose juga menekankan hal yang lebih tegas lagi: Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.
            “Berakar dan bertambah teguh” tentunya memerlukan proses belajar terus menerus. Proses belajar tentu saja mengacu pada Alkitab sebagai satu-satunya pedoman utama kehidupan kristen.  Saya percaya bahwa seperti juga Alkitab ditulis dan dihasilkan oleh orang-orang pilihanTuhan untuk dijadikan pegangan hidup mereka yang percaya kepada Kristus, demikian pula, Tuhan memakai anak-anak yang dipercaya-Nya untuk menulis literatur  kristen guna memberi pencerahan bagi pengikut-Nya. Literatur pendukung Alkitab seperti ensiklopedi Alkitab, tafsiran Alkitab, konkordansi, kamus Alkitab, atlas Alkitab serta  Alkitab dalam berbagai terjemahan yang mempunyai ragam kata kaya makna dapat digunakan sebagai bahan acuan ketika seseorang memahami isi Alkitab. Alkitab dalam bahasa Indonesia sendiri terdiri dari beberapa versi. Seringkali, makna sebuah kata bahasa Indonesia jika dibandingkan dengan bahasa Inggris, misalnya, mempunyai pemahaman yang lebih dalam. Di samping itu,  buku-buku  rohani yang berkaitan dengan kehidupan kristiani  dapat pula menguatkan iman pengikut Kristus.
 
            Hal yang perlu disadari adalah selain literatur penunjang, ada pula beragam literatur yang tidak sejalan dengan iman kristen yang harus diwaspadai pengadaannya di perpustakaan.  Situasi ini lebih mempunyai efek langsung di perpustakaan gereja, mengingat perpustakaan ini melayani beragam tingkat usia jemaat, dan lebih penting lagi, tingkat kedewasaan iman mereka.
 
            Menjadi kristen adalah proses belajar yang tiada putus. Alkitab, iman percaya dan kenyataan hidup yang dihadapi sehari hari dan pergumulan di rumah tangga, pekerjaan maupun masyarakat, dapat dijadikan proses pembelajaran  untuk mendewasakan iman percaya kita. Kadang, Alkitab tidak memberikan jawaban pasti dan telak dalam membantu kita memecahkan permasalahan kehidupan kita yang begitu banyak dan kompleks. Namun kita percaya bahwa Kristus tidak meninggalkan kita. Tidak jarang beragam sumber dijadikan sebagai ‘referensi’ kita untuk memecahkan masalah tersebut seperti buku-buku rohani serta sharing sesama jemaat atau pendeta, bahkan lewat pengalaman rohani kita sendiri. Apapun masalahnya, kristen percaya bahwa Ia menyertai senantiasa. Seperti tertulis pada Matius 28:20, saat kenaikan Kristus dan pesannya untuk menjadikan semua bangsa muridNya, bahwa Ia menyertai senantiasa sampai akhir zaman.
 
            Pengalaman mengandalkan Kristus dalam setiap aspek kehidupan kita juga bukanlah sikap hidup yang hanya mengandalkan perasaan semata. Sikap hidup beriman serta percaya bahwa Tuhan kita tidak akan meninggalkan kita, adalah sikap iman, karena kita mengenal Tuhan kita secara utuh, menyembahNya dan hidup seturut kehendakNya seperti yang tertulis dalam Alkitab. Menurut saya, iman tidak dilandasi pada perasaan, namun keyakinan pada suatu kebenaran yang hanya ada dalam Yesus Kristus, yang diawali saat kita percaya padanya (Yohanes 3:16: Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal).

            Hidup sebagai orang percaya tidak berarti kita selalu bahagia dan bebas masalah. Selama hayat dikandung badan, dan selama nafas masih ada, masalah dan pergumulan manusia akan terus ada. Demikian juga Kristen.  Bagian kita adalah percaya pada Roh Kudus yang senantiasa memimpin. Kita mencari kehendakNya dengan memiliki hubungan pribadi yang erat dengan Sang Khalik lewat membaca Alkitab dan berdoa setiap hari. Kita menjaga persekutuan yang erat dengan jemaat di mana kita ditempatkan serta bersaksi dan melayani. Hal ini dapat menjadi sebuah pola kehidupan kristen di dunia ini hingga Kristus datang kembali ke dunia untuk ke dua kalinya. Hidup beriman kita hendaknya dilakoni dengan kesungguhan dan bukan karena tradisi semata.

          Alkitab menjadi pegangan Kristen terus menerus, karena kristen adalah jemaat yang terus bertumbuh semakin dekat denganNya, semakin sungguh menyembahNya dan semakin taat dan kuat berakar dan bertumbuh ke arah Dia, Kristus yang adalah Kepala, sehingga kita akan menjadi serupa denganNya dalam kesaksian kita dimanapun kita berada. Kadang, ayat-ayat Alkitab yang sama akan berbicara kepada kita dan memberikan makna yang berbeda dari waktu ke waktu. Bukan karena kita dapat seenaknya memberi interpretasi pada ayat tersebut, namun, kedewasaan iman serta pengalaman hiduplah yang menjadikan demikian. Alkitab tidak pernah ketinggalan jaman. Alkitab selalu konsisten namun tetap up to date dengan perubahan jaman.

 
Pustakawan yang Melayani
 
Peran pustakawan sekolah teologi atau pustakawan gereja dalam melayani pemakainya jelas penting. Ia mempunyai tugas melayani kebutuhan informasi pengguna dengan menyediakan sumber-sumber informasi yang memuat pengetahuan ketuhanan, dasar kepercayaan kepada Allah dan agama. Ketika kita berbicara 'melayani' maka tokoh utama yang dapat kita teladani adalah Kristus.  Kristus datang ke dunia ini untuk melayani manusia dan mati untuknya sebagai tebusan atas dosa-dosa kita. Ia datang dengan mengambil rupa seorang hamba, padahal Ia adalah anak Allah (Filipi 2:6-8). Melayani mengandung makna ‘pelayan’, seseorang yang bertugas untuk memenuhi kebutuhan orang yang dilayaninya. Pelayan disini tentu bukan seseorang yang dengan mudah disuruh dan diperintah, melainkan pelayan yang mempunyai misi memperlengkapi orang yang dilayaninya. Pustakawan adalah melayani. Kristus datang untuk melayani. Dalam profesi kita, jelaslah siapa teladan kita dalam melayani ini.

Memahami bahwa profesi pustakawan yang ditempatkan Tuhan di tempat yang khusus ini sejatinya membuat pustakawan ForPPTI berlomba-lomba untuk menunjukkan performa kerja yang terbaik. Sama seperti kristen di profesi lain, bahwa ketika kita bekerja, kita bekerja untuk kemuliaan Allah bukan untuk manusia. Seperti yang tertulis dalam I Korintus 10:31: Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.
Yesus Kristus: Membaca, Pencerita, Berpikir Kritis dan Ilmiah

Sebagai pustakawan Kristen, selain jiwa melayani, banyak teladan yang dapat kita pelajari dari Yesus Kristus. Ketika berusia 12 tahun, bersama Maria dan Yusuf, mereka menuju Yerusalem pada hari raya Paskah (Lukas 2:41). Setelah hari perayaan selesai, Yesus tinggal di Yerusalem tanpa diketahui orang tuanya.  Ketika orangtuanya kembali mencari Dia di Yerusalem, Yesus berada di Bait Allah.  Apa yang dilakukan Yesus diusia semuda itu? Ia duduk ditengah-tengah alim ulama sambil mendengarkan dan mengajukan pertanyaan (ayat 46).  Lebih dari itu, di ayat 47 tertulis bahwa semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya.

            Pada pengajarannya selama kurun waktu 3 tahun, Yesus senantiasa mengacu ajarannya kepada Kitab-kitab ‘Perjanjian Lama’ untuk menguatkan ajarannya. Kata-kata seperti: ‘Ada tertulis…’menunjukkan bahwa Ia paham benar apa yang diyakini-Nya. Perkataan ini juga menunjukkan bahwa Ia tidak asal bicara, tapi Ia mengutip. Jika dianalogikan dengan masa kini, hal ini mirip dengan kutipan pada penulisan karya ilmiah dan referensinya.  Hingga Ia dicobai di gurun pasir setelah Ia berpuasa 40 hari lamanya, ia tidak meng’encounter’ serangan Iblis dengan kata-kataNya sendiri, melainkan, Ia mengutip Kitab Suci dan hal itu membuat Iblis meninggalkanNya, lalu Ia dilayani oleh malaikat-malaikat Tuhan. Tuhan Yesus adalah pembelajar, Ia banyak membaca. Ia pahami benar apa yang dibacaNya.
 
