Wednesday, November 11, 2009

Ikan Patin Bakar dan Tahu Kipas

Tujuan tempat makan kali ini adalah salah satu rumah makan Indonesian food di jalan Mampang Prapatan, Warung Buncit.



Ini salah satu foto dinding rumah makannya.

Nah, ini menunya:

Cah baby kailan dan somay


Ini ikan patin bakarnya


Tahu Kipas
Satu tahu ada lima udang di dalamnya.


Jus Mangga
Ada potongan-potongan buahnya


Jus Jamsir
Jus Jambu Sirsak


Ada yang tidak ada di foto tapi juga yummy, Jus Duren Montong. Hmm...lumayan lah, ikan patinnya lumayan enak, asal hati-hati, ternyata ada juga tulangnya.Most of all, yang paling mantab nampanknay Tahu Kipas-nya. Yuummmyy....

Thursday, October 29, 2009

Negeri 5 Menara by A. Fuadi (2009)

MAN JADDA WAJADA
Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil

Buku ini membawa sebuah teladan bagi dunia pendidikan secara utuh. Ia berbicara bukan saja kepada para siswa, melainkan juga pada pendidik, orang tua, serta sistem pendidikan dan pembelajaran. Unsur-unsur penting yang menunjang keberhasilan pendidikan yang menyeluruh.

Sebagai seorang anak, ternyata kepatuhan dan ketaatan pada orang tua tetap membawa kebahagiaan meski bertentangan dengan keinginan sendiri.

Sebagai orang tua, teladan hidup dan keteguhan untuk menunjukkan jalan yang dianggap baik dan dukungan yang penuh, merupakan dorongan bagi sang anak untuk menekuni jalan yang dibukakan baginya.

Sebagai pendidik, teladan hidup, dukungan terus menerus, dan penegakan disiplin yang tidak kompromi menghasilkan anak didik yang punya kualitas yang tidak setengah-setengah.

Membaca buku Negeri 5 Menara, serasa menonton sebuah film yang bukan saja menghibur, melainkan juga menginspirasi dan mengobarkan semangat. Cukup membuat saya merinding di beberapa halaman terakhir buku ini.

Buku yang layak dibaca untuk memberi inspirasi bagi mereka yang peduli dalam dunia pendidikan.

Friday, October 23, 2009

Hari Kunzru: writing is to give people pleasure and escape people from their confinement

There are many reasons for writers on why they write stories. Hari Kunzru, the author of three books: The Impressionist, Transmission and My Revolutions has his own reason, that writing is to give people pleasure and escape people from their confinement.

At the bright and sunshine day on October 14th, 2009, together with HE Ambassador, Martin Hatfull, and most of BIS important people, Hari were there to read a paragraph of his book, My Revolutions at the opening of The Dickens Library. He also continues to talk to IB students who were fortunate to have him talking and sharing about his life being an author.

It is interesting to find out that Hari has no plan when we writes a book. He just set the points of the story and he just let it flow when he writes it down. He admitted it that he even still have no idea of what the end of the story he's writing at the moment.

When one asked what he would do when he has stucked and has no idea, he said that he just does something else and be back later to continue his writing.

Today, at the opening of The Dickens Library, Hari has inspiring us through his experience of being a writer. To contribute one's life with different point of view and create a different world to them through writing.

If we apply Hari's reason, then can you imagine how many authors live in a library? Then, how many works that you can enjoy and would enrich your life and thought through their writing?

So, what book are you reading now?

Sunday, October 18, 2009

Perahu Kertas (Dee, 2009)

Saya membaca buku ini untuk menghabiskan malam minggu saya di rumah. Langsung selesai. Saya suka dengan tokoh Kugy yang unik, esentrik, lucu dan selalu penuh dengan kejutan-kejutan. Alur ceritanya juga bikin penasaran. Lika-likunya pas, dan tertata rapi. Bacaan yang ringan yang menyegarkan. Satu hal yang saya dapati dari buku ini: when it comes to your love story and you must face two choices, then you need to listen to your heart to choose one of them... Sinopsinya di sini:
http://dee-55days.blogspot.com/2008/03/sinopsis-perahu-kertas.html

Tuesday, October 13, 2009

From the oldies to the newest…from Secondary Library to The Dickens Library…

Wednesday August 5th, 2005 was the first day when we stamped our feet on the new library’s floor. We still had no phone line neither computer connection at that time. But it didn’t reduce our exhilaration with the feeling like we just enter our new house. The smell of painting, new carpet-it was still covered with plastic-, and also smell of the dust were welcoming us to start our new life in this new building. The moving company has helped us with the packing, moving and unpacking our materials. We excitingly set up our collection on the new shelves, unpacking our belongings and tidying it up at our desk. We glad to have our working space together in one place not split like we had last time with the second floor for processing the materials. Well….having heard the plan of build a new library few years ago, we have been so enthusiastic and feel challenging with this moving experience. Watching the outside library building one morning suddenly dragged me to 15 years ago when I started working in Secondary Library.

It was Monday February 14th, 1994 when I started my days working in this library. The library was the one we had previously, with very less of books, magazines, shelves, chairs and tables. It has no windows at that time at the ground floor, and second floor’s windows were covered with dark blue curtains. It was a dark library, I thought. Upstairs was used for keeping the old newspaper, and old magazines, which only few titles we subscribed to. It was not bad as the Secondary school just opened in September 1993 with Year 7- 10 for the first classes. We had our first IB graduation in 1997.


