Friday, October 31, 2008

Nudity in the library

Beberapa waktu lalu, ada salah satu guru yang datang pada staf di perpustakaan yang mempertanyakan sebuah majalah Art. Ternyata, di suplemen majalah Art itu ada beberapa foto pria - maaf - telanjang. Gambar itu masih sedikit dapat dimaklumi karena memang tidak secara terang-terangan mempertunjukkan - maaf - alat kelaminnya.
Pandangan kami agak tertegun saat melihat sebuah gambar di halaman belakang, tidak terlalu besar, tapi cukup jelas mempertontonkan - maaf - alat kelamin pria.

Disinilah masalah muncul. Salah satu guru mempertanyakan bahwa gambar tersebut jelas-jelas tidak layak untuk dilihat anak-anak kelas 7 (usiannay 11 tahun). Gambar itu cukum provokatif, katanya.

Kamipun mendiskusikan hal ini. Sebagian dari kami menganggap gambar itu 'tidak apa-apa' karena muncul di majalah Art, bukan di majalah remaja atau populer lainnya. Apalagi sejauh ini, belum ada seorang anak-pun yang melihat gambar itu atau cekikian dengan teman-temannya. Tapi tentu itu bukan pointnya, bukan?

Datanglah seorang guru Art. Kami sangat menanti-nantikan jawaban dari mereka, sebetulnya. Dan ia mengatakan, ia tidak akan membiarkan gambar ini dilihat anak-anak kelas 7. IA menyarankan agar suplemen majalah ini baiknya ditandon, dan tidak dipinjamkan pada mereka.

Padanya saya katakan bahwa di perpustakaan ada banyak buku-buku Art yang tidak sedikit memuat gambar-gambar senada. Di bagian lain, di perpustakaan juga ada koleksi tentang puberty yang memberi gambaran tentang perubahan dalam aspek fisik, mental, psikologis anak-anak menuju remaja dan dewasa. Tentunya ada dari buku-buku tersebut yang memuat gambar-gambar.

Kembali lagi kepada penilaian antara Art works dan pornography.
Dimana batasannya?

1 comment:

sulfa said...

untuk sekolah/institusi yg mempunyai visi dan kultur yg jelas,misalkan berbasis nilai agama tertentu seperti sekolahku, batasan itu mungkin sudah clear,sulit utk didobrak dan hanya mencari masalah bila didebatkan.gampangnya, klo siswa 'mau tahu' & 'belajar' ttg seni2 yg semacam itu,,biar mereka cari sendiri di luar sekolah, sekolah tak akan provide such things..
tapi, repotnya jika rekan2 berada di sekolah yg punya kultur lbh liberal dan demokratis,mana batasannya?
pasti akan panjang bahasnya,,aku sendiri males klo mesti sengaja nyemplung di are(n)a ini.
namun bagi saya yg pasti, jika ketelanjangan dipaparkan ke hadapan siswa sebagai bagian pembelajaran seni, lalu pertanyaannya apakah siswa sudah diberikan pengetahuan2 dasar agar siswa melihatnya, mendiskusikannya, dan mencekikikkannya sbg karya seni,bukan pornografi.
sebuah gambar nudity (yg katanya karya seni)bisa menjadi porno, bila yg melihat tidak punya bekal/alat/kacamata untuk melihatnya sebagai seni. jika gambar ini tidak difilter dgn knowledge, yg merespon ya insting manusia -yg biasanya mirip dgn insting hewan hehehe..ya jatuhnya bs jadi porno (setidaknya bg individu yg melihatnya).
Sama seperti seorang ibu yg melihat lembaran2 project fisika anaknya sebagai bungkus donat..wong si ibu ga punya knowledge ttg barisan2 formula fisika.
jd, selama anak blom dibekali knowledge oleh gurunya, ya selamanya karya seni beresiko berubah menjadi pornografi.
CMIIW