           Banyak perumpamaan yang Tuhan Yesus ungkapkan saat Ia mengajar. Ia menggunakan perumpamaan agar pendengarnya dapat dengan mudah mencerna maksud ajarannya. Saat ini, kita bercerita pada anak-anak agar mereka mendapatkan kisah-kisah menarik yang memperlengkapi daya imajinasi dan kreasi mereka.  Berapa banyak orang menanti-nantikan kesempatan untuk bisa bersama Yesus saat itu agar dapat mendengar cerita-ceritaNya? Tentu saja bukan sekadar mendongeng, melainkan melalui cerita-cerita perumpamaan yang Ia sampaikan, kebenaran pengajaranNya dapat dipahami pengikutNya. Dengan metode ini, Tuhan Yesus  menarik banyak orang untuk mendengarNya,  sekaligus memberi pengajaran kepada mereka.

Apakah Tuhan Yesus berpikir kritis? Ia tidak saja berpikir kritis, namun Ia juga berhikmat dan bijaksana dalam menyampaikan jawaban-jawaban atas segala hal yang ditanyakan orang orang pada Nya. Yesus memberi contoh bahwa ke’pandai’an harus diimbangi dengan kebijaksanaan.  Tentu saja, dengan kuasaNya, ia sering kali memecahkan permasalahan orang-orang yang mencari-Nya. Tuhan Yesus tidak saja berilmu, pandai berkomunikasi (Ia tahu kapan Ia harus diam (saat Ia dihakimi Pilatus dan memikul salib-Nya), kapan Ia harus marah (saat Ia melihat Bait Allah dijadikan pasar) dan bagaimana Ia harus menghadapi berbagai karakter orang dan menjadikan mereka percaya kepadaNya (kisah Zakeus si pemungut cukai, perempuan Samaria, Orang kaya yang ingin menjadi pengikut=Nya dan sebagainya).

Penutup
 
Tulisan ini masih jauh dari sebuah tulisan tentang teladan Yesus Kristus dalam profesi pustakawan. Tulisan ini hanya mengupas sedikit tentang Kristus, kristen dan pustakawan kristen. Masih banyak hal-hal lain yang dapat kita pelajari dari Tuhan Yesus sebagai teladan profesi pustakawan yang saya yakin tiap kita mempunyai pengalaman maupun pendapat yang berbeda. Saya yakin pembaca juga mempunyai perspektif dan pengalaman sendiri yang mungkin bisa dbagikan.

     Menurut saya,  teman-teman pustakawan STT dan pustakawan gereja, profesi pustakawan mempunyai kontribusi penting bukan saja melayani pelanggan perpustakaan atas kebutuhan informasi untuk pengetahuan teologi  mereka namun juga dalam kehidupan pertumbuhan rohaninya bahkan bagi pustakawan itu sendiri. Bagaimana?






Wednesday, March 19, 2014

Kepustakawanan Sekolah: Perannya dalam Menunjang Kegiatan Pembelajaran Abad 21

oleh:
Hanna Chaterina George, SS, M.I.Kom
(hanna@apisi.org)

Disampaikan Pada Seminar dan Talkshow APISI dan Sekolah Terpadu Pahoa yang bertema: Perpustakaan Sekolah: Perkembangan dan Tantangannya di Era Pembelajar Abad 21. Sekolah Terpadu Pahoa, Serpong, Tangerang, Banten. 15 Maret 2014. 

Kata Kunci: pembelajar abad 21, pustakawan sekolah, perpustakaan sekolah, program perpustakaan sekolah

Pendahuluan
Apa indikasi dari sebuah pembelajaran yang berciri abad dua puluh satu? Pertanyaan ini berangkat dari begitu ramainya hiruk pikuk aliran informasi dari berbagai arah dalam kehidupan manusia, termasuk para siswa. Beragam bentuk informasi yang tersedia menjelma bukan saja dalam bentuk tradisional yang tercetak seperti buku, koran dan majalah atau media pandang dengar seperti televisi dan radio, melainkan juga dalam bentuk digital yang dapat diakses secara terpasang (online) melalui komputer ataupun alat komunikasi yang semakin canggih. 
            Situasi yang menggambarkan informasi yang meluas dan kemudahan aksesnya serta beragam sarana akses serta peningkatan digitasi teks, memberi perubahan dalam cara siswa belajar di sekolah (AASL,2009:5).  Para siswa tidak lagi dapat dibiarkan tanpa keterampilan mengelola informasi, mereka juga perlu memiliki pemikiran kritis dan kreatif dalam memilih dan menggunakan informasi untuk memecahkan permasalahan mereka baik secara individu maupun kolaboratif serta mengkomunikasikan hasil temuan mereka secara etis.  Demikian, para siswa nantinya diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan keterampilan, perilaku dan tanggung jawab dalam proses pembelajaran mereka.
            Komponen penting dalam proses pembelajaran yang digambarkan ini adalah perpustakaan sekolah.   Sebagai unit penopang kegiatan pembelajaran di abad dua satu ini, perpustakaan berperan untuk memberi akses informasi yang berkualitas tinggi dari beragam perspektif, menolong siswa menggunakan informasi tersebut untuk membuat kesimpulan sendiri ataupun pengetahuan baru yang diperoleh serta mendorong mereka untuk membagikan pengetahuan tersebut ke orang lain. 
Sinikka Sipilä, Presiden IFLA yang menjadi salah satu dari pembicara kunci  di Konferensi Tenaga Perpustakaan Sekolah IASL (International Association of School Librarianship) di Bali tahun 2013 menegaskan bahwa perpustakaan sekolah yang kuat adalah perpustakaan yang memiliki tiga komponen ini:
1) perpustakaan sekolah adalah tempat bagi para siswa menemukan beragam jenis informasi secara percuma,
2) perpustakaan sekolah adalah tempat bagi para siswa untuk mendapatkan tuntunan dan dukungan dari guru pustakawan serta
3) perpustakaan sekolah adalah tempat bagi para siswa untuk mendapatkan dukungan pengembangan diri mereka untuk menjadi warga negara yang ber-literasi informasi. (Sipilä, 2013:11)
Menyikapi perubahan lingkungan yang secara khusus berkaitan dengan teknologi dan informasi, perpustakaan sekolah mempunyai peranan yang tidak kalah penting dengan para guru, kurikulum yang diterapkan serta peranan tingkat manajemen maupun pemangku jabatan di sekolah. Untuk itu, American Association of School Librarians (AASL) pada tahun 2007 membuat sebuah pedoman tentang standard untuk pembelajar abad dua puluh satu yang mencakup empat standard utama yaitu
1) mencari tahu, berpikir kritis dan memperoleh pengetahuan;
2) membuat kesimpulan, membuat keputusan berdasarkan informasi menerapkan pengetahuan pada situasi yang baru dan membuat pengetahuan baru;
3) berbagi pengetahuan dan berpartisipasi secara etis dan produktif sebagai anggota masyarakat demokratis serta
4) secara terus menerus melanjutkan perkembangan pribadi dan estitikanya.
Dari keempat standar ini, muncullah sembilan  pokok common beliefs  yang berangkat dari keberadaan perpustakaan sekolah. Ke sembilan pokok common beliefs ini mencakup:
1) Membaca adalah jendela dunia (Reading is a window to the world);
2) Sifat ingin tahu merupakan bingkai kerja pembelajaran (Inquiry provides a framework for learning);
3) Perilaku etis dalam pemanfaatan informasi harus diajarkan (Ethical behavior in the use of information must be taught);
 4) Keterampilan teknologi adalah penting untu kebutuhan tenaga kerja di masa depan (technology skills are crucial for future employment needs);
5) Hak akses yang sama adalah komponen penting dalam pendidikan (Equitable access is a key component for education);
6) Definisi literasi informasi telah menjadi lebih kompleks karena beragam sumber dan teknologi semakin berkembang (The definition of information literacy has become more complex as resources and technologies have changed);
7) Kebutuhan informasi yang terus berkembang mengakibatkan semua individu memerlukan keterampilan berpikir yang dapat memampukan mereka untuk belajar sendiri (the continuing expansion of information demands that all individuals acquire the thinking skills that will enable them to learn on their own);
8) Pembelajaran mempunyai konteks sosial (Learning has a social context) dan
9) Perpustakaan sekolah penting dalam pengembangan keterampilan belajar (ASLA, 2007:11).  Sipilä dalam paparannya menegaskan bahwa perpustakaan sekolah mampu mendukung warga masyarakat dan para siswa untuk memperluas keterampilan hidup mereka seperti keterampilan membaca dan literasi informasi (Sipilä, 2013:23).
Lebih jauh, ASLA menegaskan bahwa dari sembilan poin ini menunjukkan dua pendekatan utama pada perpustakaan sekolah yaitu MEMBACA (Reading) dan KEINGINTAHUAN (Inquiry).

