PROMOSI PERPUSTAKAAN SEKOLAH*


Promosi Perpustakaan Sekolah*


Oleh Hanna Chaterina George, S.S., M.I.Kom

(*disampaikan di acara Kegiatan Pembinaan Perpustakaan dan Akreditasi Perpustakaan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta tanggal 19 Maret 2022 secara daring melalui platform Zoom) 

 


Pendahuluan

 

Ketika pustakawan sekolah sudah menyusun perencanaan kegiatan yang terkait dengan literasi ataupun literasi informasi, maka hal selanjutnya sebelum pelaksanaan kegiatan tersebut adalah mempromosikannya. Promosi adalah kegiatan menyampaikan informasi tentang kegiatan atau hal yang kita inginkan orang lain ketahui dan terlibat didalamnya, kepada target group agar mereka mengetahui dan kemudian menanggapi informasi tersebut. Hasil akhirnya tentu saja target grup ini memutuskan untuk terlibat dalam kegiatan perpustakaan sekolah tercapai melalui promosi yang dilakukan.

 

Kegiatan promosi berada di payung besar Public Relation atau Hubungan Masyarakat (Humas) Perpustakaan Sekolah. Promosi biasanya akan terkait dengan kegiatan Marketing juga karena keduanya merupakan dua hal yang berkaitan satu sama lain. 

 

Dalam dunia kepustakawanan sekolah, aspek lain yang juga memiliki keterkaitan dengan promosi dan marketing adalah advokasi. Secara lengkap, ketiga hal tersebut menjadi kegiatan Public Relations atau Humas yang menunjukkan relasi perpustakaan sekolah dengan masyarakatnya.

 

Promosi dan Marketing

Kegiatan promosi dan marketing menargetkan pengguna untuk memanfaatan perpustakaan sekolah. Promosi dilakukan untuk mengangkat produk dan layanan langsung perpustakaan sekolah untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan pengguna. Mengingat hal ini penting dalam memaksimalkan pelayanan perpustakaan sekolah, maka perencanaan perlu dilakukan untuk penerapan yang sistematis.

 

Promosi merupakan komunikasi satu arah dari perpustakaan dalam menyampaikan suatu pesan kepada pengguna. Pesan itu bisa mencakup kegiatan, layanan dan informasi tentang berbagai hal yang ditawarkan perpustakaan kepada penggunanya. Layanan dan fasilitas yang disediakan perpustakaan sekolah harus secara aktif dipromosikan sehingga target grup yaitu pengguna maupun pemangku jabatan, sadar akan peran perpustakaan sebagai mitra dalam kegiatan belajar dan mengajar.

 

Marketing merupakan komunikasi dua arah, sebagai upaya perpustakaan untuk menyesuaikan layanan perpustakaan terhadap kebutuhan dan pilihan dari komunitas sekolah selaku potensi pengguna perpustakaan.

 

Aspek promosi dan marketing perpustakaan sekolah hendaknya dilakukan secara terencana bersama pemangku jabatan sekolah, misalnya kepala sekolah. Hal ini menjadi penting agar terjadi dialog terbuka sehingga terjadi kesamaan pemahaman akan tujuan yang ingin dicapai. Kesepakatan juga dilakukan untuk action plan secara terintegritas serta penetapan metode evaluasi penilaian kesuksesan promosi dan marketing.

 

Dalam kepustakawanan sekolah, dialog terbuka ini dapat dilakukan dengan prinsip anak panah oleh Handito Joewanto, yaitu: 

 

- memahami kompetisi; siapa dan apa kompetisi pustakawan sekolah? Games, gawai, sosial media mungkin bisa dimasukkan dalam kategori ini, misalnya. Dengan memahami kompetisi, perpustakaan sekolah dapat menentukan posisi awal dimana mereka berdiri sebelum melakukan perumusan strategi dan program pemasaran.

 

- perumusan strategi dan program pemasaran, dapat dilakukan melalui rapat dan diskusi. 

 

- promosi, setelah strategi promosi dan pemasaran (marketing) dilakukan, maka eksekusi promosi dapat dilakukan.

 

- evaluasi, dilakukan dalam kurun waktu yang sudah ditentukan saat perumusan strategi agar kegiatan promosi dan marketing perpustakaan sekolah dapat selalu ditingkatkan.

