Komunitas GP Shalom 90an yang Mahal Harganya oleh Hanna Chaterina George (Hanna Latuputty)
Kamis, 27 Agustus 2026
Malam sebelum pertemuan di Kafe Olive Tree—kafe milik Maya dan Isaac Ririhena tanggal 26 Agustus malam kemarin—saya sempat mampir ke halaman Facebook Gerakan Pemuda GPIB Shalom Depok (GP Shalom 90-an). Saat melakukan scrolling cepat ke bawah, saya melihat wajah-wajah beberapa rekan jemaat yang kini telah dimuliakan Bapa di Surga. Sekelebat memori bersama mereka melintas dalam pikiran: Kak Imelda, Kak Yeyen, Om Kumontoy, Lenda, dan beberapa lainnya.
Scrolling selanjutnya terhenti pada dokumentasi kegiatan Ngoempoel Bareng (Ngoembar) di Kawah Ratu dan Sentul tahun 2024 dan 2025. Melihat kawan-kawan pemuda angkatan 1990-an ini, ingatan saya terlempar kembali ke masa lalu. Saya sendiri sebenarnya kurang aktif dalam kebaktian-kebaktian GP saat itu; hanya sesekali mengikuti ibadah dan acara ret-ret pemuda yang diadakan.
Komunitas GP Shalom 90-an (saya sengaja tidak menggunakan kata "EX" namun tetap mencantumkan tahun 90-an) merupakan komunitas yang saya sadari bukan komunitas biasa. Ini berbeda dengan komunitas kawan sekolah SD, SMP, SMA, atau kuliah yang sudah beberapa kali mengadakan reuni. Di komunitas sekolah, kita dipersatukan oleh kesamaan tahun dan tempat belajar, namun tidak ada ikatan terdalam berupa persekutuan iman. Itulah pembedanya. Komunitas ini punya makna tersendiri bagi saya pribadi. Apakah karena ada cerita masa lalu? Entahlah, namun rasanya ini lebih dari sekadar romantisme masa muda bergereja.
Kebersamaan kita dimulai sejak usia remaja hingga pemuda. Jika dihitung rata-rata, rentang usia pemuda saat itu berada di angka 17 hingga 25 tahun. Ada yang baru saja lepas Sidi dan duduk di bangku SMA, ada yang masih berstatus mahasiswa, dan ada pula yang sudah mulai meniti karier.
Seiring waktu, proses hidup berjalan mengikuti pertambahan usia. Kita melewati fase sosialisasi yang semakin luas di luar gereja, perkembangan pekerjaan, pelayanan, hingga pergumulan tempat tinggal; ada yang keluar dari Depok, lalu kembali lagi ke Depok. Kita mengalami fase menemukan pasangan hidup, merasakan duka kehilangan, menikah, membesarkan anak dari bayi hingga lulus kuliah. Bahkan sebagian besar dari kita saat ini telah menjadi orang tua dari anak-anak yang mulai kuliah atau bekerja mandiri.
Setelah melewati bentangan waktu 36 tahun dengan semua dinamika hidup di atas, satu per satu dari kita dipertemukan kembali. Ada yang memang menetap di Depok, ada yang sesekali pulang, ada yang masih bergereja bersama, dan tidak jarang kita dipertemukan dalam ibadah penghiburan saat ada rekan atau orang tua kita yang lebih dulu berpulang ke rumah Bapa. Pertemuan-pertemuan itu kadang berlanjut menjadi kumpul-kumpul santai yang dihadiri oleh siapa saja yang sempat datang.
Di sinilah poin penting yang ingin saya tegaskan: ketika Tuhan mengizinkan kita masih bisa berjumpa, berbagi cerita, tertawa bersama, dan saling membuka hidup setelah melewati proses panjang selama 36 tahun, satu kata yang muncul di benak saya adalah: Priceless—tidak ternilai, mahal harganya. Ini adalah pertemanan, persahabatan, dan persekutuan yang mahal.
Mengapa saya sebut mahal? Karena sejarah kebersamaan anggota GP Shalom 90-an yang telah teruji waktu tidak akan pernah bisa digantikan oleh orang lain yang tidak ada di sana sejak tahun 1990-an. Hubungan ini juga tidak bisa digantikan oleh teman masa kini yang tidak bertumbuh dalam gereja yang sama. Sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang atau apa pun, itulah arti kemahalan yang sesungguhnya.
Koneksi persahabatan yang terjadi saat ini—terlepas dari kisah masa lalu, pergumulan masa kini, atau harapan masa depan—seharusnya menjadi kesempatan bagi komunitas GP Shalom 90-an untuk saling menguatkan. Tidak peduli di mana kita bergereja sekarang, atau sudah sejauh mana pertumbuhan rohani dan perkembangan pribadi kita, persekutuan yang pernah terjalin sejak 36 tahun lalu harus menjadi pengikat untuk kembali bertumbuh bersama di usia kita yang sekarang.