Contoh –contoh Kegiatan Perpustakaan Sekolah dalam Pembelajaran Abad 21
Contoh – contoh yang diangkat merupakan beberapa tulisan pemakalah acara Konferensi IASL 2013 yang dipresentasikan selama konferensi berlangsung di Bali. Tema konferensi adalah Enhancing Students’ Life Skills through the School Library. Tulisan yang diambil sebagai acuan adalah yang berkaitan dengan pembahasan topik tulisan ini.

         Di Australia, McIIvenny mengembangkan sebuah terobosan program literasi informasi yang disebutnya re-visioning the library for 21st century yang mendukung kurikulum sekolah di Australia. Beliau mengembangkan program yang unik yaitu memadukan literasi informasi, keterampilan belajar serta pemikiran yang kritis dan cerdas dalam satu program utuh.  Usaha ini dilakkukan bukan saja untuk menyiapkan para pembelajar di abad ke dua puluh satu melainkan juga mengembangkan aspek kognitif dan afektif siswa. (McIIlvenny, 2013:305)

        Contoh program lain di Australia yang dikembangkan oleh Greef (2013) di perpustakaan sekolahnya adalah dua program yang digarap bersama fakultas English yaitu Independent Reseach Project dan Wide Reading Program.Program pertama adalah perpaduan kegiatan membaca dan guided inquiry sedangkan program kedua dikembangkan untuk mendukung kegiatan refleksi dan perkembangan keterampilan literasi informasi (p. 274)

        Di Amerika Serikat, Houston memaparkan kegiatan yang dilakukan oleh perpustakaan sekolah sebagai salah satu wujud nyata hasil elaborasi Standards for The 21st Century Learner yang dijabarkan di atas yang menyebutkan hubungan sumber – sumber perpustakaan dengan pembelajaran inquiry yang menekankan pentingnya mengembangkan keterampilan inquiry dalam sebuah lingkungan kolaboratif yang kaya dalam sarana informasi dan sumber-sumbernya.  Kegiatan ini disebut dengan Makerspace, yaitu kegiatan berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Art and Mathematics) yang pada akhirnya menuntun para siswa untuk memahami mata pelajaran ini lebih konkrit dan mudah untuk dipahami (Britton 2012; Gershenfeld 2007 dalam Houston, 2013:360). Dalam menjelaskan apa itu Makerspace, Houston menyebutkan kegiatan ini melibatkan orang-orang  yang ingin mengembangkan aplikasi teknologi inovatif dengan menggunakan ide-ide dan peralatan low-tech dan hi-tech.   Tempat, peralatan dan kegiatan pembuatannya atau “Maker” dilakukan di perpustakaan-perpustakaan, gedung-gedung industri dan pusat kegiatan masyarakat yang disebut dengan Makerspaces, Hackerspaces, or Hubs (p. 360)
            Selain dalam bentuk kegiatan perpustakaan, adapula negara yang berangkat dari penguatan program dan kebijakan perpustakaan sekolah yang dikembangkan oleh pemerintah, misalnya di Portugal. Martins (2013) mengungkapkan program dan strategi jejaring perpustakaan sekolah yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Portugal yang menekankan pada tiga usaha dari School Libraries Network Program (Ministry of Education) yang menitikberatkan pada penciptaan dan perkembangan dari jaringan nasional yang merupakan elaborasi dari yang mereka sebut dengan Evaluation Model dan acuan corpus dari Learning Standard (Martins,2013:365).  Lebih lanjut, Martins menyebutkan standard tersebut disusun menjadi tiga bagian besar dari pekerjaan perpustakaan sekolah yaitu: reading literacy, media literacy dan information literacy.
            Dari Indonesia, Sekolah Dyatmika Bali, mengembangkan sebuah proyek inovatif yang disebut dengan Literasi Anak Indonesia (Denise,2013: 450). Program  ini dimulai sejak tahun 2011 untuk memberi dukungan pada literasi Indonesia.  Model pengajaran literasi yang diciptakan menggunakan literautr anak-anak yang interaktif dan sumber-sumber penuntunnya dalam Bahasa Indonesia untuk mempromosikan perkembangan literacy di tingkat taman kanak-kanak dan sekolah dasar Indonesia.

Penerapan di Indonesia – Sebuah Contoh Aplikasi Program Literasi Informasi

Guy Claxton (2014), penggagas program Building Learning Power  mengungkapkan bahwa inti pembelajaran di abad dua puluh satu ini adalah kemampuan untuk belajar (ability to learn). Claxton lebih lanjut menambahkan bahwa kemampuan ini akan menolong siswa untuk tidak berputus asa atau merasa sedih saat mereka tidak menemukan jawaban langsung dari pertanyaan mereka. Pendapat ini sejalan dengan apa yang selama ini disebut-sebut dengan literasi informasi.
            Konsep literasi informasi menurut George dalam Literasi Informasi Perpustakaan Sekolah: Studi Kasus Penerapan  Program Literasi Informasi di Perpustakaan Sekolah Santa Angela (2013) adalah literasi informasi mencakup seperangkat keterampilan untuk memecahkan masalah ataupun untuk membuat keputusan, baik untuk kepentingan akademisi ataupun pribadi, melalui proses pencarian, penemuan dan pemanfaatan informasi dari beragam sumber serta mengkomunikasikan pengetahuan baru ini dengan efisien, efektif dan beretika (p.11). 

            Dalam konteks yang lebih luas, literasi informasi merupakan sebuah elemen penting dalam mewujudkan pemerintahan demokratik yang baik karena warga negaranya mempunya keterampilan menggunakan informasi dengan keterampilan pemikiran kitirs dan kreatif dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi. Lebih lanjut tentang pembahasan literasi informasi, bisa lihat di link ini.

Referensi:

Claxton, Guy. "21st Century Learner." Continuous Professional Development. The British
International School, Tangerang. 21 Feb. 2014. Lecture.


Denise, Aprile, Ni Ketut Ayu Sugati dan Sri Utami. (2013). Approaches  to the Teaching of
Indonesian Literacy in the Primary Classroom. In A.Elkins,J.H.Kang,&M.A.Mardis (Eds.), Enhancing Students' LifeSkills Through School Libraries. Proceedings   2nd Annual International Conference Incorporating The 17th International Forum On Research In School Librarianship August  26 –  30,2013-  Bali,     Indonesia  ( pp.450-451)

Elizabeth Greef. (2013). Eagles not Pelicans:  Equipping Students with Skills through School   
          Library Programs to Fly into Their Future  Lives. In A.Elkins,J.H.Kang,&M.A.Mardis   
          (Eds.),  Enhancing Students' LifeSkills Through School Libraries. Proceedings 2nd  
          Annual International Conference Incorporating The 17th International Forum On       
          Research In School Librarianship August  26 –  30,2013-  Bali, Indonesia  (pp. 274- 
         286)

George, Hanna Chaterina. (2013). Literasi Informasi Perpustakaan Sekolah: Studi Kasus  
Penerapan Program Literasi Informasi di Perpustakaan Sekolah Santa Angela,  Bandung. Bandung: Universitas Padjadjaran, (pp.10, 135 – 160)

 Houston, Cynthia R. (2013). Makerspaces@your School Library: Consider the Possibilities!       
In A.    Elkins, J.H.      Kang,  &         M.A.    Mardis (Eds.), Enhancing      Students' Life Skills      Through            School Libraries.         Proceedings    2nd      Annual International   Conference      Incorporating  The            17th     International    Forum On 
Research  In School Librarianship August  26 –  30,2013      -  Bali, Indonesia  ( pp.360-364)
                       
Leonie McIlvenny.(2013). Inspired Learning in the Library. In 
A.Elkins,J.H.Kang,&M.A.Mardis (Eds.),  Enhancing Students' LifeSkills Through School Libraries. Proceedings 2nd Annual International Conference Incorporating The 17th International Forum On Research In School Librarianship August  26 –  30,2013-  Bali, Indonesia (pp. 305-316) 

Martins, Ana Bela Pereira [et.all]. (2013). Effective Learning in the School Library: the   
Portuguese School Libraries’ Learning Standards Framework:  Conception and Framing. In A.Elkins,J.H.Kang,&M.A.Mardis (Eds.),  Enhancing Students' LifeSkills Through School Libraries. Proceedings 2nd Annual International Conference Incorporating The 17th International  Forum On Research In School Librarianship August  26 –  30,2013-  Bali,         Indonesia  ( pp.365-376)

Sipilä, Sinikka. (2013). Strong School Libraries for Strong Societies. Annual International 
Conference Incorporating The 17th International Forum On Research In School Librarianship August  26 –  30,2013-  Bali,  Indonesia. Unpublished.

