Kompetensi Tenaga Perpustakaan Sekolah Rakyat oleh Hanna Chaterina George

 

Penulis merupakan salah satu narasumber pada kegiatan Bimbingan Teknis Pengelola Perpustakaan Sekolah Rakyat Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Pusbinawan, Perpustakaan Nasional RI. Pelaksanaan Bimtek dilakukan secara daring via Zoom selama empat hari berturut-turut. Tulisan ini merupakan catatan pelaksanaan dari sudut pandang penulis.


PENDAHULUAN

Pusat Pembinaan Pustakawan (Pusbinawan) Perpustakaan Nasional menyelenggarakan Bimbingan Teknis Tenaga Perpustakaan Sekolah Rakyat dalam rangka meningkatkan kualifikasi, kompetensi dan profesionalisme tenaga perpustakaan Sekolah Rakyat (SR) pada tanggal 12 - 15 Oktober 2026 secara daring. Bimbingan Teknis (Bimtek) ini mengambil tema “Program Literasi Informasi di Sekolah Rakyat untuk SDM Indonesia Unggul”.  Empat Unit Kompetensi Layanan Perpustakaan diangkat sebagai materi bimtek yang diberikan kepada kurang lebih 90 tenaga perpustakaan Sekolah Rakyat (SR) yang tersebar dari Aceh hingga Papua.

Perpustakaan SR diharapkan menjadi ruang tumbuh yaitu ruang untuk bertanya, untuk menemukan, untuk berdiskusi, untuk belajar dan tentunya untuk membaca. Demikian disampaikan Kepala Pusat Pembinaan Pustakawan Perpusnas RI. Drs Agus Sutoyo, M.Si dalam sambutannya saat membuka kegiatan bimtek ini. Lebih lanjut Kapus menyampaikan bahwa perpustakaan sekolah merupakan ruang untuk membentuk peserta didik agar mampu menggunakan informasi secara cerdas, kritis, etis dab bertanggung jawab. Dengan demikian tenaga perpustakaan Sekolah Rakyat menjadi mitra strategis untuk mewujudkan Indonesia unggul.


Pembukaan Bimtek oleh Kepala Pusat Pembinaan Pustakawan Perpusnas RI
Dr Agus Sutoyo, M.Si dan Moderator Gustini Rahmawati


Dengan demikian, tenaga perpustakaan SR sebagai mitra strategis, perlu mendapatkan bimbingan kompetensi yang ada dalam SKKNI Pustakawan agar dapat secara maksimal menjalankan tugasnya dalam memberikan pendampingan pembelajaran bagi para siswa.

SEKOLAH RAKYAT

Permensos Nomor 7 Tahun 2025 yang kemudian diperbarui menjadi Permensos Nomor 13 Tahun 2025 menyebutkan bahwa target SR adalah anak-anak dan warga belajar dari ekosistem keluarga miskin ekstrim, miskin dan keluarga rentan. 

Warga belajar merupakan mereka yang meskipun usianya bukan lagi dalam kisaran usia para siswa di jenjang pendidikan sebagaimana ada di sekolah pada umumnya, namun juga mereka, yang dikategorikan masyarakat dengan usia pemuda, 18 tahun ke atas yang masih harus duduk di jenjang pendidikan menengah dan atas.

Tujuan pendirian SR sendiri mencakup akses pemulihan kesejahteraan sosial, penuntasan inklusi sosial dan layanan pendidikan formal/informal yang adaptif bagi masyarakat pra sejahtera.

Jumlah SR yang ditetapkan dalam Permensos ini terdiri dari 8 SR Dasar, 34 SR Menengah Pertama, 46 SR Menengah Atas dan 78 SR Terintegrasi.