 

Advokasi

Advokasi merupakan kegiatan yang menyasar pemangku kebijakan. Advokasi merupakan aksi untuk mengubah atau meningkatkan ide atau isu dalam waktu tertentu. Prinsipnya, advokasi membangun hubungan yang supportif dengan pemangku kebijakan dan para pendukungnya. Itu sebabnya, advokasi masuk dalam ranah PR/Humas Perpustakaan sekolah, agar apa yang dilakukan oleh perpustakaan sekolah, dapat diikuti perkembangannya oleh para pemangku kebijakan sekolah.

 

Concern dari advokasi perpustakaan sekolah adalah bajet perpustakaan dan jenis support lainnya yang menjadikan pekerjaan pustakawan sekolah lebih lancar dalam mencapai tujuannya. Hal yang selalu perlu diingat perpustakaan saat membuat program perpustakaan termasuk kegiatan promosi dan marketingnya adalah bagaimana program literasi dan literasi informasi perpustakaan sekolah dapat memberi pengaruh dalam kegiatan belajar mengajar.

 

Salah satu indikator keberhasilan program perpustakaan serta kegiatan promosi dan marketingnya adalah ketika para guru dan murid mampu, berkemauan dan mempunyai keinginan yang kuat untuk memperkatakan nilai dan pentingnya perpustakaan sekolah dalam KBM. Hal tersut digambarkan di bagan berikut ini:

 

Bagan Korelasi Promosi, Marketing dan Advokasi


 

Dengan demikian, peran pustakawan sekolah menjadi penting dalam merancang progam perpustakaan serta strategi promosi dan marketingnya. Perlu diingat pula, menggunakan media promosi seperti platform media sosial Facebook, Twitter, Instagram maupun website, perlu persetujuan sebelumnya dari pihak pemangku jabatan sekolah karena menyangkut kebijakan yang dimiliki sekolah tersebut. Media tradisional seperti mading, papan buletin, brosur, newsletter, poster tetap masih bisa digunakan sebagai media alternatif. Penentuan ini semua disesuaikan dengan kondisi perpustakaan sekolah masing-masing. (HCG)

 

 

Referensi:

IFLA School Library Guidelines, 2015, halaman 50

 

Joewono, Handito. The 5 Arrows of New Marketing: Lima langkah memaksimalkan pemasaran. Jakarta: Arrbey, 2011. halaman 29-34

 

M.Irsyad, Perpustakaan Nasional. Dipresentasikan pada tanggal 17 Maret 2022 di acara Pembinaan Perpustakaan pada Satuan Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus di Lingkungan Provinsi DKI Jakarta, DIspusib Provinsi DKI Jakarta.

 

Woolls, Blanche and Sharon Coatney. The School Library Manager: Surviving and thriving. 6th ed. California: Libraries Unlimited, 2018. halaman 193-197



Catatan: Mengingat banyaknya pertanyaan namun waktu yang tersedia sangat terbatas, berikut ini adalah daftar pertanyaan peserta kegiatan yang coba saya jawab:


1Mohon Izin Bertanya Bu Hanna Chaterina, mengenai Promosi Perpustakaan ke guru-guru dengan cara mencari tahu kebutuhan guru akan perpustakaan. Bagaimana kalau ternyata guru-guru tidak membutuhkan perpustakaan karena di RPP guru dan kurikulum tidak ada keharusan dan kebutuhan menggunakan Perpustakaan?Pengalaman kami, ketika 95% siswa dan guru tidak pernah memanfaatkan perpus selama 1 tahun, maka sekolah tetap baik2 saja (Khoirul Arjuna)