Standards for the 21st Century Learner. (2007). Chicago: American Association of School  
            Librarians. Print.

Standards for the 21st Century Learner In Action. (2009). Chicago: American Association of School  
            Librarians. Print.

Friday, December 27, 2013

Cerdas di Era Informasi: Penerapan Literasi Informasi di Sekolah untuk Menciptakan Pembelajar Seumur Hidup


oleh:

Hanna Chaterina George, SS, M.I.Kom

(hanna@apisi.org) 

Tulisan awal disampaikan pada Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa PSTP (Program Studi Teknisi Perpustakaan) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga, Surabaya. 14 Desember 2013.  Tulisan pada blog ini ditulis 26 Desember 2013 dan sudah diedit setelah mendapatkan berbagai masukan saat presentasi tanggal 14 Desember 2013 lalu.

Abstrak

Tulisan ini mengangkat konsep dasar literasi informasi di dunia pendidikan formal di sekolah. Latar belakang munculnya konsep literasi informasi, definisi, model-model yang berkembang dan contoh penerapannya juga dibahas. Mengapa literasi informasi penting untuk diterapkan serta strategi penerapan dan tantangannya di dunia pendidikan sekolah juga diungkap dalam artikel ini.

Kata Kunci: literasi informasi, pustakawan sekolah, perpustakaan sekolah, program literasi informasi, program perpustakaan sekolah

Literasi Informasi: Latar Belakang dan Definisi
Tema yang diangkat pada Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa PSTP (Program Studi Teknisi Perpustakaan) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga, yaitu Cerdas di Era Informasi  menunjukkan dengan tepat bagaimana awam dapat memahami konsep literasi informasi dengan bahasa yang mudah dimengerti.  Guna meninjau lebih jauh arti kata dan definisi information literacy,  pembahasan dimulai dengan mencari arti dari masing-masing kata tersebut.

Istilah information literacy (IL) berangkat dari pemahaman dasar literacy dan information. Literacy menurut arti katanya dalam bahasa Inggris mengandung makna huruf, melek huruf dan yang berkaitan dengan kegiatan membaca dan menulis. Information menurut arti katanya mengandung sesuatu yang dikatakan, atau bagian dari pengetahuan (The Concise Oxford Dictionary, 1990). Dalam bahasa Indonesia, kata literacy diterjemahkan secara bebas menjadi literasi. Dari beberapa bahan referensi seperti kamus dan thesaurus yang ada, beberapa diantaranya yaitu Kamus Umum Bahasa Indonesia oleh Badudu-Zain tahun 2001, Ensiklopedi Kebahasaan Indonesia Jilid 1 tahun 2009 dan Tesaurus Bahasa Indonesia oleh Eko Endarmoko tahun 2007, tidak ada satupun yang mendaftar kata “literasi” dalam kumpulan entri mereka.  Jika mencari arti kata yang sama maknanya dengan arti “huruf” dan “kemampuan baca tulis”, maka istilah yang dapat digunakan adalah aksara dan keberaksaraan (Kamus Umum Bahasa Indonesia: Badudu-Zain, 2001).  Kata “literasi” ditemukan dalam Kamus Bahasa Melayu Nusantara yang merupakan hasil karya kolaborasi tiga Negara yaitu Brunei, Indonesia dan Malaysia pada tahun 2003 yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei di Bandar Seri Begawan. Entri “literasi”ini digunakan dalam Negara Brunei dan Malaysia yang berarti kebolehan (kemampuan) menulis dan membaca; celik huruf, keberaksaraan. Pada saat presentasi, penulis mendapat masukan dari Prof. Sulistyo Basuki bahwa kata ‘literasi’ ternyata sudah tercantum pada Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi 4 tahun 2012. Dengan demikian, penggunaan kata ‘literasi informasi’ masuk dalam ranah kosa kata bahasa Indonesia.

Informasi, jika ditelaah dari arti katanya, dalam Ensiklopedi Kebahasaan Indonesia (2009) mencatat bahwa informasi merupakan suatu garis-besar, gagasan dari informare/informatum bermakna memberi suatu bentuk pada, menguraikan (p.532).   Selain itu disebutkan pula bahwa dalam penggunaan umum, semacam pengetahuan yang diperoleh lewat pengalaman langsung, melalui studi, melalui pertanyaan-pertanyaan atau melalui pengonsultasian suatu sumber informasi, seperti buku, jadwal atau teleteks (p.533)
Istilah literasi informasi  digunakan dalam dokumen UNESCO yang mendaftar beragam sumber-sumber tentang literasi informasi dari berbagai negara.

Istilah literasi informasi  diperkenalkan pertama kali oleh Paul G.Zurkowski pada tahun 1974. Zurkowski (Presiden Information Industry Association) mengusulkan bahwa prioritas utama dari program nasional  US National Commission on Libraries and Information Science adalah membangun sebuah program utama untuk mencapai literasi informasi universal di tahun 1984 (Zurkowski, 1974). Usulan ini dengan latar belakang bahwa informasi yang tersedia sangat begitu banyanknya hingga individu dapat mengalami kesulitan utuk mengevaluasinya. Dengan menyadari bawah kemampuan pencarian informasi tiap individu berbeda dari segi waktu dan serta beragamnya ketersediaan informasi, maka ada celah bagi individu untuk tidak dapat menggunakan informasi dengan pemahaman yang baik dan maksimal.  Lebih lanjut Zurkowski berpendapat bahwa orang yang terlatih dalam  menerapkan sumber-sumber informasi dalam pekerjaan mereka, dapat dikatakan information literate (p.6)
Definisi literasi informasi juga banyak bermunculan. Dalam tulisannya, George (2013) mengungkapkan bahwa:
 literasi informasi mencakup seperangkat keterampilan untuk memecahkan masalah            ataupun untuk membuat keputusan, baik untuk kepentingan akademisi ataupun      pribadi, melalui proses pencarian, penemuan dan pemanfaatan informasi dari beragam sumber serta mengkomunikasikan pengetahuan baru ini dengan efisien, efektif dan      beretika (p. 10-11).  
Pemahaman dan implemetasi literasi informasi berawal dari kegiatan membaca di perpustakaan. Pada awalnya, anak-anak diajar untuk bisa membaca. Mulailah mereka diperkenalkan dengan deretan abjad A hingga Z. Pelajaran ini diberikan kepada para siswa sekolah dasar. Bahkan saat ini, guru-guru di Taman Kanak-kanak sebagian besar juga sudah mengajari para siswa kecilnya untuk membaca.  Mereka belajar mengenal huruf, diikuti dengan mengkombinasi huruf hingga akhirnya mereka bisa membaca suku kata menjadi kata serta mengetahui artinya. Kata demi kata terangkai hingga membentuk sebuah makna kalimat, kemudian makna paragraph hingga akhirnya makna pokok-pokok pikiran dalam sebuah cerita. 
Ketika anak-anak ini sudah pandai membaca, maka mereka didorong untuk bisa terus mengembangkan kebiasaan membaca mereka. Pada proses inilah, mereka memperlancar keterampilan membaca mereka. Secara tidak langsung mereka juga menyerap makna bacaan yang mereka baca. Mulailah, koleksi buku-buku dimanfaatkan dan perpustakaan sekolah berperan.  Lama kelamaan, kegiatan membaca semakin melatih para siswa untuk belajar menangkap ide dan gagasan dari apa yang mereka baca. Pada proses ini juga, kecintaan para siswa pada kegiatan membaca dapat ditumbuhkan. Proses ini menjadi penting, karena kecintaan pada membaca pada usia dini, akan menolong mereka untuk mempelajari literasi informasi, literasi media dan lainnya. Literasi ini menjadi kunci untuk kesuksesan mereka di tahapan pembelajaran selanjutnya.