PERPUSTAKAAN SEKOLAH RAKYAT

Koleksi

Dukungan awal sarana perpustakaan SR terdiri dari sebuah ruangan yang berisi koleksi buku cetak berjumlah antara 1000 - 1500 judul buku serta sebuah Anjungan Buku Digital (ABD) yang diberikan oleh Perpustakaan Nasional. Koleksi ini dapat bertambah jika tenaga perpustakaan SR mempunyai akses dan juga menjadi anggota Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip atau DPK) Provinsi dan Kota, menjadi anggota Perpustakaan Nasional untuk akses beragam sumber-sumber e-resources yang diperlukan para siswa menengah atas atau para guru. 

Beberapa sumber digital yang dapat diakses antara lain:

- Let’s Read (www.letsreadasia.org), memberikan akses gratis terhadap buku-buku digital bergambar anak-anak, cerita-cerita terjemahan dan dapat diunduh melalui platform resmi Let’s Read Asia.

- Sistem Informasi Perbukuan Indonesia (https://buku.kemendikdasmen.go.id) merupakan platform digital resmi yang dikembangkan oleh Pusat Perbukuan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI.

- Buku Digital (https://budikemendikbud.id), merupakan platform penyedia bahan bacaan digital gratis yang dikelola oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasam Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Tenaga Pengelola Perpustakaan SR

Perpustakaan SR dikelola oleh guru yang ditunjuk. Kebanyakan dari mereka adalah guru mata pelajaran yang tidak memiliki latar belakang pendidikan atau pengalaman dalam mengelola perpustakaan sekolah.

Lokasi SR

Lokasi perpustakaan SR bervariasi dari satu SR dan SR lainnya. Ada yang lokasinya di bangunan sekolah ada pula yang berada di asrama para siswa. Lokasi perpustakaan  yang berada di area asrama para siswa memberi potensi pemanfaatan yang lebih tinggi, karena dapat diakses hingga malam hari bukan saja oleh para siswa tapi juga guru, wali asuh bahkan juru masak.

Pengelolaan Perpustakaan SR

Beberapa perpustakaan SR sudah mulai membangun data base dengan otomasi sistem perpustakaan Inlislite namun ada pula yang masih manual dan masih dalam masa transisi. Hal ini dapat dimaklumi, karena saat ini SR memasuki tahun ajaran ke dua setelah tahun ajaran pertama yang dimulai pada tahun 2025.

Tangkapan Layar saat Bimtek berlangsung


SKKNI DAN KOMPETENSI TENAGA PERPUSTAKAAN SEKOLAH RAKYAT

Pusbinawan mengangkat empat unit kompetensi SKKNI Pustakawan sebagai materi sosialisasi dan bimbingan teknis. Empat unit kompetensi tersebut yaitu:

1. Etika Profesi Pustakawan
2. Bimbingan Pemustaka
3. Literasi Informasi
4. Konsultasi Bacaan

Empat unit kompetensi ini dianggap kompetensi dasar tenaga perpustakaan SR agar mereka mengenal peran mereka dalam profesinya sebagai pustakawan serta dapat langsung mengimplementasikan program literasi dasar bagi para siswa SR. Tiga diantaranya merupakan tiga layanan perpustakaan yang dapat diberikan untuk membantu para siswa yaitu Bimbingan Pemustaka, layanan yang diberikan agar para siswa dapat menggunakan perpustakaan secara mandiri, Literasi Informasi agar para siswa memahami dan fasih menggunakan informasi di dalamnya serta Konsultasi Bacaan yaitu layanan yang diberikan perpustakaan untuk mengembangkan minat baca para siswa.

Kompetensi Bimbingan Pemustaka diberikan agar tenaga perpustakaan SR dapat melakukan profiling para siswa dan minat baca mereka, merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi program kerja ini. Bimbingan Pemustaka merupakan kegiatan pemberian instruksi kepada siswa agar mereka dapat secara mandiri  menggunakan dan memanfaatkan koleksi, layanan dan fasilitas yang ada di perpustakaan SR. 