We have been having Maggie Trewavas, Helen Robarts, Marion Causton, Val Bale, Stuart Crouch, Monica Meyer and Stefany Anne Brown who rule the libraries during these times. I’d like also mentioning ibu Erna Wattimena who has starting working in the school when I was still in Junior High School and retired in 2003 who was the first librarian who set up the library since BIS still was in Permata Hijau. The plan to build a new library building has been started during Stuart Crouch’s time. After that, in Monica Mayer’s time, so many meetings attended with many people involved, until a blue print of the building approved and the project finish this year.

In fact, the library is growing in line with the demand of information needed by students, teachers and the rest of school community. It is not only the collection and the ICT, but also its program and services. The library now is not only a place to where we keep the class text books, a dark area and a ‘serious’ place which excluded the recreation and fun activities inside. It’s role has changed to be a place where students not only searching information to complete their coursework but the library now is the hub place of learning. The place that play an important role to support school’s mission in preparing students to be critical thinkers, life long learners and responsible citizens as part of BIS core values.

Being part of Indonesian population, BIS Libraries has also supported the development of local school libraries. The library has been a host of several meetings of school librarians not only in Jakarta and the area around but also at national level. This can be seen when BIS became one of the main sponsors of an international workshop on information literacy run by local association called APISI (Association of Indonesian School Professionals) with fully funded by International Federation of Library Association/Action for Development through Libraries Programme Core Activity (IFLA/ALP) in 2008. The result of the workshop was a proposal from 50 participants from 15 provinces in Indonesia to the Indonesian Ministry of Education to promote how important information literacy to be adopted in Indonesian schools.

The colourful, vibrant and cozy new library would be a place to where learning is fun. Knowledge is accessible easily, and learning process is become part of one’s life style. The school community should be proud being part of BIS school ethos, as one said, that ‘What a school thinks about its library is a measure of what it thinks about education (Harold Howe, Former US Commissioner of Education).

Note: This writing is prepared for the Official Opening Ceremony of The Dickens Library on October 14th, 2009. Also can be accessed in BIS Jombang Magazine October 2009 edition.

Monday, September 21, 2009

Lebaran

Sudah menjadi ritual tiap tahun, saat lebaran tiba, maka kesibukan yang berbeda bagi ibu-ibu rumah tangga yang bekerja seperti saya adalah menjadi ibu rumah tangga sesungguhnya. Sudah terbayang, ritual pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang akan menghiasi liburan lebaran SETIAP TAHUNnya. Bagun pagi,menyiapkan sarapan, memastikan anak-anak mandi, menyiapkan makan siang, mencuci perabotan masak maupun peralatan makan, mencuci baju, setrika baju, menyapu lantai, mengepel lantai, menyiram tanaman, memastikan kamar anak-anak tertata rapi dan benda-benda ada pada tempatnya dan .... mandi.

Sementara pada saat yang bersamaan, si mbak, yang biasanya menjadi asisten di rumah yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di atas, sedang membuat ketupat, makan ketupat, bercengkrama dengan keluarga dan menikmati Hari Raya ini dengan keluarga besar, sanak famili serta kerabat dan teman, sambil tertawa riang, tanpa harus memikirkan apakah sudah beres memasak atau mencuci baju. Tentu saja mereka pantas untuk mendapatkan semua keriangan itu, setelah hampir setahun berpisah dari sanak keluarga dan terlebih setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa. Perjalanan yang ditempuh dalam waktu belasan jam, dua kali lipat jarak tempuh dalam waktu normal, bukan menjadi penghalang untuk menikmati sukacita Idul Fitri di kampung halaman mereka. Perjalanan mudik dengan bermacet-macet dan menghabiskan waktu yang luar biasa mengundang keletihan badani, menjadi sebuah perayaan tersendiri yang mungkin telah dianggap menjadi ritual tahunan jelang Idul Fitri.

Ternyata...
Kembali ke rumah. Rasanya, baru membayangkan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga tadi saja sudah melelahkan. Lebih baik berkutat dengan tumpukan buku-buku dan bekerja di depan laptop berjam-jam dari pada harus berkelahi dengan cipratan minyak panas dari ikan-ikan yang sudah tercemplung dalam wajan. Atau harus menggosok pantat panci yang-ternyata selama ini tidak dibersihkan benar- sudah mulai kehitam-hitaman. Lihatlah mesin cuci ini, lumut-lumut yang sudah mulai menduduki plastik penutup mesin pengeringnya, rasanya tidak bisa didiamkan merajalela. Itu perlu dibersihkan. Kemudian tumpukan baju-baju yang harus distrika. Hmm....dimulai dari mana ya? Kamar si mbak juga ternyata berdebu. Kamar mandi? sudah saatnya dibersihkan. Duh..betapa selama ini hal-hal yang kelihatannya sepele malah akan mencuri waktu lebih lama lagi dari sekadar menjalankan rutinitas pengaturan tata laksana rumah tangga sehari-hari.

