Wednesday, August 31, 2016

KOLABORASI GURU DAN PUSTAKAWAN DALAM MENINGKATKAN MINAT BACA SISWA DALAM GERAKAN LITERASI SEKOLAH

KOLABORASI GURU DAN PUSTAKAWAN
DALAM MENINGKATKAN MINAT BACA SISWA
DALAM GERAKAN LITERASI SEKOLAH*
oleh: Hanna Latuputty

Reading is not just a matter of life and death; it is much more important than that.
(Alan Gibbons-Author, Organizer & Campaign for the Book)

A. Pendahuluan
Kegiatan membaca merupakan sebuah isu yang tidak pernah terlepas dari sebuah perpustakaan sekolah. Pustakawan sekolah selalu berusaha untuk menanamkan kegiatan gemar dan cinta membaca bagi para siswa dan komunitas sekolahnya. Kerjasama dan dukungan dari pihak kepala sekolah dan manajemen serta komunitas sekolah di mana perpustakaan itu bernaung memegang peranan yang sangat penting pada implementasi kegiatan ini.

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan sebuah inisiatif pemerintah yang memerlukan dukungan perpustakaan sekolah dan pustakawannya. Pustakawan perlu terlibat secara langsung dalam Tim Literasi Sekolah untuk merencanakan berbagai kegiatan yang mendukung pengembangan budi pekerti siswa melalui kegiatan membaca.

Sebagai organisasi profesi, APISI mendukung dan memberi keleluasaan bagi para pustakawan sekolah untuk mengembangkan kegiatan yang berkaitan dengan buku dan kegiatan membaca untuk penanaman cinta dan budaya membaca di berbagai kalangan. Penanaman gemar membaca perlu dilakukan sedini mungkin bagi anak-anak kita (bahkan ketika mereka masih bayi) sehingga ketika pada tingkatan sekolah menengah, para siswa ini akan siap untuk menerima keterampilan literasi informasi lebih dalam lagi. Literasi informasi yaitu seperangkat keterampilan untuk memecahkan masalah ataupun untuk membuat keputusan, baik untuk kepentingan akademisi ataupun pribadi, melalui proses pencarian, penemuan dan pemanfaatan informasi dari beragam sumber serta mengkomunikasikan pengetahuan baru ini dengan efisien, efektif dan beretika (George, 2012). Untuk itu, keterampilan membaca merupakan landasan dari literasi informasi yang dapat dilaksanakan secara terencana dan terprogram sejak usia dini. Tulisan ini mencakup gambaran umum tentang GLS, konsep dasar mengapa membaca itu penting serta beragam contoh kegiatan yang dapat dilakukan di sekolah dengan keterlibatan perpustakaan sekolah.

Thursday, May 05, 2016

Bacaan Remaja: Seperti Apa?

Bertepatan dengan Hari Buku Dunia tanggal 23 April 2016, APISI bekerja sama dengan Sekolah Bhakti Mulia (BM) 400, Gagas Media dan Paperback menggelar acara Sarasehan Pustakawan  Sekolah dan Orang tua bertempat di Aula SMP Bakti Mulia 400 di Jakarta Selatan. Pada kesempatan ini, Direktur Utama Gagas Media Jeffri Fernando dan salah satu penulis penerbit Gagas Media, Orizuka tampil sebagai narasumber dengan moderator Om Em (Mahmudin Muhayar).

Ki-ka: Jeffri Fernando, Om Em dan Orizuka

REMAJA DAN BUKU

Pak Jeffri membuka sesi panel ini dengan beberapa pendekatan publikasi buku-buku remaja yang juga didasarkan pada data-data. Gagas Media mengkategorikan remaja pada usia 13 hungga 18 tahun dan diperkirakan ada 65 juta remaja di Indonesia, yang saat ini berpenduduk sekitar 250 jiwa.  Tehnologi komunikasi yang mengakomodasi kegiatan sosial remaja dalam beragam medianya ternyata memegang peranan pada alasan remaja membeli buku.  Menurut Jeffri, remaja cenderung membeli buku karena keaktifan mereka di media sosial yang saling memberikan pengaruh satu sama lain. Mereka juga cenderung membeli buku karena konteks sosial maupun emosional seperti ingin didengar, ingin dihargai dan diperlakukan seperti orang dewasa. Di sisi lain, mereka adalah mahluk yang cepat bosan serta 2/3 keputusan pembelian buku berdasarkan masukan teman atau idola mereka. Bagaimana dengan peranan orang tua dalam konteks pembelian buku remaja? Ternyata remaja mempunya pengaruh terhadap orang tua untuk membelikan mereka buku bacaan.


Wednesday, April 27, 2016

Literasi Informasi di Sekolah: Penerapan POLA LISA untuk Penyelesaian Karya Ilmiah Siswa Kelas 12

Literasi Informasi di Sekolah:
Penerapan POLA LISA untuk Penyelesaian
Karya Ilmiah Siswa Kelas 12

oleh Hanna C George - Latuputty

Seminar Nasional 'Literasi Informasi: 
Keberlangsungannya dari Sekolah sampai dengan Perguruan Tinggi'. 
Dalam rangka Dies Natalis Universitas Negeri Yogyakarta ke-52. 
UPT UNY, 6 April 2016.
Yogyakarta

ABSTRAK
POLA LISA merupakan sebuah model penerapan literasi informasi sekolah menengah pertama Santa Angela, Bandung. Meskipun demikian, pola ini juga relevan bagi siswa yang harus menyelesaikan karya ilmiah sebagai tugas akhir mereka di sekolah menengah atas.
Tulisan ini akan membahas secara umum konsep literasi informasi di sekolah menengah atas serta implementasi POLA LISA untuk memudahkan penerapannya. Pustakawan sekolah akan mendapatkan gambaran utuh proses kegiatan belajar mengajar siswa dan kaitannya dengan program perpustakaan serta bagaimana langkah siswa dalam menyelesaikan karya ilmiahnya.

1. Definisi
            Ada banyak definisi yang dibuat oleh orang-orang yang berkecimpung dalam dunia akademisi, lembaga pendidikan ataupun asosiasi profesi pustakawan atau perpustakaan tentang apa itu literasi informasi. Dari beragam sumber dan definisi yang ada, penulis merumuskan literasi informasi sebagai seperangkat keterampilan untuk memecahkan masalah ataupun  membuat keputusan, baik untuk kepentingan akademisi ataupun pribadi, melalui proses pencarian, penemuan dan pemanfaatan informasi dari beragam sumber serta mengkomunikasikan pengetahuan baru ini dengan efisien, efektif dan beretika (George, 2012:10).  Dalam implementasi di sekolah-sekolah menengah atas, literasi informasi merupakan langkah-langkah terampil dalam menggunakan informasi untuk tugas penelitian sekolah atau karya ilmiah serta menuliskannya dengan efisien, efektif dan beretika.