Monday, October 18, 2010

Mendampingi anak menjadi pembelajar seumur hidup

Dalam rangka memperingati Bulan Perpustakaan Sekolah Internasional, APISI mengadakan acara seminar yang bertajuk “Kolaborasi Sekolah, Perpustakaan, dan Keluarga dalam Pembelajaran di Era Informasi”. Masih bertautan dengan konsep literasi informasi yang menjadi topik utama promosi APISI, kali ini kami mendatangkan para pakar teknologi dan media literasi untuk disandingkan dengan para guru dan pustakawan dan peran masing-masingnya dalam keluarga. Para pembicara akan mendiskusikan bagaimana bentuk kolaborasi orang dewasa yaitu sebagai guru, pustakawan, orang tua dalam mendampingi proses pembelajaran anak di era informasi ini.

Dalam kesempatan ini, selaku orang tua dan juga pustakawan sekolah, saya diminta untuk membawakan topik yang berjudul “Peran Orang Dewasa Dalam Mendampingi Kegiatan Pembelajaran Anak di Era Informasi”. Secara spesifik, sub topik yang akan saya gali adalah penjabaran literasi informasi sebagai keterampilan yang dibutuhkan siswa dalam pembelajaran.di sekolah dan di rumah.

Siapa anak itu? Siapa orang dewasa itu?
Definisi anak menurut Pasal 1 Ayat 1 Undang Undang No. 23/2002 tentang perlindungan anak adalah: seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Dengan demikian, jika dijajarkan dalam level/tingkat pendidikan, anak adalah mereka yang berada di tingkat pra sekolah hingga kelas tiga SMA.

Orang dewasa disini adalah orang tua, guru dan pustakawan sekolah. Tak lepas tentu para wali orang tua, tante, om, oma, opa, kakak, sepupu dan peran lainnya bagi mereka yang berperan sebagai pendamping anak-anak baik itu di rumah, sekolah maupun lingkungan masyarakat dimana anak-anak berada.

Generasi web/google di era informasi
Komputer games, koneksi internet, hape, play station, sudah menjadi barang elektronik biasa bagi anak-anak jaman ini. Berbeda dengan jaman orang tua saat ini di masa kecil mereka, saat ini teknologi menjadi bagian yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Bersamaan dengan teknologi, maka arus informasi juga tak pelak bertubi tubi datang melalui setiap celah akses teknologi. Perolehan informasi bukan saja melulu datang lewat media tercetak, melainkan juga non cetak seperti televisi, radio, handphone, internet, dan sumber informasi lainnya. Dalam buku yang berjudul: Information Literacy meets Library 2.0 yang diedit oleh Peter Godwin dan Jo Parker, digambarkan bahwa perilaku generasi web terhadap teknologi, informasi serta perilaku sosial mereka dalah sebagai berikut:

Perilaku terhadap teknologi: generasi web akan dengan mudah dan alamiah dalam menggunakan teknologi dan informasi secara online. Mereka tidak membutuhkan manual dalam mengoperasikan suatu produk, tapi naluri mereka akan menuntun mereka dengan lihainya dan mereka akan dengan cepat menguasainya. Meskipun mereka tidak mempunyai ketertarikan dengan katalog perpustakaan, khususnya dalam pencarian melalui boolean logic, generasi ini menginginkan adanya database perpustakaan yang bisa diakses dimanapun mereka berada, termasuk dalam Virtual Learning Environment (VLE) mereka. Hal ini menjadi tantangan bagi pustakawan sekolah, bagaimana teknologi dapat menyederhanakan temu kembali informasi yang ada di dalam perpustakaan agar dapat diakses dengan mudah, cepat secara online.

