Friday, June 05, 2009

Saat cinta harus memilih: antara APISI dan ATPUSI... atau keduanya?

Bahwasanya dunia kepustakawanan Indonesia khususnya bidang kepustakawanan sekolah saat ini sedang lepas landas, saya setuju sekali. Bayangkan saja, sejak tanggal 1 Oktober tahun 2005, saat pustakawan sekolah di daerah Banten dan sekitarnya berkumpul untuk pertama kalinya, hingga saat ini, bulan Mei 2009, lihatlah berapa banyak organisasi kepustakawanan Indonesia yang telah lahir.

APISI atau Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia, lahir tanggal 26 Agustus 2006 di Bogor, tahun ini akan mengakhiri tiga tahun masa bakti kepengurusannya yang pertama. Di Bali, bulan November di tahun yang sama, lahir pula sebuah organisasi profesi ISIPII atau Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi yang dikomandani oleh Mba Yati Kamil. Belum lagi organisasi yang mungkin sudah ada lebih dulu seperti Ikatan Pustakawan Indonesia, FPSI atau Forum Perpustakaan Sekolah Indonesia (sang ketua, Bapak Bambang Dwi telah mendahului kita tahun lalu, menemui Sang Khalik, dan kini diganti oleh Bpk Bambang Gunawan,) Himpunan Pustakawan Madrasah Yogyakarta, Ikatan Guru Pustakawan Madrasah Yogyakarta dan mungkin organisasi sejenis di daerah-daerah di pelosok Indonesia.

Tanggal 28 Mei 2009 di Jakarta baru-baru ini juga telah lahir sebuah asosiasi baru ATPUSI atau Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia. Asosiasi ini lahir dengan sebuah harapan baru agar profesi pustakawan sekolah yang lebih mendapat tempat sesuai dengan peran dan tanggung jawab yang sesungguhnya. Terpilihlah susunan kepengurusan dan program usulan dari hasil acara konvensi dalam rangkaian acara Konvensi dan Seminar Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia yang diselenggarakan tanggal 27-29 Mei 2009 di Hotel Millenium Jakarta. Sekitar 150 peserta dari 33 propinsi di Indonesia dan juga dari Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah memenuhi undangan Direktorat Tenaga Pendidikan dan Perpustakaan Nasional selaku penyelenggara acara ini.

APISI dan ATPUSI: bedanya?

Pertanyaan ini muncul dari beberapa peserta yang sebelumnya telah berkiprah dan aktif dalam kegiatan APISI. Lebih lagi, dalam struktur kepengurusan ATPUSI duduk beberapa pengurus APISI yang masih aktif saat ini. Termasuk saya duduk dalam Komisi Kerjasama Dalam dan Luar Negeri.

Hal yang pasti adalah APISI tetap eksis dan tetap terus berkarya selama hal itu membawa peningkatan profesi pekerja informasi dan perpustakaan sekolah di Indonesia. Meski antara APISI dan ATPUSI mempunyai visi dan misi yang hampir sama, sebagai wadah untuk memajukan profesi tenaga perpustakaan sekolah (istilah yang digunakan oleh DIT TENDIK) dan pekerja informasi profesional sekolah (isitlah yang digunakan oleh APISI) tapi tetap ada keberbedaan substansi dikeduanya. APISI tetap merupakan sebuah asosiasi yang profesional, independen/mandiri dan terbuka. APISI lahir sebagai bentuk keinginan yang dalam untuk perkembangan profesi ke arah yang lebih baik. APISI lahir dari keinginan dan kebutuhan dari para pekerja di lapangan yang butuh sebuah wadah untuk mengembangkan profesionalitas mereka.

Pada masa tiga tahun pertama, APISI telah ke beberapa kota mempromosikan literasi informasi. Termasuk sebuah kegiatan besar berupa pelatihan yang mendapat dukungan dana penuh dari ALP/IFLA dalam menyusun sebuah usulan integrasi literasi informasi dalam KTSP.

Banyak orang mengira, APISI mempunyai dana yang besar dalam mewujudkan kegiatan-kegiatan promosi ini. Padahal, jujur saja, tanpa dukungan dari teman-teman yang punya perhatian pada kegiatan APISI, para penerbit, distributor dan vendor yang membantu di tiap kegiatan kami, belum tentu acara road show promosi literasi informasi ini bisa berjalan. Terus terang pada kegiatan-kegiatan kami ini tidak ada yang namanya profit. Kadang sebagai nara sumber pun, honor terpaksa ditangguhkan karena memang tidak cukup dana. Puji Tuhan, kami juga tidak pernah berhutang. Pas. Kami bangga dengan itu.

So, dalam kesempatan ini, secara pribadi, saya berterima kasih yang sedalam-dalamanya untuk rekan-rekan pengurus, para nara sumber, institusi rekanan acara APISI, dan semua yang telah mengulurkan bantuannya tanpa pamrih untuk kegiatan APISI. Tidak ada keuntungan materi dari kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan APISI. Bahkan ongkos untuk rapat pun tidak. Dari sini saya melihat, bagaimana komitmen teman-teman pengurus APISI dan mereka yang terlibat dalam kegiatan APISI begitu tulus dalam mengembangkan profesi ini. Saya juga yakin bahwa selama tiga tahun mengambil bagian dalam kegiatan APISI, ketulusan dan keikhlasan berkontribusi mengembangkan profesi dan pendidikan di Indonesia tanpa pamrih tampak terlihat dalam kiprah kerja rekan-rekan kepengurusan APISI.

