Wednesday, August 31, 2016

KOLABORASI GURU DAN PUSTAKAWAN DALAM MENINGKATKAN MINAT BACA SISWA DALAM GERAKAN LITERASI SEKOLAH

KOLABORASI GURU DAN PUSTAKAWAN
DALAM MENINGKATKAN MINAT BACA SISWA
DALAM GERAKAN LITERASI SEKOLAH*
oleh: Hanna Latuputty

Reading is not just a matter of life and death; it is much more important than that.
(Alan Gibbons-Author, Organizer & Campaign for the Book)

A. Pendahuluan
Kegiatan membaca merupakan sebuah isu yang tidak pernah terlepas dari sebuah perpustakaan sekolah. Pustakawan sekolah selalu berusaha untuk menanamkan kegiatan gemar dan cinta membaca bagi para siswa dan komunitas sekolahnya. Kerjasama dan dukungan dari pihak kepala sekolah dan manajemen serta komunitas sekolah di mana perpustakaan itu bernaung memegang peranan yang sangat penting pada implementasi kegiatan ini.

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan sebuah inisiatif pemerintah yang memerlukan dukungan perpustakaan sekolah dan pustakawannya. Pustakawan perlu terlibat secara langsung dalam Tim Literasi Sekolah untuk merencanakan berbagai kegiatan yang mendukung pengembangan budi pekerti siswa melalui kegiatan membaca.

Sebagai organisasi profesi, APISI mendukung dan memberi keleluasaan bagi para pustakawan sekolah untuk mengembangkan kegiatan yang berkaitan dengan buku dan kegiatan membaca untuk penanaman cinta dan budaya membaca di berbagai kalangan. Penanaman gemar membaca perlu dilakukan sedini mungkin bagi anak-anak kita (bahkan ketika mereka masih bayi) sehingga ketika pada tingkatan sekolah menengah, para siswa ini akan siap untuk menerima keterampilan literasi informasi lebih dalam lagi. Literasi informasi yaitu seperangkat keterampilan untuk memecahkan masalah ataupun untuk membuat keputusan, baik untuk kepentingan akademisi ataupun pribadi, melalui proses pencarian, penemuan dan pemanfaatan informasi dari beragam sumber serta mengkomunikasikan pengetahuan baru ini dengan efisien, efektif dan beretika (George, 2012). Untuk itu, keterampilan membaca merupakan landasan dari literasi informasi yang dapat dilaksanakan secara terencana dan terprogram sejak usia dini. Tulisan ini mencakup gambaran umum tentang GLS, konsep dasar mengapa membaca itu penting serta beragam contoh kegiatan yang dapat dilakukan di sekolah dengan keterlibatan perpustakaan sekolah.


B. Gerakan Literasi Sekolah (GLS)
            Gerakan Literasi Sekolah adalah gerakan sosial dengan dukungan kolaboratif berbagai elemen. Upaya yang ditempuh untuk mewujudkannya berupa pembiasaan membaca peserta didik (Kemdikbud, Desain Induk:7). Gerakan ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan  keterampilan membaca dan menulis serta menanamkan kecintaan membaca pada siswa pada semua jenjang sekolah untuk mempersiapkan para siswa menjadi pembelajar seumur hidup. Tujuan umum dari GLS adalah menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat (Kemdikbud, Desain Induk:5). Menjadikan siswa pembelajar sepanjang hayat merupakan misi dari setiap perpustakaan sekolah. Dengan demikian, kesamaan ini seharusnya membawa perpustakaan sekolah dan pustakawannya berperan lebih kuat lagi dan bekerja sama dengan lebih erat lagi dengan pemangku jabatan dan pihak terkait dalam komunitas sekolah.
Pada pelaksanaannya, GLS melibatkan komunitas sekolah seperti: peserta didik atau para siswa sebagai target utama program; pendidik atau guru; kepala sekolah; pegawai sekolah; pengawas sekolah, komite sekolah, orangtua/wali, penerbit, media, pemimpin komunitas dan pemangku jabatan di bawah Direktorat Umum Pendidikan Dasar dan Menengah Kemdikbud. GLS ditetapkan untuk dilaksanakan sejak sekolah tingkat dasar hingga menengah atas, termasuk sekolah kejuruan dan sekolah luar biasa. Penerapan GLS dikembangkan dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti yang salah satu tujuannya adalah menumbuhkembangkan kebiasaan yang baik sebagai bentuk pendidikan karakter sejak di keluarga, sekolah, dan masyarakat. Salah satu kebiasaan yang baik yang dianggap penting adalah kegiatan membaca.
C. Mengapa GLS?
GLS dikembangkan berdasarkan beberapa fakta tentang kegiatan membaca orang-orang Indonesia. Menurut data PISA tahun 2009, Indonesia berada pada urutan 57 dari 65 negara dengan score OECD: 396/493.  Pada tahun 2013, rankingnya justru menurun dan tidak membaik, Indonesoa berada diurutan 64 dari 65 negara dengan score OECD 396/496. Data PIRLS pada tahun 2011 menempatkan Indonesia pada posisi 45 dari 48 negara dengan score 428/500. Ditambah lagi UNESCO (2012) menyatakan bahwa hanya satu dari seribu orang Indonesia yang membaca. Disisi lain, CIA World Factbook (2015) menyatakan bahwa total populasi melek huruf (literacy) orang Indonesia adalah 93%. Dengan demikian hampir seluruh populasi bangsa Indonesia bisa membaca dan menulis, namun kegiatan membacanya masih tergolong rendah.