Perpustakaan sekolah menyediakan sumber-sumber bacaan bagi para siswa. Mereka dapat memilih bacaan yang mereka suka.  Di sisi lain, perpustakaan juga sedapat mungkin dapat memenuhi kebutuhan membaca para siswa sesuai dengan tingkat usia mereka.  Inilah konsep mula-mula keberadaan perpustakaan.  Citra perpustakaan sebagai tempat menyimpan buku-buku sangat melekat dalam benak masyarakat hingga saat ini.  Sejalan dengan perkembangannya, koleksi perpustakaan berkembang bukan saja dari segi jumlah buku namun juga kebervariasian jenis bacaan. Mari kita lihat bagaimana keberadaan perpustakaan mula-mula seperti ini kemudian berubah seiring dengan pergeseran peran pustakawannya dan berkembangnya teknologi informasi.

Berangkat dari urusan ‘dapur’ perpustakaan yang melahirkan spesifikasi kerja perpustakaan menjadi tiga posisi yaitu seperti yang diungkap oleh Shera (1972 dalam Ray, 2001:30)  dengan sebutan Tripartite Role yaitu posisi 1) bibliographer­­ – orang yang bertugas memilih buku dan bahan-bahan lainnya untuk penambahan koleksi perpustakaan; 2) reference librarians – orang yang memberikan informasi yang diperlukan oleh pengguna perpustakaan dan 3) cataloging librarians – orang yang membuat kartu katalog atau kartu elektronik dan memastikan bahwa koleksinya sesuai penempatannya. Ketiga peran ini terlihat kaku dan berjarak dengan pemakainya. Jelas sekali relasi antara pustakawan dengan pemakainya hanya terjadi pada peran pustakawan referensi. Meskipun bentuk komunikasi tidak langsung juga terjadi melalui katalog perpustakaan. Harapan pustakawan adalah pemustaka dapat menemukan buku yang dicarinya melalui katalog yang dibuat. Namun cara inipun belum maksimal, karena pemakai perlu mengetahui bagaimana cara menggunakan katalog perpustakaan. Berkembanglah inisiatif untuk mengadakan program pengenalan perpustakaan atau library instruction.

Branch dan Gilchrist (dalam Andretta, 2005:6) menyebutkan pada tahun 1970an Association of Colleges and Research Libraries (ACRL) mendefinisikan library instruction sebagai pemberian tuntunan bagi individu maupun kelompok dalam menggunakan bahan-bahan dan sumber-sumber serta dalam menginterpretasikan alat-alat pembelajaran Namun demikian, menurut Branch dan Gilchrist cakupan pendidikan pemakai ini sebatas pengenalan bahan-bahan pustaka dan interpretasi alat-alat pembelajaran dan bukan kepada perolehan atau pemilihan informasi dalam rangka pembelajaran.    Lebih lanjut, Mellon (1988 dalam Andretta, 2005:6-7)  mengemukakan argumentasinya bahwa permasalahan dalam penerapan pendidikan pemakai tradisional adalah fokus dari kegiatan ini lebih pada kegiatan perpustakaan yang mencakup pemanfaatan sarana informasi dan  bukan kepada tugas-tugas yang lebih kompleks dalam penelurusan informasi berdasarkan pemikiran kritis dan keterampilan evaluatif. Cakupan ini gagal dalam mendorong para siswa untuk menjadi pembelajar seumur hidup.  Dengan berkembangnya teknologi pada tahun 1990an, ACRL kemudian mengubah definisi library instruction ini menjadi program yang memberikan instruksi bibliografi melalui beragam teknik yang memungkinkan mereka menjadi information literate (Mellon 1988 dalam Andretta, 2005:7). 

Model – model Literasi Informasi
Sejak diperkenalkan tahun 1974, model literasi informasi kemudian berkembang. Perkembangan ini menunjukkan keragaman pendekatan terhadap pemahaman IL di beberapa negara maju.  Kebanyakan model literasi informasi yang berkembang adalah untuk aplikasi bagi siswa di sekolah.  Hal ini berbeda dengan yang disebut Zurkowski dalam cakupannya pada konteks pekerja. Hal ini menunjukkan kesadaran bahwa para siswa perlu diberikan keterampilan untuk memecahkan masalahnya dengan sistematis sejak dini, agar mereka siap menjadi pekerja yang information literate di dunia kerja mereka nanti.
Pada kesempatan ini,  penulis mengambil dua model dari kira-kira lima belas model pembahasan Wools, Blanche tahun 2006 di Malaysia saat kegiatan pelatihan literasi informasi yang dihadiri oleh penulis. Pembahasan dibawah ini akan mencakup lima model yang masing-masingnya akan diuraikan dengan keunikan masing-masing. Kelima model itu adalah:
1. British Model (Wools, 2006) adalah sebuah model yang pertama dikembangkan pada tahun 1981 oleh Michael Marland dalam bukunya  Information Skills in the Secondary Curriculum (Wools,2006:1). Model ini adalah yang pertama kali muncul setelah pertama kali dicetuskan konsepnya pada tahun 1974. Tepat tiga tahun dari target yang ditetapkan Zurkowski dalam usulannya untuk mencapai literasi informasi universal di Amerika. Model ini diterapkan di sekolah dan disebut dengan keterampilan informasi.  British Model mempunyai sembilan langkah untuk memecahkan masalah yaitu:
(1) Memformulasikan dan menganalisa kebutuhan
(2)Mengidentifikasi dan memeriksa sumber-sumber informasi
(3) Menelusur dan menemukan sumber-sumber individu
(4) Menguji, memilih sumber-sumber informasi
(5) Mengintegrasikan sumber-sumber informasi tersebut
(6) Menyimpan dan mensortir informasi
(7)Menginterpretasikan, menganalisa, mensintesiskan dan mengevaluasi informasi
(8) Mempresentasikan atau mengkomunikasikan informasi dan
(9) Mengevaluasi.

2) Big 6™ (Wools, 2006)
Big 6™ adalah sebuah model literasi informasi yang dikembangkan oleh Michael B.Eisenberg and Robert E. Berkowitz di Amerika Serikat pada tahun 1988. Model ini sangat populer bukan saja di Amerika Serikat melainkan juga negara-negara lain yang sudah menyadari pentingnya penerapan literasi informasi dalam proses belajar mengajar di sekolahnya.  Eisenberg dan Berkowitz juga secara aktif dan berkelanjutan melakukan promosi dengan mengeluarkan terbitan-terbitan yang bermanfaat bagi pemakainya. Di Indonesia sendiri, model ini juga popular digunakan di banyak sekolah maju dalam kegiatan program literasi informasi mereka.  Bahan-bahan tentang model ini juga sangat mudah diperoleh di internet dibandingkan model-model lainnya. Itu sebabnya, pengguna model ini dapat dengan mudah memperoleh hal-hal baru yang dikembangkan oleh Eisenberg dan Berkowitz melalui internet. Dengan demikian, penggunaannya juga semakin memasyarakat. Apalagi, pengembang model ini juga menciptakan model sederhana bagi para siswa di sekolah dasar untuk memudahkan mereka dalam mengembangkan keterampilan literasi inforami sejak dini. Model ini disebut dengan Super3 yaitu Plan, Do  dan Review.  Sejauh ini, hanya model ini yang dikembangkan secara khusus untuk anak-anak di sekolah dasar.
 Enam langkah dalam model Big 6™ adalah:
(1) Penentuan tugas atau masalah
(2) Strategi pencarian informasi
(3) Pencarian sumber informasi yang diperlukan
(4) Pemanfaatan informasi yang sudah diperoleh
(5) Pengintegrasian informasi yang diperoleh dari sumber-sembert tersebut
(6) Pengevaluasian terhadap hasil informasi yang diperoleh dan proses pemecahan masalahnya.

3) Empowering 8 (Wijetunge & Alahakoon, 2005:14)
Pada tahun 2004, sebuah modul yang dirancang khusus untuk kepentingan orang-orang Asia dirumuskan dalam sebuah pertemuan International Workshop on Information Skills for Learning yang diorganisasi oleh IFLA/ALP dan NILIS di University of Colombo, Sri Lanka.  Model yang dihasilkan oleh peserta dari negara-negara Asia ini disebut dengan Empowering 8 dan dipercaya sebagai model yang cocok penerapannya di negara-negara Asia.    Ke delapan langkah tersebut adalah:
(1)   Mengidentifikasi masalah
(2) Mengeksplorasi sumber informasi
(3) Memilih sumber informasi
(4) Menyusun informasi yang diperoleh
(5) Menciptakan sebuah pengetahuan baru dari informasi yang terkumpul sebagai jawaban dari masalah
(6) Mempresentasikan pengetahuan baru yang sudah tercipta
(7) Memberi penilaian terhadap pengetahuan baru tersebut
(8) Mengaplikasikan pengetahuan baru tersebut.
  