Inilah daftar hal-hal yang perlu dibenahi:
- safety mat untuk lantai dekat cuci baju -- salah-salah, bisa terpeleset di lantai dekat air keran
- pisau -- satu pisau yang tajam tidak cukup untuk memotong buah, memotong daging, mengiris bawang. Dua pisau lainnya, tumpulll
- selang baru -- kasihan si mbak, ternyata selama ini harus mengambil air dari ember untuk dituang ke mesin cuci ketimbang menggunakan selang, mbok ngomong toh mbak--
- kain pel -- selama ini lantai bersih, di pel pakai apa ya?
- setrika baru -- nah..baru ketahuan setelah Fia menyetrika bajunya sendiri. Kalau strika itu sudah panas, harus dicabut kabel listriknya. Dan lihat kabel-kabelnya sudah menunjukkan badannya keluar.. wah...sungguh berbahaya. Ini list untuk setelah hari ketiga tanpa si mbak. Masih ada tujuh hari ke depannya.

Belajar dari ketidakhadiran si mbak
Saat menyiapkan makanan malam tadi, tiba-tiba Fia berkomentar, ternyata enak juga nga ada di mbak ya ma. Semuanya bisa kita buat sendiri. Mama nga usah kerja aja. Saya tidak berkomentar. Menyiapkan makan buat anggota keluarga memang mempunyai keunikan dan kepuasan tersendiri. Apalagi kalau nasi goreng buatan kita diancungi jempol dan mereka minta tambah lagi. Padahal, itu siasat makan malam, karena hari ini tidak ada pasar jadi tidak belanja dan stock di kulkas sudah habis. Untung masih ada buah apel untuk mengimbangi sayur yang tidak tersedia hari ini. Kemudian juga saat bersibuk-sibuk di dapur, mereka keluar masuk hanya sekadar menanyakan kita makan apa lagi ma? Senangnya, menikmati kesukaan mereka yang menunggu dengan penuh harap, menu apa yang akan keluar untuk makan siang atau makan malam mereka. Meski, ada satu malam, kami harus makan di luar karena rasanya sudah tidak mungkin lagi untuk masak makan malam, karena tubuh yang sudah terlalu letih.

Hal yang pasti, ternyata kami tidak harus mengambil semua pekerjaan itu sendiri. Anak-anak yang sudah semakin besar tampaknya juga sudah dapat 'diperbantukan' untuk membantu kami orang tuanya. Apalagi, inisiatif membantu keluar dari mulut mereka sendiri. MEski kadarnya tidak lebih dari kecerewetan ibu-ibu yang berkaitan dengan kerapihan rumah, tentunya. Ah...waktu berjalan begitu cepat. Setiap tahun, pasti ada yang berubah meski ritual pekerjaan rumah tangga tidak berubah. Kebersamaan tanpa si mbak ternyata punya nilai sendiri dalam kehidupan berumah tangga. Hubungan anggota keluarga semakin akrab satu sama lain, karena adanya beban sepenanggungan bersama. Kesempatan untuk berbicara dengan anak-anak dari hari ke hati juga dapat dilakukan kapan saja, bahkan saat sedang mencuci baju bersama. Kesempatan juga untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan dan aturan-aturan yang berkaitan dengan tata cara dan etikat dalam kehidupan untuk anak-anak. Pola makan dan minum anak-anak juga terpantau dengan jelas. Apakah mereka minum susu dengan benar, berapa banyak porsi makan siang mereka, apa yang mereka lakukan di sekolah? semua terpantau baik secara kasat mata maupun dari perbincangan-perbincangan ringan sehari-hari. Saya yakin, pengalaman tanpa si mbak, pasti bervariasi dari satu rumah dengan rumah lainnya. Apalagi rumah yang biasa tanpa si mbak ya? Wah ..bersyukurlah mereka.

Demikianlah, ternyata quality time dengan anggota keluarga dapat terjalin dengan lebih sempurna, bukan saat berlibur bersama, tapi saat si mbak mudik. Meski tubuh letih, tapi banyak yang bisa didapat dari waktu-waktu bersama ini.

Mbak, kembali kapannn???

Monday, July 06, 2009

Tentang tambah usia dan tutup usia....

Ulang tahun kali ini terasa berbeda dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Mengapa? Karena satu minggu sebelumnya, ada kejadian duka atas berpulangnya Fernando Rudolph Latuputty dalam usia 38 tahun. Setelah seminggu sebelumnya, Joseph Hein Latuputty juga berpulang dalam usia 72 tahun. Keduanya adalah ayah dan anak dari keluarga besar Latuputty.

Melihat makna air mata kedukaan
Mengalami kedukaan yang bertubi-tubi, membuat saya mencoba melihat makna air mata kedukaan:

Air mata mengalir karena kesedihan tidak akan bertemu lagi dengan mereka yang meninggalkan kita.

Air mata mengalir karena penyesalan. Seharusnya saya begitu, seharusnya saya begini. Meskipun pada akhirnya kita disadarkan bahwa semua adalah jalanNya. Jika Ia menghendaki seseorang memiliki umur panjang, separah apapun kondisinya, usianya tetap akan ditambahkan. Begitupun sebaliknya, jika Ia menghendaki seseorang kembali ke pangkuanNya, sebaik apapun usaha manusia, Ia menutup usianya.

Air mata mengalir karena repetisi memori atas orang-orang yang meninggalkan kita tiba-tiba memenuhi nuansa kedukaan kita.

Air mata mengalir karena melihat orang-orang di sekitar kita yang begitu dengan dengan orang-orangn yang berpulang ini bersedih.

Air mata mengalir karena tiba-tiba kita disadarkan bahwa hidup kita sepertinya sia-sia.

