Tuesday, October 17, 2017



Asosiasi Perpustakaan Sekolah: 
Apakah kita benar-benar membutuhkannya?
 - Sebelas Tahun APISI di Indonesia - 

oleh Hanna Chaterina George

Saat memulai pekerjaan sebagai pustakawan sekolah sekitar tahun 1994, saya tidak mengenal adanya sebuah asosiasi khusus untuk perpustakaan sekolah. Saat itu, sudah ada sebuah asosiasi perpustakaan di Indonesia, yaitu Ikatan Pustakawan Indonesia, namun saya tidak melihat adanya kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan perpustakaan sekolah.

Pada kenyataannya, saya bahkan tidak menyadari bahwa saya memerlukan sebuah asosiasi perpustakaan hingga  tahun 2005, saat tercetus ide untuk mengumpulkan beberapa rekan-rekan pustakawan sekolah yang berlokasi di sekitar sekolah tempat saya bekerja di daerah Tangerang Selatan. Disitulah cikal bakal lahirnya APISI, sebuah asosiasi profesi yang menyebut dirinya school information profesional dan bukan pustakawan sekolah.

Mengapa Kita Berhimpun?

Pertemuan pertama pustakawan sekolah yang diselenggarakan di British School Jakarta  (saat itu British International School) pada tahun 2006 bertujuan untuk mengakomodasi keingintahuan pustakawan sekolah akan perkembangan dan then termini dalam kepustakawanan sekolah di Indonesia. Pada pertemuan pertama ini, ada 30 pustakawan sekolah hadir.  Saat itu disadari bahwa ada kebutuhan akan jejaring diantara pustakawan sekolah. Hal ini  dipercaya akan menolong tiap pustakawan sekolah dalam memecahkan masalah mereka dalam mengelola perpustakaan sekolahnya.   Perlu menjadi catatan bahwa kebanyakan mereka  yang bekerja di perpustakaan sekoalah, tidak mempunyai latar belakang pendidikan ilmu perpustakaan. Kebanyakan dari mereka berasal dari guru maupun tenaga tata usaha yang tidak mengerti pengelolaan perpustakaan. Itu sebabnya keinginan untuk bertemu, sharing dan bertukar pikiran menjadi kebutuhan tersendiri.

Pertemuan saat itu mengundang pembicara yang dianggap berkompeten, yaitu Diao Ai Lien, Ph.D dan Dra Titi Chandrawati, M.Ed yang membawakan hasil penelitian mereka yang dibiaya oleh UNESCO yaitu " Current State of Information Literacy Awareness and Practices in Indonesia Primary and Secondary Public Schools: Jakarta". Tema literasi informasi ini menjadi masukan kepada peserta bahwa peran perpustakaan sekolah saat ini sudah berubah dan tema ini kemudian menjadi core subject yang dipromosikan APISI setelah pembentukannya pada tahun 2006.

Lebih lanjut dari pertemuan ini, peserta memutuskan untuk mengadakan pertemuan lanjutan yang langsung diputuskan sebelum pertemuan pertama ini berakhir. Pada pertemuan ke dua dilaksanakan pada bulan February 2006 di Sekolah Raffles, Pondok Indah. Pada pertemuan ini para peserta sepakat untuk mengadakan pertemuan ketiga.  Akhirnya pertemuan ke-tiga ditetapkan tanggal 26 Agustus 2006, di Hotel Butik Sahira dan disinilah pembentukan APISI.

Berdirinya APISI

Pada pertemuan pertama, peserta mengisi kuesioner dari panitia dan salah satu komponennya adalah kebutuhan sebuah organisasi. Dari kuesioner itu, semua peserta menyatakan memerlukan sebuah asosiasi perpustakaan. Itu menjadi salah satu landasan pada pertemuan informal pustakawan sekolah ke 3 untuk sekaligus membentuk sebuah asosiasi formal di Bogor, selain mewujudkan komitmen untuk memelihara jejaring yang sudah terbentuk dari dua pertemuan sebelumnya. Pada pertemuan ini nama organisasi dan kepngurusan ditentukan. Setelah itu pengurusan landasan hukum APISI juga dilakukan. Landasan hukum sebuah organisasi merupakan persyaratan organisasi untuk melakukan kerjasama dengan badan-badan pemerintah, lembaga maupun perusahaan. Landasan hukum organisasi artinya organisasi tersebut tercatat di Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia. Pencatatan hukum ini dilakukan oleh notaris  untuk kemudian mengeluarkan nomer Keputusan Menteri dan nomor wajib pajak.  Program APISI menekankan pada kegiatan akan pentingnya perpustakaan sekolah dan pustakawan sekolah, khususnya dalam menerapkan literasi informasi yang dilakukan oleh perpustakaan sekolah. Baru pada thun 2014, setelah 3 tahun mati suri, APISI  menambahkan program literasi pada core programme nya. Kevakuman APISI dalam masa itu dikarenakan hampir semua pengurusnya membantu Perpustakan Nasional dan kementerian Pendidikan membidani lahirnya sebuah organisasi tenaga perpustakaan sekolah yang saat pembentukannya nama yang diberikan adalah ATPUSI (Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonsia).