Perilaku terhadap informasi: generas web yang menganggap segala informasi tersedia lewat internet denga akses cepat dan mudah juga berharap untuk mendapatkan kepuasan seketika saat mereka melakukan penelusuran di google ataupun amazon. Bahayanya lagi, mereka beranggapan bahwa perilaku cut and paste adalah cara perolehan informasi daripada membaca dan mencerna informasi yang mereka temukan untuk mendapatkan jawaban. Selain itu, karena mereka bekerja dengan microcontent yang hanya fokus seperti lagu, foto ataupun memposting blog, mereka cenderung tidak memperhatikan isu etika dari isi yang mereka gunakan. Bisa jadi hal ini disebabkan karena mereka tidak paham atau tidak acuh terhadap isu etika ini.

Apa yang dibutuhkan dalam menyikapi generasi web ini?
Hal yang urgent untuk membekali generasi web ini dalam berinteraksi dengan informasi adalah LITERASI INFORMASI. Literasi informasi adalah seperangkat keterampilan untuk memecahkan masalah, baik itu untuk kepentingan akademisi ataupun pribadi, termasuk lingkup tempat kerja, melalui poses pencarian, penemuan dan pemanfaatan informasi dari beragam sumber serta mengkomunikasikan pengetahuan baru ini dengan efisien, efektif dan beretika.

Hal yang berkaitan erat dengan etika yang menjadi isu saat ini adalah plagiarisme. Plagiarisme adalah ketika seseorang menggunakan ide orang lain dan tidak menuliskan sumber tersebut dan mengakuinya sebagai hasil karya sendiri, baik itu secara sengaja maupun tidak sengaja. Program keterampilan literasi informasi di perpustakaan yang dapat diterapkan dalam menyikapi isu ini adalah keterampilan untuk notetaking, skimming, scanning, paraphrasing, footnote dan bibliography.

Siap menjadi smart parents
Menjadi orang tua di era google saat ini memang susah susah gampang. Dikatakan gampang, karena untuk membantu anak mengerjakan tugas - tugas sekolahnya dalam mencari informasi hanya sejauh ke sebuah komputer dan koneksi internetnya. Tinggal mengetik kata kunci, apakah mau mencari informasi atau mencari gambar, tekan search, dan informasi yang kita inginkan pun akan muncul. Menjadi sulit karena ribuan informasi ini tetap harus diolah dan dipilih, mana yang tepat dan kredibel untuk digunakan sebagai acuan. Ini terjadi kalau anak-anak masih dalam tahap sekolah dasar. Apakah kita akan terus mendampinginya hingga mereka beranjak remaja atau dewasa? Tentu tidak bukan? Anak-anak kita perlu dibekali keterampilan literasi informasi sejak dini, agar mereka nantinya menjadi pembelajar seumur hidup yang mandiri dalam memecahkan masalah ataupun dalam membuat keputusan.

Agar kita bisa mendampingi anak – anak kita dalam proses belajar mereka menjadi pembelajar seumur hidup, maka kita juga perlu menjadi orang tua yang melek informasi. Bagaimana caranya? Beberapa hal berikut ini bisa kita coba:

1. belajar keterampilan literasi informasi. Keterampilan literasi informasi ini juga bermanfaat untuk kita sebagai orang tua dalam memecahkan persoalan kita sehari-hari
2. membiasakan diri menggunakan beragam sumber informasi untuk membantu kita memecahkan masalah mulai dari hal-hal yang remeh temeh seperti mau masak apa, membetulkan rumah (Do It Yourself), mau berlibur ke mana, memilih sekolah si anak atau memilih bentuk investasi apa yang menguntungkan dan cocok buat kita
3. penuhi rumah dengan buku dan membacalah. Contoh yang berbicara paling nyata bagi anak adalah model nyata orang tuanya
4. ajar anak untuk berpikir kritis, buka dialog dan upayakan untuk bertanya balik pada mereka
5. perlihatkan pada anak, proses pencarian informasi yang berkaitan dengan pertanyaan pertanyaan mereka. Toh tidak semua pertanyaan mereka dapat kita jawab bukan? Untuk itu, kita perlu buku, majalah, koran, internet dan sumber informasi lainnya yang membantu kita menjawab pertanyaan mereka

Peran perpustakaan sekolah dan pustakawannya
Di sekolah, perpustakaan sekolah juga memegang peranan penting dalam implementasi literasi informasi. Kolaborasi dengan para guru dalam penyampaian materi pembelajaran bisa menjadi metode jitu dalam mengajarkan keterampilan literasi informasi ini. Diskusi dengan para guru dan pembagian tugas mana yang dapat dilakukan oleh pustakawan dan guru menjadi model kolaborasi efektif bagi ke dua belah pihak.