4)      Tujuh Langkah Knowledge Management (Diao Ai Lien et.al, 2007)
            Di Indonesia, lahir sebuah model baru yang disebut dengan Tujuh Langkah Knowledge Management yang dikembangkan oleh Diao Ai Lien dan kawan-kawan dari Universitas Atmajaya, Jakarta pada tahun 2007. Model ini merupakan gabungan antara Big 6™ dan Empowering 8 yaitu dengan menambahkan kemampuan ke-8 dari Empowering 8 ke dalam Big 6™ (Diao Ai Lien et.al, 2007:6).  Model ini dikembangkan untuk membantu para mahasiswa dalam menyelesaikan tugas penelitian mereka di kampus.  Dengan target pengguna yang spesifik ini maka pada langkah Menciptakan kegiatan yang secara jelas dilakukan adalah menulis, yaitu menulis hasil karya penelitian maupun skripsi mereka.
Tujuh langkah dalam model ini adalah:
(1). Merumuskan masalah
(2). Mengidentifikasi dan mengakses informasi
(3). Mengevaluasi sumber informasi dan informasi
(4). Menggunakan informasi
(5). Menciptakan karya
(6). Mengevaluasi karya
(7). Menarik pelajaran

5. Skema dan Aplikasi Media and information Literacy oleh Hanna Latuputty dan Dede Mulkan (2012)
UNESCO masuk ke Indonesia dengan konsep yang lebih luas dari information literacy yaitu Media and Information Literacy (MIL). Sebuah workshop diadakan di Depok untuk membahas sebuah dokumen terbitan UNESO tahun 2011 yang berjudul Media and Information Literacy Curriculum for Teachers.  Dokumen ini menjelaskan dan menguraikan topik media dan informasi secara gamblang, namun kurang dapat dipahami dimana letak masing-masingnya secara jelas. Pertanyaan ini muncul karena dari dokumen yang dibuat, hanya satu bab membahas tentang literasi informasi dan kurang terlihatnya pemahaman yang menyeluruh tentang dua konsep ini.
 Dari sudut pandang kepustakawanan yang memasukkan media ke dalam cakupan literasi informasi, Latuputty dan Mulkan berusaha membuat sebuah skema yang menjelaskan dimana letak posisi media literacy dan information literacy dalam konteks Democracy and Good Governance yang diusung oleh UNESCO. 



Gambar 1.

Skema Aplikasi dan Konsep Media and Information Literacy oleh Hanna Latuputty dan Dede Mulkan, 2012

 Dari, skema ini, maka tahapan literasi informasi dapat digambarkan ke dalam sebuah siklus yang terdiri dari enam langkah, yaitu:
1.      NEED/ Kebutuhan Informasi
Kebutuhan dalam langkah awal ini merupakan sebuah kata benda dan bukan kata kerja, karena kebutuhan merupakan bagian dalam kehidupan manusia yang muncul bukan karena suatu pekerjaan yang sengaja dilakukan atau diadakan oleh manusia.  Hal ini berdampak pada kemunculannya yang tidak tergantung pada suatu usaha, namun suatu keadaan yang muncul sebagai efek kehidupan manusia. Misalnya, kebutuhan dasar manusia akan sandang, pangan dan papan.  Demikian pula munculnya kebutuhan informasi manusia.  Dalam kehidupan pribadi, kebutuhan informasi biasanya berkaitan dengan suatu masalah yang harus diselesaikan. Contohnya dalam kehidupan bersekolah, siswa membutuhkan informasi saat ia harus menyelesaikan tugas karya tulisnya ataupun tugas akhir.  Seorang dosen membutuhkan informasi untuk melengkapi bahan ajar yang akan disampaikan kepada para mahasiswanya. Jadi, kebutuhan disini menandai bahwa ia tidak akan bisa lepas dari manusia selama ia menjalani kehidupannya. Bukan karena ia menginginkan kebutuhan itu, namun lebih karena kebutuhan itu muncul dengan sendirinya secara terus menerus. Kebutuhan ini lebih berkaitan dengan adanya unsur pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari, baik itu dalam kehidupan pribadi maupu dalam kehidupan formal di dunia pendidikan dan pekerjaan.
  
2.      ACCESS/ Akses informasi
Langkah selanjutnya saat seseorang menyadari bahwa ia membutuhkan informasi adalah to access, kata kerja yang menunjukkan kegiatan aktif seseorang untuk mengakses informasi.  Akses informasi dilakukan saat seseorang memutuskan kemana ia harus pergi dalam usaha memenuhi kebutuhan informasinya tadi. Akses informasi terjadi saat ia membuka laptopnya dan membuka file ‘perpustakaan digital’nya, atau saat ia ke rak buku koleksi pribadi atau saat ia ke perpustakaan. Akses adalah kegiatan aktif manusia memasuki sumber informasi yang diperlukan.

3.      LOCATE/ Penelusuran
Proses kegiatan aktif selanjutnya saat ia sudah berada di sumber informasi adalah menemukan informasi yang diperlukannya.  Misalnya, saat ia berada di sebuah perpustakaan, maka ia akan secara aktif menelusur untuk menemukan informasi yang sesuai kebutuhannya.  Katalog perpustakaan akan menunjukkan padanya beragam media yang memiliki informasi yang diperlukan.  Bisa saja ia menemukan sebuah film, lima buah buku serta tiga jurnal yang mempunyai informasi yang terkait dengan masalah yang ingin ia pecahkan. Dari sini ia akan masuk dalam tahap penyelarasan (Synthesize)
4.      SYNTHESIZE/Penyelarasan
Proses sintesis atau menyelaraskan informasi yang diperoleh dari beragam media tadi merupakan tahapan penting dalam seseorang memecahkan permasalahannya.  Pemikiran kritis sangat diperlukan dalam tahap ini. Ia perlu mengkritisi apakah semua informasi yang diperolehnya itu ia perlukan. Lebih jauh lagi, pemikiran kritis diperlukan saat ia membangun sebuah pengetahuan baru dari proses perolehan informasi yang diperlukannya itu.
5.      CREATE/Penciptaan
Tahap penciptaan adalah tahap menemukan jawaban atas masalah yang dipecahkan tadi. Bentuk penciptaan sendiri bisa beragam tergantung pada kebutuhan seseorang. Pada pendidikan formal, kebanyakan penciptaan terjadi dalam bentuk karya tulis.  Dalam bagan MIL di atas, penciptaan yang dibagikan atau disuarakan ke masyarakat umum merupakan bentuk kontribusi aktif warga dalam mewujudkan demokrasi dan good governance.
6.      EVALUATE/Pengevaluasian
Tahap akhir dari siklus ini adalah evaluasi.  Evaluasi yang dilakukan mencakup dua aspek, yaitu aspek proses perolehan jawaban atas masalah yang ditemui, sejak tahap NEED hingga CREATE serta evaluasi isi, yaitu evaluasi terhadap hasil atau jawaban itu sendiri.  Mengapa evaluasi ini penting dan harus ada? Jawabannya adalah karena siklus literasi informasi ini akan terus berputar dan jawaban atas permasalahan yang dipecahkan akan tersimpan dan membentuk pengetahuan baru seseorang.  Evaluasi memungkinkan perbaikan dari ‘kesalahan’ proses maupun penyempurnaan jawaban, dan disinilah letak proses pembelajaran seseorang. Proses pembelajaran ini akan terus berlangsung karena manusia akan terus mempunyai kebutuhan informasi dalam kehidupannya.

Gambar 2.

