Tuesday, April 10, 2012


PETISI

Hentikan Tradisi Kebijakan

Penempatan Pegawai Bermasalah di Perpustakaan





Untuk kedua kalinya, citra perpustakaan sekolah diperburuk oleh kebijakan penempatan guru bermasalah di perpustakaan sekolah. Kasus terbaru di SMPN 26 Purworejo seperti yang diberitakan oleh Harian Suara Merdeka, 18 Maret 2012 dengan judul “Guru Pemukul Siswa Dibebastugaskan Mengajar”. Dalam berita tersebut Kepala Dinas P dan K Kabupaten Purworejo, menyatakan bahwa guru berinisial Ar yang melakukan penganiayaan terhadap siswa SMPN 26 Purworejo untuk sementara dibebastugaskan dari mengajar dan untuk sementara menjadi petugas perpustakaan. Tahun 2009, kasus yang sama terjadi di SMP Negeri 79 Jakarta, seperti yang dimuat di Koran Tempo pada tanggal 19 Januari 2009 dengan judul “Guru Penganiaya Siswa Dipindah Tugas”.

Menyikapi kasus-kasus tersebut di atas, kami dari berbagai asosiasi pustakawan, lembaga-lembaga pendidikan Ilmu Perpustakaan & Informasi, lembaga-lembaga Perpustakaan Umum, Perpustakaan Sekolah, Perpustakaan Perguruan Tinggi, dan Perpustakaan Khusus dari berbagai daerah di Indonesia serta pustakawan-pustakawan dari berbagai penjuru Nusantara bersama Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia (APISI) sebagai lembaga pengembangan kepustakawan sekolah Indonesia menyampaikan keberatan terhadap kebijakan-kebijakan penempatan pegawai bermasalah di perpustakaan karena telah memberi citra buruk bagi perpustakaan sekolah sebagai tempat penghukuman.

Kebijakan-kebijakan penempatan pegawai bermasalah di perpustakaan merupakan bentuk kurang pahamnya para pengambil kebijakan di instansi-instansi yang mengelola bidang pendidikan tentang fungsi perpustakaan sekolah serta standar perpustakaan sekolah sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 25 Tahun 2008. Kasus ini, selain memberi citra buruk terhadap perpustakaan sekolah juga merupakan pelecehan terhadap profesi pustakawan.

Kami dari berbagai asosiasi pustakawan, lembaga-lembaga pendidikan Ilmu Perpustakaan & Informasi, lembaga-lembaga Perpustakaan Umum, Perpustakaan Sekolah, Perpustakaan Perguruan Tinggi, dan Perpustakaan Khusus dari berbagai daerah di Indonesia serta pustakawan-pustakawan dari berbagai penjuru Nusantara bersama APISI berharap di masa mendatang kasus-kasus serupa tidak terjadi lagi di sekolah-sekolah lain serta di semua jenis perpustakaan di Indonesia.

Secara tegas kami menyatakan:

“Hentikan tradisi kebijakan penempatan pegawai bermasalah di perpustakaan!”



Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia (APISI)

Alamat Sekretariat APISI 

Jl. Dahlia No. 355A Rt 007/15 Serua Ciputat 15414 

Telepon: 021- 94326925; 021-818155374; Faks: 021-746 37 522 

Email: kotaksurat@apisi.org




Solidaritas Pustakawan Tolak Penempatan Pegawai Bermasalah di Perpustakaan

Ahmad Subhan 081 227 1955 77

lempoxe@yahoo.com




Petisi ini didukung oleh:


Wednesday, March 28, 2012

STOP PELECEHAN PROFESI PUSTAKAWAN SEKOLAH: TANGGAPAN TERHADAP KASUS GURU BERMASALAH YANG DIALIHTUGASKAN KE PERPUSTAKAAN

Adalah AR seorang guru bahasa Jawa yang dibebastugaskan mengajar karena memukul siswa. Guru dari SMPN 26 Purworejo ini kemudian menjadi petugas perpustakaan karena menurut Kepala Dinas P dan K Kabupaten Purworejo Drs Bambang Aryawan MM, agar yang bersangkutan bisa introspeksi diri. (Suara Merdeka 18 Maret 2012).

Kasus serupa sebelumnya juga pernah terjadi di Jakarta. Seorang guru berinisial PS, dikenai sangsi kedinasan dan oleh Eston Rimon Nainggolan, Wakil Kepala Sekolah Negeri 79, PS dipindahtugaskan menjadi pengelola perpustakaan sekolah dengan pertimbangan agar tidak berhubungan langsung dengan siswa. (Koran Tempo, 19 Januari 2009).