Pustakawan juga perlu mengembangkan koleksi perpustakaannya secara reguler dan sesuai dengan kurikulum sekolahnya. Program perpustakaan yang berkaitan dengan kegiatan membaca dan program literasi informasi juga perlu dikembangkan. Membina kerja sama dan berjejaring dengan pustakawan sekolah lain serta melakukan pengembangan profesi yang regular juga perlu. Menjadi pustakawan sekolah yang melek informasi dan terus belajar serta terbuka terhadap kemajuan informasi dan teknologi dalam mengimbangi perkembangan jaman.

1.http://www.mastel.or.id/files/regulasi/UU_No._23_Tahun_2002_tentang_Perlindungan_Anak.pdf
2 Sumber AMOW: Plagiarims

Sunday, July 04, 2010

Life begins at 40?

Life begins at 40. Itu pernyataan yang keluar dari beberapa rekan saat memberi saya ucapan selamat ulangtahun. Yup, hari Jumat lalu, usia saya genap empat puluh.

Saya mengulangi lagi ucapan teman-teman.
Life begins at 40.

Kalau hidup ini baru mulai usia 40, hidup macam apa yang sudah saya lalui 39 tahun sebelumnya? Atau kalau dibalik, hidup macam apa yang akan dimulai pada usia 40.

Well..saya tidak ingin berpusing-pusing memperdebatkan 'hidup' sebelum dan sesudah angka 40 ini. Saat ini saya hanya ingin berkata pada diri sendiri-seperti yang sering saya katakan pada mereka yang merayakan ulang tahunnya- bahwa pertambahan usia adalah pertambahan angka. Umur adalah angka semata. Hal yang menjadikannya lebih dari sekadar angka adalah ketika kita memberinya makna. Makna ketika hidup itu lebih berarti bagi diri sendiri, orang lain dan kepada Tuhan.

Itu saja, rasanya...

Apa kegiatan hari bersejarah dengan torehan angka 40 ini?

Kartu dari Fia



Ket:
Untuk: Mama
Dari : Fia
Tentang: ULTAH

Happy 40 Birthday
MAMA



HAPPY BIRTHDAY MOM!
Happy birthday Mom! Selamat ulang tahun
yang ke 40. Semoga diumur 40 mama bisa:

- menjadi sukses [tambah]
- tidak pelor
- pada saat tua masih sehat
- bisa bermain dengan aku

from Fia
[gambar abstrak]


Makan malam dengan teman-teman APISI [setelah rapat eksekusi menentukan langkah APISI selanjutnya]


Cino, aku, Sulfan, om Amrin, Em, tante Eko, Dape


em yang lagi moto


kalo ini, penyerahan kado, bukan acara lamar melamar ya he..he.he..


ini kadonya....keliatan ngak?


Cino siap meracik dan sebelahnya siap memakannya...muantabb


seafooodd....

Terima kasih banyak buat semua yang sudah mengingat dan mengucapkan selamat serta yang menaikkan doa ulang tahun buat saya. Terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu disini. Kalian begitu istimewa.

Terima kasih untuk satu tahun
yang Kau berikan buatku ya Tuhan
ajarlah aku
menghitung hari ku sedemikan
agar aku memperoleh hati yang bijaksana
untuk melewati hari hariku ke depan
berkatilah orang-orang yang sudah memberiku
ucapan dan doa-doa mereka kepadaku
dihari yang istimewa ini
syukur kupanjatkan hanya bagiMu
AMIN


Hari ini terasa begitu indah dan istimewa...