Air mata mengalir karena mungkin ada sedikit ketakutan tentang kualitas hidup kita saat ini. Siapkah kita jika waktu kita tiba?



Melihat makna pertambahan usia

Tiada hal lain yang pertama-tama keluar dari doa saya yang paling dalam selain ungkapan syukur pada yang Kuasa. Terasa sekali makna pertambahan usia tahun ini.

Selain itu juga saya bersyukur karena memiliki teman-teman yang sayang dan peduli pada saya dan kehidupan saya. Saay menerima banyak sekali ucapan lewat FB, SMS mapun email dari teman, family, kerabat, kenalan yang berdoa buat saya.

Dalam kesempatan ini saya ingin merangkum dan membagikan pokok doa apa saja yang mereka doakan buat saya:

SELAMAT ULANG TAHUN
Paling banyak pasti mengucapkan selamat ulang tahun, happy birthday, met ultah dan sejenisnya. Saya mensyukuri kalau Tuhan memberi saya satu tahun tambahan lagi.

PANJANG UMUR, SEHAT dan ALL THE BEST
Kemudian doa kedua mereka adalah supaya saya panjang umur, sehat dan all the best.
Saya meng’amini’ doa-doa ini. Siapa sih yang tidak mengharapkan the best dalam kehidupannya?

SUKSES
Selanjutnya, mereka juga mendoakan kesuksesan saya baik dalam pekerjaan, APISI, pelayanan maupun keluarga. Ah..doa ini begitu indah kawan. Tapi saya pikir, kita juga belajar dari kegagalan kan ya? Sama seperti saya belajar dari kesedihan yang baru saja dialami. Biar bagaimanapun, saya mengamini doa teman-teman! Thank you!

DAN LAINNYA...
...kebahagiaan... panjang rejeki... panjang sabar... tambah cantik... ceria selalu… may your dreams come true… cepet dapet jodoh...[waduh] --blackforest cake--... may this day will remind me that i am made special by the Heavenly Father to shine…Go Shine, Hanna... -- selipan Alkitab Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; ~Mazmur 37:5 ... much older means much bless ... blessings from God for you and your family … wish you a brighter future… makin OK … tambah lincah – cupcakes--…keep smilings… Tuhan menyertai dalam setiap langkah kehidupanmu…talent utk mencerdaskan manusia Indonesia berhasil… His wonderful love always be with you… all the good things will be happen in ur new age...and God always be with u n Family… karunia dan rahmatnya slalu berlimpah utkmu dan keluarga… semua yang dikerjakan dibuat Tuhan berhasil…

Melihat langkah ke depan
Pengalaman kedukaan sesaat sebelum mensyukuri pertambahan usia, menyadarkan saya bahwa hidup kita adalah karunia dan pemberian dari Yang Kuasa.

Dan saya juga melihat bahwa usia adalah sebatas angka. Hal yang terpenting adalah bagaimana kita bisa memaknai hidup ini. Bagaimana hidup ini dapat dipakai bukan saja untuk diri sendiri, tapi hidup ini juga bermakna bagi orang lain.

Tak kutahu kan hari esok…seperti bait lagu yang sering dinyanyikan, saya juga tidak tahu apa yang akan terjadi hari esok. Saya hanya ingin berjalan bersama Dia. Satu hal yang selalu saya syukuri adalah bahwa Tuhan itu baik dalam kehidupan saya, dan saya melihat secara nyata kasihNya serta saya alami kasih dan pemeliharannNya setiap hari.

Saudara, keluarga, teman, kerabat, sahabat, kenalan, semuanya….terima kasih untuk doanya di hari ulang tahun saya!

Salah satu berkat yang terindah dalam hidup hidup saya adalah memiliki kalian dalam kehidupan saya saat ini.

Friday, June 05, 2009

Saat cinta harus memilih: antara APISI dan ATPUSI... atau keduanya?

Bahwasanya dunia kepustakawanan Indonesia khususnya bidang kepustakawanan sekolah saat ini sedang lepas landas, saya setuju sekali. Bayangkan saja, sejak tanggal 1 Oktober tahun 2005, saat pustakawan sekolah di daerah Banten dan sekitarnya berkumpul untuk pertama kalinya, hingga saat ini, bulan Mei 2009, lihatlah berapa banyak organisasi kepustakawanan Indonesia yang telah lahir.

APISI atau Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia, lahir tanggal 26 Agustus 2006 di Bogor, tahun ini akan mengakhiri tiga tahun masa bakti kepengurusannya yang pertama. Di Bali, bulan November di tahun yang sama, lahir pula sebuah organisasi profesi ISIPII atau Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi yang dikomandani oleh Mba Yati Kamil. Belum lagi organisasi yang mungkin sudah ada lebih dulu seperti Ikatan Pustakawan Indonesia, FPSI atau Forum Perpustakaan Sekolah Indonesia (sang ketua, Bapak Bambang Dwi telah mendahului kita tahun lalu, menemui Sang Khalik, dan kini diganti oleh Bpk Bambang Gunawan,) Himpunan Pustakawan Madrasah Yogyakarta, Ikatan Guru Pustakawan Madrasah Yogyakarta dan mungkin organisasi sejenis di daerah-daerah di pelosok Indonesia.