Kompetensi Literasi Informasi menjadi kompetensi penting yang mencakup serangkaian keterampilan  dalam memecahkan masalah ataupun membuat keputusan dengan menggunakan beragam sumber informasi yang ada di perpustakaan SR. Keterampilan Literasi Informasi memperlengkapi siswa dalam merumuskan permasalahan mereka, mencari, menemukan, mengumpulkan, mensintesiskan, menganalisa informasi dan menggunakan hasil analisa informasi tersebut dalam memecahkan permasalahannya atau membuat keputusan berdasarkan proses tersebut. Dengan demikian, tenaga pengelola perpustakaan SR perlu memahami dan menjadikan diri mereka seorang yang melek informasi terlebih dahulu sebelum mengajarkan keterampilan ini kepada para siswa.

Kompetensi Konsultasi Bacaan merupakan kompetensi pustakawan yang diperlukan dalam memberikan bimbingan dan konseling bacaan yang menjadi minat atau kebutuhan para siswa. Berbeda dengan layanan Bimbingan Pemustaka dan Literasi Informasi, jenis layanan ini diberikan secara personal atau kelompok siswa yang mempunyai minat yang sama dan mereka sepakat untuk menerima layanan ini secara kelompok. 

Praktik baik layanan dimulai dengan memberikan lembar Consent Form  atau Lembar Persetujuan yang diberikan oleh siswa yang bersangkutan bahwa mereka mengijinkan informasi pribadi mereka kepada pustakawan sebagai informasi untuk menentukan profiling minat baca mereka. Hal ini sekaligus sebuah upaya edukasi perpustakaan bagi para siswa bahwa mereka mempunyai hak dalam pemberian akses pada data pribadi mereka. 

Ketiga jenis layanan dan kompetensi tenaga perpustakaan SR yang diberikan dalam materinya bertujuan agar para siswa nantinya dapat menjadi pembelajar mandiri dan mengadopsi gaya hidup belajar sebagai pembelajar seumur hidup. Bentuk kegiatan layanan perpustakaan ini kemudian dapat memperlengkapi mereka baik saat mereka masih menjadi siswa SR dan maupun saat mereka sudah lulus dan memasuki langkah kehidupan mereka selanjutnya.

MINAT BACA SISWA SR DAN PEMBENTUKAN SISWA SAHABAT PERPUSTAKAAN

Beberapa tenaga pengelola perpustakaan SR mengungkapkan para siswa sangat antusias terhadap koleksi dan perpustakaan SR mereka. Perpustakaan SR yang berada di area asrama menjadi pilihan siswa, guru dan wali asuh SR untuk mengisi waktu mereka di malam hari. Bahkan di beberapa tempat, para siswa menghampiri kediaman tenaga perpustakaannya, mengetok pintu dan minta agar perpustakaannya di buka.

Hal ini menunjukkan indikasi positif atas keberadaan perpustakaan SR sebagai tempat mereka membaca. Tenaga perpustakaan SR dapat mengembangkan beberapa kegiatan untuk mempertahankan bahkan meningkatkan minat baca mereka. Misalnya, untuk Sekolah Rakyat Terintegrasi (STR), pembentukan Student Librarian atau Sahabat Perpustakaan dapat menjadi alternatif tim asisten tenaga perpustakaan sekolah sebagai perpanjangan tangan untuk melakukan beberapa aktivitas menarik. 

Contohnya, siswa menengah atas dapat secara bergantian menjadi storyteller bagi adik-adik SD nya. Dalam menjalankan tugas sehari-hari di perpustakaan, tim Sahabat Perpustakaan yang sudah mendapatkan pelatihan sederhana dari tenaga perpustakaan SR, dapat merapikan buku-buku yang dipinjam dan mengembalikannya ke rak. Jika tidak mengganggu jalannya pembelajaran mereka, tim Sahabat Perpustakaan dapat bergantian dalam menjaga meja sirkulasi untuk melakukan proses peminjaman dan pengembalian buku. 