[foto makan malam, courtesy to Em]

Friday, May 14, 2010

Keeping The Dream Alive (M√ľnchener Freiheit) - Danish TV

Inspiring song, still about the dream..:-)



Tonight the rain is falling
Full of memories of people and places
And while the past is calling
In my fantasy I remember their faces

The hopes we had were much too high
Way out of reach but we had to try
The game will never be over
Because we're keeping the dream alive

I hear myself recalling
Things you said to me
The night it all started
And still the rain is falling
Makes me feel the way
I felt when we parted

The hopes we had were much too high
Way out of reach but we have to try
No need to hide no need to run
'Cause all the answers come one by one
The game will never be over
Because we're keeping the dream alive

I need you
I love you

The game will never be over
Because we're keeping the dream alive

The hopes we had were much too high
Way out of reach but we had to try
No need to hide no need to run
'Cause all the answers come one by one

The hopes we had were much too high
Way out of reach but we had to try
No need to hide no need to run
'Cause all the answers come one by one

The game will never be over
Because we're keeping the dream alive

The game will never be over
Because we're keeping the dream alive

The game will never be over
(http://www.lyricsdownload.com/freiheit-keeping-the-dream-alive-lyrics.html)

Wednesday, April 28, 2010

Di Restoran

by Sapardi Djoko Damono

Kita berdua saja, duduk. Aku memesan
ilalang panjang dan bunga rumput -
kau entah memesan apa. Aku memesan
batu di tengah sungai terjal yang deras -

kau entah memesan apa. Tapi kita berdua
saja, duduk. Aku memesan rasa sakit
yang tak putus dan nyaring lengkingnya,
memesan rasa lapar yang asing itu

(1989)

Thursday, March 11, 2010

Perpustakaan Sekolah: masih diperlukankah?

Pada hari Selasa lalu, saya diberi kesempatan untuk menyampaikan sebuah sesi tentang berbagi pengalaman atau best practice tentang penerapan teknologi informasi dan komunikasi di sekolah tempat saya bekerja, ke hadapan sekitar seratus enam puluh kepala sekolah dan pustakawan sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional se Indonesia.

Acara yang bertajuk Workshop/Temu Ilmiah E-Literacy bagi Kepala Sekolah dan Tenaga Perpustakaan di Sekolah RSBI ini diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan RI.

Meski saya dijadwalkan pukul 20.30, tapi dengan penuh sukacita saya hampiri Hotel Grand Jaya Raya, Cipayung Puncak, Bogor. Pada pembukaan sesi, saya sampaikan bahwa kesempatan ini merupakan kesempatan berbahagia saya bisa menjumpai mereka, mengingat, pada tahun 2005, saat APISI menyelenggarakan Seminar Literasi Informasi bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional, hanya dua kepala sekolah di Jakarta yang menghadiri acara itu dari seratus undangan yang disebarkan. Benar-benar tidak mudah untuk menghadirkan kepala sekolah dalam sebuah seminar perpustakaan sekolah.

Kesempatan ini saya sampaikan kepada mereka secara singkat tentang pentingnya peran perpustakaan sekolah dalam menjadikan anak-anak pembelajar seumur hidup. Saya juga menyinggung pada mereka, untuk memberi perhatian ekstra kepada perpustakaan sekolah, sebelum akhirnya saya berbagi pengalaman dengan mereka.

Apakah yang harus dibangun? Ruang Perpustakaan atau Perpustakaan
Pertanyaan ini disampaikan oleh salah satu peserta Kepala Sekolah dengan embel-embel ingin memberi pelajaran pada saya. Saya tidak menyangka kalau hasil omong-omong saya di awal sesi merupakan sebuah pelajaran 'tambahan'buat mereka. Hmmm..apakah saya bicara terlalu keras buat mereka ya?

Anyway, pertanyaan ini sangat bagus, dan strategis untuk semakin membuka wawasan para peserta. Saya tambahkan bahwa pertanyaan serupa, dipertanyakan oleh Business Director saat perencanaan pembangunan perpustakaan sekolah kami sedang dimulai. Ini pertanyaannya:

Mengapa perlu perpustakaan sekolah sementara saat ini perolehan informasi sudah sangat mudah didapat lewat internet?

