Friday, February 20, 2015

20 Years of Service at BIS

14 Februari 2015 - sekiranya saya masih bekerja di Perpustakaan SMP/SMA British School, saya akan genap 21 tahun melayani di perpustakaan sekolah ini.  Nyatanya, pada tanggal 14 Mei 2014, merupakan hari terakhir saya bekerja di The British International School. Hal yang pasti, banyak sekali pengalaman yang saya timba dalam kurun waktu 20 tahun lebih 3 bulan ini. Suasana bekerja dengan para siswa, para guru, para bos dan rekan kerja juga memberi warna dalam proses belajar saya hingga sekarang.

14 Februari 1994, pas hari Valentine, saya memulai hari pertama saya bekerja sebagai library assistant di Perpustakaan Senior School-BIS. Saat itu, saya masih kuliah. Saya hanya perlu mempersiapkan diri untuk ujian komprehensif sebelum saya memulai skripsi saya. Waktu itu perpustakan masih memiliki koleksi yang tidak banyak, dan saya masih belum PD dengan bahasa Inggris saya. Angkat telepon pun saya ketakutan. Lucu kalau ingat-ingat masa itu. Tapi, pelan-pelan saya belajar memberbaiki diri, terutama dari keragaman kepemimpinan bos-bos saya, Mrs Maggie Trewavas; Helen Robarts, Valerie Bale, Stuart Crouch, Monica Mayer dan Stephanie Brown.

Sampai akhirnya saya bisa kuliah S2 dan menyelesaikannya. Rasanya banyaaakkk sekali yang bisa dibagikan. Saya pikir lebih seru kalau ceritanya lewat foto-foto ya ;)

Mari....


Monday, July 28, 2014

Menjadi Santri yang Cerdas Informasi: Roadshow Keterampilan Literasi Media dan Informasi di Empat Pesantren Jawa Barat

Dalam rangka penuntasan penelitian yang berjudul 'Studi Pemanfaatan Media Massa oleh Santri Pondok Pesantren Modern (Islamic Boarding School)  di Propinsi Jawa Barat, saya diminta untuk menjadi salah satu nara sumber yang berbicara tentang literasi informasi bagi para santri.

Penelitian ini merupakan kelanjutan dari penelitian terdahulu yang diketuai oleh Dr Dede Mulkan, M.Si dengan anggota tim: Dr Nuryah Asri Sjafirah, M.Si; Gumgum Gumilar, S.Sos., M.Si; Ala Nurdin, S.T.P, Irfan Marfiandi dan saya sendiri, Hanna C George, SS, M.I.Kom.

Sesuai dengan kisi-kisi penelitian yang diberikan, tugas saya adalah membawakan materi tentang literasi informasi dengan harapan para santri menjadi 'melek informasi' yaitu mereka memahami bagaimana cara memilih informasi yang baik dan benar.

Monday, July 21, 2014

"Indonesian Day" di Dickens Library, British International School, Tangerang: display dengan 3 hari persiapan.

Satu minggu sebelum hari Indonesian Day di sekolah kami, Kepala Sekolah meminta saya untuk menjadikan perpustakaan a vibrate library dalam rangka perayaan Indonesian Day.  Langkah pertama yang saya lakukan adalah mengundang rekan dari Taman Mini Indonesia Indah yang memang sudah mempunyai jadwal tetap datang ke British School untuk melatih para penari yang adalah karyawan BIS untuk Indonesian Day yang jatuh tanggal 28 Maret 2014.  Tarian daerah tahun ini berasal dari Sumatra Utara. So, saya pikir mas Andy bisa membantu display heboh dengan tema yang sama dari Sumatra Utara. Rapat untuk berkonsolidasi dilakukan namun sayangnya rencana ini harus batal, karena mentok di anggaran. Padahal itu hari Selasa, dan Indonesian Day jatuh pada hari Jumat. Maaf Mas Andy, masalah anggaran di luar wewenang saya. Semoga kerjasama kita bisa terlaksana lain waktu ya.

Otak saya berputar cepat. Dengan waktu mepet, bagaimana caranya supaya perpustakaan bisa membuat display yang berbeda seperti yang diinginkan Kepala Sekolah?  Informasi tentang Sumatra Utara relatif mudah diperoleh dari berbagai sumber yang kami miliki. Bagaimana dengan 'penampilan' perpustakaan? Dekorasi macam apa yang cocok? Dengan waktu yang tersisa hanya hingga hari Kamis, dan sekarang hari Selasa. Tiga hari, atau dua setengah hari. Rasanya yang berputar bukan saja otak, tapi kedua mata juga ikut muter-muter.

