Wednesday, April 27, 2016

Literasi Informasi di Sekolah: Penerapan POLA LISA untuk Penyelesaian Karya Ilmiah Siswa Kelas 12

Literasi Informasi di Sekolah:
Penerapan POLA LISA untuk Penyelesaian
Karya Ilmiah Siswa Kelas 12

oleh Hanna C George - Latuputty

Seminar Nasional 'Literasi Informasi: 
Keberlangsungannya dari Sekolah sampai dengan Perguruan Tinggi'. 
Dalam rangka Dies Natalis Universitas Negeri Yogyakarta ke-52. 
UPT UNY, 6 April 2016.
Yogyakarta

ABSTRAK
POLA LISA merupakan sebuah model penerapan literasi informasi sekolah menengah pertama Santa Angela, Bandung. Meskipun demikian, pola ini juga relevan bagi siswa yang harus menyelesaikan karya ilmiah sebagai tugas akhir mereka di sekolah menengah atas.
Tulisan ini akan membahas secara umum konsep literasi informasi di sekolah menengah atas serta implementasi POLA LISA untuk memudahkan penerapannya. Pustakawan sekolah akan mendapatkan gambaran utuh proses kegiatan belajar mengajar siswa dan kaitannya dengan program perpustakaan serta bagaimana langkah siswa dalam menyelesaikan karya ilmiahnya.

1. Definisi
            Ada banyak definisi yang dibuat oleh orang-orang yang berkecimpung dalam dunia akademisi, lembaga pendidikan ataupun asosiasi profesi pustakawan atau perpustakaan tentang apa itu literasi informasi. Dari beragam sumber dan definisi yang ada, penulis merumuskan literasi informasi sebagai seperangkat keterampilan untuk memecahkan masalah ataupun  membuat keputusan, baik untuk kepentingan akademisi ataupun pribadi, melalui proses pencarian, penemuan dan pemanfaatan informasi dari beragam sumber serta mengkomunikasikan pengetahuan baru ini dengan efisien, efektif dan beretika (George, 2012:10).  Dalam implementasi di sekolah-sekolah menengah atas, literasi informasi merupakan langkah-langkah terampil dalam menggunakan informasi untuk tugas penelitian sekolah atau karya ilmiah serta menuliskannya dengan efisien, efektif dan beretika.


Keterampilan yang diperlukan siswa dalam kegiatan berliterasi informasi ini mencakup:

1.1 Keterampilan membaca, termasuk membaca cepat, keterampilan untuk memahami kapan siswa perlu melakukan  scanning dan skimming. Keterampilan membaca ini tidak serta merta dapat langsung diperoleh siswa tanpa pembiasaan sejak dini.  Dengan demikian, kegemaran membaca atau kebiasaan membaca merupakan syarat mutlak bagi pengembangan keterampilan literasi informasi siswa di tingat sekolah menegah pertama maupun atas. Orang tua, guru dan pustakawan perlu sungguh-sungguh menciptakan suasana 'tidak bisa tidak membaca' bagi para siswa yang masih berada di tingkat PAUD maupun Sekolah Dasar.

1.2. Keterampilan menggunakan sumber-sumber informasi baik yang ada di perpustakaan sekolah maupun sumber informasi lainnya. Sumber-sumber informasi yang ada dalam perpustakaan sekolah, mencakup sumber-sumber non fiksi baik berupa buku maupun bentuk non buku lainnya, koleksi referensi, majalah, surat kabar, online database dan sebagainnya. Para siswa sejak dini sudah diperkenalkan bagaimana menggunakan sumber-sumber informasi ini. Selain, itu mereka juga perlu tahu bahwa informasi juga dapat diperoleh dari lingkungan sekitar mereka termasuk orang-orang yang terkait dalam subjek penelitian/ project maupun tulisan yang sedang dikerjakan.

