Monday, October 18, 2010

Mendampingi anak menjadi pembelajar seumur hidup

Dalam rangka memperingati Bulan Perpustakaan Sekolah Internasional, APISI mengadakan acara seminar yang bertajuk “Kolaborasi Sekolah, Perpustakaan, dan Keluarga dalam Pembelajaran di Era Informasi”. Masih bertautan dengan konsep literasi informasi yang menjadi topik utama promosi APISI, kali ini kami mendatangkan para pakar teknologi dan media literasi untuk disandingkan dengan para guru dan pustakawan dan peran masing-masingnya dalam keluarga. Para pembicara akan mendiskusikan bagaimana bentuk kolaborasi orang dewasa yaitu sebagai guru, pustakawan, orang tua dalam mendampingi proses pembelajaran anak di era informasi ini.

Dalam kesempatan ini, selaku orang tua dan juga pustakawan sekolah, saya diminta untuk membawakan topik yang berjudul “Peran Orang Dewasa Dalam Mendampingi Kegiatan Pembelajaran Anak di Era Informasi”. Secara spesifik, sub topik yang akan saya gali adalah penjabaran literasi informasi sebagai keterampilan yang dibutuhkan siswa dalam pembelajaran.di sekolah dan di rumah.

Siapa anak itu? Siapa orang dewasa itu?
Definisi anak menurut Pasal 1 Ayat 1 Undang Undang No. 23/2002 tentang perlindungan anak adalah: seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Dengan demikian, jika dijajarkan dalam level/tingkat pendidikan, anak adalah mereka yang berada di tingkat pra sekolah hingga kelas tiga SMA.

Orang dewasa disini adalah orang tua, guru dan pustakawan sekolah. Tak lepas tentu para wali orang tua, tante, om, oma, opa, kakak, sepupu dan peran lainnya bagi mereka yang berperan sebagai pendamping anak-anak baik itu di rumah, sekolah maupun lingkungan masyarakat dimana anak-anak berada.

Generasi web/google di era informasi
Komputer games, koneksi internet, hape, play station, sudah menjadi barang elektronik biasa bagi anak-anak jaman ini. Berbeda dengan jaman orang tua saat ini di masa kecil mereka, saat ini teknologi menjadi bagian yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Bersamaan dengan teknologi, maka arus informasi juga tak pelak bertubi tubi datang melalui setiap celah akses teknologi. Perolehan informasi bukan saja melulu datang lewat media tercetak, melainkan juga non cetak seperti televisi, radio, handphone, internet, dan sumber informasi lainnya. Dalam buku yang berjudul: Information Literacy meets Library 2.0 yang diedit oleh Peter Godwin dan Jo Parker, digambarkan bahwa perilaku generasi web terhadap teknologi, informasi serta perilaku sosial mereka dalah sebagai berikut:

Perilaku terhadap teknologi: generasi web akan dengan mudah dan alamiah dalam menggunakan teknologi dan informasi secara online. Mereka tidak membutuhkan manual dalam mengoperasikan suatu produk, tapi naluri mereka akan menuntun mereka dengan lihainya dan mereka akan dengan cepat menguasainya. Meskipun mereka tidak mempunyai ketertarikan dengan katalog perpustakaan, khususnya dalam pencarian melalui boolean logic, generasi ini menginginkan adanya database perpustakaan yang bisa diakses dimanapun mereka berada, termasuk dalam Virtual Learning Environment (VLE) mereka. Hal ini menjadi tantangan bagi pustakawan sekolah, bagaimana teknologi dapat menyederhanakan temu kembali informasi yang ada di dalam perpustakaan agar dapat diakses dengan mudah, cepat secara online.

Perilaku terhadap informasi: generas web yang menganggap segala informasi tersedia lewat internet denga akses cepat dan mudah juga berharap untuk mendapatkan kepuasan seketika saat mereka melakukan penelusuran di google ataupun amazon. Bahayanya lagi, mereka beranggapan bahwa perilaku cut and paste adalah cara perolehan informasi daripada membaca dan mencerna informasi yang mereka temukan untuk mendapatkan jawaban. Selain itu, karena mereka bekerja dengan microcontent yang hanya fokus seperti lagu, foto ataupun memposting blog, mereka cenderung tidak memperhatikan isu etika dari isi yang mereka gunakan. Bisa jadi hal ini disebabkan karena mereka tidak paham atau tidak acuh terhadap isu etika ini.