Program apa yang dikerjakan APISI?

APISI mempunyai tiga program utama yaitu  Kelas Pendek, Seminar Bulan Oktober dan Konsultansi. Program ini bersamaan dengan program bagi anggota yang dinamakan Pertemuan Informal Pustakawan Sekolah, yang merupakan pertemuan yang dilakukan untuk mengumpulkan anggota yang tercatat untuk sharing atau berdiskusi hal-hal terkini dalam dunia kepustakawanan sekolah baik di Indonesia maupun di dunia. Program ini biasanya berbayar untuk menutupi pengeluaran biaya konsumsi atau transportasi nara sumber. Sebuah program literasi yang dilakukan sejak 2014 adalah APISI Baca Cerita, yaitu kegiatan bercerita menggunakan buku bagi para siswa TK, PAUD dan SD. Kegiatan ini dilakukan oleh voluntir APISI secara gratis baik pada event event perbukuan maupun di sekolah-sekolah.
Pertemuan Pustakawan Sekolah pertama setelah pembentukan APISI
2007 
Kelas Pendek APISI I Tahun 2010
Selain itu, pengurus dan anggota APISI juga diharapkan aktif dalam kegiatan-kegiatan seminar atau workshop di tingkat regional maupun internasional. Beberapa kali APISI menjadi nara sumber untuk konferensi IASL maupun ASEAN Workshop untuk Pustakawan Sekolah. Beberapa award juga diterima anggota APISI untuk bisa menghadiri kegiatan konferensi IASL di Taiwan tahun 2007 yagn diberikan kepada (Alm) Mahmudin dan di Belanda 2015 diberikan kepada Inez Kinanthi.
APISI berusaha membuat buletin sebagai media komunikasi dengan sesama anggota, yang diberikan nama AKURASI. Namun, hal ini menemui kendala sumber daya manusianya, sehingga penerbitannya tidak dapat berjalan lancar.

Bagaimana APISI bertahan?

Sebuah organisasi profesi yang mandiri dan non-profit pasti akan menemui kendala biaya dalam pelaksanaannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mengajukan proposal kegiatan pada lembaga-lembaga pemberi donor organisasi. APISI pernah mendapatkan dukungan dari IFLA - ALP (International Federation of Library Association - Action for Development through Library Programme/ https://www.ifla.org/alp) untuk menyelenggarakan Indonesian-Workshop on Information Literacy (I-WIL) tahun 2008 di Bogor. Selain itu, IFLA juga mempunyai program BSLA (Building Strong Library Association) yang dapat memberikan donor anggaran untuk mendukung kegiatan yang bersifat penguatan organisasi. APISI memperoleh dukungan ini pada tahun 2015, dan dimanfaatkan untuk membentuk calon-calon kepengurusan APISI di 8 propinsi. Pada acara ini juga diundang rekan-rekan organisasi perpustakaan dan pustakawan di Indonesia sebagai salah satu persyaratan dan menghasilkan sebuah komunitas baru yang memayungi organisasi-organisasi perpustakaan yang ada di Indonesia yaitu AOPPI (Aliansi Organisasi Pustakawan dan Pekerja Informasi).


Apa pengaruh bagi anggota APISI?

Hal penting dalam keorganisasian seperti APISI adalah bagaimana keberadaannya membaca impact atau pengaruh pada anggotanya. Beberapa kegiatan hibah buku, hasil kerjasama dengan The Asia Foundation telah dilakukan bukan saja di APISI pusat namun juga di daerah. Selain itu, APISI sering menerima donasi buku yang kemudian dibagikan pada anggota yang memerlukan. Selain itu, informasi maupun link yang diperoleh melalui jejaring personal ketua dan pengurus dapat menjadi sumber informasi bagi anggotanya. Media sosial juga dimanfaatkan untuk penyebarluasan informasi atau untuk mendapatkan informarsi di kalangan pengurus dan anggota.