Dua kasus diatas menunjukkan adanya ketidakpahaman dari pemangku jabatan pendidikan sekolah tentang peran penting perpustakaan sekolah dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah dan tugas tanggung jawab profesional seorang pengelola perpustakaan sekolah. Perpustakaan sekolah bukanlah sebuah penjara sebagai tempat hukuman bagi orang yang bersalah untuk introspeksi diri. Perpustakaan juga bukan merupakan gudang penyimpan buku jika tidak ada siswa yang memanfaatkan keberadaannya.

Perpustakaan sekolah adalah unit terintegrasi dari sekolah induk yang mendukung kegiatan belajar mengajar dan kurikulum sekolah. Perpustakaan sekolah mempunyai beragam koleksi sumber-sumber informasi tercetak dan non cetak. Perpustakaan sekolah mengakomodasi bahan pustaka yang terus berkembang dan terjaga kekiniannya. Hal yang penting adalah perpustakaan dikelola oleh seorang pustakawan profesional.

Pustakawan profesional adalah ia yang memiliki latar belakang pendidikan ilmu perpustakaan dan informasi yang diperoleh lewat pendidikan formal di universitas.
Pustakawan profesional mempunyai tanggung jawab untuk memastikan bahwa koleksi perpustakaan yang ada sesuai dengan kebutuhan pembelajaran dan rekreasi para pemakainya. Ia juga mengembangkan program-program yang berkaitan dengan pengembangan kegiatan gemar membaca dan pendidikan pembelajaran seumur hidup melalui program literasi informasi dan media. Dengan kolaborasi bersama para guru dan staf, pustakawan profesional mengembangkan program pendidikan seumur hidup pada siswa agar mereka menjadi pembelajar abad 21. American Assocation of School Librarian dalam dokumennya Standards for The 21st-Century Learner menyebutkan perpustakaan sekolah penting untuk pengembangan keterampilan pembelajaran. Karakteristik pembelajar di abad 21 ini adalah pembelajar mandiri (self-driven learner), mempunyai keterampilan melek informasi dan media (media and information literate person), pemikir kritis (critical thinker), berkolaborasi, bekerja sama dan berbagi, mempunyai kepekaan pada lingkungan sosial sekitarnya serta nantinya dapat berpartisipasi aktif sebagai warga negara yang bertanggung jawab dalam masyarakat yang berbasis informasi.

Peran dan fungsi sebuah perpustakaan sekolah dan peran profesional pengelolanya perlu digalakkan lagi keberadaannya. Masyarakat luas, orang tua, guru, pemangku jabatan penyelenggara sekolah perlu menyadari bahwa perpustakaan sekolah bukanlah penjara untuk orang yang bermasalah ataupun gudang buku tanpa ada siswa yang memanfaatkannya. Di Indonesia, hal ini tidak sesuai dengan UU Perpustakaan Pasal 23 yang menyebutkan bahwa “Setiap sekolah/madrasah menyelenggarakan perpustakaan yang memenuhi standar nasional perpustakaan dengan memperhatikan Standar Nasional Pendidikan. Hal ini juga bertentangan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 25 tahun 2008 yang didalamnya mengupas tentang Standar Tenaga Perpustakaan Sekolah/Madrasah yang mencakup kompetensi manajerial, pengelolaan informasi, kependidikan, kepribadian, sosial dan pengembangan profesi.

Perjalanan kepada kesadaran penuh akan peran dan fungsi perpustakaan nampaknya masih panjang dengan adanya dua kasus di atas. Namun pemidahtugasan guru bermasalah ke perpustakaan sekolah sebagai tempat buangan dan pengasingan, harus dihentikan.

Bacaan terkait:

Surat Protes Atas Kebijakan Yang Memberi Citra Buruk Perpustakaan Sekolah (APISI)

Thursday, January 19, 2012

Pendidikan Pemakai Perpustakaan Kelas 7

Untuk pendidikan pemakai perpustakaan siswa Year 7, kali ini saya menggunakan metode Cephalonian. Sebelumnya saya pernah menggunakan Treasure Hunt yang sebetulnya lebih banyak menggunakan unsur-unsur permainan dan sesi ceramah, seperti yang sudah saya lakukan untuk Year 12. Metode ini sudah saya ketahui sejak lama, baru kali ini saya memutuskan untuk mencoba menerapkannya.

Metode Cephalonian adalah tehnik untuk menyampaikan sesi induction ke audience yang besar dengan menggunakan bauran pertanyaan yang interaktif, warna dan lagu. Metode ini dikembangkan oleh Nigel Morgan dan Linda Davies (2004) di Universitas Cardiff dan sebetulnya juga mengadopsi tehnik yang digunakan saat sesi penyambutan dari sebuah paket liburan di Cephalonia, Yunani. Metode ini menggunakan pertanyaan - pertanyaan yang memicu partisipasi peserta (Blanchet:2012, hal 165).