D. Mengapa Membaca Penting?
Ada beberapa alasan yang  menjawab pertanyaan mengapa membaca penting dan beberapa diantaranya adalah:
            a. membaca menciptakan imajinasi, memperluas pemahaman kita tentang    dunia, memperkuat dan memberi kenyamanan pada kita dan merupakan ‘bahan bakar’ untuk pendidikan seumur hidup (Reading is fundamental,2016). Alasan ini menjadi penting dalam peran             perpustakaan sekolah karena keduanya memiiki misi yang sama yaitu  menyiapkan komunitas sekolah, khususnya peserta didik menjadi  pembelajar seumur hidup.

            b. kegiatan membaca mempengaruh perkembangan kognitif seseorang.
            Dalam penelitiannya, Stanovich & Cunningham (1992) mengungkapkan bahwa siswa yang membaca lebih banyak buku,  melakukan test sejarah    dan sastra lebih baik.  Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan membaca  akan memperluas wawasan seseorang dan memudahkan penyerapan pelajaran sekolah khususnya untuk mata pelajaran sosial. Hal ini menguatkan pernyataan Krashen (2006) yang menyatakan bahwa membaca menjadikan seseorang lebih cerdas.

            c. Kegiatan membaca mengembangkan koneksi baru di otak yang       memungkinkan kita menggunakan karya-karya tertulis untuk menjadi          batu lompatan dalam memahami dunia orang lain (BBC, 2009). Koneksi        baru yang terjadi ini selain mengembangkan pemahaman baru terhadap            suatu objek baru yang diterima otak, juga membuat koneksi dengan   konsep - konsep yang pernah diterima dalam pengetahuan yang dibaca    sebelumnya. Buku-buku yang baik dengan demikian memberi kontribusi      positif dalam mengembangkan pengetahuan baru dan pada akhirnya      mempunyai kekuatan untuk mengubah kita untuk menjadi lebih baik.  Seperti yang dikatakan Michael Rosen, seorang penulis anak dari Inggris yang menyatakan: if we don’t learn to love books, we don’t read; If we don’t read WIDELY, we don’t think DEEPLY. (Jika kita tidak belajar mencintai        buku, kita tidak membaca; jika kita tidak membaca secara luas, kita tidak berpikir secara mendalam).