Bertepatan dengan ulang tahun APISI ke 11, bertepatan dengan acara Seminar di Pulau Samosir, Sumatera Utara, penulis mencoba menanyakan pengaruh APISI kepada perwakilan pengurus APISI Sumatra Utara. Dua testimony diberikan oleh Bapak Hadi Akmal Lubis, pengurus baru APISI Kabupaten Asahan, salah satu kabupaten di Propinsi Sumatra Utara yang baru saja bergabung di APISI tahun 2016. Tahun 2017, ia berhasil meraih juara 2 Pustakawan Teladan Propinsi Sumatra Utara yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Propinsi Sumatra Utara. Hadi mengakui bahwa karena banyak belajar dari APISI serta keinginan untuk mau belajar otodidak dari program2 ilmu perpustakaan dari apisi, maka ia dapat mendapatkan Juara 2 Pustakawan Terbaik Propinsi Sumatera Utarar. Menurutnya, Program APISI cukup baik seperti ABC (APISI Baca Cerita) serta pendidikan dan latihan untuk memberikan pelatihan pengolahan perpustakaan bagi mereka yang tidak mempunyai latar belakang ilmu perpustakaan.  (Personnal Communication. Hadi Akmal Lubis, 26 August 2016)

Pengurus ke dua yang dimintai testimoninya adalah Syafrizal Nazaruddin, Koordinator APISI Propinsi Sumatra Utara. Rizal, demikian panggilan akrabnya, telah bergabung dengan APISI sejak tahun 2007 ketika ia masih bekerja sebagai pustakawan sekolah di salah satu sekolah internasional di Medan. Rizal juga merupakan salah satu peserta IFLA-ALP tahun 2008 hingga tahun 2015 dan terpilih menjadi koordinator APISI Propinsi Sumatra Utara dan dilantik kembali dengan anggota pengurus lainnya tahun 2016. Alasan Rizal untuk terus menetap dalam keorganisasian APISI adalah ia ingin terus mempromosikan literasi informasi, apalagi saat ini ia adalah staf perpustakaan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Propinsi Sumatra Utara meskipun ia tetap fokus membantu pengembangan perpustakaan sekolah.  Hal yang menjadi kekuatan APISI menurutnya adalah proses belajar dalam kegiatan pelatihan APISI berbeda dengan bentuk pelatihan biasanya. Ia mendapatkan banya materi dan kegiatannya melibatkan peserta sehingga proses pemahaman materi lebih mudah dimengerti. Rizal mengaku, ia belum belajar banyak dalam mengelola keorganisasian secara mendalam. Ia juga menambahkan kebanyakan sekolah-sekolah yang terlibat dalam kegiatan APISI adalah sekolah yang sudah mapan dalam segi fasilitas perpustakaan sekolah maupun biaya pengembangan koleksinya. Dengan demikian, implementasi literasi informasi dapat lebih diterapkan dibandingkan dengan sekolah-sekolah negeri yang fasilitas maupun dukungan dananya masih belum mencukupi.

Penutup

Timbulnya sebuah organisasi yang independen biasanya berasal dari kebutuhan anggotanya. Kemandirian sebuah organisasi membuat ia dapat bergerak bebas mengembangkan dirinya tanpa campur tangan lembaga lain yang mempunyai kepentingannya sendiri. Keberlangsungan organisasi ini bersumber pada komitmen pengurusnya serta usaha ekstra mencari sumber dana baik itu dari lembaga-lembaga pemberi donor maupun CSR. Ukuran keberhasilan organisasi profesi ini dapat dilihat dari bagaimana pengaruhnya pada pertumbuhan anggotanya.


Biografi singkat:
Hanna Chaterina George adalah Ketua Umum  APISI (Assisi Perkerja Profesional Indormasi Sekolah Indonesia/Association of School Information Professionals). Hanna menyelesaikan S1 nya bidang Ilmu Perpustakaan di Jurusan Ilmu Perpustakaan, Universities Indonesia dan memperoleh gear M.I.Kom untuk bidang yang same di Universitas Padjadjaran, Banding than 2013. Hanna pernah maenad pustakawan sekolah selma 20 than di sebum sekolah internasional di Bintaro. Ada than 2014, ia memutuskan untuk bekerja penh waktu di APISI. Saat ini Hanna aktif di  International Association of School Librarianship (IASL) dan menjabat  Director of Region 2: Asia sejak 2015. Hanna dapat dihubungi lewat email: hanna@apisi.org.