Tanggal 28 Mei 2009 di Jakarta baru-baru ini juga telah lahir sebuah asosiasi baru ATPUSI atau Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia. Asosiasi ini lahir dengan sebuah harapan baru agar profesi pustakawan sekolah yang lebih mendapat tempat sesuai dengan peran dan tanggung jawab yang sesungguhnya. Terpilihlah susunan kepengurusan dan program usulan dari hasil acara konvensi dalam rangkaian acara Konvensi dan Seminar Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia yang diselenggarakan tanggal 27-29 Mei 2009 di Hotel Millenium Jakarta. Sekitar 150 peserta dari 33 propinsi di Indonesia dan juga dari Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah memenuhi undangan Direktorat Tenaga Pendidikan dan Perpustakaan Nasional selaku penyelenggara acara ini.

APISI dan ATPUSI: bedanya?

Pertanyaan ini muncul dari beberapa peserta yang sebelumnya telah berkiprah dan aktif dalam kegiatan APISI. Lebih lagi, dalam struktur kepengurusan ATPUSI duduk beberapa pengurus APISI yang masih aktif saat ini. Termasuk saya duduk dalam Komisi Kerjasama Dalam dan Luar Negeri.

Hal yang pasti adalah APISI tetap eksis dan tetap terus berkarya selama hal itu membawa peningkatan profesi pekerja informasi dan perpustakaan sekolah di Indonesia. Meski antara APISI dan ATPUSI mempunyai visi dan misi yang hampir sama, sebagai wadah untuk memajukan profesi tenaga perpustakaan sekolah (istilah yang digunakan oleh DIT TENDIK) dan pekerja informasi profesional sekolah (isitlah yang digunakan oleh APISI) tapi tetap ada keberbedaan substansi dikeduanya. APISI tetap merupakan sebuah asosiasi yang profesional, independen/mandiri dan terbuka. APISI lahir sebagai bentuk keinginan yang dalam untuk perkembangan profesi ke arah yang lebih baik. APISI lahir dari keinginan dan kebutuhan dari para pekerja di lapangan yang butuh sebuah wadah untuk mengembangkan profesionalitas mereka.

Pada masa tiga tahun pertama, APISI telah ke beberapa kota mempromosikan literasi informasi. Termasuk sebuah kegiatan besar berupa pelatihan yang mendapat dukungan dana penuh dari ALP/IFLA dalam menyusun sebuah usulan integrasi literasi informasi dalam KTSP.

Banyak orang mengira, APISI mempunyai dana yang besar dalam mewujudkan kegiatan-kegiatan promosi ini. Padahal, jujur saja, tanpa dukungan dari teman-teman yang punya perhatian pada kegiatan APISI, para penerbit, distributor dan vendor yang membantu di tiap kegiatan kami, belum tentu acara road show promosi literasi informasi ini bisa berjalan. Terus terang pada kegiatan-kegiatan kami ini tidak ada yang namanya profit. Kadang sebagai nara sumber pun, honor terpaksa ditangguhkan karena memang tidak cukup dana. Puji Tuhan, kami juga tidak pernah berhutang. Pas. Kami bangga dengan itu.

So, dalam kesempatan ini, secara pribadi, saya berterima kasih yang sedalam-dalamanya untuk rekan-rekan pengurus, para nara sumber, institusi rekanan acara APISI, dan semua yang telah mengulurkan bantuannya tanpa pamrih untuk kegiatan APISI. Tidak ada keuntungan materi dari kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan APISI. Bahkan ongkos untuk rapat pun tidak. Dari sini saya melihat, bagaimana komitmen teman-teman pengurus APISI dan mereka yang terlibat dalam kegiatan APISI begitu tulus dalam mengembangkan profesi ini. Saya juga yakin bahwa selama tiga tahun mengambil bagian dalam kegiatan APISI, ketulusan dan keikhlasan berkontribusi mengembangkan profesi dan pendidikan di Indonesia tanpa pamrih tampak terlihat dalam kiprah kerja rekan-rekan kepengurusan APISI.

Bergandengan tangan membangun kekuatan
Mari kita lihat pada persamaan, bukan pada perbedaan.
Dengan menggalang kesatuan dengan bergandengan tangan dan merapatkan barisan, maka suara kita akan jauh terdengar lebih lantang. Keberbedaan justru mempercantik dunia kepustakawanan sekolah di Indonesia. Keterlibatan pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional dan Perpustakaan Nasional, seharusnya semakin menguatkan dan memberikan peluang yang seluas-luasnya bagi perkembangan profesi ini di tanah air.

Dalam tataran personel, beberapa pengurus APISI dan ATPUSI sangat bersinggungan. Pastinya, menjadi pengurus ATPUSI merupakan amanah besar yang harus dilakoni dengan tanggung jawab dan dengan hati nurani yang bersih. Besar harapan pada mereka, agar pengalaman-pengalaman berkarya di APISI menjadi suatu pelajaran untuk melangkah dengan lebih baik lagi dengan dukungan penuh dari DIKNAS dan Pepusnas. Sebgai sebuah asosiasi baru, berharap ATPUSI akan giat dan progresive dalam langkah-langkah kedepannya. Bukannya melempem atau jalan ditempat.

APISI sendiri, lepas dari Musyarawah Nasional APISI bulan Agustus nanti, saya yakin akan ada perubahan significant didalam tubuhnya.

So, kita lihat nanti. Perjuangan baru akan dimulai. Yuk, kita ramaikan dunia kepustakawanan sekolah di Indonesia.