Siklus Literasi Informasi oleh Hanna Latuputty dan Dede Mulkan, 2013

Mengapa Literasi Informasi itu penting?
Pada saat kampanye literasi informasi yan digulirkan oleh APISI sejak tahun 2006, ada beberapa tanggapan yang mengatakan bahwa sebenarnya konsep ini bukan konsep yang baru namun tidak disadari oleh para pendidik di sekolah.  Tanggapan ini seolah menunjukkan bahwa literasi informasi ini tidak harus ‘sebegitunya’ diterapkan atau dikembangkan.  Pada kenyataannya, dari beberapa observasi dan penelitian yang dilakukan oleh APISI, ditemukan bahwa literasi informasi belum diterapkan secara konsisten dan sistematis.  Hasil dari International Workshop on Information Literacy yang diadakan APISI tahun 2008 mengungkapan betapa besarnya beban materi yang harus dituntaskan oleh guru dalam suatu periode kegiatan belajar mengajar.  Hal ini berdampak pada ketergesaan para guru untuk menyampaikan materi yang harus disampaikan dengan cara ‘menyuapi’ para siswanya dengan mencatat dan menghafal pelajarannya. Tentu saja hal ini jauh dari situasi ideal penerapan literasi informasi yang menempatkan siswa sebagai pemecah masalah dengan menggunakan sumber-sumber informasi.
Kurikulum sekolah nasional bertujuan untuk menjadikan para siswanya menjadi pembelajar seumur hidup.  Jika pola pengajaran di sekolah masih seperti sistem talk and chalk, maka tujuan ini hanya akan menjadi isapan jempol belaka.  Itulah sebanya, kesadaran akan penerapan literasi informasi secara sistematis dan terpadu pada kurikulum akan membantu para siswa menjadi pembelajar seumur hidup.
            Kefasihan generasi muda dalam menggunakan peralatan informasi dan komunikasi seperti komputer, telepon genggam, Blackberry yang mempunyai koneksi internet yang kemudian memudahkan akses beragam informasi dari peralatan tersebut telah menciptakan sebuah fenomena baru dalam gaya hidup anak-anak muda saat ini.  Godwin (2008:5) menyebut generasi ini sebagai “generasi web” atau “generasi Google”. Berbeda dengan generasi sebelumnya, misalnya generasi yang bergantung secara manual dalam pengoperasian benda-benda elektronik, generasi Google ini begitu fasih dalam menggunakan teknologi informasi terpasang (online). Mereka akan dengan segera mengoperasikan perangkat tersebut dan mencari tahu fungsi-fungsi apa dari peralatan itu yang dapat dimanfaatkan.
            Ada beberapa hal yang harus diperhatikan secara khusus berkaitan dengan kecenderungan kefasihan mereka dalam berteknologi. Ketika memanfaatkan  internet, setiap orang dapat dengan mudah mengunggah beragam informasi di dalamnya. Mereka bisa bebas mengekspresikan ide-ide atau karya-karyanya di dunia maya tersebut.  Setelah informasi tadi diunggah, tidak ada pihak manapun yang secara khusus bertugas untuk melakukan koreksi atau filterasi terhadap informasi tersebut.
            Situasi inilah yang semestinya diwaspadai oleh para orang tua atau guru, karena menurut Godwin (2008), generasi Google menganggap apa yang tertulis dan tercantum di web pasti benar serta penelusuran tunggal seperti Amazon dan Google dapat memberikan kepuasan instan (p.6)
            Perilaku perolehan informasi yang sudah ditemukan juga layak menjadi perhatian. Generasi Google ini, menurut Godwin, tidak mempedulikan etika dalam penggunaan isi dari sumber-sumber itu karena mereka tidak paham atau tidak perduli (Godwin, 2008;6).  Mereka menganggap penggunaan informasi yang dibutuhkan dengan menerapkan perilaku cut and paste merupakan hal yang biasa dan tidak menyadari bahwa informasi yang diperoleh ini perlu dibaca ulang dan diolah sebelum akhirnya digunakan.
            Perilaku generasi Google yang digambarkan oleh Godwin tersebut perlu mendapat perhatian orang tua di rumah dan para guru di sekolah dalam kegiatan pembelajaran mereka. Sikap menghargai hasil karya orang lain dan kejujuran dalam menggunakan informasi yang diperoleh patut ditanamkan sedini mungkin.
            Keterampilan menemukan, mengevaluasi serta menggunakan informasi secara etis adalah salah satu dari serangkaian keterampilan literasi informasi. Pengajaran keterampilan literasi informasi secara utuh menjadi penting untuk mengakomodasi perilaku generasi Google sebagaimana digambarkan sebelumnya.
            Setelah melihat bagaimana pengaruh teknologi pada siswa hingga mereka membutuhkan keterampilan literasi informasi, Farmer & Henri (2008) mengungkapkan pula bagaimana literasi informasi memberikan pengaruh pada kegiatan membaca siswa. Selain dapat meningkatkan reading comprehension para siswa, literasi informasi yang diintegrasikan dan dirancang secara kolaboratif dalam kegiatan akademisi akan meningkatkan kemampuan pembelajaran dan produk penelitian mereka.  Lebih dari itu, para siswa yang diajarkan keterampilan literasi informasi di sekolah menengah lebih sukses di pendidikan tingginya daripada siswa yang tidak mendapatkan pelajaran literasi itu sebelumnya (Farmer & Henri, 2008, p.16)
            Dengan demikian, keterampilan literasi informasi yang melekat pada para siswa selain akan membawa kesuksesan dalam pendidikan formalnya, akan membekali mereka juga dengan sendirinya ketika mereka menjadi anggota masyarakat. Mereka menggunakan informasi dari beragam sumber untuk memecahkan masalah yang dihadapinya serta membuat keputusan. Akhirnya, dengan keterampilan literasi informasi yang melekat dalam kehidupan mereka, terbentuklah sebuah sikap yang dapat menjadi kebiasaan positif yang menjadikan mereka pembelajar seumur hidup.
LISA (Literasi Informasi Santa Angela) – Model dan Pola Penerapan Literasi Informasi Sekolah
            Idealnya, penerapan literasi informasi terintegrasi dalam kegiatan belajar mengajar sekolah. Perpustakaan sekolah menyelenggarakan kegiatan penunjang keterampilan literasi informasi bagi para siswa. Keterampilan ini kemudian diterapkan para siswa saat mereka mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh para guru bidang mata pelajaran yang diajarkan.
            Salah satu sekolah menegah di Bandung yang terakreditasi ‘A’ dari Perpustakaan Nasional RI tahun 2010 mempunyai program tahunan perpustakaan untuk para siswa kelas 7 hingga 9.  Materi yang dikembangkan juga disesuaikan dengan tingkat kematangan siswa.
            Kegiatan perpustakaan yang direncanakan dan diterapkan oleh perpustakaan selama setahun adalah:
1). library skills;
2). membaca bebas
3). Membuat sinopsi buku
4). Membuat synopsis majalah
5). Menonton film
Para siswa kemudian mengunakan keterampilan yang diasah dalam kegiatan program perpustakaan dalam beberapa mata pelajaran yaitu; Bahasa Inggris; Bahasa Indonesia; Biologi; Sejarah dan Olah raga. Guru mata pelajaran tersebut memberi tugas kepada para siswa untuk dikerjakan dengan menggunakan sumber-sumber informasi yang tersedia di perpustakaan sekolah mereka.
            Perilaku para siswa saat ke perpustakaan setelah mereka menerima tugas yang harus dikerjakan adalah mereka menggunakan internet selain dari buku-buku dan sumber informasi lainnya. Dari internet maupun buku, mereka mencari informasi yang diperlukan, mencatatnya dan selesailah tugas mereka.  Model program perpustakaan dan kegiatan belajar mengajar ini digambarkan pada gambar dibawah ini.



Gambar 3.

Model LISA oleh Hanna C George, 2013

Jika disandingkan dengan siklus Literasi Informasi oleh Latuputty dan Mulkan, maka ada proses para siswa saat menyelesaikan informasi adalah seperti yang digambarkan di bawah ini:
1.Need à Tugas yang diberikan oleh guru
2. Locate à Pencarian informasi yang dilakukan secara terpadu baik itu internet, buku, majalah maupun film. Hal ini tidak terbatas pada informasi yang tersedia di perpustakaan, melainkan para siswa dapat mencari di berbagai sumber-sumber informasi lainnya
3. Access à Pengumpulan informasi yang dibutuhkan dari beragam sumber
4. Synthesis à Penyelarasan informasi untuk membentuk sebuah jawaban atau gambaran dari tugas yang diberikan
5. Create à Pemanfaatan informasi, saat siswa menuangkan temuannya dalam bentuk yang diinginkan, misalnya essay, jawab atas pertanyaan soal maupun bentuk hasil karya/prakarya
6. Evaluate à Pengevaluasian hasil, yang biasanya dalam bentuk nilai. Aspek evaluasi yang jarang atau belum umum dilakukan adalah evaluasi proses perolehan jawaban atas tugas yang diberikan. 
Bagi perpustakaan sendiri, topik pembelajaran yang dapat diberikan untuk menyempurnakan keterampilan siswa adalah dengan memberi sesi tentang cara penelusuran informasi di internet, mengingat akses internet adalah kegiatan favorit para siswa dalam mencari informasi.  Dengan demikian, model LISA ini menjadi Pola LISA sebagaimana tergambar dibawah ini:


Gambar 4.