Saya beranggapan, bahwa peran dan fungsi perpustakaan sekolah tidak akan pernah bisa terganti oleh teknologi secanggih apapun. Esensi pendidikan anak-anak tetap membutuhkan sebuah relasi antar manusia yang dibangun sejak anak-anak kita masih kecil. Dalam konteks literasi, pendampingan orang dewasa dalam pengajaran baca tulis hitung masih sangat dibutuhkan oleh mereka. Lebih lanjut, pengembangan minat baca dan bimbingan yang konsisten juga tetap dibutuhkan mereka dari orang tua di rumah dan guru di sekolah. Hingga kemudian keterampilan literasi mereka berkembang pada kebutuhan terhadap literasi komputer, literasi media, literasi budaya, literasi e-learning, sampai kepada keterampilan literasi informasi. Pendidikan keterampilan ini tetap perlu diupayakan oleh pendidik terhadap peserta didiknya, dan teknologi dapat dimanfaatkan untuk menunjang percepatan dan peningkatan perolehan akses informasi dan proses pembelajarannya.

Perilaku Generasi Web
Berkembangnya teknologi canggih saat ini ternyata telah membentuk profil generasi baru yang disebut dengan generasi web tau generasi google. Di dalam buku Information literacy meets Library 2.0 (2008), Peter Godwin mengungkapkan beberapa perilaku generasi ini sebagai berikut:

** generasi web/generasi google dengan mudah dan alamiah menggunakan teknologi dan informasi secara online
** generasi ini dapat mencari tahu sendiri tanpa menggunakan buku manual
** generasi ini berharap mendapatkan kepuasan seketika lewat penelusuran di Google atau Amazon
** generasi ini berpikir bahwa apa yang tertulis di web pasti benar
** generasi ini berperilaku cut and paste dari pada membaca dan mencerna informasi yang mereka peroleh
** generasi ini menyukai kolaborasi, kerjasama tim dan jaringan sosial
** generasi ini menginginkan agar database perpustakaan ada dalam Virtual Learning Environment (VLE) mereka atau dimanapun mereka ingin bekerja

Melihat pola perilaku ini, apakah kita dapat mengandalkan teknologi dalam pola pendidikan mereka? Mereka tetap membutuhkan seorang pendidik yang mendampingi mereka dalam proses mereka berinteraksi dengan informasi yang mereka butuhkan.

Sekali mereka mendapat dan menguasai ketrampilan literasi informasi, kelak keterampilan ini akan menjadi senjata mereka untuk menjadi orang-orang dewasa yang mandiri, bertanggung jawab atas setiap keputusan yang mereka buat serta mereka akan menjadi warga negara yang bertanggung jawab dimanapun mereka berada karena belajar telah menjadi gaya hidup mereka. Dan keterampilan literasi informasi ini mereka peroleh dari orang tua, guru, pustakawan sekolah saat mereka mengenyam pendidikan di jenjang pendidikan formal sejak SD hingga SMA, serta berlanjut ke Perguruan Tinggi.

Apakah perpustakaan sekolah masih diperlukan?

Wednesday, February 03, 2010

Pustakawan sekolah, guru pustakawan, pekerja informasi professional...yang mana profesi anda?

Tulisan ini saya buat setelah saya selesai membuat bahan presentasi untuk sebuah acara talkshow yang diselenggarakan oleh Ikatan Pustakawan-Kota Bogor tanggal 6 Februari 2010. Panitia memberi saya judul topik Pustakawan Sekolah: sebuah pilihan profesi. Maka mulailah saya mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan topik ini hingga kemudian saya tersentak menyadari situasi kepustakawanan sekolah Indonesia saat ini.

Kepustakawan Sekolah di dunia sana dan di Indonesia
Adalah seorang pustakawan di Amerika Serikat yang hatinya begitu marah dan tersinggung saat Presiden Obama mengumumkan bahwa bajet untuk perpustakaan sekolah federal (semacam sekolah untuk masyarakat menengah ke bawah) dihapus dari anggaran FY2011. Pustakawan sekolah lainnya dari Northern California juga mengakui bahwa keterpurukan ekonomi Amerika Serikat telah menjadikan perpustakaan sekolah sebagai sasaran pengurangan anggaran. Celah masih ada karena Congress belum mengetuk palu persetujuan atas keputusan yang dibuat Presiden Obama. Lihat berita selengkapnya di sini.