Lalu, apakah kita harus memilih? Jawaban saya, kita boleh pilih salah satu, atau malah gandeng keduanya. Kalau dianalogikan dengan romansa cinta, ini kisah cinta yang sangat unik. Boleh memiliki keduanya tanpa harus merasa bersalah dengan lainnya. Sah saja kok. Malah dengan memiliki keduanya, hidup kita lebih jadi lebih lengkap:-)

Negara Kelima by E.S Ito (2005)

Buku ini keren abis. Kental dengan cerita sejarah dan trik serta misteri yang membawa pembacanya untuk mengunyah cerita ini hingga halus benar. Sangat sangat direkomendasi. E.S Ito merupakan pengarang yang patut diperhitungkan karya-karyanya yang tidak biasa dalam dunia literatur Indonesia. Sebagai pustakawan, saya penasaran dengan proses research yang dilakukannya dan proses sintesanya. Excellent work!

Friday, May 29, 2009

Stewart Ross: I'm interested in and fascinated by human being

Tuesday the 19th of May, Stewart Ross, a British author came and visit The British International School, Tangerang, Banten. He came to share his authorship experience to BIS students and staff. This was a perfect time of visit as at the same day BIS was having a Careers Day so that he could shared his authorship life with students.

Stewart is an energetic, dynamic and entertaining author. He shared his experience as an author in a very expresive way. Stewart is interested in and fascinated by human being. That explains why the themes of most his works are history, straight fiction and historical fiction. The time spent for his works depends on the topic and the research that needed to be done between 2 weeks and one year work. He spends 2 weeks to write his 5000 words of his story.

To answer the the question on how the process of producing a book, Stewart said that he starts witn an idea that coming from everyday life. Then he develops the idea into a full story. Stewart's works are not only books. If you want to know more about Stewart and his works, visit his website at http://www.stewartross.com/

Sunday, March 29, 2009

Saat situasi itu datang…

Pekan ke-tiga bulan Maret, bukanlah pekan cerah ceria. Banyak rentetan peristiwa yang mengundang simpati dan dukungan moril dan spiritual bagi beberapa rekan terdekat.

Berawal dari berita menggembirakan karena kelahiran putri ke-dua bagi orang tua berbahagia: Lina dan Dape. Namun, kelanjutan situasinya ternyata mengharuskan Lina untuk mendapatkan perawatan ekstra agar kesehatannya pulih kembali.

Tak lama kemudian sebuah teks dari Malang, seorang rekan dalam kepanitiaan PIPS Malang, pak Bambang WS Hidayat yang mengabarkan bahwa putranya akan melewati proses operasi. Di akhir minggu, saat warga Jakarta, bahkan Indonesia sedang tersentak dengan kejadian Tragedi Situ Gintung, sebuah teks kembali mengabarkan kalau baby Jehan, putra seorang sahabat harus di opname karena panas tinggi yang menyebabkan step. Bahkan untuk Tragedi Situ Gintung, saya juga menerima beberapa teks dari teman dan sahabat serta saudara yang menanyakan apakah situasi kami baik-baik saja.

Runtutan kejadian-kejadian diatas cukup membuat saya tercenung. Spontan saya menyebut nama-nama mereka dalam doa seketika saya pada Tuhan, agar mereka diberi kesembuhan. Situasi yang tidak pernah diharapkan oleh siapapun, tapi yang tidak bisa ditolak oleh siapapun. Kegentaran, kegetiran, kekawatiran, ketakutan dan kepasrahan, mungkin keragaman sikap yang menyelimuti teman dan sahabat yang tertimpa kejadian tersebut. Hanya doa dan harapan pada kekuasaanNya lah yang membawa kita pada ketenangan.

Dari rumah sakit tempat persalinannya, Lina harus segera dicarikan rumah sakit yang mempunyai peralatan yang lebih baik lagi. Kondisinya tidak membaik. Teman-teman di BIS pun bergerak cepat untuk membantu mencarikan rumah sakit, yang saat ini memang sedang penuh. Akhirnya setelah tiga hari tidak menunjukkan perubahan yang membaik, Lina dipindahkan ke sebuah rumah sakit di daerah BSD.

Hari Minggu siang, saya kembali menjenguk Lina. Saya datang tepat saat waktu kunjung sehingga saya boleh masuk bertemu langsung dengannya. Lina tampak segar meski ada lima kantong transfusi yang tergantung di sisi tempat tidur yang terhubung oleh selang-selang kecil yang masuk ke dalam tubuh Lina melalui dada-nya. Salah satu jari tangan kirinya terjepit alat yang berfungsi sebagai pendeteksi darah. Saya sempat bergurau kalau salah satu kantung yang berwarna merah itu adalah cairan rasa strawberry. Dan Lina membenarkan kalau satu kantong infuse besar itu memang susu. Senang rasanya melihat kondisi Lina sudah jauh membaik, meskipun saya tidak melihat bagaimana kondisi sebelumnya dan hanya mendengar cerita saja. Tamu yang hendak menjenguk kemudian bertambah, dan saya pun keluar ruangan ICU. Saya melihat banyak kaum ibu dan perempuan yang berkumpul di luar ruangan ICU yang menanti giliran untuk masuk.

Satu per satu ibu – ibu yang keluar berkomentar senang, karena perubahan kesehatan Lina yang jauh membaik. Bahkan salah satu dari mereka sempat meneteskan air mata mungkin karena bahagia. Ternyata itu adalah sang ibu yang membantu merawat bayi Lina dan Dape selama Lina dalam perawatan. Ibu-ibu itu berdiri mengelilingi Dape dan berbincang tentang kesehatan Lina.