Persiapan

Persiapan pertama adalah menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang nantinya akan di ambil oleh siswa. Saya mencoba mengelompokkan pertanyaan-pertanyaan itu ke dalam lima kategori yaitu:
1. Kategori 1 - Kenali Perpustakaanmu, yang memuat tiga pertanyaan
2. Kategori 2 - Aturan Perpustakaan, yang memuat empat pertanyaan
3. Kategori 3 - Koleksi Perpustakaan, yang memuat empat pertanyaan
4. Kategori 4 - OPAC, yang memuat empat pertanyaan
5. Kategori 5 - Fasilitas Perpustakaan, yang memuat tiga pertanyaan

Dari kategori ini, pertanyaan pertanyaan tadi di masukkan dalam amplom warna. Misalnya, untuk Kategori 1, pertanyaan dan amplopnya berwarna biru. Pertanyaan=pertanyaan kategori 2 berwarna merah jambu (the boys hate it when they got it), kategori 3 berwarna hijau, kategori 4 berwarna oranye dan kategori 5 berwarna merah.

Ini dia lima kertas warna warni yang memuat pertanyaan pertanyaan yang sudah digunting dan dimasukkan ke dalam amplop.



Persiapan kedua adalah menyiapkan slide show di powerpoint sebagai jawaban untuk masing-masing pertanyaan tadi. Warna background dari slide juga disesuaikan dengan warna kategori tadi. Dengan adanya 18 pertanyaan, maka dibuatlah 18 slide jawaban.

Nah misalkan ada siswa yang mendapat pertanyaan dalam amplop merah jambu yang isinya: How many books can I borrow? maka saya akan membuka slide yang berisi jawaban dari pertanyaan itu.



Demikian seterusnya. Itu sebabnya penting membuat panduan pertanyaan dan menuliskan slide ke -berapa jawaban dari pertanyaan itu.

The D day

Saat kelas dimulai, para siswa sebanyak 13 orang diberitahu bahwa sesi kali ini adalah tentang pengenalan perpustakaan, dan mereka diminta untuk mengambil satu amplop, tanpa boleh memilih, dari dalam tas yang berisi kumpulan amplop-amplop pertanyaan tadi.

Pembahasan dimulai dengan menyebut warna tertentu untuk memulai sesi. Mereka berebut menyebut warna amplop mereka masing-masing. Satu warna kategori dengan beberapa pertanyaannya di selesaikan sebelum pindah ke rangkaian pertanyaan dari warna lain, demikian selanjutnya.

Kadang, slide tidak sempat dimunculkan karena para siswa sudah terlebih dahulu menjawab pertanyaannya. Jadi memang perlu satu staf yang bertugas mencari slide jawaban untuk ditampilkan, sehingga kelas tidak perlu menunggu saya untuk mencari slide jawaban, meskipun sudah disiapkan nomor slidenya untuk memudahkan pencarian.



Delapan belas pertanyaan selesai dalam 45 menit. 15 menit sisanya, digunakan untuk mereka latihan menggunakan OPAC dan online database untuk mencari informasi terkait dari buku yang sedang mereka baca yang dituntun oleh guru mereka. Dengan demikian, kolaborasi terjalin nyata, dan sang guru mencoba untuk menghubungkan sesi induction yang sudah disampaikan dengan apa yang sedang mereka pelajari. Sayangnya, jaringan wifi sekolah agak sedikit terganggu sehingga link ke OPAC tidak bekerja dengan baik.

Sesi interaktif memang terjalin, dan meskipun menggunakan pertanyaan-pertanyaan penuntun, saat membahas jawabannya, tidak menutup kesempatan untuk mendiskusikan topik terkait.

Bacaan:
Blanchet, Helen; Powis, Chris; Webb, Jo. 2012. A Guide to Teaching Information Literacy: 101 practical tips. London: FAcet Publishing. Hal. 165-166

Monday, January 09, 2012

mencintaimu dengan sederhana

Aku mau mencintaimu dengan sederhana

Seperti mentari yang menyinari bumi dan isinya tanpa bertanya mengapa ia harus melakukannya

Tanpa harus ia tahu apakah rumput, daun, tanah dan air itu memerlukannya

Aku mau mencintaimu dengan sederhana

Seperti air yang mengalir di sungai
yang menjalani hidupnya melalui lekukan batu, kayu, dinding tanah atau tapak kaki yang kadang menghalangi jalannya

Aku mau mencintaimu dengan sederhana

Seperti tanah yang tidak pernah tahu kapan ia dicangkul atau ditanam, dipupuk atau ditutupi bebatuan

Aku mau mencintaimu dengan sederhana

Seperti rembulan malam yang bersinar malu malu
Seolah ia tahu manusia sedang menikmati romantika sinarnya di kegelapan malam

Aku mau mencintaimu dengan sederhana....

Bintaro Januari 2012
-inspired by Sapardi Djoko Damono's “aku ingin mencintaimu dengan sederhana"