Wednesday, August 31, 2016

KOLABORASI GURU DAN PUSTAKAWAN DALAM MENINGKATKAN MINAT BACA SISWA DALAM GERAKAN LITERASI SEKOLAH

KOLABORASI GURU DAN PUSTAKAWAN
DALAM MENINGKATKAN MINAT BACA SISWA
DALAM GERAKAN LITERASI SEKOLAH*
oleh: Hanna Latuputty

Reading is not just a matter of life and death; it is much more important than that.
(Alan Gibbons-Author, Organizer & Campaign for the Book)

A. Pendahuluan
Kegiatan membaca merupakan sebuah isu yang tidak pernah terlepas dari sebuah perpustakaan sekolah. Pustakawan sekolah selalu berusaha untuk menanamkan kegiatan gemar dan cinta membaca bagi para siswa dan komunitas sekolahnya. Kerjasama dan dukungan dari pihak kepala sekolah dan manajemen serta komunitas sekolah di mana perpustakaan itu bernaung memegang peranan yang sangat penting pada implementasi kegiatan ini.

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan sebuah inisiatif pemerintah yang memerlukan dukungan perpustakaan sekolah dan pustakawannya. Pustakawan perlu terlibat secara langsung dalam Tim Literasi Sekolah untuk merencanakan berbagai kegiatan yang mendukung pengembangan budi pekerti siswa melalui kegiatan membaca.

Sebagai organisasi profesi, APISI mendukung dan memberi keleluasaan bagi para pustakawan sekolah untuk mengembangkan kegiatan yang berkaitan dengan buku dan kegiatan membaca untuk penanaman cinta dan budaya membaca di berbagai kalangan. Penanaman gemar membaca perlu dilakukan sedini mungkin bagi anak-anak kita (bahkan ketika mereka masih bayi) sehingga ketika pada tingkatan sekolah menengah, para siswa ini akan siap untuk menerima keterampilan literasi informasi lebih dalam lagi. Literasi informasi yaitu seperangkat keterampilan untuk memecahkan masalah ataupun untuk membuat keputusan, baik untuk kepentingan akademisi ataupun pribadi, melalui proses pencarian, penemuan dan pemanfaatan informasi dari beragam sumber serta mengkomunikasikan pengetahuan baru ini dengan efisien, efektif dan beretika (George, 2012). Untuk itu, keterampilan membaca merupakan landasan dari literasi informasi yang dapat dilaksanakan secara terencana dan terprogram sejak usia dini. Tulisan ini mencakup gambaran umum tentang GLS, konsep dasar mengapa membaca itu penting serta beragam contoh kegiatan yang dapat dilakukan di sekolah dengan keterlibatan perpustakaan sekolah.

Thursday, May 05, 2016

Bacaan Remaja: Seperti Apa?

Bertepatan dengan Hari Buku Dunia tanggal 23 April 2016, APISI bekerja sama dengan Sekolah Bhakti Mulia (BM) 400, Gagas Media dan Paperback menggelar acara Sarasehan Pustakawan  Sekolah dan Orang tua bertempat di Aula SMP Bakti Mulia 400 di Jakarta Selatan. Pada kesempatan ini, Direktur Utama Gagas Media Jeffri Fernando dan salah satu penulis penerbit Gagas Media, Orizuka tampil sebagai narasumber dengan moderator Om Em (Mahmudin Muhayar).

Ki-ka: Jeffri Fernando, Om Em dan Orizuka

REMAJA DAN BUKU

Pak Jeffri membuka sesi panel ini dengan beberapa pendekatan publikasi buku-buku remaja yang juga didasarkan pada data-data. Gagas Media mengkategorikan remaja pada usia 13 hungga 18 tahun dan diperkirakan ada 65 juta remaja di Indonesia, yang saat ini berpenduduk sekitar 250 jiwa.  Tehnologi komunikasi yang mengakomodasi kegiatan sosial remaja dalam beragam medianya ternyata memegang peranan pada alasan remaja membeli buku.  Menurut Jeffri, remaja cenderung membeli buku karena keaktifan mereka di media sosial yang saling memberikan pengaruh satu sama lain. Mereka juga cenderung membeli buku karena konteks sosial maupun emosional seperti ingin didengar, ingin dihargai dan diperlakukan seperti orang dewasa. Di sisi lain, mereka adalah mahluk yang cepat bosan serta 2/3 keputusan pembelian buku berdasarkan masukan teman atau idola mereka. Bagaimana dengan peranan orang tua dalam konteks pembelian buku remaja? Ternyata remaja mempunya pengaruh terhadap orang tua untuk membelikan mereka buku bacaan.