Jawab:
Saya tertarik dengan pernyataan Pak Khoirul“Pengalaman kami, ketika 95% siswa dan guru tidak pernah memanfaatkan perpus selama 1 tahun, maka sekolah tetap baik2 saja”Kenyataannya, sekolah akan baik-baik saja dan dapat meluluskan siswanya, bahkan dengan nilai-nilai yang tinggi. Mengapa mereka baik-baik saja, karena landasan mereka adalah pencapaian nilai yang tinggi. Baik-baik saja karena guru tuntas menyelesaikan RPP nya. Pertanyaannya, apakah mereka akan baik-baik saja ketika nilai menjadi ukuran kesuksesan para siswa ini setelah mereka lulus? Intinya, sekolah yang hanya mengejar nilai tanpa mempedulikan kemampuan para siswa untuk bertahan (survive) dalam hidup, -apapun cita - cita mereka, maka mereka sedang baik-baik saja. Perpustakaan sekolah ada untuk menjadikan para siswa pembelajar seumur hidup, fasih memanfaatkan informasi, melakukan interpretasi dan integrasi serta evaluasi dan refleksi. Keterampilan yang mereka perlukan saat mereka harus memecahkan masalah dan membuat keputusan. Semua keterampilan itu bisa mereka dapatkan jika perpustakaan sekolahnya menyadari akan perannya dan bersikap aktif menggerakkannya dengan dukungan penuh dari kepala sekolah dan kerjasama dengan para guru. Last but not least, nilai yang tinggi tidak menjamin mereka akan baik-baik saja ketika mereka masuk dalam dunia pendidikan yang lebih tinggi, bahkan ke masyarakat luas nantinya. 

 

2. Bu Hanna, apakah meminta guru2 menggunakan ruang perpustakaan dlm KBM itu jg bagian dr promosi perpustakaan ? 

Jawab:
Bisa jadi. Dengan membawa guru-guru untuk memanfaatkan perpustakaan sekolah, diharapkan mereka dapat mengetahui secara lebih detil lagi koleksi dan layanan yang ditawarkan oleh perpustakaan sekolah. Bila perlu buatkan sebuah Jadwal Kunjung Perpustakaan Sekolah dengan sistem booking bagi para guru.

 

3. Salam, saran saya agar siswa mau membaca buku perpustakaan,dibutuhkan kerjasama dari guru2 dengan memberi kesempatan waktu khusus membaca buku perpustakaan. (Dewiana-SLB Harapan)

Jawab:

Sangat setuju Bu Dewiana!

 

4. Bu Hanna sehat selalu. Dari Al-Izhar bu Hanna terkait dengan promosi dan marketing Perpustakaan tujuannya adalah meningkatkan kunjungan perpustakaan, selain dibutuhkan kreatifitas pustakawan juga kolaborasi dengan unit sekolah untuk mencatat kebutuhan yang diinginkan. Bu Hanna minta kiat-kiat khusus dalam upaya nyaring informasi dari unit sekolah agar kebutuhan unit sekolah bias terekam oleh pustakawan sehingga progam promosi dna marketing perpustakaan bias sejalan dengan kebutuhan tersebut. (Yayat SMA Al-Izhar)

Jawab:
Amin, sehat selalu juga Pak Yayat dari SMA Al Izhar.
Jika hal yang berkaitan dengan kerjasama dengan pihak lain, kita pertama adalah hubungan baik. Untuk menyaring informasi, sesuaikan dengan kebutuhan Bapak. Pilih informasi mana yang benar-benar bapak perlukan. Komunikasikan dengan unit sekolah lain perihal itu. 
 

5. Salam literasi, Perpustakaan sangat penting untuk membiasakan murid-murid dg literasi sbg bagian dari kebiasaan mencari solusi, secara ilmiah salah satunya dg merujuk pada literasi ilmiah yg ada (salah satunya dari perpustakaan). Di sekolah kami, Perpustakaan menjadi area favorit bahkan hingga pulang sekolah, banyak yg memanfaatkan perpustakaan untuk ruang mengerjakan tugas maupun mencari sumber bacaan.Semoga perpustakaan semakin maju dan mengikuti perkembangan zaman. (Moh Ridwan SMAS Al-Izhar)

Jawab.
Amin. Terima kasih Pak Ridwan. Ini bisa dimasukkan dalam kisah sukses perpustakaan sekolah sebagai inspirasi bagi sekolah lain. Semangat berkarya terus ya!