Ok. 

Pertimbangannya seperti ini: sentuhan apa yang harus dibuat agar meski sederhana, preparation nya tidak memakan waktu lama namun dapat memberi efek vibrate. Think...think....thinkkk...

Voila...ini pemikiran yang muncul:


Monday, July 14, 2014

Pustakawan Sekolah Tinggi Teologi: Menjadikan Pengguna Perpustakaan Semakin Berakar dan Bertumbuh ke Arah Kristus yang adalah Kepala (Efesus 4: 14-15)

           Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita,
supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci
(Roma 15:4)

Saya memberanikan diri menulis artikel ini, semata mata karena ingin berbagi dalam keterbatasan pengetahuan teologi saya maupun pengalaman hidup saya. Saya bukan teolog dan tulisan ini merupakan sharing singkat tentang iman Kristen, pustakawan dan teladan Yesus Kristus berdasarkan pemamahan saya.
            Saya bersyukur diberi kesempatan untuk menjadi salah satu nara sumber di acara Musyawarah Nasional ke-2 Forum Pustakawan dan Perpustakaan Teologi di Indonesia (ForPPTI) di STT Jakarta tanggal 25 Juni 2014. Pertama, karena kesempatan ini (tentunya) akan memperkaya pengalaman saya untuk berbicara di kalangan yang beragam peserta (terakhir saya berbicara di empat Pesantren di Propinsi Jawa Barat). Kedua, karena saya dapat menempatkan posisi ‘seolah-olah’ saya adalah pengguna jasa layanan perpustakaan teologi (atau perpustakaan gereja)  dan menempatkan kebutuhan rohani saya sebagai seorang kristen.  Alasan kedua, -ini yang sebetulnya yang ingin saya gali- yaitu peran perpustakaan STT  serta pustakawannya. Saya melihat pentingnya peranan pustakawan dan perpustakaan teologi yang lebih luas akan saya kaitkan dengan perpustakaan gereja. Tulisan ini bukan menangkat topik yang saya bicarakan saat Munas ForPPTI, namun efek perenungan saat menyiapkan bahan yang diminta oleh panitia yaitu tentang organisasi profesi APISI kepada peserta.


Wednesday, March 19, 2014

Kepustakawanan Sekolah: Perannya dalam Menunjang Kegiatan Pembelajaran Abad 21

Disampaikan Pada Seminar dan Talkshow APISI dan Sekolah Terpadu Pahoa yang bertema: Perpustakaan Sekolah: Perkembangan dan Tantangannya di Era Pembelajar Abad 21. Sekolah Terpadu Pahoa, Serpong, Tangerang, Banten. 15 Maret 2014. 

Kata Kunci: pembelajar abad 21, pustakawan sekolah, perpustakaan sekolah, program perpustakaan sekolah



Pendahuluan

Apa indikasi dari sebuah pembelajaran yang berciri abad dua puluh satu? Pertanyaan ini berangkat dari begitu ramainya hiruk pikuk aliran informasi dari berbagai arah dalam kehidupan manusia, termasuk para siswa. Beragam bentuk informasi yang tersedia menjelma bukan saja dalam bentuk tradisional yang tercetak seperti buku, koran dan majalah atau media pandang dengar seperti televisi dan radio, melainkan juga dalam bentuk digital yang dapat diakses secara terpasang (online) melalui komputer ataupun alat komunikasi yang semakin canggih.

Friday, December 27, 2013

Cerdas di Era Informasi: Penerapan Literasi Informasi di Sekolah untuk Menciptakan Pembelajar Seumur Hidup

Tulisan awal disampaikan pada Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa PSTP (Program Studi Teknisi Perpustakaan) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga, Surabaya. 14 Desember 2013.  Tulisan pada blog ini ditulis 26 Desember 2013 dan sudah diedit setelah mendapatkan berbagai masukan saat presentasi tanggal 14 Desember 2013 lalu.