Dari sekelompok ibu-ibu ini saya merasakan dukungan mereka yang sangat kental kepada Dape dan keluarga. Saya masih tetap berdiri dan mengikuti percakapan mereka satu per satu. Ada hal lain saya rasakan disini, yang mungkin sebelumnya tidak pernah saya perhatikan dan bahkan tidak saya sadari atas kehadiran mereka bagi Dape khususnya.

Tiba-tiba saya merasa sesuatu yang lain. Ternyata kemandirian dan keteguhan diri sendiri tidak berlaku dalam situasi ini. Kita masih butuh orang lain. Dan kehadiran orang lain akan memberikan sebuah bentuk dukungan yang sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan. Paling tidak itu yang saya rasakan saat saya berada di tengah-tengah mereka siang ini.

Sayangnya, maksud saya, syukurnya, baby Jehan sudah diijinkan untuk keluar dari rumah sakit karena kondisinya membaik. Saya jadi batal untuk menjenguk dan menyerahkan buku yang special sudah saya beli buatnya.

Dalam dunia ini, kita tidak akan pernah bisa hidup sendiri. Kita ada untuk orang lain, dan pada waktunya, tangan kita perlu terbuka untuk menerima uluran tangan orang lain. Kiranya, masa sulit ini segera berlalu, dengan kekuatan dariNya. Saya belajar satu aspek kehidupan lagi hari ini.

Friday, March 13, 2009

yummy...yummy

Akhir minggu. tiba-tiba teringat dengan beberapa hidangan yang yummy...yummy...ada yang di Makassar, di Plaza Semanggi, sampai di jalan Raya Jombang Ciledug. Check this out!

Makassar, Jalan Irian
Mie pangsit nyuknyak dan somainya, manteb. Waktu itu makannya pulang gereja, pas hujan, dan minumnya air jeruk es. Manteb dah. Sayangnya ini untuk kalangan terbatas. Ngerti kan maksud saya ;-)




Menu di Restoran Bahari, jalan Yosef Latumahina.
Udangnya? tidak ada dua deh. Dip-nya enak dan seger, karena ada irisan mangga muda-nya. Daannnn...belum pernah rasa cah kangkung se-enak ini di Jakarta. Muannteebbb...



Ikan Pallumara yang berkuah dan seger. Ikannya juga terasa fresh! Digambar ini tetap yang tampak nyata UDANG...


Plaza Semanggi, Warung Pojok
Menu ini dipesan bareng Mba Othie dan Mas Budhi waktu kita lunch bareng di Plaza Semanggi. Rujaknya, seger. Kita pesan sebelum main course-nya dateng. He..he..kebalik ya? harusnya penutup ya? Sayang nga ada mangga mudanya.



Nasi Timbel ini katanya menu andalan resto ini. Sayur asem-nya manteb abiss. Kental dan pedasnya pas. Enak deh. Minumnya juga unik, air jeruk dicampur air kelapa. Untuk siang hari yang terik waktu itu, minuman ini seger banget!



Bubur Ayam Cirebon, Deket BIS, jalan Raya Jombang Ciledug

Kalau perjalanan lancar dan cukup waktu, ini menu sarapan saya sebelum sampai BIS. Tadinya cuma tenda mangkal, tapi sekarang mereka sudah punya tempat makan yang lebih nyaman si salah satu ruko, yang tidak jauh dari BIS.



Jeroannya cuma dipajang saja, saya tidak mengkonsumsinya.

Tuesday, March 10, 2009

Percaya aja...

Kejadian jatuh dari sepeda yang menyebabkan Fia luka dan berdarah, membawa trauma sendiri buat saya, ibunya. Sepeda baru Fia benar-benar membuat saya jantungan. Pertama karena Fia sangat terobsesi dengan waktu bermainnya, kedua, kreatifitas Fia dalam mengendarai sepeda yang saya tidak pernah bayangkan sebelumnya. Sebetulnya, Fia trampil mengendarai sepedanya namun pada saat yang sama ia belum menguasai benar sepeda barunya ini. Alhasil, ada saja cerita sore hari sesudah ia bermain sepeda. Lutunya luka dan baru - baru ini hingga berdarah-darah. Lemas lah saya ibunya. Emosi saya ingin sekali membuang sepeda itu. Tapi saya pikir, masalahnya tidak akan selesai sampai di situ.
Setelah beberapa hari istirahat dan minum obat karena lukanya yang terakhir itu dan libur dari main sepeda, kemarin Fia minta supaya ia bisa diijinkan bermain lagi. Dengan tegas, saya katakan sebelum obatnya habis, tidak ada ijin untuk bermain sepeda. Fia merengek dan berusaha meyakinkan saya kalau lukanya sudah sembuh.

Akhirnya, Fia saya ajak bicara. [Belakangan saya rasa saya telah mengajukan pertanyaan yang terlalu tinggi buatnya]. Saya katakan, apa yang membuat saya bisa merasa aman dan tidak takut untuk mengijinkan dia bermain sepeda lagi. Saya beri dia waktu untuk menjawab pertanyaan saya. Selang beberapa jam, Fia datang menghampiri saya, dan berkata:
" Ma, mama percaya aja. Fia kan anak mama, Fia nga mungkin macem-macem.." dengan gaya centilnya.
Saya kaget. Kemudian berusaha memaknai kata, Mama percaya aja. Pemikiran saya, itu tidak menjawab concern saya pada keselamatannya mengendarai sepeda. Tapi di sisi lain, saya berpikir, apa yang bisa dibuatnya untuk menjamin saya? Percaya aja....