 

6. Mohon ijin bertanya IbuBagaimana cara mengawali untuk mempromosikan perpustakaannya kalau programnya belum dapat terbentuk karena kami sekolah baru dan selama pandemi kami tidak ada aktifitas yang sentralnya perpustakaan selama KBM. Mereka semua lebih cepat menggunakan gadged daripada ke perpustakaan sekolah (Sriyati) 

Jawab:
Hal pertama sebelum melakukan promosi adalah menentukan dulu apa yang mau dipromosikan. Pertanyaan ibu mencakup dua aspek, Pertama Ibu belum punya program yang mau dipromosikan karena KBM dilakukan secara daring. Kedua, Ibu merasa para siswa  lebih senang menggunakan gawai tibang ke perpustakaan. Hal yang perlu Ibu lakukan adalah merancang program yang menarik bagi siswa untuk menggunakan perpustakaan. Seperti saya singgung diatas kompetitor perpustakaan paling besar adalah gawai (beserta games dan aplikasi menarik lainnya). Nah, coba Ibu rancang dulu program perpustakaan yang kira-kira menarik bagi para siswa. Untuk ini Ibu dapat melibatkan satu atau dua orang siswa yang senang membaca atau senang menggunakan perpustakaan untuk brainstorm apa yang disukai teman-temannya. Setelah program selesai dirancang dan disetujui, maka program tersebut dapat dipromosikan. Gawai baiknya tidak dijauhi atau dimusuhi, namun dirangkul sebagai pendukung program dan layanan perpustakaan sekolah

 

7. Kalau Perpustakaan di sekolah kami ada kerjasama dengan guru-guru dengan membuat jadwal kunjungan dgn guru bidang study murid dibuat tugas dengan mencari bahan bacaan yang ada di perpustakaan khususnya dgn guru bidang study bahasa Indonesia, ekonomi dan agama serta melibatkan guru2 untuk mencari bahan bacaan yang diperlukan di perpustakaan. Setiap tahun kita mencari katalog judul buku dan membagikan ke guru utk memilih buku yg diperlukan agar dibuat di perpustakaan (Aplorida -SMA Methodist)

Jawab:
Nah, ini juga termasuk kisah sukses kolaborasi dengan para guru. Hal ini bisa menjadi pintu masuk untuk elaborasi program - program kolaborasi perpustakaan sekolah selanjutnya. 

 

8. Di sekolah kami, peserta didik harus dalam pendampingan guru-guru. Namun, saat ini, jika waktu KBM sangat singkat, untuk menjadwalkan peserta didik amat sulit. Program yang belum terealisasai banyak (Renita -SLBN 02 Jakarta)

Jawab:
Bisa dipahami jika peserta didik yang harus selalu dalam pendampingan guru-guru, punya tantangan tersendiri untuk bisa fleksibel dalam kegiatan perpustakaan sekolah. Baiknya, hal ini didiskusikan dengan para guru bahkan juga dengan kepala sekolah. Hal yang perlu diingat adalah bahwa program perpustakaan sekolah dapat dilakukan bersama. Meskipun perpustakaan sekolah punya program mandiri, baiknya implementasinya terintegrasi dalam KBM di sekolah. Dengan demikian, para guru tidak merasa terbeban untuk memanfaatkan perpustakaan sekolah, tapi dengan adanya pustakawan dan progamnya justru malah terbantu apalagi jika mendapat dukungan dari Kepala Sekolah.

 

9. Selama covid 19 dampaknya terasa sekali para siswa kurang berminat, bagaimana cara mempromosikan kepada anak. Terimakasih (Agus Mudiono - SMA 3 PSKD)

Jawab
Pak Agus, asumsi saya bahwa sebelum Pandemi C19, para siswa berminat untuk ke perpustakaan ya. Jika demikian, pemanfaatan media sosial untuk penyebaran promosi perpustakaan Bapak seperti merekam dan upload di Youtube, Instagram, Tiktok dsb. Hal ini dapat menjadi salah satu alternatif untuk melanjutkan program yagn tadinya dilakukan secara onsite sebelum C19. Bisa juga menggunakan platform daring milik sekolah. Sampaikan pada Kepala Sekolah agar bisa diupayakan program perpustakaan ini masuk dalam kegiatan belajar online. Apalagi jika program ini menolong para guru dan siswa dalam menunjang pembelajaran daring mereka. Tapi jika asumsi saya salah, Pak Agus bisa mencari tahu apa yang menjadi kebutuhan para guru dan murid yang terkait dengan perpustakaan.  Bahkan sebuah program yang fun dan menghibur bisa menajdi alternati belajar mereka. 