Pemilihan Sahabat Perpustakaan ini dapat dikomunikasikan dengan Kepala Sekolah atau Wakil Kepala Sekolah, lalu mereka dilantik pada upacara sekolah agar par siswa SR mengenal dan memahami tugas mereka di perpustakaan, dan jika masa bakti mereka dalam semester itu selesai, sekolah dapat memberikan bentuk apresiasi berupa Sertifikat Apresiasi. 

KEGEMARAN SISWA PADA CERITA ROMANSA DAN KOMIK MANGA

Ada hal menarik dalam diskusi dengan tenaga perpustakaan SR saat bimtek ini diberikan, khususnya untuk Topik Konsultasi Bacaan. Salah satunya adalah bagaimana menyikapi para siswa perempuan jenjang menengah pertama saat mereka begitu ‘terobsesi’ dengan genre bacaan fiksi romansa. Ada kekhawatiran dari tenaga perpustakaan bahwa pola baca ini hanya satu genre ini membuat mereka terobsesi dan malah membawa ke efek yang dianggap kurang baik jika terus menerus dibiarkan. Ada pula tenaga perpustakaan SR yang khawatir, para siswa jenjang menegah pertama yang sudah menemukan komik-komik manga dalam koleksi perpustakaan SR mereka saat buku-buku tersebut belum selesai dicatat dalam database perpustakaan.

Tenaga perpustakaan SR mengobservasi kesukaan para siswa laki-laki ini pada buku manga lebih pada gambar-gambar yang cenderung erotis dan vulgar. Ketika pustakawan kemudian menyimpan buku-buku tersebut dan tidak disirkulasikan sesuai dengan saran dari Kepala Sekolah, para siswa tersebut kehilangan minat dan enggan untuk membaca buku lainnya.

Dari dua situasi di atas, hal pertama yang dapat dilihat adalah mereka sudah menunjukkan minat mereka pada topik romansa dan buku manga. Namun, minat besar mereka justru dipandang sebagai sebuah ‘ancaman’ pengaruh negatif.

Hal yang dapat dilakukan pustakawan adalah dengan mengadakan pendekatan secara personal atau kelompok lalu mendiskusikan topik - topik itu. Untuk siswa pecinta cerita romansa, tenaga perpustakaan SR dapat mengundang mereka pada suatu waktu, untuk mendiskusikan buku-buku itu secara terbuka dan terarah, tanpa ada tendensi menghakimi kesukaan mereka pada bacaan tersebut.  Ajang diskusi ini dapat dijadikan tempat mereka mengeluarkan dan mengungkapkan isi pikiran atau perasaan mereka. 

Dengan kompetensi guru yang mereka miliki, para siswa kemudian dapat secara langkah demi langkah diarahkan ke minat - minat mereka lainnya sebagai agenda diskusi selanjutnya. Kemudian grup diskusi ini kemudian malah dapat menjadi sebuah program baru perpustakaan SR yaitu Book Club, misalnya, yang terbentuk sebagai alternatif kegiatan mengarahkan siswa yang berangkat dari minatnya pada buku romansa.

Demikian pula solusi untuk para siswa laki-laki penggemar buku manga. Tenaga perpustakaan SR dapat berkomunikasi dengan Kepala sekolah atau Wakil Kepala Sekolah Sarana Prasarana serta Guru Bimbingan dan Konseling untuk mengangkat situasi ini, agar para siswa ini dapat mendapatkan bimbingan lanjutan. Tenaga perpustakaan SR atau guru pria dapat memanggil mereka dan mendiskusikan buku manga ini. Ada dua aspek dalam melihat atau mendiskusikan buku manga, pertama aspek seni menggambar. Komik manga mengangkat salah satu teknik menggambar yang bisa dilakukan secara manual atau dengan aplikasi. Diskusikan aspek ini untuk mengimbangi persepsi mereka terhadap gambar-gambar yang vulgar. Aspek kedua adalah mengangkat aspek apresiasi seni. Dalam dunia seni menggambar, akan bisa ditemui nantinya sumber-sumber informasi dalam bentuk cetak, gambar atau ilustrasi yang mengangkat tema nudity. Hal ini memerlukan kepiawaian dan kreativitas para guru dengan tenaga perpustakaan SR untuk bisa memposisikan buku komik manga ke siswa laki-laki yang memasuki masa puber mereka. 