Abstrak


Tulisan ini mengangkat konsep dasar literasi informasi di dunia pendidikan formal di sekolah. Latar belakang munculnya konsep literasi informasi, definisi, model-model yang berkembang dan contoh penerapannya juga dibahas. Mengapa literasi informasi penting untuk diterapkan serta strategi penerapan dan tantangannya di dunia pendidikan sekolah juga diungkap dalam artikel ini.


Kata Kunci: literasi informasi, pustakawan sekolah, perpustakaan sekolah, program literasi informasi, program perpustakaan sekolah


Literasi Informasi: Latar Belakang dan Definisi
Tema yang diangkat pada Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa PSTP (Program Studi Teknisi Perpustakaan) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga, yaitu Cerdas di Era Informasi menunjukkan dengan tepat bagaimana awam dapat memahami konsep literasi informasi dengan bahasa yang mudah dimengerti. Guna meninjau lebih jauh arti kata dan definisi information literacy, pembahasan dimulai dengan mencari arti dari masing-masing kata tersebut.


Tuesday, April 10, 2012


PETISI

Hentikan Tradisi Kebijakan

Penempatan Pegawai Bermasalah di Perpustakaan





Untuk kedua kalinya, citra perpustakaan sekolah diperburuk oleh kebijakan penempatan guru bermasalah di perpustakaan sekolah. Kasus terbaru di SMPN 26 Purworejo seperti yang diberitakan oleh Harian Suara Merdeka, 18 Maret 2012 dengan judul “Guru Pemukul Siswa Dibebastugaskan Mengajar”. Dalam berita tersebut Kepala Dinas P dan K Kabupaten Purworejo, menyatakan bahwa guru berinisial Ar yang melakukan penganiayaan terhadap siswa SMPN 26 Purworejo untuk sementara dibebastugaskan dari mengajar dan untuk sementara menjadi petugas perpustakaan. Tahun 2009, kasus yang sama terjadi di SMP Negeri 79 Jakarta, seperti yang dimuat di Koran Tempo pada tanggal 19 Januari 2009 dengan judul “Guru Penganiaya Siswa Dipindah Tugas”.

Menyikapi kasus-kasus tersebut di atas, kami dari berbagai asosiasi pustakawan, lembaga-lembaga pendidikan Ilmu Perpustakaan & Informasi, lembaga-lembaga Perpustakaan Umum, Perpustakaan Sekolah, Perpustakaan Perguruan Tinggi, dan Perpustakaan Khusus dari berbagai daerah di Indonesia serta pustakawan-pustakawan dari berbagai penjuru Nusantara bersama Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia (APISI) sebagai lembaga pengembangan kepustakawan sekolah Indonesia menyampaikan keberatan terhadap kebijakan-kebijakan penempatan pegawai bermasalah di perpustakaan karena telah memberi citra buruk bagi perpustakaan sekolah sebagai tempat penghukuman.

Kebijakan-kebijakan penempatan pegawai bermasalah di perpustakaan merupakan bentuk kurang pahamnya para pengambil kebijakan di instansi-instansi yang mengelola bidang pendidikan tentang fungsi perpustakaan sekolah serta standar perpustakaan sekolah sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 25 Tahun 2008. Kasus ini, selain memberi citra buruk terhadap perpustakaan sekolah juga merupakan pelecehan terhadap profesi pustakawan.

Kami dari berbagai asosiasi pustakawan, lembaga-lembaga pendidikan Ilmu Perpustakaan & Informasi, lembaga-lembaga Perpustakaan Umum, Perpustakaan Sekolah, Perpustakaan Perguruan Tinggi, dan Perpustakaan Khusus dari berbagai daerah di Indonesia serta pustakawan-pustakawan dari berbagai penjuru Nusantara bersama APISI berharap di masa mendatang kasus-kasus serupa tidak terjadi lagi di sekolah-sekolah lain serta di semua jenis perpustakaan di Indonesia.

Secara tegas kami menyatakan:

“Hentikan tradisi kebijakan penempatan pegawai bermasalah di perpustakaan!”



Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia (APISI)

Alamat Sekretariat APISI 

Jl. Dahlia No. 355A Rt 007/15 Serua Ciputat 15414 

Telepon: 021- 94326925; 021-818155374; Faks: 021-746 37 522 

Email: kotaksurat@apisi.org




Solidaritas Pustakawan Tolak Penempatan Pegawai Bermasalah di Perpustakaan

Ahmad Subhan 081 227 1955 77

lempoxe@yahoo.com




Petisi ini didukung oleh: