Tuesday, August 30, 2011

Marquerite Curtin: seniman berbakat yang tertarik dengan sejarah

Salah satu program Konferensi IASL di Jamaica yang saya hadiri bulan Agustus 2011lalu adalah Author Breakfast. Ini pengalaman pertama saya mengikuti program ini selama beberapa kali mengikuti konferensi internasional IASL. Bertempat di Mona Visitor's Lodge, yang masih berada dalam kampus University of West Indies, sebuah ruangan dengan beberapa meja bundar yang diatur dengan beberapa kursi disekitarnya yang telah tertata untuk jamuan makan pagi.

Ketika acara akan dimulai, peserta dipersilakan duduk, dan bebas memilih akan duduk di meja mana. Di tiap meja telah tertulis nama pengarang yang akan menemani sepanjang acara ini.

Saya memilih meja di tengah ruangan, dan duduk berdampingan dengan Ibu Marquerite Curtin. Sebelum acara dimulai saya sempat bincang-bincang singkat dengan beliau. Ibu Curtin tadinya adalah guru [ternyata, pengarang wanita yang hadir pagi itu, kebanyakan profesi asalnya adalah guru]. Selain itu, Ibu Curtin juga mempunyai talenta seni yaitu melukis. Kelebihan ini ia simpan secara pribadi, dan kemudian digunakan untuk merancang sampul muka buku-buku terbitannya.

Profesi guru ia tinggalkan untuk kemudian bekerja pada pemerintah di Kementerian Pendidikan Jamaica sebagai editor dan peneliti. Ia juga pernah menjabat sebagai Director of Culture, dan menghabiskan sekitar 6 tahun untuk keluar dari kota Kingston lalu menetap di St Lucy [Capitol Hanafor] dan bekerja di sebuah museum disana. Ketertarikannya pada sejarah berawal saat ia mulai bergelut menjadi arsiparis dan menemukan catatan-catatan historis yang mengagumkan saat ia bekerja di Parish Town. Akhirnya ia memutuskan untuk menulis sejarah bagi anak-anak.

Marquerite Curtin


Salah satu buku nya


beberapa judul bukunya dalam poster


Acarapun dimulai. Dr. C. Shelley-Robinson membuka acara ini dan mengundang salah satu rekannya untuk berdoa. Kemudian Dr Robinson memperkenalkan lima pengarang yang hadir saat itu. Sambil menikmati menu yang disediakan, salah satu pengarang, Mrs Patricia Cuff-storyteller dan pengarang, maju ke depan dan bercerita tentang salah satu cerita khas Jamaica, denga tokoh Anansi.

Bersama Ibu Patricia Cuff


Setelah itu, Mrs Diane Bown - pengarang buku untuk anak-anak, memberikan narasinya. Performance terakhir disajikan oleh Spicy Finger, performance poet.

Acara pun selesai, dan kami dipersilakan untuk melihat display hasil karya para pengarang yang hadir saat itu dan berbincang-bincang dengan mereka. Sayangnya, waktu yang pendek mengharuskan peserta untuk bergegas meninggalkan ruangan dan berjalan menuju tempat konferensi untuk acara seminar selanjutnya.

Oya, laporan makanannya ada di sini.

Wednesday, August 03, 2011

Literasi Media dan Informasi?

Pertanyaan di atas terus muncul di kepala saya saat saya mengikuti tiga hari, well, dua setengah hari tepatnya, workshop yang diadakan pada tanggal 26-28 Juli 2011 di Universitas Indonesia, Depok. Workshop yang bertajuk Pengenalan Kurikulum 'Literasi Media dan Informasi untuk Guru' ini diselenggarakan dengan dukungan penuh UNESCO dan bekerja sama dengan Yayasan Pengembang Media Anak (YPMA) dan Departemen Ilmu Komunikasi, FISIP, UI.Panitia menyediakan dua versi bahasa, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, buku yang berjudul Media and Information Literacy Curriculum for Teachers dan Literasi Media dan Informasi Kurikulum untuk Para Guru. Indonesia adalah negara pertama yang menyelenggarakan workshop untuk memberi masukan terhadap terbitan ini, bahkan menjadi negara pertama juga yang mempunyai versi bahasa nasional-nya. Salah satu penulis dari kumpulan modul ini yaitu Ramon Tuazon dari Filipina, menjadi pembicara kunci selama tiga hari workshop. Beliau memberi penjelasan tentang isi buku ini, khususnya modul-modul yang ada di dalamnya.

Selain Ramon, ada dua nara sumber dari Indonesia di hari kedua, yaitu Ibu Utami Hariyadi, dosen dari Departemen Ilmu Perpustakaan, FIB, UI dan Bapak B.Guntarto, ketua YPMA. Ibu Utami mengupas topik literasi informasi, yang juga merupakan salah satu mata kuliah di Departemen Ilmu Perpustakaan. Pak Guntarto mengangkat isu dampak negatif media, khususnya televisi, terhadap pertumbuhan anak-anak. Salah satu tayangan televisi yang ditayangkan dalam sesi beliau adalah anak-anak yang menjadi korban temannya akibat bermain smack down . Isu tayangan acara ini pernah muncul beberapa waktu lalu sampai akhirnya tayangan ini dilarang di Indonesia.