Harapannya, minat baca mereka dapat terus berkembang dan diarahkan alih-alih melarang mereka  mengakses buku-buku tersebut. Solusi ini butuh waktu, namun jika tepat implementasinya, tidak menutup kemungkinan mereka akan menemukan minat atau bakat mereka yang belum mereka sadari.

BUDAYA DAN SEJARAH LOKAL 

Para siswa SR perlu mengenal dan menghargai budaya dan sejarah lokal daerah di mana mereka berada. Kesadaran akan kedua hal ini akan membuat mereka lebih mengenal jati diri mereka dan lebih menghargai budaya dan sejarah daerah mereka. Informasi dan pengetahuan ini akan menjadi nilai tambah pengetahuan mereka saat nanti mereka lepas dari pendidikan SR. Tidak menutup kemungkinan pula akan tumbuh rasa tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikannya.

Tenaga perpustakaan SR sebaiknya mulai investigasi sumber sumber budaya dan kisah maupun tempat - tempat bersejarah dimana mereka berada, mengumpulkannya dan kemudian diintegrasikan dalam berbagai kegiatan perpustakaan SR. Membuat display di perpustakaan, membuat brosur sederhana ataupun menjadi topik pembelajaran di perpustakaan bersama guru kelas. 

Lebih jauh, jejaring tenaga perpustakaan SR yang ada di Indonesia kemudian dapat saling bertukar informasi satu sama lain sehingga para siswa SR kaya pengetahuan akan budaya dan sejarah dari berbagai tempat di Indonesia.

PENUTUP

Perpustakaan SR dapat menjadi tempat siswa untuk membaca, berpikir, bertanya, meneliti, berimajinasi dan berkreativitas untuk kemudian mengubah informasi menjadi pengetahuan untuk membawa perkembangan pribadi, sosial dan budaya mereka (definisi perpustakaan sekolah oleh IFLA tahun 2015).
Dengan keuntungan sistem pembelajaran berasrama yang menempatkan siswa 24 jam di area pembelajaran, perpustakaan SR dapat menjadikan keberadaaanya tempat favorit alternatif belajar dan rekreasi para siswa SR yang dapat diakses sepanjang hari hingga malam.
Tenaga perpustakaan SR perlu memiliki kompetesi dasar pengelolaan perpustakaan agar dapat mengembangkan program program literasi yang menyenangkan bagi para siswa, serta melakukan program-program pendampingan dalam mempersiapkan mereka menjadi pembelajar seumur hidup.

Referensi:

Indonesia, Kementerian Ketenagakerjaan. Keputusan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 236 Tahun 2019 tentang Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia... Bidang Perpustakaan. 13 September 2019. JDIH Kemnaker, jdih.kemnaker.go.id/asset/data_puu/SKKNI%202019-236.pdf. (Catatan: Unit Kompetensi yang digunakan merupakan revisi yang dipersiapkan untuk Revisi dokumen tahun 2019 milik Pusat Pembinaan Pustakawan RI)

Indonesia, Kementerian Sosial. Peraturan Menteri Sosial Nomor 13 Tahun 2025 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Sosial Nomor 7 Tahun 2025 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekolah Rakyat. 14 November 2025. JDIH BPK RI, peraturan.bpk.go.id/Details/334064/permensos-no-13-tahun-2025.

Schultz-Jones, Barbara, and Dianne Oberg, editors. IFLA School Library Guidelines. 2nd revised ed., International Federation of Library Associations and Institutions, 2015. IFLA Repository, repository.ifla.org/items/e61cb0b6-8d19-45e8-9be1-24b45309464e






















Comments