1.3. Keterampilan memilih, memilah, memahami serta mengambil intisari isi tulisan dari sumber-sumber informasi yang digunakan. Lebih dari itu, para siswa juga perlu terampil dalam menyelaraskan pokok-pokok pikiran dari beragam sumber informasi yang diperolehnya untuk mencari jawaban atas pertanyaan penelitian. Hal ini juga penting untuk berargumentasi ataupun mencari fakta guna memperkuat argumentasi yang muncul sebagai ide orisinal siswa dengan efisien dan efektif. Kemampuan menyusun pokok pikiran juga merupakan keterampilan penting lainnya dalam konteks menuliskan hasil pemikiran atau jawaban atas permasalahan yang muncul sebagai pertanyaan penelitiannya.

1.4. Keterampilan menulis, khususnya menulis ilmiah. Biasanya keterampilan menulis menjadi bagian dari mata pelajaran Bahasa Indonesia.  Pihak perpustakaan dapat saja bekerja sama dengan guru pengampu kegiatan menulis ini untuk memastikan para siswa mengerti bagaimana tehnik menulis ilmiah.

1.5. Keterampilan menggunakan informasi secara beretika. Siswa perlu menyadari akan rambu-rambu etika dalam menggunakan informasi yang diperolehnya dari beragam sumber-sumber informasi yang diperolehnya. Keterampilan ini akan menghidari mereka dari ketidaktahuan akan praktik plagiarisme. Para siswa hendaknya memahami bagaimana mereka menggunakan sitasi tertentu dan menerapkannya secara konsisten. Beberapa contoh format gaya sitasi misalnya: APA (American Psychological Association), MLA (Modern Language Associtation), Chicago/Turabian dan sebagainya. Saat ini suda ada beberapa sarana di internet yang memungkinkan akses gratis untuk menuntun cara melakukan sitasi dari beragam sumber informasi secara cepat dan sangat menolong para siswa dalam melakukan kutipan maupun menuliskan referensi dari tulisan ilmiah mereka, misalnya www.easybib.com yang memungkinkan penggunaan format MLA secara gratis, atau www.bibme.org yang memberikan tuntunan cara melakukan sitasi dari gaya sitasi APA, MLA, Chicago/Turabian.

2. Langkah-langkah  Siswa dalam Berliterasi Informasi
Langkah literasi informasi bagi para siswa yang akan menulis karya ilmiah mencakup langkah-langkah sebagai berikut:

2.1. TUGAS/PERTANYAAN PENELITIAN
Bagi siswa yang akan menyelesaikan karya ilmiahnya, siklus pertama yaitu perumusan pertanyaan penelitian merupakan langkah awal yang penting sebelum penelitian dilakukan. Siswa perlu memahami apa yang menjadi pokok permasalahan dan menentukan cakupan pertanyaan penelitian secara tepat, tidak terlalu umum maupun tidak terlalu khusus.

2.2 PENCARIAN INFORMASI
Setelah mengetahui permasalahan atau pertanyaan penelitian, maka siswa perlu mengakses informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalahnya. Akses informasi dapat dilakukan dengan menggunakan internet melalui mesin pencari Google, misalnya atau ke situs perpustakaan yang memberikan akses online database secara gratis seperti Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas). Perpusnas memungkinkan anggotanya yang sudah memiliki nomor anggota untuk memanfaatkan layanan koleksi digital terpasang (e-resources) yang mereka langgan.  Selain itu siswa dapat menggunakan koleksi yan gada di perpustakaan sekolahnya, perpustakaan daerah atau propinsi serta jenis perpustakaan lain yang memungkinkan.

2.3. PENGUMPULAN INFORMASI
Dari akses informasi di atas, siswa kemudian akan mengumpulkan informasi yang diperlukan. Pengumpulan informasi ini dapat berasal dari berbagai sumber informasi yang berbeda-beda, misalnya dari buku, artikel surat kabar, artikel  jurnal ilmiah tercetak ataupun online, dokumen, wawancara dan sebagainya.  Mengumpulkan informasi ini berarti siswa menentukan informasi mana yang mereka perlukan dari beragam sumber informasi yang diperoleh. Proses pengumpulan informasi ini berarti menyaring informasi mana yang dianggap tepat dan mempunyai keterkaitan langsung baik itu sebagai sumber informasi primer, sekunder maupun tertier yang tepat untuk mendukung argumentasi atau temuan . jawaban atas pertanyaan penelitiannya.