Bergandengan tangan membangun kekuatan
Mari kita lihat pada persamaan, bukan pada perbedaan.
Dengan menggalang kesatuan dengan bergandengan tangan dan merapatkan barisan, maka suara kita akan jauh terdengar lebih lantang. Keberbedaan justru mempercantik dunia kepustakawanan sekolah di Indonesia. Keterlibatan pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional dan Perpustakaan Nasional, seharusnya semakin menguatkan dan memberikan peluang yang seluas-luasnya bagi perkembangan profesi ini di tanah air.

Dalam tataran personel, beberapa pengurus APISI dan ATPUSI sangat bersinggungan. Pastinya, menjadi pengurus ATPUSI merupakan amanah besar yang harus dilakoni dengan tanggung jawab dan dengan hati nurani yang bersih. Besar harapan pada mereka, agar pengalaman-pengalaman berkarya di APISI menjadi suatu pelajaran untuk melangkah dengan lebih baik lagi dengan dukungan penuh dari DIKNAS dan Pepusnas. Sebgai sebuah asosiasi baru, berharap ATPUSI akan giat dan progresive dalam langkah-langkah kedepannya. Bukannya melempem atau jalan ditempat.

APISI sendiri, lepas dari Musyarawah Nasional APISI bulan Agustus nanti, saya yakin akan ada perubahan significant didalam tubuhnya.

So, kita lihat nanti. Perjuangan baru akan dimulai. Yuk, kita ramaikan dunia kepustakawanan sekolah di Indonesia.

Lalu, apakah kita harus memilih? Jawaban saya, kita boleh pilih salah satu, atau malah gandeng keduanya. Kalau dianalogikan dengan romansa cinta, ini kisah cinta yang sangat unik. Boleh memiliki keduanya tanpa harus merasa bersalah dengan lainnya. Sah saja kok. Malah dengan memiliki keduanya, hidup kita lebih jadi lebih lengkap:-)

5 comments:

Bersama Kita Berbagi said...

Hanna, my good friend

saya bangga mbak Hanna punya pandangan yang benar-benar dinamis. Saya setuju sekali dengan pandangan mbak Hanna ini. Mari kita bergandengan tangan bekerjasama untuk mengangkat profesionalisme tenaga perpustakaan/pekerja informasi di Indonesia ini dengan keunikan, kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kita akan berjuang bersama, semakin banyak kendaraan untuk berjuang semakin lantang suara untuk mengangkat harkat dan kompetensi tenaga perpustakaan/pekerja informasi yang hingga hari ini masing dipandang sebelah mata. Kita berjuang bersama saja tantangan itu sungguh amat besar, apalagi kalau kita berjuang sendiri-sendiri atau malah bercerai berai, pastilah tidak berguna.

Sekali lagi, apa yang mbak Hanna tulis di sini adalah cerminan hati dan pikiran beliau yang tidak pernah surut dan tak kenal lelah berjuang ingin memajukan perpustakaan sekolah di Indonesia.

Mbak Hanna, saya dan juga (harapan saya) teman-teman yang bergabung di atpusi yang masih menjadi pengurus APISI tetap satu hati, satu visi dan satu gerakan, yaitu mewujudkan cita-cita di atas.

salam dan hormat saya,
Ihsan
Ketum ATPUSI

Anonymous said...

Dear Miss Hanna,

APISI tetap harus ada, kenapa ? Segmentasi agak sedikit berbeda. Tiap petugas perpustakaan sekolah pasti bisa mengikuti kegiatan ATPUSI, tapi tak semua petugas tersebut saat ini mampu mengikuti langkah dan visi APISI.

Thank's
Isnu

hanna latuputty said...

Halo Pak Isnu,
Apa kabar?
Ya..saat ini APISI harus memposisikan dirinya pada posisi yang tepat ditengah-tengah kancah dunia kepustakawan sekolah di Indonesia. APISI akan tetap exist dan nantinya diharapkan bisa konsisten untuk melakukan pengembangan ilmu dalam dunia kepustakawanan sekolah. Terima kasih untuk komentarnya pak Isnu :-)

Anonymous said...

Hllo mba Hanna...Bila dalam kisah kasih ada"SAAT CINTA HARUS MEMILIH"..Bila bisa,janganlah sampai ada dilema kisah kasih yang serupa antara APISI dan ATPUSI...Tetapi justru yang ada,hanya kisah keduanya selalu seiring sejalan bergandeng tangan tanpa ada kata pisah dalam bekerjasama guna meningkatkan mutu pengetahuan dalam dunia pendidikan melalui peningkatan kompeten profesional tenaga perputakaan...Dengan kebersamaan, keduanya tak hanya mampu menyusun integrasi literasi informasi dalam KTSP...Tapi juga mampu menyusun integrasi literasi informasi dalam TIK...Sukses selalu

Salam,
Arizan

hanna latuputty said...

hi mba Ari, thanks untuk komentarnya ya. Biarlah keberbedaann justru memperkuat kebersatuan ya, demi kemajuan kepustakawanan sekolah Indonesia.
Sukses selalu :-)