10. Di sekolah kami tidak ada petugas khusus untuk mengelola perpustakaan, sehingga pengelolaan perpusatakaan hanya menjadi tugas tambahan guru dengan kemampuan pengeloaan yang kurang memadai. Apakah ada pelatihan bagi guru2 agar bisa mengelola perpustakaan? (SLB C Dian Grahita)

Jawab
Ada Bu. Perpustakaan Nasional sering mengadakan pelatihan bagi guru-guru yang mengelola perpustakaan sekolah. Organisasi profesi pustakawan juga sering mengadakan pelatihan bagi guru. APISI sendiri mengagendakan Kelas Pendek 40 jam ataupun Pelatihan Perpustakaan sekolah 12 jam. Namun hal penting adalah komitmen sekolah untuk mengangkat satu staf yang berdedikasi untuk pengelolaan perpustakaan sekolah jika ingin perpustakaan sekolahnya berperan sebagaimana mestinya.

 

11. Bagaimana tanggapan ibu tentang keberadaan perpustakaan digital (SMA PGRI)

Jawab

Pertama, saya akan samakan dulu persepsi tentang apa itu Perpustakaan Digital. Saya melihat bahwa perpustakaan digital merupakan produk kemajuan teknologi dalam ruang lingkup keinginan saling berbagi akan semua informasi yang dimiliki sebuah perpustakaan yang tercatat dalam database perpustakaanya secara daring. Jadi selain teknologi penyimpanan dan penyebarannya, ada unsur saling berbagi. Jika sebuah perpustakaan kemudian membangun koleksi perpustakaannya dengan sumber-sumber informasi dalam bentuk elektronik, dan itu hanya untuk kepentingan internal, perpustakaannya tidak dapat disebut sebagai perpustakaan digital, namun disebut sebagai perpustakaan yang mempunyai koleksi elektronik, seperti e-book (yaitu versi elektronik dari buku cetak yang bisa dibaca di komputer atau perangkat lainnya yang didisain untuk maksud tersebut). Perpustakaan tersebut hanya menyimpan koleksi e-book, lebih kepada bentuknya, bukan pada esensi berbagi ke luar lembaganya.  Para siswa di tingkat PAUD, TK dan SD, baiknya dikenalkan dengan koleksi cetak, mengingat kita ingin memperkenalkan perpustakaan dan pemanfaatannya. Mereka dikenalkan dengan area belajar yang menyenangkan melalui keragaman koleksi perpustakaan. Koleksi e-book akan sangat membantu para siswa ditingkat menengah dan atas untuk perolehan keragaman informasi untuk kebutuhan pembelajaran mereka. Pendampingan akan keterampilan literasi informasi disarankan di level ini.

 

 

12.Bu hana, baiknya berapa lama ya waktu kunjungan perpustakaan untuk siswa? ( SLB Negeri 10)

Jawab.
Sekiranya waktu kunjungan terintegrasi dengan kegiatan pembelajaran, baiknya disesuaikan dengan waktu 1 JP mapel. Hal ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan guru mapel yang bersangkutan untuk meluangkan waktu para siswanya di perpustakaan. Jadi, lamanya waktu disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Diluar itu, para siswa dan guru dapat didorong untuk menggunakan perpustakaan di waktu - waktu istirahat atau pulang sekolah jika memang memungkinkan.

 

13.Maaf Ibu Hanna yg sy mksd. Mhn penjelsn CONTOH CONTOH BENTUK KEGIATAN LITERASI. Trimakasih ( Anna Setyawati - Sekolah Damai)

Jawab

Contoh - contoh kegiatan literasi dapat disesuaikan dengan jejang sekolah para siswa. Untuk TK/PAUD baiknya diperbanyak storytelling dan read aloud. Dua kegiatan ini dapat dikemas dengan berbagai variasi bentuk, misalnya ‘Membaca Bersama Ayah Ibu’, ‘Kakak, bacakan Cerita untukku’, “Mendengar Cerita Rakyat Bersama ....”, ‘Membaca bersama Kepala Sekolah’. Kegiatan ini dapat diselingi dengan kegiatan mengenalkan koleksi perpustakaan sekolah sambil mengenalkan huruf dan angka. Untuk tingkat SD, bisa dikembangkan pembelajaran kolaborasi dengan guru mata pelajaran. Misalnya, Guru Kelas 2 mempunyai topik pembelajaran tentang Kupu-kupu. Pustakawan sekolah dapat mengembangkannya dengan pemanfaatan koleksi perpustakaan yang memuat informasi dengan proses terjadinya kupu-kupu. Setelah belajar pengetahuan tentang life cycle kupu-kupu, pustakawan dapat menceritakan buku berjudul The Very Hungry Catterpillar milik Eric Carle, misalnya. Siswa SMP dapat mulai diajarkan sedikit tentang keterampilan literasi informasi. Kegiatan literasi dengan berkolaborasi dapat dibaca lebih lanjut di https://halatuputty.blogspot.com/2016/08/kolaborasi-guru-dan-pustakawan-dalam.html Untuk jenjang SMA, contoh penerapan Literasi Informasi dapat dibaca lebih lanjut di: https://halatuputty.blogspot.com/2016/04/literasi-informasi-di-sekolah-penerapan.html