E. Faktor-faktor yang menjadikan anak tidak mempunyai kebiasaan membaca

Ada beberapa faktor yang menjadikan anak tidak mempunyai kebiasaan membaca, diantaranya adalah:

            a. Komputer (termasuk games, internet dan televisi)
            Berkembangnya teknologi informasi memberi dampak yang sangat besar.     Mereka dapat mengakses dengan mudah permainan/games di gadget  mereka untuk memainkannya. Hal ini akan membawa pengaruh lebih buruk lagi, jika orang -tua tidak memberi pengawasan yang ketat pada        penggunaan alat-alat komunikasi ini.

            b. Orang-tua/guru yang tidak membacakan buku pada anak-anaknya.
            Anak-anak sangat mudah menerima pengaruh yang mengubah dirinya  dari model yang dilihatnya. Jika tidak ada role model bagi mereka, maka  konsep membaca hanya menjadi suatu hal yang tidak real atau abstrak.   Namun jika orang-tua membacakan buku pada anaknya maka dari contoh nyata yang akan memberikan contoh nyata bagi anak-anak untuk membaca karena orangtua sudah memberikan contoh kegiatan membaca   yang jelas dan nyata dalam kehidupan anak-anak mereka. Salah satu  penyebab mengapa orang-tua tidak membacakan cerita ke anak-anaknya        adalah kurangnya kepercayaan diri orang-tua dalam membacakan cerita, atau juga tidak tahu bagaimana cara menceritakan buku kepada anak- anaknya.
           
            c. Kurangnya sumber - sumber bacaan yang tersedia.
            Jika kita mengunjungi toko-toko buku, tidak sedikit anak-anak yang    duduk membaca di sisi-sisi rak buku. Dengan demikian, untuk             menjadikan anak-anak membaca, mereka perlu distimulasi dengan    beragam sumber-sumber bacaan di sekitar mereka.

            d. Perpustakaan sekolah yang tidak berperan seperti seharusnya.
            Perpustakaan sekolah yang tidak memberikan keragaman bahan-bahan bacaan serta tidak menyelenggarakan program perpustakaan yang memberi pemahaman para siswa bahwa kegiatan membaca itu menyenangkan menghambat pendidikan gemar membaca para siswa. Perpustakaan sekolah perlu didukung keberadaannya agar dapat berkembang dan menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya.

F. Menjadikan anak-anak pembaca
Salah satu cara  untuk menjadikan anak-anak pembaca adalah membacakan buku pada anak-anak sedini mungkin. Mengapa kita membaca kepada anak-anak yang masih kecil ini?

a. Semakin cepat anak-anak menikmati kegiatan membaca, semakin mereka ingin membaca dan menjadi pembaca yang baik

b. Anak-anak yang mempunyai kepercayaan diri dalam membaca sebelum mereka masuk sekolah dan sudah menikmati cerita yang dibacakan kepada mereka, adalah mereka yang dapat belajar membaca di sekolah dengan lebih sukses. Bayi - bayi pun dapat dibacakan cerita bahwa sebelum mereka bisa baca.

c. Anak-anak tidak dapat dipaksa untuk menjadi pembaca mandiri yang sukses dan mandiri dengan memaksa mereka untuk membaca. Itu sebabnya mereka perlu dibacakan buku cerita sedini mungkin untuk menangkap minat mereka pada sebuah cerita dan kegiatan membaca serta mengasosiasikan keasyikan cerita dengan buku.

            d. Anak-anak perlu didukung, distimulasi dan dimotivasi dalam memilih        buku bacaan dan membiarkan mereka terserap dalam isi ceritanya

            e. Anak-anak perlu diberi pengalaman dalam menikmati cerita,            memahami karakter tokoh di dalamnya, narasi cerita serta plot ceritanya.

Dengan demikian, maka kegiatan membaca ini perlu dimulai dari para dewasa yang ada disekitar mereka, baik guru maupun orang-tua. Orangtua menjadikan dirinya pembaca, orang-tua membacakan cerita ke anak-anak dan orang-tua yang berbicara tentang buku dan melibatkan diri mereka dalam berbagai macam kegiatan literasi.

G. Peran perpustakaan sekolah

Peran perpustakaan sekolah dalam menopang kegiatan menumbuhkan mnat baca pada para siswa diantaranya adalah:

a. Mengembangkan koleksi bacaan yang berkualitas bagi para siswa, yang mencakup koleksi lokal maupun internasional, yang merefleksikan nasionalisme, budaya dan identitas etnik dari komunitas sekolah

b. Mempromosikan bahan-bahan pustaka fiksi maupun non-fiksi yang bervariasi kepada komunitas sekolah melalui kegiatan-kegiatan perpustakaan seperti book talks, library displays dan media sosial, kunjungan pengarang ke perpustakaan sekolah dan hari-hari literasi internasional lainnya

c. Melibatkan orang-tua dalam kegiatan atau program perpustakaan yang berkaitan dengan program membaca baik yang dilakukan di perpustakaan maupun di perpustakaan sekolah.