2.4. PENYELARASAN INFORMASI
Informasi yang sudah dikumpulkan tadi, perlu diselaraskan untuk menghasilkan suatu pemahaman baru serta menjawab pertanyaan penelitian di awal siklus tasi. Dalam tahap ini, proses knowledge construction dari siswa terjadi. Siswa menyusun informasi yang diperolehnya bersamaan dengan membangun sebuah pengetahuan baru yang diperolehnya setelah ia menemukan jawaban atas pertanyaan penelitian tadi. Penyelarasan informasi berkaitan erat dengan penyampaian pokok-pokok pikiran yang runtut, logic dan teratur dalam membangun sebuah bentuk tulisan.

2.5. PEMANFAATAN INFORMASI
Pemanfaatan informasi merupakan wujud konkrit dari jawaban pertanyaan penelitian ataupun permasalahan. Bagi siswa, hal yang dilakukan untuk pemanfaatan informasi ini adalah menulis karya ilmiahnya. Proses ini dapat dilakukan bersamaan atau memulainya setelah proses penyelarasan informasi terjadi. Dalam proses ini,  etika siswa dalam menggunakan informasi perlu diperhatikan. Adalah lebih baik lagi jika, pada proses penyelarasan informasi, siswa sudah menyadari bahwa mereka sudah harus menuliskan sumber  darimana informasi yang dikumpulkan. Para siswa perlu memahami, misalnya, kapan mereka dapat mengutip utuh informasi atau kapan harus menulis ulang (to paraphrase) informasi yang diperoleh dari berbagai sumber informasi. Etika penggunaan informasi menolong para siswa untuk menghindari praktik plagiat. Mereka paham bahwa copy dan paste informasi yang diperoleh dari internet tanpa menyebut sumbernya, misalnya, tidak etis dan merupakan perbuatan tidak jujur. Hal ini sama sekali tidak mencerminkan integritas intelektual mereka.

Setelah penulisan karya ilmiah selesai, hal penting yang harus dilakukan juga adalah evaluasi oleh siswa sendiri maupun oleh guru dan teman-temannya. Evaluasi isi merupakan masukan yang diberikan oleh guru ataupun teman-temannya setelah siswa mempresentasikan hasil karyanya, jika memang ada kegiatan ini. Evaluasi proses merupakan evaluasi  kegiatan siswa tersebut mulai dari perumusan pertanyaan penelitian hingga tahap terakhir evaluasi isi. Dari sini, siswa mempunyai proses pembelajaran baru dan utuh. Apa yang diperolehnya dari proses awal hingga akhir termasuk pada pemecahan masalah atau jawaban atas pertanyaan penelitiannya akan tersimpan dalam 'perpustakaan pribadinya' serta akan dapat digunakan kembali sewaktu - waktu di masa yang akan datang, baik untuk keperluan pribadinya ataupun untuk orang lain.

 3. Contoh Program Literasi Informasi dengan POLA LISA


Dalam bagan POLA LISA terdapat tiga bagian besar yang mempunyai arti wilayah yang berbeda-beda. Ketiga wilayah itu mencakup:
3.1 Perpustakaan
Ini adalah program-program yang dikembangkan oleh perpustakaan bagi para siswa yang mencakup: library skills; membaca bebas; membuat sinopsis buku dan majalah; menonton film dan tehnik penelusuran internet.
3.2. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
Beragam mata pelajaran yang diajarkan siswa di sekolah berada pada wilayah ini, dan guru - guru mata pelajaran ini biasanya sering menggunakan perpustakaan sekolah dalam kegiatan pembelajaran mereka selain di kelas.
3.3. Langkah-langkah Literasi Informasi
Langkah-langkah ini sudah dijabarkan pada halaman sebelumnya, namun perlu dijelaskan di sini yaitu pencarian informasi yang menggunakan beragam sumber-sumber informasi yang ada di perpustakaan seperti majalah, buku, video maupun internet.