 

 

14. Dlm masa pandemic ini mengajak / memotivasi siswa utk selalu membaca buku (bukan buku elektronik) utk mengurangi radiasi terhdp kesehatan mata anak2, dilakukan secara rutin lalu mengadakan festival literasi. Utk jenjang SMP bias mengena. Tp klo utk jjg SMA agak susah ya. Bagaimana trik utk anak SMA ya BU? Tks salam literasi (Afrida SMAK Kanaan)

Jawab:

Jika diperhatikan lebih lanjut, mengajak membaca untuk pleasure atau kesenangan bagi para siswa SMA memang mempunyai tantangan tersendiri. Pertama, mereka sudah harus mempersiapkan diri untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi. Meskipun sistem kelulusan sejak tahun 2021 sudah tidak melalui Ujian Nasional, namun mereka tetap menghadapi ujian akhir sekolah. Dengan demikian, fokus mereka sudah pada pembelajaran atau pembuatan karya ilmiah. Perpustakaan dapat mencari tahu apa yang menjadi hal yang diminati atau dibutuhkan para siswa SMA ini dan mengemasnya dengan suatu bentuk program yang menarik mereka. Penggunaan media sosial bisa menjadi daya tarik tersendiri. Nampaknya, untuk tingkat SMA pustakawan sudah tidak lagi bergerak untuk mempromosikan atau menggalakkan minat baca, namun lebih menumbuhkan kegiatan membaca sebagai alternatif kegiatan yang menyenangkan. Misalnya, membuat review buku dengan menggunakan Instagram atau Tiktok. Cara lain adalah dengan melakukan pendekatan dengan beberapa siswa yang rajin baca, dan tanyakan pada mereka ide untuk melakukan kegiatan membaca yang menarik seperti apa. Mau tidak mau, pustakawan perlu mempunyai wawasan yang luas dalam mengenal dunia para siswa SMA, agar program literasi yang dirancang sesuai dengan dunia mereka tanpa mengurangi esensi literasi yang ingin disampaikan.

 

15.  Bu, bisa minta saran untuk perpustakaan yang memiliki ruangan kecil, bagaimana dalam pengelolaan ruangan yang tepat, terimakasih (Prista Anggraeni -SLBN 04 Jakarta)

Jawab:

Tergantung apa yang menjadi concern bu Prista. Jika yang menjadi perhatian Ibu mengenai penyimpanan koleksi dan aksesnya, maka perbanyak koleksi e-book yang bisa diakses melalui gawai para siswa dan guru. Koleksi e-book disini  tidak kemudian diartikan sebagai kegiatan melegalkan alih bentuk semua koleksi cetak yang dimiliki perpustakaan Ibu, karena hal itu akan melanggar hak cipta. Pertama, Ibu upayakan adanya komputer yang mengolah koleksi ini dan sistem jaringan yang mumpuni untuk penyebaran maupun aksesnya. Kedua, jika sekolah Ibu mempunya bajet, Ibu dapat membeli produk e-perpus komersial. Ketiga, jika sekolah Ibu tidak mempunyai bajet, Ibu bisa memanfaatkan link-link yang memberikan akses gratis untuk ebook secara legal. Misalnya, Perpustakaan Nasional, Perpustakaan Kemdikbudristek, Let’s Read. Saat ini banyak Perpustakaan Umum di Indonesia yang bisa diakses untuk koleksi elektronik mereka. 
Lalu, jika concern Ibu tentang para siswa yang biasanya datang ke perpustakaan, Ibu dapat membalikkan konsepnya. Perpustakaan yang datang ke kelas - kelas. Misalnya dengan mempromosikan akses gratis untuk buku secara online ke beberapa website yang disebutkan diatas. Hal yang memungkinkan juga adalah melakukan pendidikan perpustakaan seperti research skill di kelas mereka. Tentu saja kesemuanya itu akan berjalan lebih baik jika dilakukan secara kolaborasi dengan guru kelas dengan dukungan kepala sekolah.

