Thursday, March 11, 2010

Perpustakaan Sekolah: masih diperlukankah?

Pada hari Selasa lalu, saya diberi kesempatan untuk menyampaikan sebuah sesi tentang berbagi pengalaman atau best practice tentang penerapan teknologi informasi dan komunikasi di sekolah tempat saya bekerja, ke hadapan sekitar seratus enam puluh kepala sekolah dan pustakawan sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional se Indonesia.

Acara yang bertajuk Workshop/Temu Ilmiah E-Literacy bagi Kepala Sekolah dan Tenaga Perpustakaan di Sekolah RSBI ini diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan RI.

Meski saya dijadwalkan pukul 20.30, tapi dengan penuh sukacita saya hampiri Hotel Grand Jaya Raya, Cipayung Puncak, Bogor. Pada pembukaan sesi, saya sampaikan bahwa kesempatan ini merupakan kesempatan berbahagia saya bisa menjumpai mereka, mengingat, pada tahun 2005, saat APISI menyelenggarakan Seminar Literasi Informasi bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional, hanya dua kepala sekolah di Jakarta yang menghadiri acara itu dari seratus undangan yang disebarkan. Benar-benar tidak mudah untuk menghadirkan kepala sekolah dalam sebuah seminar perpustakaan sekolah.

Kesempatan ini saya sampaikan kepada mereka secara singkat tentang pentingnya peran perpustakaan sekolah dalam menjadikan anak-anak pembelajar seumur hidup. Saya juga menyinggung pada mereka, untuk memberi perhatian ekstra kepada perpustakaan sekolah, sebelum akhirnya saya berbagi pengalaman dengan mereka.

Apakah yang harus dibangun? Ruang Perpustakaan atau Perpustakaan
Pertanyaan ini disampaikan oleh salah satu peserta Kepala Sekolah dengan embel-embel ingin memberi pelajaran pada saya. Saya tidak menyangka kalau hasil omong-omong saya di awal sesi merupakan sebuah pelajaran 'tambahan'buat mereka. Hmmm..apakah saya bicara terlalu keras buat mereka ya?

Anyway, pertanyaan ini sangat bagus, dan strategis untuk semakin membuka wawasan para peserta. Saya tambahkan bahwa pertanyaan serupa, dipertanyakan oleh Business Director saat perencanaan pembangunan perpustakaan sekolah kami sedang dimulai. Ini pertanyaannya:

Mengapa perlu perpustakaan sekolah sementara saat ini perolehan informasi sudah sangat mudah didapat lewat internet?

Saya beranggapan, bahwa peran dan fungsi perpustakaan sekolah tidak akan pernah bisa terganti oleh teknologi secanggih apapun. Esensi pendidikan anak-anak tetap membutuhkan sebuah relasi antar manusia yang dibangun sejak anak-anak kita masih kecil. Dalam konteks literasi, pendampingan orang dewasa dalam pengajaran baca tulis hitung masih sangat dibutuhkan oleh mereka. Lebih lanjut, pengembangan minat baca dan bimbingan yang konsisten juga tetap dibutuhkan mereka dari orang tua di rumah dan guru di sekolah. Hingga kemudian keterampilan literasi mereka berkembang pada kebutuhan terhadap literasi komputer, literasi media, literasi budaya, literasi e-learning, sampai kepada keterampilan literasi informasi. Pendidikan keterampilan ini tetap perlu diupayakan oleh pendidik terhadap peserta didiknya, dan teknologi dapat dimanfaatkan untuk menunjang percepatan dan peningkatan perolehan akses informasi dan proses pembelajarannya.

Perilaku Generasi Web
Berkembangnya teknologi canggih saat ini ternyata telah membentuk profil generasi baru yang disebut dengan generasi web tau generasi google. Di dalam buku Information literacy meets Library 2.0 (2008), Peter Godwin mengungkapkan beberapa perilaku generasi ini sebagai berikut:

** generasi web/generasi google dengan mudah dan alamiah menggunakan teknologi dan informasi secara online
** generasi ini dapat mencari tahu sendiri tanpa menggunakan buku manual
** generasi ini berharap mendapatkan kepuasan seketika lewat penelusuran di Google atau Amazon
** generasi ini berpikir bahwa apa yang tertulis di web pasti benar
** generasi ini berperilaku cut and paste dari pada membaca dan mencerna informasi yang mereka peroleh
** generasi ini menyukai kolaborasi, kerjasama tim dan jaringan sosial
** generasi ini menginginkan agar database perpustakaan ada dalam Virtual Learning Environment (VLE) mereka atau dimanapun mereka ingin bekerja

Melihat pola perilaku ini, apakah kita dapat mengandalkan teknologi dalam pola pendidikan mereka? Mereka tetap membutuhkan seorang pendidik yang mendampingi mereka dalam proses mereka berinteraksi dengan informasi yang mereka butuhkan.

Sekali mereka mendapat dan menguasai ketrampilan literasi informasi, kelak keterampilan ini akan menjadi senjata mereka untuk menjadi orang-orang dewasa yang mandiri, bertanggung jawab atas setiap keputusan yang mereka buat serta mereka akan menjadi warga negara yang bertanggung jawab dimanapun mereka berada karena belajar telah menjadi gaya hidup mereka. Dan keterampilan literasi informasi ini mereka peroleh dari orang tua, guru, pustakawan sekolah saat mereka mengenyam pendidikan di jenjang pendidikan formal sejak SD hingga SMA, serta berlanjut ke Perguruan Tinggi.

Apakah perpustakaan sekolah masih diperlukan?