Program-program yang dilaksanakan oleh perpustakaan diharapkan menjadi keterampilan yang sudah dikuasai siswa. Dengan demikian, ketika para guru dalam KBM mengirimkan para siswanya ke perpustakaan untuk menyelesaikan sebah project  atau karya ilmiah dalam mata pelajaran apapun, para siswa dapat melewati langkah-langkah LI dengan dasar kemampuan dari program perpustakaan yang sudah diterima sebelumnya.


Figure 1: POLA LISA


4. Mengapa Literasi Informasi itu penting?

Lepas dari implementasi literasi informasi dalam konteks pembuatan karya ilmiah bagi siswa SMA, literasi informasi menjadi sebuah komponen penting setelah kegiatan gemar membaca didengungkan. Literasi informasi menjadi bagian yang selalu dikampanyekan dan dipromosikan oleh organisasi profesi pekerja profesional informasi sekolah dalam kaitan mendorong peranan perpustakaan sekolah.

Kegiatan literasi informasi menjadi penting karena ada beberapa faktor:

4.1. Meningkatkan pemahaman bacaaan (reading comprehension), kemampuan pembelajaran dan produk penelitian (Farmer & Henri, 2008).
Siswa yang selalu berinteraksi dengan informasi dalam proses pembelajarannya, secara tidak langsung akan mengasah kemampuan pemahaman bacaannya.  Pola literasi informasi jika dibiasakan pada siswa dalam proses pembelajarannya maka kemampuan pembelajaran siswa serta produk penelitiannya akan meningkat.

4.2. Siswa yang memperoleh keterampilan literasi informasi di sekolah menengah akan lebih sukses di pendidikan tinggi (Farmer & Henri, 2008).
Pembiasaan pada siswa dengan menerapkan siklus literasi informasi dapat dikatakan sebagai bekal mereka memasuki dunia pendidikan di perguruan tinggi. Pembelajaran mandiri di perguruan tinggi tidak lagi menjadi hal yang asing, baru atau menyulitkan bagi para siswa yang sudah terbiasa dengan literasi informasi.

4.3. Siswa yang memperoleh keterampilan literasi informasi diharapkan nantinya akan menjadi pembelajar seumur hidup

5. Strategi Penerapan  Program Literasi Informasi sebagai bagian Program Perpustakaan oleh Pustakawan Sekolah
Setelah memahami pentingnya implementasi literasi informasi bagi para siswa di SMA, pustakawan perlu mengembangkan strategi sebelum program ini benar-benar dapat diterapkan sebagai program perpustakaan.

5.1. Dukungan dari Kepala Sekolah
Pustakawan perlu membukakan konsep literasi informasi ini kepada kepala sekolah dan memastikan bahwa mereka mempunyai pemahaman yang sama dan menyadari pentingnya program literasi informasi sebagai bagian dari progam perpustakaan. Dukungan ini menjadi penting karena pada pelaksanaannya, ada hal-hal lain yang perlu dikembangkan oleh perpustakaan sekolah agar program literasi informasi ini berhasil. Pertama, koleksi yang nantinya akan perlu dikembangkan sesuai dengan mata pelajaran yang ada. Kedua, tidak semua guru melihat kegiatan ini penting. Jika kepala sekolah sudah menyetujui program ini serta memberi dukungan penuh pada pustakawan sekolah, tentunya ia dapat 'mengatur' para guru untuk terlibat dalam program ini. Ketiga, jika program ini berkembang, maka pustakawan sekolah akan memerlukan ˆpengembangan keprofesionalan  berkelanjutan (PKB). Terlebih yang menyangkut keterlibatan teknologi informasi. Harapannya, kepala sekolah akan memberi dukungan pada pustakawannya untuk melakukan PKB ini agar program literasi informasi dapat terus berkembang.