Sunday, March 08, 2009

Arswendo Atmowiloto (2008)

Setelah sekian lama, akhirnya bisa menikmati lagi tulisan-tulisan salah satu penulis favorit saya. Buku-buku AA yang saya nikmati dulu adalah hasil karya beliau waktu di pejara seperti sur kumur mudukur, menghitung hari sampai menulis itu gampang. Saya juga salah satu penggemar Keluarga Cemara yang ditayangkan di salah stasiun swasta yang dibintangi oleh Adi Kurdi. Hmmm...ada impian nih, seandainya saya diajak beliau ikutan dalam karya sinetronnya. Seandainya...

Dua novel yang berjudul Dewi Kawi dan kaumemanggilkumalaikat ini adalah kategori novel dewasa. Gaya bahasa dan deksripsi peristiwa yang digambarkan AA sangat terperinci, jelas dan apa adanya. Gaya penulisan seperti ini yang saya sukai dari karya-karya beliau. Meskipun deskripsi tersebut kemudian membawa pada kemirisan hati bahkan seoalah-olah vulgar.

Dewi Kawi
Buku ini menggambarkan bagaimana cinta sejati tidak pernah mati. ' juragan gede Eling, menjadi seorang penguasaha sukses yang produk usahanya merambah dunia. Tadinya ia hanyalah seorang tak punya yang harus bertahan hidup besama adiknya. Karena usaha dan kerja kerasnya, akhirnya ia menjadi pengusaha kelas dunia dibantu adiknya, Joko Waspodo. Satu hal yang sangat ingin dilakukan di tengah-tengah kesempurnaan hidupnya di dunia ini adalah bertemu dengan Dewi Kawi untuk mengucapkan terima kasih. Menurutnya, Dewi Kawi inilah yang menjadi salah satu motivator kesuksesannya. Eling Muda yang masih merajut usahanya berkenalan dengan Dewi Kawi pada sebuah rumah prostitusi, tempat dimana Dewi Kawi adalah pekerjanya. Cinta mereka akhirnya berkembang, meski tidak sampai pada pelaminan. Cinta mula-mula inilah yang terus dibawa Eling selama hidupnya. Sampai akhir buku ini tidak digambarkan pertemuan keduanya.

kaumemanggilkumalaikat
Membaca buku ini mengingatkan saya akan karya-karya Mitch Albom, yang karyanya banyak menyinggung dunia kematian yang kemudian menuntun pada nilai kehidupan sebelum kematian itu sendiri. AA mengangkat suatu sisi kehidupan manusia yang tidak ada dari satu mahluk hiduppun yang tahu persisnya, yaitu perjumpaan dengan malaikat penjemput nyawa. AA dengan menariknya mengangkat berbagai latar belakang kehidupan manusia dan pengalaman hidup mereka sebelum mereka bertemu dengan malaikat penjemut nyawa. Mulai dari seorang istri yang kehidupannya penuh perjuangan menghidupi keluarganya namun sang suami yang dengan seenaknya selingkuh dengan adik menantunya sendiri, preman, korban perkosaan, pemuda korban narkotika (yang baru muncul diakhir-akhir buku ini. Dalam proses membaca, saya mencari-cari tokoh ini) sampai pada anak berusia empat tahun yang meninggal dunia karena sakit. Buku ini lumayan unik dan saya menikmatinya.

Thursday, March 05, 2009

14 Februari

Ya..memang tanggal ini sudah lewat. Hampir tiga minggu yang lalu. Ya..ini memang berkaitan dengan Valentine, tapi saya tidak akan membahas itu. Lagian sudah basi pula. 14 Februari berkaitan dengan pekerjaan saya di BIS (The British International School atau BIS). Tahun ini genap 15 tahun saya bekerja di perpustakaan sekolah Secondary School. 15 kali saya melewati liburan Natal, liburan Paskah dan liburan Musim Panas. Saya memulai pekerjaan ini saat saya masih mengerjakan skripsi saya. Setelah itu saya lulus kuliah (akhirnya..setelah 6 tahun kuliah. Pilihannya kan lulus atau drop out)

Sekarang, sudah 15 tahun saya disini. Bersama BIS melewati 11 angkatan lulusan IB, guru-guru yang masuk dan keluar, alumni yang sekarang banyak terjaring lewat FB sampai menanti gedung dan perpustakaan baru yang diperkirakan akan selesai pertengahan tahun ini. Tiba-tiba muncul pertanyaan di benak saya, inikah saatnya? Inikah saatnya untuk meninggalkan tempat ini? Saya belum bisa menjawab. Tapi seorang sahabat mengingatkan: when you can see the end..then you have to decide . Bijak ya...
Saya sendir belum bisa menjawab pertanyaan itu. BIS sudah memberikan banyak kesempatan saya untuk berkembang. Dari PIPS 1 hingga APISI, dari KL hingga Dublin.

Saya sendiri mensyukuri pekerjaan saya sebagai seorang pustakawan sekolah di sini. Tapi mungkin benar pernyataan sahabat saya, when you can see the end..then you have to decide. In HIS goodwill, of course...