H. Contoh program kegiatan membaca

Ada beberapa kegiatan program membaca yang dapat diinisiatifkan oleh pustakawan sekolah dalam mempromosikan kegiatan menumbuhkan minat baca bagi para siswa maupun komunitas sekolah. Beberapa diantaranya adalah:

a. Kegiatan Membaca Bebas
Kegiatan membaca bebas merupakan kegiatan membaca yang dimaksudkan untuk memberi kesempatan seluas-luasnya bagi para siswa untuk membaca buku yang disukainya, menikmati ceritanya tanpa harus ada tugas akhir setelah buku selesai dibaca, misalnya tagihan kurikulum untuk menjawab pertanyaan tentang isi buku atau pertanyaan dan tugas lain sejenisnya. Kegiatan ini dapat dilakukan dalam konteks kelas perpustakaan. Para siswa dapat memilih buku yang ingin dibacanya dari perpustakaan sekolah serta membacanya dalam satu periode pelajaran. Hal ini dapat merangsang siswa untuk membaca secara reguler dan diharapkan keingintahuannya dapat membuat ia terus mencari buku untuk dibacanya. Dalam GLS, membaca hening adalah kegiatan membaca 15 menit di awal pelajaran. Kegiatan ini melibatkan semua siswa dan guru untuk tidak melakukan hal lain selain membaca hening. Guru yang membaca dapat memberi contoh nyata bagi para siswa sebagai model yang dapat memberi pengaruh positif bagi mereka.

b. Membaca Keras (Read-Aloud)
Membaca keras dapat dilakukan dengan berbagai cara. Contohnya, ada suatu masa, guru atau pustakawan sekolah membacakan cerita pendek di depan kelas dan para siswa menyimak. Bisa juga salah satu siswa diminta untuk membacakan sebuah cerita yang sudah ditentukan lebih dulu, untuk dibacakan di depan teman-teman kelasnya.  Selanjutnya, guru atau pustakawan sekolah dapat memimpin diskusi singkat tentang isi cerita.

Bagi guru, pustakawan sekolah maupun orang-tua, membaca keras dapat menjadi sarana awal dalam mengenalkan kegiatan membaca dan keasyikan sebuah cerita pada siswa sejak dini.  Membaca keras menyampaikan suatu  peristawa dalam kata-kata, gambar dan sering dilakukan dengan berbagai improvisasi.  Cerita narasi yang pernah disampaikan secara lisan dalam setiap budaya  merupakan sarana hiburan, pendidikan, pelestarian budaya dan penanaman nilai-nilai moral (Soboi & Neilie, 2012).

Tips membaca keras bagi guru dan pustakawan sekolah:
- mulailah dengan cerita-cerita bagus misalnya yang bertema cerita rakyat dari berbagai budaya
- cari tahu poin-poin kunci dari cerita tersebut
- kembangkan kosakata yang ekspresive
- bersiaplah untuk beraksi. Pencerita harus dapat menggunakan seluruh bagian tubuhnya dalam menyampaikan ceritanya agar dapat mempertahankan perhatian pendengarnya
- dalam suatu moment tertentu, undanglah pencerita dari luar sekolah untuk memberikan pelatihan bagi orang-tua, serta undanglah anggota keluarga siswa ke sekolah untuk bercerita.