5.2. Kolaborasi pustakawan sekolah dan guru (Farmer & Henri, 2008)
Pustakawan dapat melakukan pendekatan personal ke guru-guru mata pelajaran tertentu untuk implemetasi literasi informasi. Hal ini dapat dilakukan jika pendekatan ke kepala sekolah agak terhambat. Intinya, perlu ada pengalaman sukses yang menguntungkan siswa dan guru melalui kegiatan literasi informasi ini. Harapannya, kesuksesan ini akan diketahui lebih banyak guru lagi untuk kemudian dapat 'dilaporkan' kepada kepala sekolah untuk mendapat dukungan dan ditindaklanjuti.

5.3. Strategi pendidikan literasi informasi

Bruce (1994) menyebutkan ada beberapa hal yang dapat dilakukan terkait dengan pendidikan literasi informasi ini seperti:

5.3.1. Mengintegrasikan komponen literasi informasi dalam kurikulum
5.3.2. Mengintegrasikan komponen literasi informasi dalam satu atau dua mata        pelajaran
5.3.3. Memperkenalkan mata pelajaran khusus aspek-aspek literasi informasi
5.3.4. Mengadakan seminar atau pelatihan penelitian
5.3.5. Mengadakan kegiatan ektrakurikuler literasi informasi bagi siswa yang                        diselenggarakan oleh perpustakaan

6. So, what next?

Hal apa yang diharapkan selanjutnya jika siswa sudah terbiasa dengan POLA LISA? Para siswa diharapkan menjadi pembelajar seumur hidup. Belajar bukan lagi sesuatu yang berat, melainkan menjadi gaya hidupnya ketika ia menghadapi berbagai persoalan baik di lingkungan akademisi maupun di lingkungan rumah dan masyarakat.  Gaya belajar yang sudah melekat pada siswa ini akan terus menjadi pola mereka dalam memecahkan masalah yang mereka hadapi maupun dalam membuat keputusan. Mereka menjadi siswa yang cerdas berinformasi dan kemudian dapat memenuhi amanah visi pendidikan yaitu menjadikan mereka pembelajar seumur hidup dan pada akhirnya akan menjadi warga negara yang bertanggungjawab.  Bagan Media and Information Literacy Concept yang dikembangkan dari konsep Media and Information Literacy oleh UNESCO dibawah ini akan memberikan gambaran utuh tentang bagaimana komponen literasi informasi dan literasi media mempunyai peranan penting dalam mewujudkan Pemerintahan yang Baik dan Demokrasi.

Figure 2: MIL Concept and Application Scheme

Rujukan:
Bruce, Christine. 1994. Information Literacy Blueprint. Melalui      http://www.griffith.edu.au/text/ins/training/computing/web/blueprint/conte            nt_blueprint.html [2/9/12]

Farmer,Lesley S.Jand Henri, James. 2008. Information Literacy Assessment in K-12 Setting. Maryland: Scarecrow Press. hlm 13 - 23

George, H. C. (2012). Literasi Informasi Perpustakaan Sekolah : Studi Kasus Penerapan Program Literasi Informasi di Perpustakaan Sekolah Santa Angela Bandung. Bandung : Universitas Padjadjaran,  pp. 10, 135-160.



3 comments:

Hanna Latuputty said...

Untuk Figure, bisa dilihat di tulisan di link ini: http://halatuputty.blogspot.co.id/2013/12/cerdas-di-era-informasi-penerapan.html#more
terima kasih

Sila email saya di: hanna@apisi.org
untuk artikel lengkapnya.

sanak said...

Bisakah saya dikirimkan tulisan ini dalam bentuk dokumen softcopy mba hana ?

hanna latuputty said...

dear Sanak, bisa, email says ya supaya bisa dikirim. Salam, Hanna