Apa yang dibutuhkan dalam menyikapi generasi web ini?
Hal yang urgent untuk membekali generasi web ini dalam berinteraksi dengan informasi adalah LITERASI INFORMASI. Literasi informasi adalah seperangkat keterampilan untuk memecahkan masalah, baik itu untuk kepentingan akademisi ataupun pribadi, termasuk lingkup tempat kerja, melalui poses pencarian, penemuan dan pemanfaatan informasi dari beragam sumber serta mengkomunikasikan pengetahuan baru ini dengan efisien, efektif dan beretika.

Hal yang berkaitan erat dengan etika yang menjadi isu saat ini adalah plagiarisme. Plagiarisme adalah ketika seseorang menggunakan ide orang lain dan tidak menuliskan sumber tersebut dan mengakuinya sebagai hasil karya sendiri, baik itu secara sengaja maupun tidak sengaja. Program keterampilan literasi informasi di perpustakaan yang dapat diterapkan dalam menyikapi isu ini adalah keterampilan untuk notetaking, skimming, scanning, paraphrasing, footnote dan bibliography.

Siap menjadi smart parents
Menjadi orang tua di era google saat ini memang susah susah gampang. Dikatakan gampang, karena untuk membantu anak mengerjakan tugas - tugas sekolahnya dalam mencari informasi hanya sejauh ke sebuah komputer dan koneksi internetnya. Tinggal mengetik kata kunci, apakah mau mencari informasi atau mencari gambar, tekan search, dan informasi yang kita inginkan pun akan muncul. Menjadi sulit karena ribuan informasi ini tetap harus diolah dan dipilih, mana yang tepat dan kredibel untuk digunakan sebagai acuan. Ini terjadi kalau anak-anak masih dalam tahap sekolah dasar. Apakah kita akan terus mendampinginya hingga mereka beranjak remaja atau dewasa? Tentu tidak bukan? Anak-anak kita perlu dibekali keterampilan literasi informasi sejak dini, agar mereka nantinya menjadi pembelajar seumur hidup yang mandiri dalam memecahkan masalah ataupun dalam membuat keputusan.

Agar kita bisa mendampingi anak – anak kita dalam proses belajar mereka menjadi pembelajar seumur hidup, maka kita juga perlu menjadi orang tua yang melek informasi. Bagaimana caranya? Beberapa hal berikut ini bisa kita coba:

1. belajar keterampilan literasi informasi. Keterampilan literasi informasi ini juga bermanfaat untuk kita sebagai orang tua dalam memecahkan persoalan kita sehari-hari
2. membiasakan diri menggunakan beragam sumber informasi untuk membantu kita memecahkan masalah mulai dari hal-hal yang remeh temeh seperti mau masak apa, membetulkan rumah (Do It Yourself), mau berlibur ke mana, memilih sekolah si anak atau memilih bentuk investasi apa yang menguntungkan dan cocok buat kita
3. penuhi rumah dengan buku dan membacalah. Contoh yang berbicara paling nyata bagi anak adalah model nyata orang tuanya
4. ajar anak untuk berpikir kritis, buka dialog dan upayakan untuk bertanya balik pada mereka
5. perlihatkan pada anak, proses pencarian informasi yang berkaitan dengan pertanyaan pertanyaan mereka. Toh tidak semua pertanyaan mereka dapat kita jawab bukan? Untuk itu, kita perlu buku, majalah, koran, internet dan sumber informasi lainnya yang membantu kita menjawab pertanyaan mereka

Peran perpustakaan sekolah dan pustakawannya
Di sekolah, perpustakaan sekolah juga memegang peranan penting dalam implementasi literasi informasi. Kolaborasi dengan para guru dalam penyampaian materi pembelajaran bisa menjadi metode jitu dalam mengajarkan keterampilan literasi informasi ini. Diskusi dengan para guru dan pembagian tugas mana yang dapat dilakukan oleh pustakawan dan guru menjadi model kolaborasi efektif bagi ke dua belah pihak.

Pustakawan juga perlu mengembangkan koleksi perpustakaannya secara reguler dan sesuai dengan kurikulum sekolahnya. Program perpustakaan yang berkaitan dengan kegiatan membaca dan program literasi informasi juga perlu dikembangkan. Membina kerja sama dan berjejaring dengan pustakawan sekolah lain serta melakukan pengembangan profesi yang regular juga perlu. Menjadi pustakawan sekolah yang melek informasi dan terus belajar serta terbuka terhadap kemajuan informasi dan teknologi dalam mengimbangi perkembangan jaman.

1.http://www.mastel.or.id/files/regulasi/UU_No._23_Tahun_2002_tentang_Perlindungan_Anak.pdf
2 Sumber AMOW: Plagiarims

1 comment:

ichwana said...

terima kasih atas infonya..
kunjungi juga http://elektro.unand.ac.id
terima kasih

http://doichwana.blogspot.com