 

16. Salam sehat Bu Hanna,,,kebetulan perpustakaan di sekolah saya sangat belum bisa berjalan dengan mulus, baik dari isi perpustakaan maupun administrasinya. Memang sangat sulit jika belum ada kerjasama antara semua guru, sedangkan ekspektasi kami ingin baik.Apakah sistem administrasi di sekolah boleh disamakan dengan di kampus ya Bu?Krn saya pernah mendapat contoh sangat luar biasa baik di perpus kampus saya yg lalu.Beberapa boleh dicontoh kah Bu?Terima kasih banyak bu (Priscilia SMAK Ignatius)

Jawab:

Salam sehat juga bu Priscilia, saya mempersepsikan sistem administrasi ini adalah sistem otomasi perpustakaan ya bu. APISI selalu menyarankan penggunaan SLiMS sebagai alternatif sistem otomasi perpustakaan sekolah. Mengapa SLiMS, karena SLiMS dianjurkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Pendidikan Tinggi berdasarkan surat edaran Nomor 1498/D3/KP/2018 yang ditujukan untuk seluruh Kepala Dinas Kabupaten dan Kota di Seluruh Indonesia yang menaruh besar harapannya agar layanan dan aplikasi pengelolaan perpustakaan berbasis SLiMS dapat digunakan secara luas oleh Perpustakaan sekolah di seluruh Indonesia. Lebih lanjut dalam SE tersebut, diminta agar Dinas pendidikan Kab/kota dapat menyebarkan informasi ini kepada sekolah sekolah yang ada di wilayahnya.
Selain itu, Perpustakaan Kemdikbudristek juga mengembangkan inisiatif  SchILS yang diadopsi dari aplikasi SLiMS. Melalui SchILS, harapannya, pengelola perpustakaan sekolah dapat saling berbagi informasi dan ilmu tentang bagaimana mengelola perpustakaannya menggunakan aplikasi otomatisasi perpustakaan. SchILS dapat dimanfaatkan oleh perpustakaan sekolah seperti SD, SMP, dan SMA (dan sederajatnya) karena tersedianya materi-materi belajar, yang disediakan oleh Kementerian dan dapat diunduh.
SchILS juga diharapkan mampu membantu para pengelola perpustakaan sekolah dalam mengelola koleksi di perpustakaannya. 

 

17.Bagaimana menciptakan keinginan siswa agar selalu semangat dlm membaca di perpustakaan yaa Bu Hanna... terima kasih (SLBN 8 Jakarta)

Jawab
Menjadi model pembaca yang semangat! Buat program membaca yang menarik dan sesuai dengan siswa sekolah Ibu. Ceritakan mereka beragam kisah. Cari tahu apa yang menjadi minat mereka lalu kaitkan dengan cerita yang Ibu ketahui. Sediakan buku-buku bacaan yang baru dan promosikan pada mereka. Semangat membaca bisa tumbuh jika para siswa sudah menemukan sisi menyenangkan dari kegiatan membaca dan menemukan buku-buku apa yang mereka sukai.

 

18. Salam sehat Bu Hanna, trm ksh atas paparanya. Di sekolah kami sdh ada ruang perpustakaan, agar siswa-siswi lebih berminat untuk membaca, terlebih pd masa pandemi, dan PTM 100 % akan berjalan. Untuk menarik kembali agar setia membaca bagi siswa-siswi, mohon sarah Bu Hanna, trm ksh (Sisca Olga- SLB C Wimar Asih)

 