Sebelum Membacakan Cerita:
- pilihkan buku yang baik yang cocok untuk siswa yang akan menjadi pendengar. Ingatlah perhatian anak-anak hanya dapat bertahan kira-kira selama 10 menit
- bacalah buku itu terlebih dahulu, apakah buku itu cukup menarik untuk dibacakan ke  para siswa pendengar

Saat Membacakan Cerita:
- sebutkan identitas buku yang akan dibaca, misalnya judulm pengarang, ilustrator
- pegang buku dengan posisi tegak
- bacalah dengan pelan dengan beberapa penekanan yang dramatik para bagian-bagian tertentu
- tetap kendalikan perhatian dan kontak mata dengan para pendengar
- libatkan pendengar dalam bagian-bagian tertentu      

Setelah Membacakan Cerita
- biasanya anak-anak beraksi secara spontan setelah mendengar sebuah cerita, berikan beberapa lama waktu untuk mendengar reaksi mereka dan akomodasikan diskusi kecil jika itu perlu. Jika tidak bereaksi, sesi baca cerita dapat ditutup dengan kalimat yang positif sebagai penutup cerita.
- jika program membaca ini merupakan program rutin, katakan pada mereka kapan waktu pembacaan cerita akan dilakukan lagi. Hal ini akan menjaga ketertarikan mereka pada sebuah cerita dan buku.

c. Klub Buku (Book Club)
Klub buku biasanya dibentuk dengan mengumpulkan para siswa atau staf yang tertarik untuk bergabung dalam kelompok Klub Buku ini. Biasanya pertemuan rutin akan diatur dan akan ada kesepakatan bagaimana Klub Buku ini berjalan. Contohnya, untuk Klub Buku Siswa, dapat diinisiatifkan oleh para siswa dengan menentukan waktu pertemuan di perpustakaan sekolah serta mengatur tata cara baca bukunya. Apakah kelompok membaca satu buku untuk didiskusikan bersama, atau masing-masing membaca buku yang berbeda untuk kemudian didiskusikan dalam pertemuan rutin. Pengaturan dapat bersifat fleksibel dan sesuai dengan kesepakatan bersama.

d. Membaca dan Mereview Buku Bacaan
Kegiatan membaca dan mereview buku bacaan merupakan kegiatan yang  sama seperti kegiatan membaca bebas, namun ada tagihan kurikulum ketika para siswa selesai membaca bukunya. Ada beberapa tugas yang dapat diberikan kepada mereka, misalnya membuat ringkasan cerita, atau menceritakan kembali di depan kelas. Tujuan kegiatan ini adalah agar guru atau orang-tua dapat mengukur seberapa jauh, pemahaman anak dalam memahami bacaan.

e. Memahami bacaan dalam konteks pendidikan perpustakaan  (library skills)
Jika perpustakaan sekolah merencanakan kelas perpustakaan secara reguler kepada guru-guru kelas, maka pustakawan sekolah dapat mengembangkan pelajaran tentang buku dan membaca secara berkelanjutan. Misalnya, setelah para siswa dikenalkan dengan perpustakaan sekolah secara umum di awal tahun ajaran, maka pada kelas perpustakaan, mereka mengenal lebih dalam lagi tentang isi atau koleksi perpustakaan sekolahnya. Topik-topik seperti mengenal Dewey Decimal Classification, genre buku seperti: genre keluarga, sekolah, persahabatan, petualangan, lingkungan hidup dan sebagainya, dapat dikembangkan dalam pelajaran perpustakaan sekolah. Waktu pelaksanaan pelajaran perpustakaan sekolah biasanya waktu belajar siswa yang telah disepakati antara guru dan pustakawan sekolah sebelumnya.

f. Tantangan Membaca di Sekolah dan di Rumah/ Reading Challenges
Tantangan membaca merupakan program non-rutin yang dapat diterapkan baik secara kelompok maupun seluruh siswa untuk mencapai tantangan membaca dalam suatu ketentuan tertentu dan akan ada hadiah jika mereka dapat memenuhi tantangan tersebut. Tantangan membaca bertujuan memberi semangat, motivasi maupun pemicu bagi siswa untuk membaca. Kegiatan ini semacam perlombaan membaca yang diakhiri dengan hadiah bagi pemenang.
Beberapa contoh kegiatan Tantangan Membaca yaitu:
-       Read Around the World Challenge; yaitu tantangan membaca pada siswa untuk membaca dua buku fiksi dan dua buku non fiksi dalam satu tahun ajaran yang berlangsung. Tema buku yang dibaca adalah tentang cerita atau budaya suatu bangsa. Dengan demikian, setelah siswa menyelesaikan jumlah buku yang dibaca, mereka akan memahami budaya atau bacaan negara lain. Penentuan jumlah dan tema bacaan bersifat fleksibel.
-       The Summer  Reading Challenge in Libraries ; tantangan membaca selama musim panas ini adalah salah satu tantangan kegiatan membaca bagi anak-anak di Inggris.  Kegiatan ini dianggap menyenangkan, sederhana dan gratis. Peserta diminta untuk membaca enam buku dari perpustakan mereka selama liburan musim panas.  Akan ada stiker dan incentif lain selama proses membaca ini untuk menjaga motivasi membaca siswa. Pada akhirnya, pencapaian siswa ditandai dengan penyerahan sertifikat dan medali Summer Reading Challenge.  
-       The Oregon Reading Initiative: Reading Together!
Di Amerika Serikat, kegaitan The Oregon Reading Initiative  ini menekankan pada pengembangan guru yaitu dengan menentukan standard yang lebih tinggi lagi bagi mereka untuk mempersiapkan guru-guru baru dalam memberi pelatihan para guru dalam strategi membaca.