Kegiatan Ngoembar di Kawah Ratu dan Sentul telah mengawali kerinduan tersebut. Persekutuan dalam pujian, penyembahan, Firman Tuhan, sendau gurau, menari, hingga makan bersama menjadi aktivitas menyenangkan yang melekatkan kembali kebersamaan kita. Gerakan dalam komunitas ini justru memicu kita yang dahulu pemuda tahun 90-an (dan sekarang berada di usia 50-60 tahun) untuk tetap bergerak, sehat, dan menyala, persis seperti tema yang diangkat dalam dua kegiatan tersebut.
Keunikan Ikatan dalam GP Shalom 90-an
Rasa percaya (trust) bahwa kita semua masih terus bertumbuh di dalam iman kepada Kristus menjadi landasan utama komunitas ini untuk mau saling menguatkan, mendoakan, dan peduli satu sama lain. Kita melepaskan apa yang pernah terjadi di masa lalu, baik secara pribadi maupun keluarga. Kita tidak berada dalam kapasitas untuk menghakimi satu sama lain; GP Shalom 90-an merangkul setiap orang tanpa melihat latar belakang masa lalunya. Hal ini harus menjadi komitmen kita bersama.
Dalam situasi tertentu, sifat kelompok yang tertutup bisa bermakna negatif. Namun, dalam konteks GP Shalom 90-an, kekhasan ikatan sejarah ini justru menjadi nilai tambah yang merangkul mereka yang pernah tergabung, termasuk pasangan dan anak-anak mereka. Sifat khusus ini bernilai positif dan mahal karena didasarkan pada sejarah yang tidak semua orang miliki. Hal inilah yang seharusnya membuat kita semakin bersatu dan saling menguatkan di usia matang. Sebab pada akhirnya, ketika anak-anak tumbuh mandiri dan menempuh jalan hidup mereka sendiri, kita akan kembali tinggal sendiri atau hanya bersama pasangan—seperti saat kita mulai merintis kehidupan 36 tahun lalu.
Satu hal yang patut disyukuri dari kekhasan komunitas GP Shalom 90-an ini adalah ruang aman bagi para anggotanya untuk saling bercerita, berdoa, memuji Tuhan, dan mendiskusikan Firman-Nya. Bagi saya pribadi, momen berkumpul dan tertawa bersama menjadi sarana penyegaran (refreshing) yang membuat hati plong dan gembira, terlebih ketika digenapi oleh pujian dan kebenaran Firman Tuhan. Atmosfer seperti ini sulit saya temukan di komunitas masa lalu lainnya.
Belajar dari Kaleb dan Yosua
Bertemu kembali di usia yang matang bukan melulu soal membangkitkan romantisme usia senja lewat memori masa muda. Yosua 14:6-14 menuliskan momen ketika Kaleb yang telah berusia 85 tahun menemui Yosua untuk bersaksi bahwa hidupnya dipelihara oleh Tuhan. Mereka bereuni bukan sekadar untuk bernostalgia, melainkan untuk saling menguatkan iman. Kaleb menegaskan bahwa kekuatannya di usia tua masih sama seperti masa mudanya karena penyertaan Tuhan.
Tidak ada yang mustahil bagi kita untuk meneladani Kaleb dan Yosua. Mereka adalah dua pemuda optimis yang memilih melihat kebesaran Tuhan melalui mata iman—kuasa yang menolong mereka merebut Tanah Perjanjian—alih-alih menyerah pada ancaman fisik yang dilihat oleh mata jasmani ketika mengintai negeri tersebut. Semangat iman itulah yang kita butuhkan hari ini.
Mari kita jaga ikatan jemaat GP Shalom yang telah terjalin lama ini. Jadikanlah komunitas ini sebagai wadah untuk tetap bertumbuh, sehat, menyala, dan berdampak bagi sesama.
Nama Kristus tetap dimuliakan.
Bogor, 27 Agustus 2026
Olive Tree Cafe, Depok - 26 Agustus 2026
Ki-ka: Jimmy W, Andy L, Johnny L, Maria WS, Maya R, Anti MS, Kathy LG
Referensi Teologis
Alkitab Terjemahan Baru (TB) - Lembaga Alkitab Indonesia (LAI):
- Yosua 14:6-14 – Kisah pertemuan (reuni) Kaleb dan Yosua di Gilgal; kesaksian Kaleb tentang pemeliharaan Tuhan serta kekuatannya yang tidak berkurang di usia 85 tahun.
- Bilangan 13:26-33 & Bilangan 14:6-9 – Rekam jejak masa muda Yosua dan Kaleb sebagai pengintai yang optimis dan mengandalkan mata iman, kontras dengan 10 pengintai lain yang dikuasai ketakutan jasmani.
- Amsal 27:17 – "Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya." (Dasar Alkitab bagi komunitas spesifik yang berfungsi saling membentuk dan menguatkan iman).
- Ibrani 10:24-25 – Panggilan untuk tidak menjauhkan diri dari pertemuan persekutuan, melainkan saling mendorong dalam kasih dan pekerjaan baik di tengah kedewasaan hidup.

Comments