Jawab
Salam sehat juga bu Sisca Olga. Semoga paparannya bermanfaat buat Ibu ya. Pandemi bisa menjadi penciptaan kesempatan untuk menyegarkan kembali tampilan dan peran perpustakaan sekolah setelah ‘ditinggal’ selama hampir dua tahun. Coba dandani perpustakaan Ibu dengan display yang menarik. Ibu bisa memilih topik-topik yang menarik bagi para siswa Ibu. Mendandani perpustakaan tidak mesti pendandanan secara fisik, namun juga mendandani koleksi, layanan dan program perpustakaan Ibu. Coba ambil waktu khusus untuk memikirkan dan mengemas program literasi apa yang menarik bagi para siswa Ibu. Lalu diskusikan dengan guru yang menaruh minta dan kepala sekolah untuk persetujuannya. Tetap semangat jika upaya pertama dianggap kurang menarik. Memang butuh kesabaran dan upaya yang terus menerus dalam mempromosikan perpustakaan dan layanan serta programnya. Cari rekan yang bisa diajak kerja bareng, dan mulailah bergerak dari situ.

 

19. Jika kami jenjang dari TK, SD, SMP, SMA, maka perpustakaan kami sebaiknya dilabelkan apa ya pak/bu? mohon solusi, sbg cat: terakhir kami sdh terdaftar dan akreditasi C utk jenjang SMA, mohon penjelasannya (Rita Hutapea - SMA Mahatma Gandhi School)

Jawab

Dapat diberi label “Perpustakaan MAHATMA GANDHI”, yang melayani para siswa dari TK, SD, SMP dan SMA. Perihal struktur organisasi, bisa ditunjuk dari jenjang yang mana. Untuk kepentingan akreditasi, ada dokumen yang tersedia di https://jdih.perpusnas.go.id/detail/161 berjudul Instrumen Akreditasi Perpustakaan Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah  (tahun 2018). Silakan Ibu pelajari lebih lanjut dokumen tersebut.  

 

20. Kiat - kiat apa saja yang harus dilakukan untuk mempromosikan perpustakaan pemula ? ( Sekolah mempunyai Perpustakaan , namun belum dikelola dengan baik , ruangan juga masih bergabung dengan kegiatan lain )Eni Pujiastuti - SLBN 5 Jakarta

Jawab
Hal pertama yang harus dilakukan adalah memutuskan apa yang ingin dipromosikan. Dalam kondisi sekolah ibu, hal pertama yang masih mungkin dilakukan adalah mempromosikan buku-buku bacaan yang menarik bagi para siswa dan melakukan storytelling atau read aloud. Rencanakan dengan situasi yang cocok dengan kondisi Ibu. Bersamaan dengan itu, Ibu membenahi pengelolaan perpustakaan Ibu. Ibu dapat mulai memikirkan pengembangan perpustakaan Ibu seperti apa. Untuk mendapat dukungan dari kepala sekolah, coba mulai dulu dengan program sederhana yang realistis dan dapat langsung diimplementasikan tanpa biaya, bila perlu. Biasanya, dukungan akan datang jika apa yang Ibu kerjakan berdampak pada KBM atau pada kegiatan membaca para siswa. Buat tujuan-tujuan program literasi perpustakaan Ibu  yang menunjang tujuan utama sekolah, lalu susun dalam Program Jangka Panjang (3 tahun misalnya), Jangka Menengah (2 tahun) dan Jangka Pendek (1 tahun)


21. Program esensial apa saja yang cocok untuk pesdik SD, SMP, SMA LB yang baru ? (Sriyati, S.Pd -  SLBN 12 Jakarta)

Jawab
Program literasi yang dikembangkan sesuai dengan kondisi pesdik SD, SMP, SMA LB yang baru. Hal ini nantinya akan mengarah pada pengembangan saran dan prasarana perpustakaan, koleksi, layanan dan program perpustakaan. Diskusikan hal ini dengan para guru dan kepala sekolah. Akan lebih baik lagi jika program literasi ini dikembangkan dengan kolaborasi dengan para guru.

 

22. Bagaimana cara membuat jadwal atau list terkait dengan literasi numerik. (Elia Marnis-SMAN 24 JKT)

Jawab 

Terkait dengan literasi numerik dalam konteks literasi membaca, sila Ibu akses “Materi Pendukung Literasi Numerasi” oleh Kemendikbud tahun 2017 di link https://gln.kemdikbud.go.id/glnsite/wp-content/uploads/2017/10/materi-pendukung-literasi-numerasi-rev.pdf

 

Comments