Pola LISA oleh Hanna C George, 2013
            Dari Pola LISA yang tergambar diatas, dapat dilihat bagaimana program literasi informasi yang dirancang perpustakaan sekolah dapat menjadi elemen-elemen penting dalam kegiatan pembelajaran para siswa di beragam mata pelajaran di sekolah.
Tantangan dan Strategi Penerapan Literasi Informasi di Sekolah
            Penerapan literasi informasi seperti yang tertera pada Pola LISA di atas, tidak serta merta dapat diterapkan begitu saja ditiap sekolah yang berbeda.  Penerapan informasi sangat bersifat kontekstual, sesuai dengan bagaimana badan induk, perpustakaan dan kegiatan belajar mengajar itu dapat disinergikan. 
            Tantangan penerapan ini berasal dari luar dan dalam lingkup perpustakaan. Tantangan dari luar adalah bagaimana cara pandang para pemangku jabatan di sekolah terhadap pustakawan dan perpustakaan sekolah. Semakin positif mereka memandang peran pustakawan sekolah dan perpustakaan dalam menunjang kegiatan belajar mengajar, semakin bergerak bebas program perpustakaan dapat diterapkan. Sebaliknya, jika mereka masih menempatkan staf bermasalah untuk menjadi tenaga perpustakaan maka pincanglah pendidikan menyeluruh sekolah itu. Dukungan akan terasa kurang dan perkembangan fisim mapun program juga akan lambat.
            Tantangan dari dalam adalah dari pustakawan itu sendiri. Penting bagi pustakawan untuk melihat bahwa profesi mereka penting. Peran mereka dalam mengembangkan perpustakaan hendaknya tidak dilandaskan pada cara pandang orang melihat profesi ini, melainkan, kesadaran profesi mereka lah yang seharusnya dapat ‘melabel’ bahwa profesi ini penting hingga mereka dapat percaya diri melakukan dukungan-dukungan yang membawa dampak positif dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Keterampilan berkomunikasi, melobi dan sifat percaya diri juga merupakan tantangan pustakawan sekolah untuk maju. Pendit et. al (2013) dalam papernya di Bali mengungkapkan bahwa sejauh ini belum ada kesepakatan dan pemahaman dari pustakawan dan praktisi sekolah tentang bagaimana seharusnya model diambil dan diterapkan. Selain itu juga belum ada standard literasi informasi yang dikembangkan untuk penerapan di Indonesia.  Peran pustakawan dan guru pustakawan juga masih dalam taraf perkembangan uang membutuhkan pengembangan kolaborasi yang terus menerus dengan dukungan dari pihak manajemen sekolah tentunya.
            Strategi penerapan dalam Pola LISA diatas adalah dengan mengembangkan program berkelanjutan serta memberi kesadaran pada pihak sekolah bahwa apa yang mereka kerjakan merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran siswa yang justru akan menjadikan hasil belajar mereka menjadi lebih baik.  Langkah – langkah pengembangan program perlu di rencanakan mulai dari titik di mana keberadaan perpustakaan itu ada, berjejaring untuk saling tukar informasi serta pro aktif dalam menunjukkan peran perpustakaan dalam institusi induknya.
Penutup
            Penerapan literasi informasi dalam pendidikan di Indonesia masih merupakan jalan panjang dan berliku. Kesiapan saran, prasarana dan sumber daya (pustakawan sekolah) perpustakaan masih merupakan dua hal yang belum rata dan menyeluruh pada sistem pendidikan di Indonesia. Hal penting lain yang tidak boleh dilewati adalah kecintaan membaca para siswa yang masih perlu terus menerus ditanamkan serta dikembangkan. Pustakawan juga penting menyikapi perkembangan teknologi informasi yang mempengaruhi ketersediaan informasi dalam beragam media hendaknya juga menjadi sebuah kesempatan bagaimana perpustakan mempunyai peran lebih dari sekadar menyimpan dan menyediakan informasi. Mutu pendidikan sebuah sekolah seharusnya terlihat dari perpustakaan dan pustakawannya.

Terima kasih


Cite this article (APA):
George, Hanna Chaterina (2013, Desember 14). Cerdas di Era Informasi: Penerapan Literasi Informasi di Sekolah untuk Menciptakan Pembelajar Seumur Hidup. Paper dipresentasikan pada Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa PSTP (Program Studi Teknisi Perpustakaan) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga. Surabaya.



References
Andretta, Susie.(2005). Information Literacy: a Practitioner’s Guide. Oxford:Chandos                       Publishing.
Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia & International Federation Library Association/ ALP.  (2008).  Aplikasi literasi informasi dalam kurikulum nasional (KTSP) : contoh penerapan untuk tingkat SD, SMP dan SMA: Hasil diskusi INDONESIAN Workshop on Information Literacy (INDONESIAN – WIL). Bogor: Author.
Council of Australian University Librarians. (2001). Information literacy standards(1st ed.). Canberra: Council of Australian University Librarians. Ditelusur dari http://www.caul.edu.au/content/upload/files/caul-doc/InfoLitStandards 2001.doc pada 31 Oktober 2011
Diao Ai Lien; Agustin Wydia Gunawan; Dora Aruan & Santi Kusuma. (2007).          Tujuh Langkah  Knowledge Management. Jakarta:Universitas Atmajaya.
Hasanuddin WS  A. Chaedar Alwasilah (Eds).(2009). Ensiklopedi Kebahasaan Indonesia  
      (Jilid II F-K). Bandung: Penerbit Angkasa.
Farmer,Lesley S.Jand Henri, James. (2008). Information Literacy Assessment in K-12                  Setting.   Maryland: Scarecrow Press. pp. 13 - 23
George, Hanna Chaterina. (2013). Literasi Informasi Pperpustakaan Sekolah: Studi Kasus         Penerapan  Program Literasi Informasi di Perpustakaan Sekolah Santa Angela, Bandung.     Bandung:  Universitas Padjadjaran, pp.135 - 160
Godwin, Peter dan Jo Parker (Eds.).(2008). Information literacy meets Library 2.0.  London : Facet   Publishing.
Latuputty, Hanna, and Dede Mulkan. (2012, Mei 29-31). Developing a Media and    
      Information Literacy Program: a MIL Program Guide for Teachers and Librarians on  
      Elementary School in Indonesia. Paper disajikan pada   The 15th Consal Meeting and
      General Conference. Ditelusur dari     http://www.consalXv.org/uploaded_files/pdf/papers/normal/ID_HANNA_DEDE_MediaInformationLiteracy_fullpaper.pdf pada 10 Desember 2013
Laxman, Putu Pendit, Hanna C George & Lucya Dhamayanti (2013, Agustus). Information Literacy  
      in Indonesia : The View from the Field. Presentasi pada International Association of                   School  Librarianship The 42nd Annual International Conference incorporating 17th                     International  Forum on Research in School Librarianship. Unpublished.
Shera, Jesse H. 1972. The Foundations of Education for Librarianship. Dalam ,Ray, Michael.S.       2001.”Shifting Sands-The Jurisdiction of Librarians in Scholarly Communication’.ACRL   
      Tenth National Conference. Denver,         Colorado. March 15-18. hlm 1-20 . Ditelusur dari   
      pada 14 Augustus 2012    
Wijetunge, P. and Alahakoon, U. (2005). Empowering 8 : the information literacy model developed in  Sri Lanka to underpin changing education paradigms of Sri Lanka. Sri Lanka Journal of  Librarianship & Information Management, volume 1 (1) pp.31-41. Ditelusur pada 2 September  2012 dari http://www.cmb.ac.lk/academic/institutes/nilis/reports/InformationLiteracy.pdf  
Wilson, Carolyn; Grizzle, Alton; Tuazon, Ramon; Akyempong, Kwame; Cheung, Chi Kim.   
Wools, Blanche. (2006, Juni 11). Development of Concept Models: an Outline for a                        Workshop at the  International Workshop on Information Literacy [Powerpoint Slides].              Presentasi pada  International Workshop on  Information Literacy, Kuala Lumpur, Malaysia
Zurkowski, Paul G. (1974). The Information Service Environment Relationship and Priorities,
      (Related Paper Number Five). National Program for Library and Information Services
      Washington DC: U.S.National Commission on Libraries and Information Science.