Peserta yang berjumlah kurang lebih empat puluh orang, dibagi menjadi tiga kelompok diskusi untuk membicarakan topik-topik dari buku kurikulum ini. Kebanyakan peserta adalah guru, staf YPMA, beberapa dosen dari Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI, Prodi Teknologi Pendidikan FIP UNJ, Subdit Pembelajaran Direktorat Pembinaan SMP, PGRI, Dinas Pendidikan Pemprov DKI Jakarta, dan dua orang pustakawan [Pak Arsidi dari Yogyakarta dan saya sendiri yang juga mewakili APISI]. Setelah diskusi yang dituntun oleh pertanyaan yang sudah disiapkan panitia,setiap kelompok diberi kesempatan untuk menyajikan hasil diskusi kelompoknya. Saat tanya jawab dalam sesi inilah para peserta memberi masukan terhadap modul-modul yang menjadi pembahasan kelompok.

Saya masuk dalam kelompok 2 yang mendiskusikan Modul 4, 5 dan 6. Kelompok kami cukup aktif dan sepakat untuk mengubah urutan ke-tiga modul tersebut menjadi Modul 6 [New and Traditional Media], Modul 4 [Languages in Media and Information] and Module 5 [Advertising]. Kelompok kami melihat bahwa buku kurikulum ini sulit dipahami terutama istilah-istilahnya dan mengusulkan agar pemberian materi dalam kurikulum ini diberi jenjang, misalnya jenjang Dasar untuk konsep dasar yang menyeluruh serta jenjang Lanjutan yang memberi kesempatan aplikasi pemanfaatan media lebih jauh lagi. Timbul juga pertanyaan, kepada siapa kurikulum ini tertuju?

Berikut adalah komentar pribadi saya tentang acara ini.

Pertama:
Setelah sekian tahun berkecimpung dalam promosi literasi informasi, saya melihat bahwa kurikulum ini jauh lebih tepat disebut sebagai Media Literacy Curriculum for Teachers karena hampir seluruh modul membicarakan tentang media sementara pembahasan literasi informasi tidak dibahas lebih dalam lagi di beberapa modul yang ada, misalnya modul 8 dan sedikit di module 1. Untuk diketahui, daftar isi dari buku kurikulum ini adalah sebagai berikut:

Part 1: Curruculum and Competency Framework
Part 2: Core and Non-Core Modules, secara garis besarnya yaitu:
* Module 1: Understanding Media and Information Literacy: an orientation
* Module 2: Understanding The News, Media and Information Ethics
* Module 3: Representation in Media and Information
* Module 4: Languages in Media and Information
* Module 5: Advertising
* Module 6: New and Traditional Media
* Module 7: Internet Opportunities and Challenges
* Module 8: Information Literacy and Libray Skills
* Module 9: Communication, MIL and Learning A Capstone Module
Non core Modules:
* Module 10: Audience
* Module 11: Media, Technology and The Global Village
* Module 3 Unit 5: Digital Editing and Computer
* Module 4 Unit 4: Camera shots and angles-conveying meaning
* Module 5 Unit 5: Transnational Advertising and 'Superbrands'


Kedua:
Saya mencoba memahami 'good will' dari UNESCO untuk mengkombinasikan literasi media dan informasi sebagai sebuah gerakan baru. Namun saya melihat adanya kerancuan makna dari dua topik yang berusaha disandingkan bersama ini, apalagi kurikulum yang ada kebanyakan adalah modul-modul media literasi.

Ketiga:
Hal yang mengganjal saya selama tiga hari di workshop ini membuat saya ingin mengangkat perbedaan dari kedua literasi ini.

Literasi informasi:
- diawali oleh adanya sebuah masalah yang harus dipecahkan, diikuti serangkaian keterampilan pemanfaatan informasi dengan beretika, kemampuan untuk membagikannya, mengevaluasi proses serta isi nya dan mengambil makna dari keseluruhannya.
- seseorang bergerak dengan maksud dalam proses berinteraksi dengan informasi. Hal ini tentu saja berimbas saat ia menggunakan media dalam penelusuran informasi yang ia cari
- pemecahan masalah ini dapat terjadi dalam situasi formal akademik maupun non-formal dalam kehidupan sehari hari
- seseorang hendaknya memiliki keterampilan ber-literasi media, komputer, budaya, perpustakaan dan literasi pendukung lainnya dalam proses pemecahan masalah tadi.

Literasi media:
- seseorang tidak harus berangkat dengan sebuah masalah yang harus ia pecahkan saat ia berinteraksi dengan media
- seseorang perlu menjadi media literate person saat ia menerima informasi yang disampaikan oleh beragam media, baik itu media tradisional maupun media baru
- seseorang, khususnya anak-anak, perlu diajarkan menjadi seorang media literate-person agar terhindar dari efek negatif yang ditimbulkan dari informasi yang dihantar oleh beragam media ini
- seseorang bisa saja menerima dampak informasi yang ia terima dengan tidak sengaja, dan itu akan berdampak pada perkembangan karakter pada anak khususnya

Jadi, literasi informasi memperlengkapi siswa dalam keterampilan untuk menjadi pembelajar seumur hidup dan mandiri sedangkan media literasi lebih condong kepada pendidikan karakter pada anak-anak dan bagi orang dewasa, menjadi salah satu persyaratan untuk menjadi information literate person.

Kesamaan keduanya adalah: keduanya perlu diajarkan sedini mungkin sejak anak-anak, karena keduanya akan menolong mereka untuk berpikir kritis dan mandiri.

Lepas dari itu semua, saya menyambut baik inisiatif UNESCO, YPMA dan Departemen Ilmu Komunikasi UI dalam penyelenggaraan workshop ini. Saya melihat hal ini membawa kontribusi besar dalam pendidikan di Indonesia.

Peserta dan Panitia saat berkunjung ke Perpustakaan UI, Depok