g. Perayaan Buku dan Perpustakaan sekolah (Book Events)
Promosi buku dan  kegiatan membaca dapat dilaksanakan dalam bentuk sebuah kegiatan besar yang dapat disesuaikan dengan moment tertentu, misalnya Perayaan Buku di bulan Oktober, dengan menggunakan momen perayaan Hari Perpustakaan Sekolah Dunia maupun Bulan Bahasa di Indonesia. Perayaan ini dapat dilakukan selama seminggu atau sebulan, atau kurun waktu yang ditentukan dan disesuaikan dengan kondisi sekolah. Nama perayaan yang umum untuk kegiatan ini seperti: Book Week. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam perayaan ini seperti:

            - Visiting Authors/ Kunjungan Pengarang
Sebelum waktu perayaan dimulai, pustakawan sekolah dapat menentukan siapa pengarang yang ingin diundang untuk berkunjung ke sekolah. Kriteria pemilihan dapat didasarkan pada kepopuleran buku-buku yang dibaca oleh para siswa serta dana yang tersedia. Sedapat mungkin pengarang ini dapat diminta untuk berbicara kepada seluruh jenjang sekolah, yang ada pada sekolah pengundang, misalnya SD, SMP atau SMA serta dapat diminta untuk memberi pelatihan bagi para staf atau orang-tua.  Di sela-sela kegiatan, dapat pula diatur waktu tertentu bagi siswa untuk meminta tanda tangan di buku oleh pengarang ini yang telah dibelinya.

            - Film Screening/ Nonton Bareng (NoBar)
Jika fasilitas memungkinkan, pustakawan sekolah dapat mengundang penulis buku lokal yang bukunya difilmkan. Lebih baik lagi jika pemain film, sutradara dan produser film juga dapat disertakan. Dengan demikian diskusi dapat dilakukan dengan lebih luas lagi. Penting bagi para siswa atau staf untuk membaca bukunya terlebih dahulu. Setelah pemutaran film, diskusi dan komunikasi interaktif dapat dilakukan dengan para undangan ini.

            - Reading Picnic/ Piknik Membaca
Kegiatan piknik membaca dapat digunakan dalam rangkaian kegiatan Book Week. Kegiatan ini sederhana namun dapat memberi semangat membaca bersama bagi siswa dan staf. Para siswa diminta untuk membawa satu buku untuk dibacanya selama waktu istirahat sekolah sambil menikmati bekal mereka.

            - Battle of The Book/Kuiz buku
            Beberapa bulan sebelum perayaan Book Week, guru bahasa Indonesia memilih beberapa buku untuk dibaca oleh para siswanya secara bergantian. Guru ini juga nantinya akan membuat soal-soal yang berkaitan dengan isi buku yang dibaca para siswanya. Tergantung pada kelompok yang akan bertanding nanti, sedapat mungkin peserta sudah membaca semua buku-buku yang dipilih oleh guru tersebut. Dengan waktu yang ada, mereka dapat menyelesaikan bacaan tersebut dan siap untuk bertanding saat hari 'H' nya. Para juri ditentukan, misalnya kepala sekolah atau guru-guru lain, misalnya guru olah raga atau guru matematika. Pertandingan dihadiri oleh para siswa lain dan guru tersebut mulai membacakan pertanyaan - pertanyaan seputar isi buku bacaan tadi. Kelompok yang dapat menjawab pertanyaan paling banyak, akan keluar sebagai pemenang.