Di Inggris, seorang pengarang buku terkenal Alan Gibbons memasukkan sebuah petisi yang ditandatangai sekitar 5,707 simpatisan kepada pemerintah Inggris untuk menerima prinsip bahwa perpustakaan sekolah dikelola oleh staf yang berkualifikasi, statuter dan meminta pemerintah untuk menyiapkan legislasi yang diperlukan dengan konsultasi dengan asosiasi profesional dan serikat pekerja. Petisi ini kemudian mendapat respons yang ternyata tidak begitu menggembirakan dari pihak pemerintah Inggris, yang menyatakan bahwa pengadaan perpustakaan sekolah tidak membutuhkan persyaratan statuter dan saat ini tidak ada rencana untuk mengadakan perubahan dan mengubah legislasi yang ada.(Lihat berita selengkapnya di sini)

Indonesia boleh sedikit berbangga dengan situasi yang berbeda dengan dua negara besar tersebut. Situasi kepustakawan di Indonesia justru sedang berada pada titik tinggal landas. Berawal dari Undang Undang RI no 43 tahun 2007 tentang perpustakaan, pada bagian ketiga yang menyorot Perpustakaan Sekolah/Madrasah diantaranya menyatakan di ayat 3 bahwa perpustakaan sekolah mengembangkan koleksi selain teks; di ayat 5 bahwa perpustakaan sekolah mengembangkan layanan berbasis TIK
dan di ayat 6 bahwa sekolah mengalokasikan dana 5% dari anggaran belanja operasional sekolah/madrasah diluar belanja pegawai dan belanja modal untuk pengembangan perpustakaan.

Dengan demikian keberadaan perpustakaan sekolah saat ini sudah mempunyai landasan hukum yang jelas. Peraturan Pemerintah yang mengatur soal UU ini diharapkan akan keluar tahun ini.

Lebih lanjut yang menyoroti titik terang dalam profesi pustakawan sekolah adalah dengan keluarnya Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 25 tahun 2008 tentang Tenaga Perpustakaan Sekolah. Permendiknas ini mengatur dua kualifikasi dan standard kompetensi jabatan kepala perpustakaan dan tenaga perpustakaan sekolah. Peraturan ini menjadi penting karena dikeluarkan oleh Kementrian Pendidikan Nasional yang memang bertanggung jawab mengatur tenaga pendidik dan kependidikan di Indonesia.

Sebuah instansi lain yaitu Perpustakaan Nasional RI juga telah berjuang dalam memposisikan profesi pustakawan yang terbukti dengan keluarnya Keputusan Menpan nomor 132/Kep/MENPAN/12.2002 tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka kreditnya. Tentu saja keputusan ini nantinya akan menciptakan jalur pengembangan karir berdasarkan prestasi yang dicapai oleh pustakawan. Dengan demikian pengelola perpustakaan sekolah dapat bekerja secara profesional yang berefek pada peningkatan kinerja perpustakaan sekolah.

Tenaga Perpustakaan Sekolah, Pustakawan Sekolah, Guru Pustakawan dan Pekerja Informasi Sekolah
Mari kita lihat fenomena profesi yang saya sebutkan diatas di Indonesia. Jika kita mencermati landasan hukum di atas, maka profesi yang dikenal oelh pemerintah adalah tenaga perpustakaan sekolah, bukan pustakawan sekolah, bukan guru pustakawan.

Lebih jauh lagi, mengapa sulit menyebut profesi yang mengurus kepustakawan sekolah ini dengan satu istilah saja, seperti pekerja informasi sekolah profesional, misalnya. Satu hal yang jelas adalah bahwa saat ini peran perpustakaan sekolah telah bergeser sangat tajam, dengan adanya beragam media yang menghantar informasi yang tak terukur dalam dunia di sekitar kita. Hal ini berdampak tentu saja pada sistem pendidikan sekolah, perkembangan pengetahuan, cara belajar mengajar disekolah, pendidikan di rumah, perkembangan kurikulum sekolah, peran perpustakaan sekolah dan pustakawan sekolah-nya. Itu sebabnya istilah pustakawan sekolah juga telah bergeser menjadi pekerja infomasi sekolah profesional. Bahwasanya, profesi ini tidak lagi berurusan pada benda-benda mati dalam perpustakaan, melainkan suatu benda yang bergerak dinamis yang dinamakan dengan informasi. Pekerja informasi sekolah profesional saat ini tidak saja mengurusi segala tetek bengek pengadaan, pengolah dan pelayanan sumber informasi, MELAINKAN berperan penting dalam mendidik pemakainya bagaimana mereka beriteraksi dan mendapatkan informasi yang otentik dan terpercaya. Tugas kompleks untuk membimbing siswa untuk bukan saja menjadi pandai, melainkan menanamkan gaya hidup belajar seumur hidup.

Pustakawan sekolah perlu menyadari bahwa tugas mulia menjadikan siswa menjadi pembelajar seumur hidup tidak semata-mata menjadi tugas dan bebannya sendiri. Pustakawan sekolah perlu untuk membuka wawasan dan terbuka pada mereka yang juga memiliki keahlian dan menjadi sumber informasi untuk mencapai tujuannya. Misalnya, mereka yang bergelut dalam dunia media, dapat memberi masukan tentang literasi media. Ataupun mereka yang bergerak dalam bidang dunia perbukuan, membutuhkan masukan dari pustakawan sumber-sumber informasi apa yang diperlukan bagi siswa sekolah dalam proses belajar mereka, atau bagaimana jumlah pengarang Indonesia dapat berlipat ganda dalam menghasilkan sumber-sumber informasi yang mengandung nilai-nilai lokal yang dikaitkan dalam mata pelajaran sekolah. Dengan demikian, untuk mencapai tujuan menjadikan siswa menjadi pembelajar seumur hidup, pustakawan sekolah perlu mengajak unsur-unsur terkait. Inilah yang menjadi landasan APISI yang saat pertama pembentukannya menyadari bahwa pustakawan sekolah perlu menjadi poros sentral dalam merangkul dan memberdayakan insan terkait untuk mewujudkan perannya, menghasilkan para pembelajar seumur hidup.

Hal yang tidak bisa dipungkiri saat ini yang telah muncul sebagai sebuah kebutuhan dalam trend perpustakaan sekolah adalah peran mengambil bagian untuk mengajar. Peran ini berawal dari adanya kebutuhan akan pendidikan pemakai perpustakaan tentang cara memanfaatkan perpustakaan sekolahnya serta mengenal koleksi dan cara mengaksesnya. Terkait dengan bergesernya peran perpustakaan sekolah di atas, maka kegiatan mengajar ini kemudian menjadi sebuah kegiatan yang dilakukan dengan berkolaborasi dengan guru mata pelajaran tertentu. Apa yang diajarkan? hal pokok yang penting yaitu keterampilan literasi informasi.

Bicara mengajar, tentu tidak akan lepas dari suatu bidang ilmu lain, yaitu pedagogi. Ini yang menjadi titik krusial saat ini yang menjadikan profesi pustakawan dan guru menjadi setengah-setengah. Idealnya, guru pustakawan adalah mereka yang mengantungi kualifikasi ganda yaitu kualifikasi guru dan kualifikasi pustakawan, yang masing-masingnya memenuhi standard tingkat pendidikan tertentu, baik itu diploma atau sarjana.

Apapun jabatannya, apapun perannya, apapun argumentasi tentang profesi ini, semua menunjukkan bahwa profesi ini sedang menunjukkan perkembangannya.

Bagi saya pribadi, saya tetap bangga punya profesi pekerja informasi profesional sekolah.

Bagaimana dengan anda?