Wednesday, April 27, 2016

Literasi Informasi di Sekolah: Penerapan POLA LISA untuk Penyelesaian Karya Ilmiah Siswa Kelas 12

Literasi Informasi di Sekolah:
Penerapan POLA LISA untuk Penyelesaian
Karya Ilmiah Siswa Kelas 12

oleh Hanna C George - Latuputty

Seminar Nasional 'Literasi Informasi: 
Keberlangsungannya dari Sekolah sampai dengan Perguruan Tinggi'. 
Dalam rangka Dies Natalis Universitas Negeri Yogyakarta ke-52. 
UPT UNY, 6 April 2016.
Yogyakarta

ABSTRAK
POLA LISA merupakan sebuah model penerapan literasi informasi sekolah menengah pertama Santa Angela, Bandung. Meskipun demikian, pola ini juga relevan bagi siswa yang harus menyelesaikan karya ilmiah sebagai tugas akhir mereka di sekolah menengah atas.
Tulisan ini akan membahas secara umum konsep literasi informasi di sekolah menengah atas serta implementasi POLA LISA untuk memudahkan penerapannya. Pustakawan sekolah akan mendapatkan gambaran utuh proses kegiatan belajar mengajar siswa dan kaitannya dengan program perpustakaan serta bagaimana langkah siswa dalam menyelesaikan karya ilmiahnya.

1. Definisi
            Ada banyak definisi yang dibuat oleh orang-orang yang berkecimpung dalam dunia akademisi, lembaga pendidikan ataupun asosiasi profesi pustakawan atau perpustakaan tentang apa itu literasi informasi. Dari beragam sumber dan definisi yang ada, penulis merumuskan literasi informasi sebagai seperangkat keterampilan untuk memecahkan masalah ataupun  membuat keputusan, baik untuk kepentingan akademisi ataupun pribadi, melalui proses pencarian, penemuan dan pemanfaatan informasi dari beragam sumber serta mengkomunikasikan pengetahuan baru ini dengan efisien, efektif dan beretika (George, 2012:10).  Dalam implementasi di sekolah-sekolah menengah atas, literasi informasi merupakan langkah-langkah terampil dalam menggunakan informasi untuk tugas penelitian sekolah atau karya ilmiah serta menuliskannya dengan efisien, efektif dan beretika.

Tuesday, October 13, 2015

Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Anak Sekolah Minggu di Tomok Pulau Samosir, Danau Toba, Sumatra Utara

Awal pertemanan saya dengan Ibu Pdt. Lasma Sidabutar di Facebook,  membawa saya pada sebuah kesempatan indah mengunjungi Danau Toba. Pada suatu hari tiba-tiba foto-foto baheula saya muncul kembali di Timeline karena di Like atau di Share olehnya. Mulailah percakapan demi percakapan bergulir. Hingga pada suatu saat Ibu Lasma bertanya apakah saya bersedia untuk bercerita kepada sekitar 300 anak-anak di Tomok, Pulau Samosir dalam acara KKR. Saya bersedia.

Acara KKR yang di prakarsai oleh Dewan Pimpinan Anak Cabang - Persatuan Wanita Kristen Indonesia (DPAC-PWKI) Kecamatan Simanindo yang diketuai oleh Ibu Pdt Lasma Sidabutar serta Ketua Panitia Ibu Saurna Ambarita. Acara ini dirangkai dengan penanaman pohon di beberapa sekolah dan gereja serta beberapa rumah penduduk. Bersama dengan
Ibu Lasma, Ibu Sintong Sidabutar dan dua anak saya Fia dan Yosua, kami pun berkeliling menyerahkan tanaman-tanaman itu kepada calon penerima yang sudah ditetapkan.

Friday, March 13, 2015

APISI di RAKORBID Perpustakaan dan Arsip Propinsi Banten

Pada hari Senin dan Selasa tanggal 9 dan 10 Maret 2015, BPAD Propinsi Banten mengundang saya untuk mengikuti acara Rapat Koordinasi Bidang Perpustakaan dan Kearsipan (Forum Renja) BPAD 2016 di Hotel Jayakarta, Anyer.

Hari pertama, acara dibuka dengan paparan narasumber oleh Kepala BPAD Propinsi Banten, Dra E. Suhaeti, M.Si. Paparan beliau dibuka dengan visi dan misi Gubernur Banten. Program prioritas pembangunan mencakup pembinaan kearsipan daerha; pengembangan minat dan budaya baca dengan indikator meningkatnya kunjungan perpustakaan/hari serta pengembangan dan pembinaan perpustakaan dengan indikator eningkatan jumlah perpustakaan dengan indikator peningkatan jumlah perpustajaan sesuai standard (%).