            - Extreme Reading Competition/Kompetisi Membaca Ekstrim
            Sama seperti Kuiz Buku yang dilakukan jauh hari sebelum Perayaan Book     Week, kompetisi ini juga membutuhkan persiapan matang sebelumnya dan harus diketahui dan didampingi orang-tua. Dalam kompetisi ini, para siswa dapat mengirimkan foto mereka saat membaca dalam situasi yang tidak lazim, misalnya membaca di dahan pohon, di belalai gajah atau dekat harimau (saat berkunjung ke Taman Safari Indonesia, misalnya).  Foto yang dianggap paling ekstrim yang nantinya akan memenangkan kompetisi ini. Sekali lagi, kegiatan ini perlu dan harus didampingi oleh orang-tua.

- Book Bag and Book Mark Competitions/Kompetisi Desain buku            dan Pembatas Buku
Kompetisi lain dalam perayaan Book Week adalah mendesain gambar untuk dicetak di tas dan pembatas buku. Kompetisi ini dilakukan sebelum Book Week, dan sebelum hari 'H', para juri sudah memilih siapa pemenangnya. Untuk pemenang desain tas, pihak sekolah akan mencetak tas totte dengan desain ini kemudian dapat dijual di komunitas sekolah. Pemenang kompetisi pembatas buku dapat diumumkan gambarnya, jika dana memungkinkan dapat dicetak untuk dibagikan atau dijual.

            - Pameran di Perpustakaan
            Untuk mempromosikan perpustakaan dan buku kepada komunitas    sekolah, dalam perayaan Book Week, perpustakaan sekolah dapat menggelar pameran. Tema pameran dapat disesuaikan dengan kebutuhan   sekolah dan dapat didiskusikan dengan manajemen sekolah. Topik yang   ditentukan dapat dikaitkan dengan budaya lokal, atau dapat juga       dikaitkan dengan pembelajaran dan kegiatan ektrakurikuler sekolah.         Misalnya, Pameran Foto Hewan Indonesia. Fotografer yang bersangkutan      diminta untuk memamerkan hasil karyanya (serta kemungkinan untuk            penjualannya). Perpustakaan sekolah memajang buku-buku tentang             hewan-hewan Indonesia atau hasil karya siswa dalam bentuk lukisan atau     gambar, misalnya. Kemudian minta fotografer tersebut juga dapat             diminta untuk memberikan pelatihan fotografi bagi siswa jika memang          itu menjadi kegiatan ektrakurikuler sekolah tersebut.
           
Penutup
Menanamkan minat baca pada para siswa sebaiknya dilakukan dengan cara yang sederhana dan menyenangkan. Kerjasama pustakawan sekolah dengan manajemen sekolah, guru, orang-tua dan komunitas sekolah lainnya memegang peranan penting pada kesuksesan kegiatan ini. Kegiatan-kegiatan yang diungkapan di atas merupakan contoh yang dapat dikembangkan lebih jauh lagi sesuai dengan kondisi sekolah masing-masing.

Referensi:

  • BBC Four. Why Reading Matters. Video. 16 February 2009.
       Krashen, Stephen D.The Power of Reading:insights from the research.end ed. Westport: Libraries Unlimited.2004
       Madyawati, Lilis. Strategi Pengembangan Bahasa pada Anak. Jakarta: Premanadia, 2016
       Mary Lee Hahn. Reconsidering read-aloud. 2001.Ebook
       Ruttle, Kate.  Make the Most of reading. Warwickshire:Scholastic.2009
       Reading is Fundamental.http://www.rif.org/why-books-matter/Accessed on: 7/17/16 5:06 PM
       Sumber pribadi

 *Materi ini telah disampaikan pada acara Seminar kolaborasi Guru dan Pustakawan Sekolah  serta Pelantikan Pengurus Kabupaten/kota di BPAD Sumatra Utara pada tanggal 22 Juli 2016 dan Pelatihan Kolaborasi Guru dan Pustakawan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 10 Agustus, 2016 Jakarta.




No comments: